Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Samar
Sore jam pulang kantor, Zevanna sedang membereskan meja administrasi sambil menunggu Tisha.
"Tisha lama banget sih. Katanya cuma bentar doang ke kamar mandi." Gerutu Zevanna. Lalu ia melihat jam tangannya. "Kalau lima menit lagi nggak keluar, gue tinggal. Bodo Amat kalau dia nangis, siapa suruh lama."
Saat Zevanna sibuk membereskan meja kerjanya. Elsa dan Meisya lewat sambil membicarakan persiapan acara besar besok.
Mereka sedikit berdebat tentang dekorasi.
"Gue udah bilang dari tadi, bagian belakang panggung belum beres." Kata Elsa.
"Bukan gue yang pegang bagian itu, Elsa." Dengus Meisya.
"Tapi kalau besok berantakan, yang kena omel kita semua." Balas Elsa merasa frustasi.
"Eh, gue udah coba beresin beberapa ya. Lo kerjanya cuma nyuruh-nyuruh gue doang." Cibir Meisya.
Elsa menoleh ke arah Meisya. "Kok lo salahin gue sih?"
"Emang lo yang salah, bagian belakang panggung kan itu bukan tugas gue. Gue cuma bagian nata jadwal gladi bersih aja." Elak Meisya.
Zevanna melirik dan mendengar dari meja.
Henry keluar dari ruangannya.
"Bisa nggak kalian ngobrolnya jangan di tengah koridor?" Kata Henry.
Elsa langsung terdiam. "Maaf, Pak Henry."
Henry menatap mereka sebentar. "Besok acara besar. Saya nggak mau ada kesalahan sekecil apa pun. Ngerti kalian?!"
Elsa dan Meisya mengangguk. "Iya, Pak. Kami ngerti."
Zevanna memperhatikan Henry.
Bisma sedang mengepel. Tanpa sengaja embernya tersenggol dan air sedikit mengenai sepatu Henry.
Bruk.
Henry menoleh dan menatap Bisma tajam. "Bisma!"
Bisma terkejut. "Maaf, Pak! Maaf banget, saya nggak sengaja."
"Kalau kerja itu lihat-lihat jangan asal-asalan saja!" Sentak Henry.
Bisma langsung menunduk. "I-iya, Pak. Saya minta maaf."
Bisma mengambil ember yang terjatuh itu.
Zevanna merasa kasihan lalu membantu mengambil perlengkapan. "Udah, Mas. Saya bantu."
Bisma mendongak. "Nggak usah, Mbak. Biar saya aja."
"Nggak apa-apa. Keburu dimarahin lagi nanti." Kata Zevanna.
Bisma tersenyum tipis. "Makasih, Mbak."
"Sama-sama, Mas."
Henry mendengus lalu ia pergi meninggalkan Zevanna dan Bisma.
Meisya dan Elsa juga sama pergi, namun sorot matanya terus menatap Zevanna.
Saat Henry sudah pergi jauh, Bisma menoleh dan bicara pelan kepada Zevanna.
"Mbak..."
Zevanna menoleh ke arahnya. "Iya, Mas?"
Bisma melihat sekeliling kantor. "Kalau besok acaranya udah mulai, jangan sering-sering ke belakang panggung kalau lampunya mati."
Zevanna mengerutkan kening. "Kenapa, Mas?"
Bisma terdiam sejenak, meremas jari-jemari tangannya. "Nggak kenapa-napa, Mbak. Saya cuma ngasih tahu aja."
"Tapi kenapa Mas Bisma bilang begitu?" Tanya Zevanna menatapnya.
Bisma berdehem kecil, lalu mengambil sampah di dekatnya. "Saya harus buang sampah dulu, Mbak."
Bisma bergegas pergi membuat Zevanna membeku di tempatnya.
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksudnya dia apa ya? Kok gue nggak boleh ke belakang panggung sih pas lampunya mati?"
Keadaan lobby mulai sepi, Zevanna hendak kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan memberes.
Tiba-tiba datang seorang wanita elegan.
Itu Alika.
Beberapa staf mengenalinya.
Zevanna menoleh dan menatap wanita yang lewat meja kerjanya.
Gista menoleh dan berbisik kepada Zevanna. "Itu Mbak Alika."
Zevanna mengerutkan keningnya. "Alika siapa?"
"Calon tunangannya Pak Ravenzo." Timpal Vera.
Zevanna manggut-manggut saja. "Oh..."
Kok bisa cewek itu mau tunangan sama cowok yang nyebelin?
***
Alika masuk ke ruangan Ravenzo.
"Kamu belum pulang?" Tanya Alika.
Ravenzo mengangkat pandangan dari laptopnya. "Belum."
Alika meletakkan tasnya di atas meja kerja Ravenzo. "Aku kira kamu mau makan malam sama aku."
"Aku masih ada pekerjaan." Jawab Ravenzo dingin.
Alika merenggut masam. "Pekerjaan terus. Kapan kita ada waktu berdua, Rav?"
Ravenzo menutup laptop. "Kalau kamu datang cuma buat ngajak makan, tunggu sebentar. Kalau nggak mau. Kamu bisa pergi sendiri."
"Kamu berubah, Raven." Sentak Alika.
Ravenzo menatapnya lalu memalingkan muka. "Aku nggak berubah."
Alika mendengus lalu melihat sesuatu di meja Ravenzo—sebuah event lama.
"Kamu masih menyimpan barang-barang dari acara lama?" Kata Alika.
Ravenzo kembali menatapnya. "Kenapa?"
Alika menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Cuma penasaran aja."
Ravenzo menghela napas. "Jangan ikut campur urusan pekerjaan."
"Aku cuma bertanya." Ucap Alika.
Di luar ruangan, Andrew melihat Alika yang masuk ke ruangan Ravenzo.
Fika dan Hesa juga kebetulan ada di sana.
"Dia datang." Kata Andrew.
Fika langsung menoleh dan mengerutkan keningnya. "Terus?"
Andrew menggeleng cepat. "Nggak ada apa-apa sih."
"Kalian jangan mulai." Ujar Hesa.
Zevanna yang melihat mereka dari jauh.
"Kenapa mereka bertiga kelihatan tegang cuma gara-gara Mbak Alika datang?" Batinnya.
Tisha akhirnya selesai dari toilet. "Zev! Pulang yuk."
Zevanna menoleh dan mendecih. "Lama banget sih lo. Jamuran gue ini gara-gara nungguin lo."
"Salahin toiletnya lah." Balas Tisha.
"Ya lo yang salah. Lama banget di toilet. Makanya kalau makan tuh jangan banyak-banyak, jadi mencret kan lo!" Cetus Zevanna.
Tisha cuma cengengesan. "Hehe, sorry. Soalnya makanannya enak-enak tadi. Gue nggak tahan, Zev."
Zevanna memutar bola matanya malas. "Ya, ya. Terserah lo. Kalau lo gitu lagi. Gue nggak mau nungguin lo."
"Tega banget lo!"
"Biarin! Bodoamat!"
Kemudian Zevanna dan Tisha keluar dari lobby kantor.
"Gue duluan ya, Zev. Udah dijemput nih! Byee." Kata Tisha sambil melambaikan tangannya ke arah Zevanna.
"Iya. Hati-hati." Balas Zevanna. Lalu ia berjalan menuju mobilnya.
Hari sudah mulai gelap. Di perjalanan pulang, Zevanna melihat mobil hitam beberapa kali berada di belakangnya.
"Kok mobil itu lagi?" Gumamnya.
Ia berbelok, melirik ke spion mobil.
Beberapa menit kemudian mobil itu masih terlihat.
Zevanna mulai tidak nyaman.
"Anjir, dia ikutin gue kah?"
Zevanna masuk ke jalan yang lebih ramai.
Ketika ia melihat kaca spion lagi...
Mobil itu sudah tidak ada.
Zevanna terdiam sejenak. "Jangan-jangan gue cuma halu karena kecapean."
Ia menatap jalan. "Tapi perasaan gue tuh mobil kayak ikuti gue deh."
Zevanna menggeleng. "Ah, mungkin itu kebetulan aja arah jalannya."
Zevanna akhirnya sampai rumah. Lalu ia keluar dari mobilnya.
Ia menatap sekeliling rumah. "Kok sepi sih? Pada ke mana mama, papa? Biasanya ada."
Zevanna berjalan ke arah dapur. "Bibi!"
Bibi Rasti menoleh dan menatap anak majikannya. "Iya, non. Ada apa?"
"Mama, Papa kemana? Kok nggak ada sih?" Tanya Zevanna.
"Oh itu, pak Yovandra dan Bu Liona sedang ada urusan di perusahaannya. Bentar lagi juga pulang kok, Non." Jawab Bi Rasti.
Zevanna manggut-manggut paham. "Oh gitu. Kirain kemana! Ya udah ya, Bi. Aku ke kamar dulu. Jangan lupa masak makanan aku."
Bi Rasti mengangguk. "Siap, Non. Zevanna!"
Kemudian Zevanna bergegas naik menuju kamarnya.
Ia meletakkan tasnya di atas nakas.
Lalu ia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar. Ia teringat semua kejadian hari itu.
Fika dan Andrew di ruangan staf senior.
Barang misterius.
Hesa tegang saat masa lalu dibahas.
Ravenzo melihat koridor.
Bisma memperingatkan dirinya.
Alika datang ke perusahaan Verion Group.
"Kenapa makin gue cari tahu, malah makin banyak yang aneh sih?" Kata Zevanna menghela napas.
Zevanna bangkit dari ranjang. Lalu ia menuju ke kamar Zoyya.
Ceklek.
Pintu kamar Zoyya terbuka, lalu Zevanna membuka laci. Ia menemukan sebuah gelang milik Zoyya.
"Ini..."
Zevanna mengambil gelang itu perlahan.
"Gelang Kak Zoyya?"
Ia kemudian teringat sesuatu.
Dulu Zoyya pernah bilang.
"Kalau suatu hari gelang ini nggak ada sama Kakak, berarti Kakak lagi nggak mau ditemukan."
Zevanna menghela napas panjang. “Gue makin bingung.”
Matanya kemudian tertuju pada sebuah kotak kecil di bagian bawah lemari.
Kotak itu sudah lama tidak disentuhnya.
Zevanna bangkit dan menarik kotak tersebut keluar.
Saat tutupnya dibuka, beberapa barang lama milik Zoyya masih tersimpan di dalamnya.
Sebuah kalung lama. Foto keluarga.
Dan sebuah buku catatan kecil dengan sampul yang sudah agak kusam.
Zevanna terdiam. “Buku Kak Zoyya...”
Ia mengambil buku itu perlahan.
Beberapa halaman awal berisi catatan biasa—jadwal, pekerjaan, dan beberapa hal kecil yang dulu sering dilakukan Zoyya.
Namun semakin dibaca, tulisan Zoyya mulai terasa berbeda.
Ada beberapa halaman yang hanya berisi kalimat-kalimat pendek.
Zevanna membalik satu halaman.
Kadang, orang yang paling dekat justru orang yang paling sulit dibaca.
Zevanna mengernyit. “Hah?”
Ia membalik halaman berikutnya.
Jangan percaya seseorang hanya karena dia terlihat peduli.
Jawaban yang terlalu sederhana biasanya menyembunyikan sesuatu.
Zevanna semakin bingung. “Mereka? Ini maksudnya siapa, sih, Kak?”
Ia membalik beberapa halaman lagi.
Lalu menemukan satu kalimat yang membuat tangannya berhenti.
Kalau semuanya terlihat terlalu tenang, mungkin ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Zevanna menatap tulisan itu cukup lama.
Entah kenapa, kalimat tersebut terasa sangat familiar dengan apa yang sedang terjadi di Verion Group.
“Jangan-jangan... Kak Zoyya dulu juga curiga sama seseorang?”
Zevanna menyadari ada satu halaman buku tersebut sudah sobek.
Ia membolak-balik halaman.
"Kok halaman ini hilang sih?"
Lalu ada bekas tulisan samar di halaman berikutnya.
Kamu tega...
Zevanna langsung berhenti. "Tega? Siapa yang kak Zoyya maksud tega?"
Ia kembali membaca halaman itu, mencoba mencari nama atau petunjuk lain.
Namun tidak ada apa-apa.
Tidak ada nama.
Tidak ada tempat.
Tidak ada penjelasan.
Hanya kalimat-kalimat pendek yang membuatnya semakin penasaran.
