Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. CCTV

Bab 13. CCTV

"Berhenti."

Suara Kalandra terdengar rendah, tetapi cukup membuat seluruh ruangan membeku. Petugas segera menghentikan tayangan.

"Tadi... ulangi bagian saat petugas keamanan menutup pintu."

Rekaman diputar kembali. Kini tidak ada lagi keraguan. Hagia memang telah masuk ke ruang arsip. Dan sejak pintu itu ditutup dari luar, tidak pernah ada satu rekaman pun yang menunjukkan dirinya keluar kembali.

Kepala keamanan perlahan menelan ludah. "Pak..."

Kalandra mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu sebelum selesai diucapkan. Tatapannya masih terpaku pada layar monitor, sementara jemarinya mengepal perlahan di sisi tubuh. Kini ia tahu ke mana Hagia menghilang. Dan ia juga tahu bahwa istrinya masih berada di dalam ruang arsip.

Kalandra tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor selama beberapa detik. Wajahnya tetap tenang, tetapi garis rahangnya mengeras begitu jelas hingga membuat seluruh petugas keamanan memilih diam. Tidak seorang pun berani memecah keheningan yang mendadak memenuhi ruangan.

"Ambil kunci cadangan ruang arsip lantai dua puluh delapan."

Perintah itu keluar datar, nyaris tanpa intonasi.

"Siap, Pak."

Seorang petugas segera berlari menuju lemari penyimpanan kunci, sementara dua petugas lainnya spontan mengikuti langkah Kalandra yang telah lebih dulu berbalik meninggalkan ruang keamanan. Langkah pria itu panjang dan cepat, hampir menyerupai lari, membuat beberapa orang harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal.

Lift eksekutif tiba hanya dalam hitungan detik. Begitu pintunya terbuka, Kalandra langsung masuk tanpa menunggu yang lain. Jemarinya menekan tombol lantai dua puluh delapan berulang kali, seolah ingin memaksa lift bergerak lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Bayangan Hagia yang memasuki ruang arsip seorang diri terus berulang di dalam benaknya. Ia kembali mengingat memo yang diserahkan Danu di depan lift, wajah Hagia yang mengangguk tanpa sedikit pun menaruh curiga, hingga rekaman yang memperlihatkan pintu besi itu tertutup rapat. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. Sudah berapa lama Hagia berada di dalam sana?

Pintu lift akhirnya terbuka. Kalandra melangkah keluar lebih dahulu, diikuti tiga petugas keamanan yang membawa kunci cadangan. Koridor lantai dua puluh delapan tampak jauh lebih gelap dibanding lantai eksekutif. Hanya lampu darurat yang masih menyala, memantulkan cahaya pucat di sepanjang lantai marmer.

Mereka berhenti tepat di depan ruang arsip.

Pintu besi itu berdiri kokoh dalam keheningan. Seorang petugas segera memasukkan anak kunci ke lubang pengunci utama.

Klik.

Kunci berhasil berputar. Namun, ketika pintu didorong, daun pintu itu sama sekali tidak bergerak. Petugas itu mencoba sekali lagi dengan tenaga yang lebih besar.

Tetap tidak bergeming. Ia menoleh kepada Kalandra dengan wajah yang mulai tegang.

"Pak... pintunya masih tertahan."

Kalandra mengamati pintu itu beberapa saat sebelum sorot matanya turun ke bagian samping kusen. Di sana terlihat jelas sebuah grendel besi pengaman telah terpasang dari sisi luar. Rahangnya kembali mengeras.

"Grendel manual," gumam salah seorang petugas keamanan. "Kalau ini sudah dipasang, kunci tidak akan bisa membuka pintu, Pak."

"Siapa yang memasangnya?"

"Itu prosedur penutupan gedung, Pak. Biasanya dilakukan setelah petugas memastikan ruangan kosong."

Kalandra tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada pintu besi di hadapannya. Di balik pintu itulah Hagia berada. Seorang diri. Tanpa ponsel. Di ruangan yang sistem pencahayaan dan pendingin udaranya telah mati sejak pintu ditutup. Untuk pertama kalinya malam itu, napas Kalandra terasa jauh lebih berat daripada biasanya.

Ia melangkah mendekati pintu, lalu mengepalkan tangan dan mengetuk permukaannya dengan keras.

"Hagia!" Suara baritonnya menggema di sepanjang koridor. "Jawab saya."

Semua orang menahan napas.

Beberapa detik berlalu. Tidak terdengar jawaban apa pun dari balik pintu besi itu. Kalandra mengetuknya sekali lagi, kali ini jauh lebih keras.

