Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding Monisha Affan 03.
Satu bulan kemudian...
Hari terkutuk itu akhirnya datang juga. Hari dimana Mona akan menikah dengan Affan. Kalau tidak karena permintaan sederhana mendiang kakek, mungkin Mona akan kabur dari pernikahan ini. Begitu pun dengan Affan, kalau bukan karena permintaan almarhum kakek nya, mungkin ia juga akan kabur dari tempat ini.
Pernikahan mereka digelar di KUA terdekat rumah mempelai perempuan, acara itu dilakukan sangat rahasia dan tertutup.
Terlihat hanya ada keluarga inti dari masing-masing pengantin yang hadir.
Pernikahan mereka tidak ada pesta megah seperti orang menikah pada umumnya. tapi hal itu diganti oleh syukuran kecil di rumah mempelai laki-laki setelah ijab kabul selesai.
Sehingga saat Affan sudah mengucapkan kalimat ijab kabul dan langsung disambut oleh kata "SAH" Dari para saksi. Akhirnya Affan resmi menjadi suami Monisha.
Selepas acara doa, Mona yang sejak tadi sibuk menahan tangis karena masa muda nya hancur. Pinggang nya disenggol-senggol oleh mama. "Jangan melamun, habis ini kamu salim sama suami"
Mona menatap mama dengan tatapan paling nanar, lalu mengangguk paham. Selama dia hidup, baru tahu jika ada momen yang biasa nya terjadi selepas ijab kabul.
Bukannya merasa senang jika puncak kepala nya disentuh oleh Affan untuk menggumamkan doa. Justru, Mona harap kalau tindakan Affan cepat ia selesaikan karena merasa jijik.
Lantas bagaimana dengan cara Mona yang sedang menyalami punggung tangan Affan, pria itu berharap Mona tidak meninggalkan bercak saliva disana.
Selepas ijab Kabul terlaksana di KUA. Sesuai jadwal yang direncanakan oleh kedua keluarga mempelai, acara syukuran sederhana di gelar di kediaman mempelai laki-laki.
Siang hari itu, di rumah keluarga Affan masih di kunjungi kerabat dekat. Cuacanya agak mendung, tapi suasana yang tercipta cukup hangat.
Selain musik dangdut yang dominan, becandaan ibu-ibu komplek terdengar lebih heboh. Tak masalah mulutnya sudah penuh oleh makanan, celotehan yang disusul gelegar tawa seakan bukan menjadi penghalang.
Mamang hampir seperti itu, terkadang kumpul bersama para tetangga menjadi daya tarik sendiri penghuni komplek.
"Kemarin ya Ceu, saya ke pasar lihat tukang buah nampol tukang sayur, langsung di buat miring rahangnya, kirain tukang buah nya itu sakti, ternyata tukang sayurnya pakai behel"
"Bwahahahahaaha!"
Mona yang baru saja menaruh piring berisi kue basah di atas kursi plastik sebagai suguhan, menahan diri untuk tak menggeleng tak habis pikir. Entah dimana letak lucunya, tapi para ibu-ibu itu tergelak, sampai-sampai ada yang tersedak bolu ketan.
"Eh neng Mona sini duduk dulu" Semena-mena tangan Mona ditarik, dipaksa duduk dan bergabung bersama mereka. Hanya butuh waktu tiga detik Mona dibuat terkurung, lalu mulai dicecar beberapa pertanyaan dari kumpulan ibu-ibu komplek selayaknya selebritis yang tengah tersandung kontroversi.
"Mona ini teman sekolahnya Affan ya?"
Gadis mengangguk lemah. "Iya Tante"
"Gak habis pikir ternyata kamu sangat mirip sama anak tante yang menikah muda karena perjodohan"
"Waaaah!" Mona pura-pura antusias, padahal aslinya sudah mulai muak.
"Tapi, anak gadis tante justru ketahuan buat perjanjian ketat sama suami nya, untung nya ketahuan lebih awal, kalau enggak ketahuan mereka mungkin ga bisa saling jatuh cinta dan punya anak kembar."