Zevanna menatap kalimat di buku tersebut. “Sebenernya apa yang Kak Zoyya tahu waktu itu?”
Zevanna menyimpan kembali buku tersebut.
Tapi sebelum menutupnya, ia melihat satu benda kecil terselip di sela halaman.
Zevanna memperhatikan foto lama acara Verion Group itu lebih dekat.
Foto tersebut menampilkan beberapa staf yang berdiri bersama dalam sebuah acara perusahaan.
Ada Zoyya.
Meisya.
Elsa.
Fika.
Hesa.
Gista.
Vera.
Andrew.
Bisma.
Henry.
Dan Arvin.
Namun, ada sesuatu yang membuat Zevanna mengernyit.
Beberapa wajah dalam foto tersebut tampak tertutup coretan tinta hitam. Coretannya dibuat kasar dan cukup tebal sampai sebagian wajah hampir tidak bisa dikenali.
Zevanna mengusap permukaan foto itu perlahan dengan ujung jarinya.
“Ini siapa yang coret, sih...?”
Ia memperhatikan satu per satu wajah yang sudah tertutup tinta.
Kemudian pandangannya berhenti pada satu wajah.
Vera.
Berbeda dari yang lain, wajah Vera masih terlihat jelas.
Tidak ada coretan.
Tidak ada tinta yang menutupinya.
Perempuan itu bahkan masih tersenyum ke arah kamera seperti staf lainnya.
Zevanna menyipitkan mata.
“Kenapa cuma Mbak Vera yang nggak dicoret...?”
Ia membalik foto tersebut.
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan.
Hanya tanggal acara yang tertulis kecil di bagian belakang bersama tulisan tangan Zoyya yang sudah mulai pudar.
Zevanna kembali membalik foto itu.
Matanya tertuju pada wajah Vera.
Entah kenapa, semakin lama ia memperhatikan foto tersebut, semakin terasa ada sesuatu yang aneh.
Bukan karena ekspresi Vera.
Bukan juga karena senyumnya.
Melainkan karena ia tidak bisa memahami alasan seseorang mencoret wajah beberapa orang di dalam foto, tetapi membiarkan satu wajah tetap utuh.
“Sebenernya... kenapa cuma mereka yang dicoret?”
Zevanna terdiam.
“Dan kenapa Mbak Vera nggak?”
Ia tidak menemukan jawabannya.
Zevanna akhirnya memasukkan foto tersebut kembali ke dalam buku catatan Zoyya.
Namun sebelum menutup buku itu, matanya kembali tertuju pada wajah Vera untuk terakhir kalinya.
Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Tapi Zevanna belum tahu apa.
Hanya foto lama yang diam di tangannya, menyimpan sesuatu yang bahkan Zevanna sendiri belum tahu cara membacanya.
Tiba-tiba HP-nya berbunyi.
Ting!
Zevanna tersentak dan langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Ada pesan dari nomor tidak dikenal.
Unknown: Kamu membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.
Zevanna membeku.
Lalu sebelum ia sempat membalas—
Pesan kedua masuk.
Ting!
Unknown: Jangan ulangi kesalahan Zoyya.
Matanya kembali menatap buku di tangannya.
"Apa...? Kok dia bisa tau gue cari soal kak Zoyya?"
Zevanna melihat ke arah pintu dan jendela kamar Zoyya.
Sunyi.
Ia kembali melihat HP.
Tidak ada pesan berikutnya.
Zevanna mengetik pesan kepada nomor tersebut.
Zevanna: Siapa lo?
Ceklis satu.
Zevanna mencoba menelponnya, namun nomornya tidak bisa dihubungi.
Zevanna berdecak. "Ck, siapa sih nih orang?"
Ia menggenggam buku itu erat. "Jangan-jangan... Ada yang tau gue nemuin buku ini?"
Zevanna menutup buku itu.
Tapi sebelum meletakkannya kembali—
Matanya menangkap sesuatu di bagian belakang sampul buku.
Ada tulisan tangan Zoyya yang sangat kecil.
Zevanna mendekatkan buku dan membaca tulisan tersebut.
Kalau suatu hari aku nggak ada, jangan cari orangnya. Cari alasannya.
Zevanna membeku, dan melebarkan matanya.
Bersambung…