Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Kuno Eldoria dan Peta Kuno yang Terhilang
Angin malam berhembus dingin menembus hamparan Gurun Perbatasan. Di sebuah kedai tua di pinggiran Kota Perdagangan Eldoria, party petualang Tier SSS duduk mengelilingi meja kayu yang cukup besar. Setelah pertempuran dahsyat di Benteng Perbatasan yang berhasil memukul mundur pasukan sihir hitam Kerajaan Caelum, nama mereka semakin melambung tinggi. Namun, bagi Zass, Ryu, Ken, Okta, dan Kayla, kejayaan dan pujian dari para bangsawan bukanlah akhir dari perjalanan mereka.
Di atas meja, Ryu menggelar sebuah gulungan perkamen tua yang dilapisi pelindung sihir transparan. Perkamen itu didapatkan dari ruang penyimpanan rahasia di dalam altar Lembah Petir Kuno.
"Peta ini bukan sembarang peta," kata Ryu seraya mengarahkan jarinya yang memancarkan pendar halus Petir Oren. "Paman Lion meninggalkan petunjuk ini sebelum ia menghilang. Ada tiga tempat di dunia ini yang menyimpan rahasia Inti Elemen Kuno, dan Lembah Petir Kuno hanyalah salah satunya."
Ken menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap garis-garis emas yang membentuk pola rumit di atas perkamen. "Petir Kuning milikku merespons sinyal dari arah utara pegunungan es. Apakah lokasi berikutnya ada di sana?"
"Tepat sekali," jawab Ryu. "Puncak Abadi Frostpeak. Di sana tersimpan Core of Thunder Tempest, energi petir murni yang terbentuk dari pembekuan ribuan tahun. Jika Zass ingin menyempurnakan bentuk akhir dari Petir Ungu Legendaris, kita harus menuju ke sana."
Okta mengelus dagunya yang berewokan tebal, lalu terkekeh pelan. "Pegunungan es? Wah, armor Petir Biru milikku harus bekerja ekstra keras untuk menjaga tubuh kita tetap hangat di sana."
Kayla tersenyum manis seraya memainkan percikan Petir Merah di ujung jarinya. "Selama kita bersama sebagai satu party, tidak ada tempat di daratan ini yang tidak bisa kita tembus. Benar kan, Zass?"
Zass yang sejak tadi diam memperhatikan peta tua itu akhirnya mendongakkan kepala. Pemuda 17 tahun itu mengenakan jubah goni usangnya yang baru saja dirapikan. Pedang hitam terbarunya terikat mantap di pinggang, memancarkan aura tenang namun amat sangat kuat. Perpisahan sementara dengan Putri Celestia di Benteng Perbatasan tidak membuatnya lemah, melainkan menjadi bahan bakar utama yang membakar semangatnya untuk menjadi sosok terkuat di Magical World.
"Kita berangkat besok pagi sebelum fajar," ucap Zass dengan suara rendah dan berbobot. "Frostpeak bukan tempat yang ramah. Kita harus bersiap menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dari sekadar naga kuno atau pasukan sihir."
Keesokan harinya, sebelum semburat merah matahari terbit di ufuk timur, kelima anggota party telah bergerak meninggalkan Kota Eldoria. Langkah mereka cepat dan konstan, menembus jalur gersang menuju wilayah utara yang berselimut salju abadi.
Perjalanan menempuh waktu lima hari melintasi berbagai iklim ekstrim. Semakin mereka melangkah ke utara, tanah hijau berganti menjadi gurun es yang membeku. Angin kencang bercampur abu salju menusuk kulit, namun pendar aura dari lima elemen petir yang menyelimuti tubuh mereka menciptakan perisai hangat yang tak tertembus.
Saat mereka tiba di kaki Puncak Abadi Frostpeak, pemandangan luar biasa terhampar di hadapan mereka. Gunung batu raksasa yang tertutup es kebiruan menjulang menembus awan. Di puncaknya, kilatan petir berwarna biru pucat meliuk-liuk liar di udara, menimbulkan suara gemuruh yang konstan.
"Tekanan energinya terasa sangat dingin," gumam Ken seraya menarik belatinya. Percikan petir kuning di senjatanya tampak meredup sedikit akibat suhu ekstrim di tempat tersebut.
"Hati-hati," pangkas Okta. Tubuh besarnya seketika memancarkan Petir Biru yang sangat tebal, melapisi seluruh anggota party dengan perisai pelindung suhu. "Di gunung ini, sihir pembeku dapat menghentikan aliran energi sihir dalam darah jika kita lengah."
Mereka mulai memanjat tebing es yang terjal. Jalur yang mereka lewati sangat sempit dan licin, diapit oleh jurang tanpa dasar di sebelah kiri. Namun, koordinasi dan insting bertarung party Tier SSS telah berada di tingkat tertinggi. Ryu menggunakan petir oren untuk membuka jalan es, sementara Kayla memastikan barisan belakang aman dari longsoran kristal es.
Saat tiba di pertengahan tebing, udara mendadak menjadi sangat hening. Badai salju yang tadinya berembus kencang terhenti secara tiba-tiba.
Zzzzt... BZZZZT!
