Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

​"Wah, wah, wah..." Toni tertawa keras, tawanya menggema di seluruh gudang. "Lihat siapa yang datang! Sales asuransi nyasar! Cuma bertiga, Bel? Berani banget lo!"

​Puluhan anggota Geng Serigala maju selangkah, merapatkan barisan, memukul-mukulkan tongkat besi mereka ke telapak tangan. Suara dentingan besi itu dirancang untuk menghancurkan mental lawan. ​Dion menelan ludah, refleks tangannya mengepal siap bertinju, namun ia teringat SOP dan menahan dirinya. Rindi memegang koper hitamnya erat-erat hingga buku jarinya memutih, kakinya gemetar. ​Namun Bella, Sang Manajer HRD tidak menghentikan langkahnya hingga ia berada tepat lima meter di depan Leo. Ia sama sekali tidak memedulikan tiga puluh orang bersenjata yang mengepungnya. Pandangannya hanya terkunci pada satu orang, sang CEO lawan.

​"Selamat malam, Saudara Leo," sapa Bella dengan intonasi vokal yang diproyeksikan sempurna, menembus suara bising angin pelabuhan. "Terima kasih atas undangannya. Saya melihat Anda membawa seluruh jajaran dewan direksi dan staf lapangan Anda untuk menyambut saya."

​Leo mengangkat tangannya, memberikan isyarat. Seketika, seluruh anggota Geng Serigala diam. Leo menatap Bella dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa kagum yang disembunyikan di balik tatapan mengintimidasinya.

​"Kamu punya nyali, Bella Anastasia," kata Leo, suaranya berat dan bergema. "Datang ke kandang kami tanpa senjata, hanya membawa dua anjing peliharaanmu. Apa kamu tidak takut kami akan menghancurkanmu di sini, sekarang juga?"

​Bella tersenyum, senyum korporat yang sangat kalkulatif.

​"Ketakutan adalah emosi yang lahir dari kurangnya persiapan, Leo," jawab Bella tenang. "Saya tidak merasa takut, karena saya tidak datang untuk bertarung. Saya datang untuk melakukan negosiasi Hostile Takeover (Pengambilalihan Paksa). Dan sebelum Anda memberikan instruksi kepada staf Anda untuk menyerang, ada baiknya Anda melihat presentasi data saya terlebih dahulu."

​Bella memberi isyarat dengan jentikan jarinya. Rindi maju satu langkah dengan kaku, meletakkan koper hitam itu di atas sebuah tong besi kosong di antara mereka, membukanya, dan melangkah mundur kembali.

​Toni mendengus sinis, melangkah maju untuk melihat isi koper tersebut. "Apaan nih? Uang tebusan biar lo bisa pulang selamat?"

​Toni menunduk melihat isi koper. Tidak ada uang di sana, hanya ada tumpukan map tebal. Toni mengerutkan kening dan mengambil satu map teratas, lalu melemparnya ke pangkuan Leo.

​Leo membuka map tersebut, matanya perlahan melebar saat membaca halaman pertamanya.

​"Itu adalah hasil Due Diligence (Uji Tuntas) atau investigasi latar belakang yang saya lakukan terhadap organisasi Anda selama tiga hari terakhir," suara Bella membelah keheningan gudang dengan kejam. ​"Di dalam dokumen tersebut, terdapat bukti foto transaksi peredaran barang ilegal kelas ringan (miras oplosan) yang dilakukan oleh tiga anggota Anda di belakang Terminal Kota bulan lalu. Ada juga rekaman CCTV pengeroyokan siswa SMA Swasta Kencana yang menyebabkan korban gegar otak, di mana pelakunya, Toni terekam jelas melarikan diri."

​Wajah Toni seketika pucat pasi, pisau lipat di tangannya nyaris terjatuh. "L-lo... dari mana lo dapat dokumen sampah itu?!"

​"Investigasi pihak ketiga (Outsourcing)," jawab Bella datar. Sebuah kebohongan yang rapi, padahal ia hanya menyuruh Tono dan Budi membongkar forum-forum gelap internet dan menyuap penjaga warnet dengan sisa uang kas mereka.

​Bella maju satu langkah, menekan dominasi psikologisnya. "Leo, mari kita bicara bisnis. Jika Anda membiarkan satu helai rambut saya atau anggota saya disentuh malam ini, tiga hal akan terjadi secara simultan."

​Bella mengangkat satu jari. "Satu. Rekaman live streaming resolusi tinggi dari berbagai sudut gudang ini, yang saat ini sedang dioperasikan oleh dua anggota saya di tempat yang tidak bisa kalian jangkau akan tersimpan otomatis di server awan (cloud)."

​Ia mengangkat dua jari. "Dua. Sebuah email terjadwal (Scheduled Email) yang berisi tautan video ini beserta dokumen kriminal di koper tersebut akan otomatis terkirim ke alamat email pribadi Kapolres, Kepala Dinas Pendidikan, dan Kepala Sekolah Anda tepat pada pukul 21:00 WIB, jika saya tidak membatalkannya melalui kata sandi biometrik dari ponsel saya."