"Hagia!"

Keheningan tetap menjadi satu-satunya balasan. Sorot mata Kalandra berubah. Ketenangan yang sejak tadi masih berusaha dipertahankannya perlahan runtuh, digantikan kecemasan yang tidak lagi dapat disembunyikan.

Ia menoleh kepada kepala keamanan.

"Berapa lama seseorang bisa bertahan di dalam tanpa sirkulasi udara?"

Kepala keamanan tampak ragu sebelum menjawab pelan.

"Ruangan arsip memang kedap untuk menjaga kelembapan dokumen, Pak. Kalau pendingin dan ventilasinya ikut mati..." Ia menggantungkan kalimatnya sesaat. "Udara di dalam akan cepat menjadi pengap."

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kalandra kembali menatap pintu besi itu, lalu mengucapkan satu kalimat yang terdengar begitu tenang, tetapi membuat seluruh petugas langsung bergerak.

"Dobrak pintu ini."

Tidak seorang pun berani membantah.

"Siap!"

Dua petugas keamanan segera berlari ke ruang pemeliharaan yang berada di ujung koridor. Dalam waktu kurang dari satu menit mereka kembali sambil membawa sebuah linggis baja dan palu godam berukuran sedang. Salah seorang petugas menyelipkan ujung linggis ke celah antara daun pintu dan kusennya, sementara rekannya bersiap mengayunkan palu untuk memberi tekanan.

"Dorong!"

Dentang! Benturan logam menggema keras di sepanjang koridor. Daun pintu hanya bergetar kecil, tetapi grendel besi itu tetap bertahan pada tempatnya.

"Coba lagi!"

Dentang! Kali ini suara benturannya jauh lebih keras. Kusen pintu bergetar, namun pengunci manual itu seolah menolak bergeser meski sedikit.

Kepala keamanan mengusap peluh di pelipisnya.

"Pak... pintunya terlalu kuat."

Kalandra tidak menjawab. Pandangannya tidak pernah lepas dari pintu besi itu.

"Dorong terus."

Petugas kembali mengangkat palu.

Brak!

Dentang!

Brak!

Suara benturan bertalu-talu memenuhi koridor yang sunyi. Setiap hantaman membuat debu halus berjatuhan dari bagian atas kusen, tetapi pintu itu tetap bertahan. Seorang petugas mulai terengah-engah.

"Grendelnya masih mengunci, Pak."

Kalandra melangkah maju. "Geser."

Kedua petugas spontan menyingkir memberi jalan. Tanpa berkata apa-apa, Kalandra mengambil linggis dari tangan salah seorang petugas. Jemarinya mencengkeram gagang besi itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Pak, biar kami saja—"

Belum sempat kalimat itu selesai, Kalandra telah menyelipkan ujung linggis ke sela kusen dengan gerakan tegas. Ia menarik napas dalam. Lalu mengerahkan seluruh tenaganya.

KRAAK!

Suara logam yang saling bergesekan memekakkan telinga. Kusen pintu melengkung tipis, tetapi grendel itu masih belum terlepas. Kalandra tidak berhenti.

Ia kembali menghentakkan linggis lebih dalam.

"Oke... palunya!"

Seorang petugas segera menyerahkan palu godam.

"Ketika saya tahan, pukul tepat di ujung linggis."

Petugas itu sempat ragu.

"Pak, kalau meleset—"

"Pukul!"

Bentakan singkat itu membuat seluruh koridor kembali hening.

Petugas tersebut segera mengangkat palu setinggi bahu.

DUANG!

Linggis bergetar hebat. Namun, masih belum berhasil.

"Lagi!"

DUANG!

Suara retakan kecil mulai terdengar dari bagian kusen. Meraka melakukan hal yang sama sesuai instruksi Kalandra. Batang grendel akhirnya bergeser beberapa milimeter.

"Itu bergerak!" seru salah seorang petugas.

Tidak ada senyum di wajah Kalandra. Justru sorot matanya semakin tajam.

"Sekali lagi."

Petugas mengangguk cepat.

Seluruh tenaga dikerahkan ke dalam satu ayunan terakhir. Terdengar bunyi logam patah disusul suara keras ketika grendel besi terlepas dari dudukannya dan jatuh menghantam lantai. Koridor kembali sunyi. Tidak seorang pun bergerak. Tatapan semua orang tertuju pada pintu besi yang kini tidak lagi terkunci.

Tanpa menunggu siapa pun, Kalandra langsung meraih gagang pintu. Ia menarik napas sekali.

Lalu mendorong daun pintu itu hingga terbuka lebar.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!