Ann hanyalah mahasiswi seni biasa di Kota Meksiko—sampai satu malam yang salah mengubah segalanya. Diculik, dilelang, dan dijual kepada dunia hitam, ia terbangun sebagai milik seorang pria yang namanya saja mampu membuat seantero dunia bawah tanah bergidik: salah satu dari empat bos Mafia Rusia.
Mereka berempat berbagi lebih dari sekadar kerajaan bisnis gelap—sang Singa, sang Serigala, sang Beruang Hitam, dan sang Elang adalah sahabat sejak kecil. Dan kini keempatnya mengincar gadis yang sama.
Terkurung dalam sangkar emas seorang pria berbahaya, Ann bersumpah takkan menyerah. Tapi di balik tatapan dingin sang penguasa tersembunyi sesuatu yang tak ia duga—dan garis antara tawanan dan yang dipuja mulai kabur. Di dunia tempa cinta ditempa dengan darah, kesetiaan bisa berujung maut, dan masa lalu tak pernah benar-benar terkubur, satu pertanyaan menggantung: mungkinkah menemukan cinta sejati di tangan orang yang membelimu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandian Air Panas
Setelah selesai makan, kubereskan peralatan yang kupakai dan mulai mencucinya. Tanpa sadar aku membelakangi Alan. Saat aku mencuci, sepasang tangan melingkari pinggangku, dan kurasakan bibir mengecup leherku. Kuangkat pandangan dan bertemu dengan matanya yang indah.
"Sudah waktunya kita mandi," kata Alan.
"Baik. Kenapa kau tidak mandi duluan saja? Aku menyusul sebentar lagi."
"Sepertinya kau tak paham maksudku. Maksudku, kau akan mandi bersamaku."
Wajahku memerah hebat. Aku belum pernah mandi bersama siapa pun.
"Ammm... aku malu. Kau mandi duluan saja."
"Jangan main-main denganku. Malu apa? Aku sudah melihat seluruh tubuh telanjangmu lebih dari sekali. Tak ada yang belum kulihat."
Aku tersipu. Ia benar, ia sudah pernah melihatku telanjang. Ia menggenggam tanganku, dan kami menuju ruang tengah. Lewat jendela-jendela kaca kulihat malam sudah turun. Penerbangan tadi memang lama sekali. Aku terus melangkah di sisinya, dan begitu tersadar, kami sudah berada di pintu belakang rumah.
Alan menghampiri sebuah lemari kecil di dekat pintu keluar, mengeluarkan dua helai kimono mandi bermotif khas Jepang. Ia menyodorkan yang merah untukku dan mengambil yang hitam polos untuk dirinya sendiri. Ia juga mengeluarkan dua pasang sandal dan memberiku satu.
Setelah itu ia membuka pintu, dan kami mulai menyusuri koridor. Pemandangannya tampak menawan, lalu kami berhenti di sebuah tempat yang indah.
Ada semacam kolam buatan. Meski angin malam terasa sejuk, uap hangat mengepul dari air.
"Jepang terkenal dengan pemandian air panasnya," kata Alan.
"Ya, aku tahu, tapi belum pernah melihatnya langsung."
"Ini salah satunya. Aku membeli rumah ini karena letaknya tersembunyi di dalam hutan, tak ada orang di sekitar sini, dan aku terpikat oleh kolam buatannya."
"Dan kau berencana kita berendam bersama di situ?"
"Tentu saja. Kenapa, kau takut?"
"Tidak, aku hanya kaget."
Alan menaruh kimono dan sandalnya di lantai kayu, lalu mulai menanggalkan pakaian. Ia melepas jas dan kausnya, lalu celana, sepatu, dan pakaian dalamnya. Wajahku memanas. Kenapa pria itu tak merasa malu sedikit pun menelanjangi diri di depanku? Ada sengatan hasrat yang menggetarkan bagian bawah tubuhku. Aku tak berkata apa-apa dan menyaksikannya masuk ke dalam air. Ia bersandar di tepi kolam lalu memandangku.
"Ada apa, sayang? Kau takut air, atau takut padaku?"
Seketika wajahku memerah. Kebahagiaan luar biasa membanjiriku saat kata "sayang" terlontar dari bibirnya. Itu membuatku merasa begitu bahagia.