Alih-alih menambah rasa muak, justru Mona membelalak mata antusias. "Perjanjian apa tuh tante kalau boleh tahu?" Tanyanya penuh penasaran.
"Perjanjian tidak boleh masuk kamar tanpa izin, perjanjian ketukan pintu kamar minimal tiga kali saat mau masuk kamar, perjanjian jadwal masak, perjanjian jadwal membersihkan kamar mandi dan lain-lain. Untungnya perjanjian itu langsung bubar setelah tante marahin mereka hehe" Jawab wanita paruh baya itu lalu terkekeh sehabis bicara.
Sedangkan wanita paruh baya lainnya malah nyeletuk, "Gak berniat nunda hamil kan teh Mona? Sebaiknya jangan menunda-nunda, takutnya nanti malah susah"
Menggaruk lehernya kikuk, Mona justru ingin sekali kabur dari sana.
"Rutin konsumsi buah kurma muda ya, supaya tokcer" Timpal ibu-ibu yang lain.
Kepala Mona sudah mulai pening mendengar ocehan emak-emak di dekatnya, terlebih saat obrolan ini merembet ke area dewasa.
"Ibu kasih tips pakai gaya kucing kasmaran kalau mau cepat hamil. Mantep tuh, sekalinya nyembur langsung tepat sasaran"
"Gaya koala nemplok juga patut dicoba"
Mona tersenyum gamang, pembicaraan seperti ini harusnya privasi, Tidak baik diumbar-umbar.
"Neng Mona gak perlu malu-malu, kita kan sudah berpengalaman. Nih neng, kalau diatas ranjang harus balas agresif, jangan pasif. Jangan mau kalah duluan, kamu pakai gaya helikopter, dijamin si Aa bakal lemes duluan"
"Hahahaha"
"Mona"
Untung saja panggilan Affan menyelamatkan di waktu yang tepat. Mona sampai tak bisa menutupi hela nafas lega. Jadi, seraya berdiri dari duduknya, Mona langsung pamit undur diri dari kumpulan ibu-ibu komplek itu.
"Disuruh makan sama mama, ayo makan dulu"
Perempuan itu lalu mengekor Affan untuk mengambil makan di meja prasmanan.
Hingga syukuran kecil itu tersudahi di dua jam berikutnya, rumah Affan sepi total saat pukul tiga sore.
Keluarga Mona pulang dan akan mengemas barang-barang Mona dirumahnya. Sementara itu Affan juga disuruh kemas-kemas barang nya. Sebab kedua orang tua mereka sudah menyiapkan rumah baru untuk mereka menua bersama. Tidak mewah, juga tidak terlalu kecil. Rumah sangat sederhana namun nyaman untuk dihuni oleh mereka.
Sementara itu saat Mona memikirkan cara bagaimana salah satu ibu-ibu tadi bercerita tentang peraturan anaknya setelah menikah. Justru Mona dibuat bengong ketika Affan meminta Mona untuk menandatangani surat perjanjian pasca menikah.
Disana tertulis jika di sekolah mereka akan hidup seperti biasanya, namun rahasia. Saling menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh murid-murid lainnya.
Sementara saat sudah dirumah baru mereka wajib akur ketika ada kunjungan orang tua, namun jika tidak ada orang tua mereka akan disibukan oleh tugas harian siapa yang memasak, siapa yang harus ngepel, siapa yang harus nyikat WC dan jadwal siapa yang lebih dulu mandi saat pagi hari. Kamar dirumah ini ada tiga, mereka wajib tidur di kamar masing-masing dan tidak boleh masuk ke kamar lain.
Di pasal yang terakhir juga tertulis setelah lulus SMA mereka akan cerai.
Sebuah pertanyaan. Apakah mereka akan benar-benar bercerai kalau sudah lulus SMA?
Mona langsung menandatangani surat perjanjian dari Affan sebagai pihak kedua, setelah itu Affan langsung menandatangani surat itu sebagai pihak pertama yang membuat peraturan.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan