Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Titik Awal Kematian

Hidup Yamada sebenarnya tidak buruk.

Kalimat itu kalau diucapkan orang lain mungkin terdengar seperti keluhan yang disamarkan. Tapi bagi Yamada, itu adalah kesimpulan jujur setelah 17 tahun hidup.

Justru bisa dibilang terlalu nyaman.

Ayahnya bukan konglomerat, tapi juga bukan orang yang harus menghitung koin receh di akhir bulan. Ibunya bukan tipe ibu yang menuntut anaknya harus jadi juara kelas, peringkat satu, masuk universitas ternama. Rumahnya tidak besar, tapi tidak bocor saat hujan. Kamarnya tidak luas seperti di drama-drama, tapi cukup untuk meletakkan kasur, meja belajar yang jarang dipakai untuk belajar, dan sebuah kipas angin tua yang suaranya sudah seperti teman tidur.

Tidak ada kemiskinan yang membuatnya kelaparan. Tidak ada penyakit berat yang membuatnya terbaring di rumah sakit dengan selang di mana-mana. Tidak ada musuh yang mengejarnya dengan dendam masa lalu. Tidak ada trauma besar yang menghantui setiap malam. Bahkan kehidupannya jauh lebih mudah dibandingkan kebanyakan orang yang dia lihat di sekelilingnya.

Teman-temannya mengeluh soal les tambahan sampai jam sembilan malam. Yamada tidak pernah ikut les.

Teman-temannya mengeluh soal orang tua yang memarahi mereka karena nilai turun dua poin. Orang tua Yamada hanya akan berkata, "Ya sudah, yang penting naik kelas."

Teman-temannya mengeluh soal cinta bertepuk sebelah tangan, soal persahabatan yang rumit, soal gengsi. Yamada tidak pernah masuk terlalu dalam ke hal-hal seperti itu.

Semuanya berjalan di jalur yang datar. Terlalu datar, bahkan.

Masalahnya hanya satu.

Yamada malas.

Sangat malas.

Bukan malas dalam artian dia tidak bisa melakukan apa-apa. Justru sebaliknya. Dia malas karena dia tahu, kalau dia mau, dia bisa melakukan hampir semuanya. Dan pemikiran bahwa dia harus melakukan sesuatu hanya karena dia bisa melakukannya, baginya adalah sebuah ketidakadilan kosmik.

"Yamada, kau sudah mengerjakan tugasnya?"

Suara seorang teman terdengar dari samping. Suara itu milik Sato. Sato adalah tipe murid yang hidupnya teratur. Buku catatannya selalu rapi, dengan stabilo warna-warni. Tugasnya selalu dikumpulkan tepat waktu. Rambutnya pun selalu disisir rapi, tidak seperti Yamada yang seolah-olah baru bangun tidur meski sudah jam dua siang.

Yamada yang sedang duduk di bangku baris ketiga dari jendela hanya mengangkat kepalanya sedikit. Kepalanya tadi terbenam di lipatan lengannya. Meja kayu itu terasa hangat karena sinar matahari sore yang masuk dari jendela. Debu-debu beterbangan di dalam cahaya itu, terlihat seperti bintang-bintang kecil yang malas bergerak.

"Belum," jawab Yamada. Suaranya serak dan pelan, suara khas orang yang baru saja tertidur.

"Besok dikumpulkan!" Sato setengah berbisik, setengah panik. Dia melirik ke arah guru yang sedang menulis di papan tulis. Kapur itu berdecit pelan.

"Masih ada waktu," jawab Yamada lagi, tanpa beban.

"Itu yang kau katakan tiga hari lalu." Sato mendesis.

Yamada kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Pipinya menempel di permukaan kayu yang sedikit dingin sekarang.

"Berarti aku masih konsisten," gumamnya.

Sato mendengus keras. "Dasar pemalas."

Yamada tersenyum tipis. Senyum yang hampir tidak terlihat karena sebagian wajahnya tertutup lengan.

Dia tidak membantah.

Memang benar.

Sejak kecil, Yamada selalu seperti itu.

Ketika anak-anak lain di taman kanak-kanak harus berjam-jam belajar menulis huruf 'A' dengan benar, Yamada hanya perlu melihat sekali. Tangannya yang kecil langsung bisa menirunya. Gurunya memujinya, "Wah, Yamada pintar!" Saat itu Yamada belajar satu hal penting: pujian itu merepotkan. Karena setelah dipuji pintar menulis 'A', dia disuruh menulis 'B' sampai 'Z' di depan semua anak sebagai contoh.

Ketika SD, saat pelajaran matematika, guru menjelaskan tentang pembagian panjang. Anak-anak lain mengernyitkan dahi, menggigit pensil, saling bertanya. Yamada mendengarkan selama tiga puluh detik, lalu mengerti polanya. Angka-angka itu seperti balok-balok yang bisa dia susun di kepalanya. Tapi dia tidak mengangkat tangan. Untuk apa? Kalau dia mengangkat tangan dan menjawab dengan benar, dia akan disuruh maju ke depan. Dan maju ke depan berarti berdiri. Berdiri itu melelahkan.

Matematika?

Mudah. Terlalu mudah sampai membosankan.

Bahasa?

Mudah. Dia hanya perlu membaca sekali, dan struktur kalimat, arti kata, semuanya tertinggal di otaknya seperti jejak di pasir basah.

Fisika?

Tidak terlalu sulit. Rumus-rumus itu hanyalah bahasa lain untuk menjelaskan hal-hal yang sudah dia lihat setiap hari. Apel jatuh, bola menggelinding, lampu menyala.

Olahraga?

Kalau dia mau berlatih, dia bisa mengejar orang yang sudah bertahun-tahun berlatih. Refleksnya bagus. Keseimbangan tubuhnya bagus. Di pelajaran lari 50 meter, dia sengaja lari dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat sampai mencolok, tidak terlalu lambat sampai dihukum lari lagi. Dia sudah menghitung kecepatan rata-rata kelas di kepalanya.

Bahkan ketika pertama kali mencoba sesuatu yang baru, Yamada biasanya bisa memahami dasar-dasarnya hanya dengan mengamati. Dia melihat cara kakak kelasnya bermain basket, cara melempar bola, tumpuan kaki, putaran pergelangan tangan. Dia mencobanya sekali di jam istirahat saat lapangan sepi, dan bola itu masuk. Dia langsung berhenti bermain, takut ada yang melihat.

Namun ada satu alasan mengapa hampir tidak ada orang yang menyadari kemampuannya.

Yamada tidak pernah merasa perlu menunjukkannya.

Menurutnya, menjadi hebat terdengar melelahkan. Menjadi hebat adalah sebuah kontrak sosial yang tidak pernah dia tanda tangani.

Jika mendapat nilai tertinggi, orang akan mulai memperhatikannya. Guru akan berkata, "Yamada, coba bantu temanmu yang kesulitan." Teman-teman akan datang, "Yamada, ajari aku dong." Dan dia harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah jelas. Itu buang-buang energi.

Jika memenangkan perlombaan, orang akan meminta bantuan. "Wah, kau jago lari, ikut lomba antar sekolah ya!" Lalu dia harus latihan pagi, latihan sore, mengorbankan waktu tidurnya yang berharga.

Jika menunjukkan bahwa dia mampu melakukan sesuatu, orang akan memberikan lebih banyak pekerjaan. Dunia ini aneh. Ketika kau menunjukkan bahwa kau bisa memikul 10 kilo, mereka tidak akan memujimu, mereka akan memberimu 20 kilo untuk dipikul. Yamada sudah menyadari hukum tidak tertulis itu sejak kecil.

Dan bagi Yamada...

Itu adalah hal yang paling ingin dia hindari.

Dia memiliki sebuah filosofi hidup yang dia pegang teguh, yang tidak pernah dia ceritakan pada siapa pun karena menjelaskan filosofi juga terdengar melelahkan.