Aku mulai menanggalkan pakaian. Kulepas celana pendek dan blusku, lalu sepatu, dan terakhir pakaian dalamku. Alan memperhatikanku penuh nanti-menanti, dengan senyum miring di wajahnya. Ia berhasil mendapatkan yang diinginkannya: aku menelanjangi diri secara sukarela di hadapannya. Kuturuni anak tangga dan mulai masuk ke dalam air.
Begitu tenggelam, kehangatan air menyelimutiku. Nikmat sekali. Semua kelelahan seakan menguap. Aku menoleh ke arah Alan. Ia bersandar di bebatuan, matanya terpejam dan napasnya teratur. Sepertinya air panas itu terasa nikmat baginya.
Aku beringsut mendekat. Airnya tak terlalu dalam. Ketika sudah berada di hadapannya, kulingkarkan kedua kakiku di pinggulnya dan kutautkan kedua tanganku di lehernya. Ia membuka mata, terkejut, sedikit bingung. Ia tak menyangka aku yang akan mengambil inisiatif. Aku sendiri tak pernah membayangkan melakukan hal seperti ini, tapi tubuhku seakan bergerak sendiri, seolah menginginkan ia memilikiku saat itu juga.
"Kukira kau tak akan menuruti hasratku," kata Alan, "tapi ternyata akulah yang harus menuruti hasratmu."
Setelah berkata begitu, ia menciumku dengan intens, menarikku lebih dekat. Kurasakan payudaraku bergesekan dengan dadanya. Sementara ia menciumku, kurasakan kejantanannya mengeras, menekan perutku, dan hasrat pun menyelimutiku.
"Ambil aku, kumohon," bisikku. "Padamkan hasrat yang membakarku dari dalam."
Alan tak berkata apa-apa. Ia menempatkan diri di depan pintu masukku, lalu dengan satu hentakan menembus tubuhku. Panas yang nikmat memenuhi dinding-dinding rahimku. Terasa begitu sempit hingga dengan satu gerakan kecil saja, sebuah desahan tak sengaja lolos dari bibirku. Ia tersenyum dan mulai menggigit-gigit lembut leherku, sementara tangannya menjelajahi punggungku.
Ia mulai bergerak maju-mundur, kuat dan keras, cepat, dan desahan memenuhi tempat itu. Untung saja hanya kami berdua di sana; siapa pun yang berada di dekat pasti akan mendengar erangan kenikmatanku.
Apa yang telah dilakukan Bos Mafia itu hingga akulah yang kini berlari penuh hasrat ke pelukannya? Ia memang yang pertama memilikiku, tapi dalam benakku ialah satu-satunya. Aku menggeliat bahagia berada di bawahnya. Setiap hentakan terasa kuat, keras, dan nikmat. Ia membuatku gila hanya dengan satu gerakan.
Sebuah energi menyengat menjalari kami, merambati tubuhku begitu cepat. Sambil tetap kupeluk erat, kami bersama-sama menikmati orgasme yang luar biasa. Kami berpelukan, bernapas dengan susah payah. Ia menarikku ke arahnya, dan dari bibirnya keluar kata-kata yang tak pernah kubayangkan akan kudengar.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku bisa gila tanpamu."
Aku menatapnya, terkejut, dan tanpa sadar menjawab.
"Tidak akan."
Kenapa aku berkata begitu? Ada apa denganku? Bukankah aku ingin pulang ke rumah, atau tidak?
Apa yang telah berubah, kenapa jauh di dalam diriku aku rela melepaskan segalanya demi tinggal bersamanya? Aku baru beberapa hari mengenalnya, ia telah membeliku, aku berada di negeri yang asing. Tapi aku tak bisa menyalahkannya atas segalanya. Bukan dia yang menculik dan menjualku. Ia membeliku dari orang lain yang memenangkanku di lelang. Pikiranku mulai percaya bahwa alih-alih terkutuk pada kemalangan seperti yang kukira di gudang mengerikan itu, aku justru menemukan malaikat penyelamat.
Aku menyukai Alan, iblis berwajah malaikat, pria yang telah merenggut keperawananku, entah dengan paksa atau tidak. Namun hatiku berkata ia tak sejahat itu, dan meski aku tak menginginkannya, ia mulai menguasai hatiku.
"Ya Tuhan, ada apa denganku? Apakah Bos Mafia ini juga seorang pencuri, karena ia mulai mencuri hatiku?"