Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:366.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Budi yang duduk di sampingnya, langsung mengernyit. "Ke rumah kamu? Ada apa? Ada acara?"

"Ada hal penting. Nanti kalau sudah sampai sana, aku kasih tahu."

Jawaban itu justru membuat dahi Budi semakin berkerut. Ia menatap Jena lama. "Jen, jangan bikin penasaran gitu. Hal penting apa, coba jelaskan?"

Jena menggigit bibir, ragu untuk jujur, takut Budi menolak. Ia menatap Budi dengan wajah memohon. "Please, Bud. Kamu harus tolong aku."

Budi masih diam.

"Kalau soal bayaran, kamu gak usah khawatir. Ini lebih gede dari yang kemarin."

Budi malah menghela napas sambil tersenyum tipis. "Bukan masalah bayaran, Jen. Aku cuma pengin tahu aku mau datang ke acara apa."

Jena tetap bungkam.

Budi menyipitkan mata, semakin curiga. "Jangan-jangan... kamu punya ide aneh lagi."

Jena buru-buru menggeleng. "Kamu cuma perlu datang pakai pakaian yang sopan."

"Hanya itu?"

"Bawa dua roti bakar."

Budi sampai mengedip beberapa kali. "Dua roti bakar?"

"Iya. Itu aja. Gak anehkan?"

Bukannya tenang, Budi justru makin bingung. Ia makin fokus menatap Jena. Perasaannya tidak enak.

"Apa aku disuruh pura-pura jadi pacar kamu lagi?" Budi menurunkan suaranya. "Kalau di hadapan orang tua kamu, aku gak bisa. Takut dosa bohong sama orang tua. Apalagi pura-pura jadi CEO. Enggak, aku gak mau menipu orang tua."

Mendengar itu, Jena langsung tersenyum kecil. "Enggak. Jangan khawatir. Kali ini bukan begitu konsepnya, kamu cukup jadi diri sendiri."

"Maksudnya?"

"E..." Jena tersenyum absurd, hampir keceplosan menceritakan yang sebenar. Ia kembali memasang wajah memohon, bahkan kedua tangannya dirapatkan di depan dada "Please... kamu mau, ya?"

Budi memandang gadis itu cukup lama. Rasa penasarannya semakin besar, sementara permintaan Jena terdengar sangat sederhana... hanya datang ke rumah dengan pakaian sopan dan membawa dua roti bakar.

"Hari itu kamu bilangkan, kalau aku butuh bantuan, aku bisa cari kamu. Aku butuh banget sekarang, Bud."

"Sabtu malam, ya..." gumam Budi.

Jena langsung mengangguk penuh harap. "Iya."

Budi tersenyum pasrah. "Ya sudah, aku usahakan datang."

Jena menggeleng "Gak boleh. Gak boleh hanya diusahakan, tapi kamu harus janji bakalan datang."

"Tapi..."

"Budi please..." Budi meraih tangan Budi, menggenggamnya.

Seketika, Budi salah tingkah. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat hanya karena sentuhan kecil yang mungkin dianggap biasa saja oleh Jena.

"Janji ya."

Kali ini, Budi tak bisa menolak lagi. Ia mengangguk. "Iya, janji."

Seketika wajah Jena berbinar. Ia menghela nafas lega.

...----------------...

Sabtu pagi, Budi sudah merasa gelisah. Sejak membuka mata, pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan yang sama. Sebenarnya, Jena menyuruhnya datang ke rumah untuk apa?

Yang lebih aneh lagi, gadis itu hanya memintanya membawa dua roti bakar. Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada acara yang disebutkan. Tidak ada siapa yang akan ditemui. Semakin dipikirkan, rasa penasarannya justru semakin menjadi-jadi.

"Apa sih yang mau dilakukan Jena?" gumam Budi.

Sampai-sampai, hari itu ia memutuskan tidak mengojek. Bukan karena malas, tetapi pikirannya terlalu kacau. Beberapa kali ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membersihkan kamar dan memperbaiki beberapa barang, tetapi ujung-ujungnya pikirannya kembali kepada Jena.

Sabtu sore, kegelisahannya malah semakin parah. Budi berdiri di depan lemari yang pintunya sudah terbuka lebar. Ia membongkar hampir seluruh isinya.

Kaos hitam.

Baju koko.

Kemeja kotak-kotak.

Jaket.

Satu per satu dikeluarkan, lalu dilempar ke atas kasur.

"Yang ini terlalu santai." Ia mengambil kemeja lain.

"Yang ini kayak mau kondangan."

Setelah hampir setengah jam berpikir, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah kemeja berwarna krem yang masih terlihat cukup rapi, dipadukan dengan celana chinos abu tua.

Budi berdiri di depan cermin kecil. Ia merapikan rambut, lalu memandangi dirinya sendiri.

"Udah cocok belum, ya?" Ia menghela napas. "Kayak orang mau interview kerja." Ia ganti mengambil kemeja lain, kali ini kemeja kotak-kotak warna hitam.

Budi ganti celana krem, kaos putih, lalu kemeja kotak hitam yang dijadikan outer. "Apa terlalu santai kayak gini?" Ia mematut diri di depan cermin. Jena tidak menyebutkan detail acara, ia jadi bingung.

Lokasi rumah Jena sudah dikirim sejak kemarin. Budi langsung mengenalinya. Perumahan elit yang cukup sering ia datangi ketika sedang mengojek.

Jalanannya lebar, rumah-rumahnya besar, satpam berjaga di beberapa titik, dan hampir semua kendaraan yang keluar-masuk terlihat mewah. Ia juga pernah beberapa kali mengantarkan makanan ke sana.

