Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dosa Sang Mafia

Pewaris Dosa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Yamila22

Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.

Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.

"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."

Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.

Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Dinding Kaca

Sarapan di mansion Smirnov biasanya jadi medan pertempuran tatapan penuh kebencian, atau percikan ketegangan seksual yang tak seorang pun mau mengakuinya. Tapi pagi ini, keheningannya berbeda. Keheningan yang datar, hampa, seperti dua orang asing yang berbagi kamar hotel karena terpaksa.

Damian duduk di ujung meja, memeriksa denah pelabuhan di tabletnya sambil menyeruput kopi hitam. Dia bahkan tak mengangkat pandangannya saat aku masuk ke ruangan sambil menggendong Eithan.

"Pagi," sapaku, suaraku terdengar aneh, kecil, di ruang makan yang luas itu.

"Pagi, Alessandra," jawabnya, tanpa menatapku. "Bubur Eithan sudah siap. Mikhail sudah memeriksa perimeter satu jam lalu; semua aman untuk anak itu bermain di taman setelah makan."

Rasanya seperti disiram seember air es. Tak ada lagi pandangannya yang biasa menyisir bajuku, tak ada komentar sarkastis soal sikapku, tak ada tekanan kehadirannya yang mencari kehadiranku. Dia memperlakukanku dengan kesopanan efisien seorang pegawai berpangkat tinggi. Aku hanya "ibu dari anaknya".

"Terima kasih," gumamku sambil mendudukkan Eithan.

Eithan berceloteh, tak tahu-menahu soal perang dingin yang bergejolak di atas kepalanya. Damian bangkit, mengusap rambut si kecil dengan kelembutan yang meremas hatiku, lalu melangkah ke pintu.

"Damian, soal semalam..." aku memulai, mencari celah pada baju zirahnya.

Dia berhenti, tapi tidak berbalik.

"Soal semalam sudah jelas. Dimitri akan memindahkan muatan pukul dua dini hari di Dermaga 14. Aku butuh kau memeriksa kode akses yang kita rebut dari anak buah Bianca. Kalau kita mau melakukan ini, kita harus terkoordinasi. Sebagai rekan."

"Cuma itu? 'Sebagai rekan'?" tanyaku, merasakan simpul di tenggorokan yang sulit kutelan.

"Bukankah itu yang kauminta?" Akhirnya Damian berbalik, dan matanya padam, seperti abu setelah kebakaran besar. "Anak itu tidak perlu lagi melihat kita bertengkar. Dia berhak atas kestabilan, dan jika untuk itu aku harus mengeluarkan perasaanku dari persamaan, akan kulakukan. Kita bertemu di ruang kerja pukul sepuluh untuk membahas logistik."

Dia pergi tanpa menunggu jawaban. Aku ditinggal sendiri bersama Eithan, dengan nyeri tajam di dada. Sikap acuhnya lebih menyakitkan daripada teriakannya. Menyakitkan karena dia berhenti memperjuangkanku. Melihatnya mengutamakan ketenangan si anak di atas hasratnya sendiri membuatku sadar bahwa Damian yang egois itu perlahan menghilang, dan yang tersisa adalah seorang pria yang tak lagi bersedia menjadi samsak tinjuku secara emosional.

Pagi itu kuhabiskan di ruang kerja, dikelilingi layar dan peta. Pergerakan Dimitri di pelabuhan sudah di ambang mata. Menurut laporan intelijen, sang Pakhan akan datang dengan pengerahan kekuatan besar-besaran untuk merebut kembali apa yang diyakininya dicuri Bianca darinya.

Damian masuk dua jam kemudian. Dia bergerak dengan presisi militer, memberiku perintah-perintah singkat, membahas rute pelarian dan titik ekstraksi. Kami bekerja berdampingan, tangan kami sesekali bersentuhan di atas peta, tapi dia langsung menarik tangannya, seolah kulitku membakarnya.

"Kalau ada yang tidak beres," ucap Damian sambil menunjuk satu titik pada peta pelabuhan, "Mikhail akan mengeluarkanmu lebih dulu. Dia tahu prioritasnya adalah kau pulang untuk Eithan."

"Dan kau?" tanyaku, menancapkan mataku ke matanya.

"Aku bisa dikorbankan, Alessandra. Selama kalian aman, tugasku sebagai ayah sudah selesai," jawabnya dengan dingin yang membekukanku.

"Kau tidak bisa dikorbankan bagi Eithan," kataku, dan nyaris kutambahkan: juga tidak bagiku.

Damian hanya mengangguk, menutup map berisi denah itu.

"Siapkan senjatamu. Kita berangkat pukul 23.00. Dimitri tidak tahu kita sedang menantinya, tapi Bianca tahu betul apa yang mampu diperbuat Dimitri. Mungkin sudah waktunya adikmu memberi kita potongan teka-teki terakhir sebelum kita semua dibantai di dermaga itu."

Dia keluar dari ruang kerja, meninggalkanku bersama pikiranku sendiri. Aku merasa kecil, rapuh, dan sendirian sekali. Aku sedang meraih apa yang kuinginkan: memegang kendali, dihormati sebagai setara, dan membuatnya berhenti menekanku. Tapi harganya adalah menyaksikannya menjauh ke sebuah jurang tempat aku bukan lagi cahayanya, melainkan sekadar ibu dari keturunannya.

Kupandangi tanganku. Bergetar. Aku sedang kehilangan dia, dan sementara jarum jam merangkak menuju tengah malam dan pertempuran terakhir di pelabuhan, aku paham bahwa mungkin, saat Dimitri tiba nanti, yang perlu kucemaskan bukan hanya peluru, melainkan kenyataan bahwa tak ada lagi yang ingin diselamatkan Damian dari abu keangkuhanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!