Dari dalam lorong es raksasa di dinding tebing, melompat keluar puluhan makhluk ghaib berkulit kristal es dengan mata menyala merah murni. Mereka adalah Frost Guardians, penjaga kuno yang diciptakan oleh energi Core of Thunder Tempest untuk membunuh siapa saja yang mencoba mendekati puncak.
"Musuh datang!" teriak Kayla seraya menembakkan tombak Petir Merah ke udara.
Ledakan api petir merah menghantam barisan depan Frost Guardians, menciptakan kepulan uap air yang membumbung tinggi. Namun, tubuh kristal para penjaga es itu terbuat dari es abadi yang sangat keras. Mereka tidak hancur, melainkan terus meluncur turun dengan kecepatan luar biasa sambil mengayunkan pedang-pedang es raksasa!
"Biar aku dan Ken yang tahan pertahanan mereka!" seru Okta.
Okta menerjang ke depan, menghentakkan perisai petir birunya ke lantai es, menciptakan benteng energi yang menahan serbuan sepuluh Frost Guardians sekaligus. Ken melesat cepat bagaikan kilat kuning, menebas persendian kaki para penjaga es untuk mengacaukan keseimbangan mereka.
Ryu menyusul dengan serbuan bertubi-tubi, memicu gelombang petir oren yang membakar inti sihir musuh dari dekat. Kerja sama mereka berjalan sangat rapi, menunjukkan kelas sebagai party petualang peringkat atas yang paling ditakuti.
Namun, dari kedalaman lorong es, muncul sesosok Frost Guardian raksasa berukuran tiga kali lipat dari yang lain. Makhluk itu membawa kapak es besar dan memancarkan aura petir membeku yang sanggup membekukan udara di sekitarnya dalam hitungan detik.
ROAAARRR!
Makhluk raksasa itu mengayunkan kapaknya mendatar, mengincar Okta dan Ryu yang sedang bertarung di garis depan!
"Brave!" teriak Ryu.
Zass melangkah maju menyalip barisan rekannya. Wajahnya sangat tenang, tak ada sedikit pun rasa gentar di matanya. Ia memegang gagang pedang hitam di pinggangnya.
CRAAAAZZZSH!
Seketika, pancaran Petir Ungu Legendaris meledak dahsyat dari tubuh Zass! Aura ungu yang pekat melingkupi Zass, memotong gelombang pembeku milik raksasa es tersebut hingga tak berbekas.
Zass melesat! Kecepatannya melampaui batas pandangan mata. Dalam satu kedipan, ia telah berada di udara, tepat di atas kepala Frost Guardian raksasa tersebut.
"Teknik Tempaan Petir Ungu: Tebasan Pembelah Jiwa!"
Pedang hitam Zass berputar di udara, memancarkan sabit petir ungu raksasa yang menebas lurus dari atas ke bawah!
BOOOOOOMM!
Tebasan petir ungu itu menembus tubuh es raksasa tersebut secara presisi. Arus listrik ungu merangsek masuk, meretakkan seluruh struktur kristal es abadi milik sang raksasa dari dalam. Dalam waktu satu detik, Frost Guardian raksasa itu hancur lebur menjadi debu es halus yang hanyut diterpa angin gunung.
Seluruh Frost Guardians lainnya yang tersisa seketika membeku di tempat, kehilangan inti energi penggerak mereka, lalu runtuh menjadi tumpukan es tak bernyawa.
Pertempuran di dinding tebing telah usai dengan kemenangan mutlak.
Zass mendarat dengan anggun di atas lantai es, menyarungkan kembali pedang hitamnya. Pendar petir ungu di tubuhnya meredup secara halus, kembali menyatu rapat di dalam jiwanya.
Ryu, Ken, Okta, dan Kayla melangkah mendekat seraya menatap Zass dengan rasa bangga yang tak terlukiskan. Penguasaan Zass atas Petir Ungu pasca-latihan di Lembah Petir Kuno telah membuat kekuatannya berada di level yang belum pernah terlihat dalam sejarah Magical World.
"Tebasan yang sangat bersih," puji Ryu seraya menepuk pundak Zass. "Kau makin mirip dengan Paman Lion setiap harinya."
Kayla tersenyum manis seraya merapikan rambutnya. "Jalan menuju puncak gunung sudah terbuka bebas. Core of Thunder Tempest sudah menunggu kita di atas sana."
Zass menatap ke arah puncak Puncak Abadi Frostpeak yang kini bersinar terang oleh pendar petir biru pucat. Di balik jubah karung goni usangnya, ia meremas liontin belah ketupat di dadanya.
Ia tahu, setiap langkah yang ia tempuh bersama rekan-rekannya membawa mereka makin dekat menuju takdir agung. Suatu hari nanti, ketika seluruh rahasia elemen kuno telah berhasil disatukan dan nama party petualang Tier SSS telah terukir abadi di seluruh penjuru kerajaan, ia akan kembali untuk menagih janji dan berdiri tegak di samping Putri Celestia tanpa ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup menghalanginya.
"Ayo," panggil Zass penuh determinasi. "Kita ambil energi puncak ini dan terus melangkah maju."
Dengan semangat yang tak tergoyahkan, Zass bersama keempat rekannya melangkah menembus badai es, melanjutkan petualangan legendaris mereka di Magical World.