Filosofi itu sederhana: Hidup adalah tentang meminimalkan pengeluaran energi untuk memaksimalkan kenyamanan.

Karena itu, dia memilih berada di tengah.

Tidak terlalu pintar. Nilai 70 sampai 75 sudah cukup. Aman. Tidak dipanggil orang tua, tidak disuruh ikut remedial.

Tidak terlalu bodoh. Nilai 40 itu merepotkan. Harus ikut kelas tambahan, harus berurusan dengan guru BP.

Tidak terlalu kuat. Kalau terlalu kuat, disuruh angkat-angkat barang saat festival sekolah.

Tidak terlalu lemah. Kalau terlalu lemah, jadi bahan bullying dan itu juga merepotkan.

Cukup untuk dianggap normal. Cukup untuk menjadi bayangan. Cukup untuk menjadi "oh, Yamada yang itu ya" dan kemudian dilupakan.

Sederhana.

Tenang.

Tidak merepotkan.

Itulah kehidupan ideal Yamada. Kehidupan yang sudah dia rancang dengan sangat hati-hati, dengan kemalasan yang sangat rajin.

Setidaknya sampai hari itu. Sampai hari di mana rancangan yang begitu sempurna itu retak hanya karena sebuah persimpangan jalan.

Sore menjelang malam.

Bel sekolah sudah berbunyi sekitar dua puluh menit yang lalu. Sebagian besar siswa sudah pulang, atau masih tertahan di klub masing-masing. Suara pantulan bola basket dari lapangan masih terdengar samar-samar, bercampur dengan suara cicada yang mulai pelan karena musim panas hampir berakhir.

Yamada berjalan sendirian menyusuri trotoar setelah meninggalkan sekolah. Tasnya disampirkan di satu bahu saja, dengan cara yang paling tidak menyeimbangkan tapi paling malas. Seragamnya sedikit kusut.

Langit berwarna jingga. Bukan jingga biasa. Ini adalah jingga yang pekat, yang hanya muncul di antara pukul lima dan enam sore, saat matahari seolah-olah ragu-ragu untuk tenggelam. Awan-awan tipis tersapu angin, berubah warna dari putih menjadi oranye, lalu menjadi ungu pudar di ujungnya.

Angin sore bertiup pelan. Angin itu membawa bau rumput yang baru dipotong dari lapangan, bau knalpot yang samar dari jalan raya, dan bau manis dari toko roti di ujung jalan.

Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berjalan tanpa terburu-buru. Langkahnya pendek-pendek. Tidak ada tujuan untuk berjalan cepat. Lagi pula, rumahnya hanya berjarak lima belas menit jalan kaki. Tidak ada yang menunggunya di rumah dengan urgensi. Ibunya mungkin sedang menonton TV, ayahnya mungkin belum pulang.

"Akhirnya pulang," gumamnya pelan. Suaranya hampir hilang tertiup angin.

Pikirannya langsung membayangkan tempat tidur. Bukan tempat tidur yang rapi dengan selimut dilipat seperti di hotel. Tapi tempat tidurnya sendiri. Selimut yang sedikit kusut, bantal yang sudah membentuk lekukan persis sesuai bentuk kepalanya, guling yang sudah agak kempes karena terlalu sering dipeluk. Dia membayangkan betapa dinginnya lantai kayu saat kakinya menyentuhnya setelah melepas sepatu. Dia membayangkan suara kipas angin tua itu.

Tidak ada pekerjaan.

Tidak ada tugas. Ya, tugas yang ditanyakan Sato tadi memang belum dikerjakan, tapi itu adalah masalah Yamada di masa depan. Bukan masalah Yamada yang sekarang. Yamada yang sekarang hanya ingin tidur.

Tidak ada orang yang meminta sesuatu.

Hanya tidur. Tidur siang yang berubah menjadi tidur sore, yang kemudian berlanjut menjadi tidur malam. Sebuah siklus kemalasan yang sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!