Tapi kali ini berbeda. Ia datang bukan sebagai pengemudi ojek. Ia datang karena Jena memintanya. Dan entah kenapa, hal itu justru membuatnya semakin gugup.

Menjelang waktu yang sudah ditentukan, Budi mulai mondar-mandir di dalam kamar.

Ia melihat jam. Kemudian melihat ponselnya. Lalu melihat jam lagi.

[ Nanti kalau sudah sampai, telepon aku ]

Ada pesan masuk dari Jena.

"Kenapa aku deg-degan banget?" Budi memegang dadanya.

Ia mengambil dua roti bakar yang sudah disiapkannya, memastikan bungkusnya tidak rusak, lalu berangkat ke rumah Jena.

Namun semakin dekat dengan perumahan itu, jantung Budi justru semakin berdebar. Satu hal terus berputar di kepalanya. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan Jena malam ini?

Tepat pukul delapan kurang 10 menit, Budi akhirnya tiba di rumah Jena.

Motor yang dikendarainya berhenti di depan rumah mewah dengan halaman luas dan pagar tinggi. Budi mematikan mesin, lalu memandang ke sekeliling.

Sepi.

Tidak ada suara musik. Tidak ada kendaraan yang memenuhi halaman. Tidak ada tanda-tanda sedang berlangsung sebuah acara.

Budi mengernyitkan dahi. Ia menelepon Jena, mengatakan jika sudah sampai.

Beberapa saat kemudian, satpam membukakan gerbang, Budi langsung diminta masuk.

"Bud." Panggil Jena yang ada di teras rumahnya. Gadis itu tampak cantik sekali dengan gaun warna hitam dan rambut panjang yang di curly. Budi sampai diam beberapa saat, tak berkedip memandangnya.

Budi memarkirkan motornya di halaman, lalu turun menghampiri Jena sambil membawa tote bag berisi roti bakar.

Sesaat ia memandangi rumah itu. Dari luar saja sudah terlihat begitu megah. Lampu-lampu taman menyala terang, halaman tertata rapi, dan terasnya luas dengan lantai marmer yang mengilap. Rumah seperti ini, ia pernah juga memilikinya. Tapi sekarang, ia terpaksa harus tinggal di rumah sederhana setelah semuanya habis.

"Jen, kok sepi? Tadinya aku kira ada acara?"

"Ada acara, tapi intimate gitu."

"Maksudnya?"

"Cuma aku, kamu, dan kedua orang tuaku."

"Hah!" Budi kaget. Acara apa itu, kenapa hanya dia yang diundang.

Jangan-jangan...

"Orang tua kamu lagi cari pekerja?" tanyanya. "Nyari supir, atau..."

"Bukan," Jena menggeleng cepat.

"Lalu..."

Jena melangkah ke samping Budi, sambil tersenyum, menggamit lengan laki-laki itu. "Hari ini, kamu kenalan sama orang tuaku, pura-pura jadi calon suamiku."

"APA!" Budi langsung syok.

"Ayo masuk!"

"Tapi, Jen..."

"Udah gak ada waktu buat nolak, kamu udah terlanjur ada disini."

"Jen, tamunya udah datang?" Teriak Mama Asri yang beberapa saat kemudian muncul dari dalam.

"Itu Mamaku, calon ibu mertua kamu." Bisik Jena.

Kaki Budi lemas. Ia hampir tak bisa bergerak saat Jena menarik lengannya menuju ibunya.

1
novel destiny
keluarga emak nya jena julid nya kaya si Juwita 🤣🤣
Hani Ekawati
Ga usah berlebihan muji nya Bud, aku kok jadi ngeri klo cowok yang mulutnya manis 😂
Hani Ekawati
Awas kamu Bud ga usah pinter gombal, klo cowok pinter gombal aku jadi inget si aki Andre 😂
lyani
bener Jen jangan diem aja..lawan mulut julid....kl perlu sini saya tambah sandal
Hani Ekawati
Bagus Jen, lawan aja mulut nyinyir nya si Cindy. 😂
Hani Ekawati
Ini si Cindy punya mulut nyinyir banget julid banget, kudu disemprot sama kamu Jen biar mulutnya bisa diem.
Hani Ekawati
Heh mau tukang roti bakar atau tukang apa pun yang penting kerjaan nya halal dan yang penting bukan suami orang !!!
Situ julid banget jadi orang🙄
ryuka
selalu,ada yg kaya gitu jen di keluarga besar.. ngomongin orang seakan dia yg paling bagus
lyani
kesian deh gagal Dion berarti gagal jg kamu menguasai harta y ju
Eonnie Nurul
biasa hidup ya gitu belum nikah di tanya kapan nikah , sudah nikah kapan punya anak , kapan mantu , segitunya orang gak punya kerjaan ngurus orang lain padahal sudah tua ( dalam hati kapan kamu menghadap ilahi ) 🤭
Rahmawati
kasian bocah bau kencur kecewa karna jena tetep nikah sama budi😂
vj'z tri
aku suka huru hara /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ serangggggg
jumirah slavina
padahal barusan dia mode Singa lo Bud., senggol bac0k

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
hidup sombong🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
pinter nak udah di brifing dulu ternyata /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
enungdedy
gak tau knp klo baca cerita dri author tuh kyak gmn ya..gk lebay penulisannya
lebih ke cerita dam bhasa sehari2 kita gtu..jdi yg baca tuh kyak ikut mssuk kedlm cerita langsung....pokoknya suka bgt sm cerita2 kak yutantia🥰
yutantia 10: Makasih kakak
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ alam mendukung
vj'z tri
punya mata oi punya mata mata masih normal ya ada suara tengok terus liat dah masa gitu ajj gak tahu onah onah /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
jumirah slavina
b o h o n g g g !!!

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Silvia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!