​Bella mengangkat tiga jari. "Tiga. Besok pagi, Geng Serigala tidak hanya akan bubar, tetapi minimal lima anggota inti Anda termasuk Toni, akan mengenakan seragam oranye di balik jeruji besi atas tuduhan percobaan pembunuhan terencana dan pemerasan. Sementara saya? Saya akan bersaksi di pengadilan sebagai korban malang yang tidak bersenjata."

​Keheningan yang mematikan turun menyelimuti gudang itu, angin laut terdengar seperti raungan hantu. Tiga puluh anggota Geng Serigala yang tadinya beringas, kini saling berpandangan dengan wajah ketakutan. Mereka adalah preman jalanan, bukan mafia terorganisir. Ancaman masuk penjara dengan bukti yang tidak bisa dibantah adalah ketakutan terbesar mereka.

​Toni mengertakkan gigi, urat lehernya menonjol. Ego berandalnya tidak bisa menerima kekalahan tanpa perlawanan. "Dia gertak sambal, Bos! Cewek ini cuma banyak bacot! Gue bunuh dia sekarang biar dia nggak bisa ngirim apa-apa!"

​Toni menerjang maju, mengangkat pisaunya tinggi-tinggi ke arah dada Bella.

​Trang!

​Sebuah gerakan secepat kilat memotong serangan itu. Dion, yang sejak tadi menahan insting tempurnya langsung memutar tubuhnya, menendang pergelangan tangan Toni dengan kekuatan penuh hingga pisau itu terlempar ke sudut gudang. Dalam hitungan detik berikutnya, Dion memutar lengan Toni ke belakang dan menendang lipatan lututnya, memaksa Toni berlutut di lantai beton dengan jeritan kesakitan.

​Dion menahan Toni di lantai tanpa melepaskan cengkeramannya, matanya menatap liar ke arah anggota Geng Serigala lainnya, siap membantai siapa pun yang mendekat. ​Namun, tidak ada satu pun yang berani melangkah, otoritas Leo masih menahan mereka.

​Bella tidak berkedip sedikit pun selama insiden itu terjadi. Ia menatap Leo, yang masih duduk tenang di sofa dan menyaksikan wakilnya dilumpuhkan dalam dua detik.

​"Ini adalah pelanggaran kesepakatan pertemuan, Leo," kata Bella tajam. "Lepaskan dia, Dion. Kita bukan orang barbar."

​Dion mendecak, namun tetap melepaskan Toni dan mendorongnya menjauh sesuai perintah Bella, kemudian kembali ke posisinya di samping Bella. Toni merangkak mundur sambil memegangi lengannya yang nyaris patah, menatap Dion dengan kebencian dan ketakutan yang mendalam.

​Leo perlahan berdiri dari sofanya. Ia berjalan mendekati Bella, menatap mata hitam gadis itu. Ia mencari jejak kebohongan, ketakutan, atau kepanikan. Ia tidak menemukan apa pun selain dinding rasionalitas yang kokoh.

​"Kau..." Leo berbicara pelan, suaranya bercampur antara kekesalan dan rasa kagum yang absolut. "...kau bukan anak SMA biasa. Cara otakmu bekerja... ini mengerikan."

​"Terima kasih atas pujiannya," jawab Bella profesional. Ia membuka stop map merah yang dibawanya sejak tadi, mengeluarkan dua lembar kertas bersegel meterai, dan menyerahkannya kepada Leo.

​"Saya menawarkan solusi resolusi konflik (Conflict Resolution). Ini adalah Nota Kesepahaman (MoU) Gencatan Senjata Permanen. Poin utamanya, Geng Serigala tidak akan pernah lagi melintasi wilayah SMA Garuda dan tidak akan melakukan provokasi fisik maupun digital kepada anggota saya. Sebagai timbal baliknya, saya akan menghancurkan koper bukti ini dan tidak akan pernah ikut campur dalam urusan internal Anda."

​Bella menyodorkan sebuah pulpen hitam bermerek mahal (milik ayahnya) kepada Leo.

​"Tanda tangani ini, Leo. Akuisisi selesai, dan kita semua bisa pulang untuk tidur nyenyak."

​Leo menatap kertas itu, lalu menatap pulpen yang disodorkan. Ia melihat ke sekeliling, menatap anak buahnya yang wajahnya memancarkan keputus-asaan. Leo tahu kapan ia dikalahkan. Dan ia dikalahkan hari ini, bukan oleh kepalan tangan, melainkan oleh strategi manajemen krisis yang brilian. ​Dengan helaan napas panjang, Leo mengambil pulpen itu dan membubuhkan tanda tangannya di atas meterai.

​"Geng Serigala tunduk pada perjanjian ini," kata Leo, menyerahkan kembali dokumen tersebut. "Namun ingat, Bella. Sebuah kertas hanya berharga jika kedua belah pihak menghormatinya, aku akan mengawasimu."

​"Dan saya akan memastikan audit operasional saya selalu melampaui pengawasan Anda," Bella membalas dengan senyuman kemenangan. Ia memasukkan satu salinan dokumen ke dalam mapnya, meninggalkan salinan lainnya untuk Leo.

​"Dion, Rindi. Ayo kumpulkan aset kita. Kita logout (pulang)."

​Ketiga remaja itu berbalik dan berjalan keluar dari gudang dengan tenang, meninggalkan tiga puluh anggota Geng Serigala dalam keheningan kekalahan total. Di atas crane yang jauh dari pandangan, Tono dan Bono yang memantau melalui layar ponsel nyaris pingsan karena menahan napas terlalu lama. ​Strategi Hostile Takeover sukses tanpa meneteskan setetes darah pun.

​~​Senin pagi~

Sinar matahari terasa lebih hangat di lapangan SMA Garuda, ​berita tentang kejadian di Pelabuhan Lama tidak pernah menyebar ke telinga guru atau siswa lain. Namun, di dunia bawah tanah (tongkrongan antar sekolah), rumor itu meledak seperti bom atom. Geng Serigala yang ditakuti telah dipaksa menandatangani perjanjian damai oleh Bella Anastasia, membuat reputasi Unit Manajemen Krisis meroket ke level legendaris. Mereka ditakuti bukan karena kekerasan, melainkan karena tidak ada yang tahu senjata rahasia apa yang dimiliki oleh bos mereka.

​Di kelas 11 IPS 2, Bella sedang mengadakan rapat Closing Quarter (Penutupan Kuartal Pertama) bersama keempat anggota setianya.

​"Berdasarkan evaluasi kinerja selama tiga bulan terakhir," Bella membaca laporannya dari tablet, "kita telah mencapai seluruh target strategis. Restrukturisasi personal selesai, nilai akademis di atas KKM, otonomi dari manajemen sekolah terjamin, dan ancaman eksternal telah dinetralisir melalui MoU. Kuartal Pertama resmi ditutup dengan status 'Sangat Menguntungkan' (Highly Profitable)."

​"HOREEE!!" Tono dan Bono bersorak tertahan, takut ditegur guru piket di luar kelas.

​Dion tersenyum lebar, menatap punggung tangannya yang biasanya penuh memar pada bulan-bulan ini di tahun lalu. Sekarang, tangannya bersih. Hidupnya memiliki arah.

​"Jadi, target kita di Kuartal Kedua apa, Bos?" tanya Riko sambil menyiapkan buku kas barunya.

​Sebelum Bella sempat menjawab, pintu kelas diketuk. Siska dari OSIS masuk dengan membawa sebuah map tebal berlogo sekolah.

​"Permisi... Bella," Siska berjalan mendekat, menyerahkan map tersebut. "Pak Surya baru saja mengeluarkan mandat baru. Karena kesuksesanmu di persiapan akreditasi, beliau menunjukmu secara resmi sebagai Ketua Pelaksana Eksekutif untuk acara 'Festival Pendidikan dan Kewirausahaan' bulan depan. Dan... kamu bebas memilih tim inti kamu dari ekstrakurikuler mana pun."

​Mata Dion, Rindi, Tono, dan Bono membelalak. Menjadi Ketua Pelaksana acara terbesar sekolah adalah posisi paling bergengsi yang biasanya diperebutkan oleh anak-anak elit OSIS. ​Bella menerima map tersebut. Ia membuka halaman pertamanya, melihat proyeksi anggaran puluhan juta rupiah dan skala acara yang melibatkan pihak sponsor luar sekolah. Ini bukan lagi sekadar merapikan kertas saja, ini adalah manajemen Event berskala menengah.

​Sarah Paramitha tersenyum di dalam tubuh remaja itu. Darah HRD-nya mendidih dengan antusiasme.

​"Sampaikan terima kasih saya kepada Bapak Surya, Siska," kata Bella, menutup map tersebut dengan bunyi 'klik' yang mantap. "Proyek diterima. Kita akan menjadikan festival ini sebagai mesin pencetak Return on Investment terbesar dalam sejarah sekolah ini."

​Di luar sekolah, di sebuah jalanan yang sepi, Toni sedang meninju tembok bata hingga buku jarinya berdarah. Matanya memancarkan dendam yang membara. Ia tidak bisa menerima Leo yang tunduk pada Bella. Ia bersumpah, jika Leo tidak berani menghancurkan SMA Garuda, maka ia akan mencari cara sendiri untuk melakukannya, meskipun ia harus menjadi antagonis tunggal dalam peperangan ini.

____________

Update bab baru, agak lama. Soalnya dari tadi siang hujan mulu di sini, bahkan sampai bab ini final pun begitu. Menyebabkan jaringan sinyal sedikit susah.

Untuk para pembaca dimanapun berada tetap jaga kesehatan dan keselamatan ya ditengah banyaknya bencana alam yg terjadi sekarang. Semoga Tuhan yang Maha Esa tetap melindungi kita Semua. Selamat membaca dan terima kasih sudah mampir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!