Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Motor sport Adrian membelah jalanan malam yang mulai senggang usai mereka menghabiskan waktu di mal. Luna berpegangan pada jaket Adrian, mengawasi jalanan dari balik helmnya dengan perasaan campur aduk.

​Begitu motor berbelok mendekati area persimpangan dekat apartemennya, Luna menepuk bahu Adrian.

​"Kak! Kak Adrian! Drop di depan persimpangan itu aja ya!" teriak Luna setengah berseru menembus deru angin.

​Adrian memelankan laju motornya, namun bukannya berhenti, ia justru melewati persimpangan itu dan terus melaju masuk ke jalanan yang dimaksud.

​"Lho, Kak! Kok kebablasan? Kan gue bilang di depan gang aja!" seru Luna panik.

​Adrian menarik rem dan menghentikan motornya beberapa meter di depan area gang. Ia membuka kaca helmnya, lalu menoleh ke belakang dengan senyum santai.

​"Gue cuma mau memastikan lo aman, Luna. Lagian jalannya longgar begini, nggak sempit seperti yang lo bilang tadi," ujar Adrian halus, matanya mengintip ke sekeliling area persimpangan dengan rasa penasaran yang tersembunyi.

​"A-aduh, Kak... bukan gitu," Luna buru-buru turun dari jok motor dan melepas helmnya dengan canggung.

"Maksud gue... bokap gue tuh super galak! Kalau dia tahu gue diantar cowok malam-malam begini naik motor sport, bisa-bisa lo kena semprot, terus gue dikurung seminggu di kamar."

​Adrian terkekeh pelan, menatap wajah panik Luna yang tampak menggemaskan namun jelas sedang menyembunyikan sesuatu.

​"Oke, oke. Gue nggak mau bikin lo dapat masalah sama bokap lo," sahut Adrian mengalah dengan nada suara yang begitu hangat dan penuh perhatian. "Tapi janji ya, langsung masuk dan kabari gue kalau udah sampai di dalam rumah."

​"Iya, pasti! Makasih banyak ya Kak Adrian buat tumpangannya... sama makannya juga," tutur Luna lega seraya menyunggingkan senyum manis.

​"Sama-sama. Selamat malam, Luna."

​Adrian tersenyum tipis, memutar arah motornya, dan melaju pergi. Luna baru berani bernapas lega setelah lampu belakang motor sport itu benar-benar hilang di belokan.

​Luna menaiki tangga apartemen kumuhnya dengan langkah gontai. Begitu pintu kamar Apartemen Cemara terkunci rapat, ia melempar tasnya dan merobohkan diri ke atas ranjang.

​Lampu kamar berdaya rendah menyorot langit-langit yang polos. Luna berguling ke kanan, lalu ke kiri, memeluk bantalnya yang agak keras. Pikiran dan hatinya bertabrakan hebat.

​"Gue pintar banget ya kalau soal ngarang cerita," gumamnya pada kegelapan kamar.

​Ia heran pada nasibnya sendiri. Baru beberapa hari kabur dari rumah, ia malah terlibat dalam lingkaran dua kakak beradik yang sifatnya laksana bumi dan langit. Adrian yang seperti pangeran pelindung dan Moreno... si bule kesiangan bertato aura kegelapan yang hobi mengancam.

​Namun, rasa baper dan kecemasan soal cowok-cowok itu mendadak menguap saat kenyataan pahit lain menamparnya. Luna merogoh dompet di meja kecil samping ranjang, lalu menumpahkan seluruh isinya.

​Hanya ada beberapa lembar uang ratusan ribu tersisa.

​"Alamak..." bisik Luna, matanya membelalak horor. "Uang tunai gue tinggal segini? Terus besok gue makan apa? Bayar uang sewa bulan depan gimana?"

​Ia memandangi deretan kartu kredit mengkilat berlogo premium di dalam dompetnya. Jari-jarinya gemetar ingin mengambil salah satu.

​"Apa gue pancing pakai kartu kredit aja ya? Ambil tunai di ATM?" pikir Luna berspekulasi.

​Tapi sedetik kemudian, ia langsung menepuk dahinya sendiri.

​"Bodoh banget sih, Luna! Begitu itu kartu digesek, sistem perbankan bakal ngirim notifikasi ke ponsel Papa. Dalam waktu lima belas menit, para pengawal sialan itu bakal langsung ngepung apartemen ini!"

​Luna mengacak-acak rambut hitamnya frustrasi hingga mencuat ke segala arah.

​"Arghhh! Ternyata hidup tanpa uang itu jauh lebih mengerikan dari film horor manapun!" gerutunya meratapi nasib. "Papa jahat banget sih... masa cuma gara-gara nolak dijodohin, gue harus menderita kayak gini?"

​Di tengah kekacauan pikirannya, ponsel Luna di atas meja mendadak bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Luna menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kegelapan kamar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor asing terpampang jelas. Dengan dahi berkerut, jari-jarinya mengetik balasan.

​Nomor Tak Dikenal:

Luna, lo udah sampai di dalam rumah? Bokap lo nggak marah, kan?

​Luna mengaruk pelipisnya yang tidak gatal. Siapa pula orang yang tahu-tahu menanyakan ayahnya malam-malam begini?

​Luna:

Ini siapa ya?

​Tak butuh waktu lama hingga balasan berikutnya muncul.

​Nomor Tak Dikenal:

Adrian. Maaf ya kalau mengejutkan, gue cuma mau memastikan lo aman aja. Gimana, aman dari omelan bokap lo?

​Seketika mata Luna membelalak. "Kak Adrian?!" jeritnya dalam hati. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia buru-buru menyusun kebohongannya agar tetap sejalan dengan karangan cerita saat di motor tadi.

​Luna:

Aman kok, Kak Adrian! Hehe, kebetulan bokap lagi keluar, jadi aman banget. Makasih ya udah perhatian.

​Adrian:

Baguslah kalau gitu, lega gue dengarnya. Lain kali kalau lo butuh tumpangan atau mau keluar, kabari gue aja ya. Jangan sungkan.

​Luna melempar tubuhnya ke kasur sambil memeluk bantal guling. "Duh, meleleh gue... ganteng, perhatian, manis banget lagi!" pekiknya girang.

Namun di tengah rasa bapernya yang membumbung tinggi, sebuah pertanyaan tebersit di benaknya. Seingatnya, ia belum pernah memberikan nomor ponselnya pada siapa pun di kampus.

​Luna:

Btw Kak... kok bisa tahu nomor gue? Perasaan gue belum pernah ngasih deh.

​Di balik layar ponselnya di tempat lain, Adrian menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh kalkulasi. Ia menyesap minumannya sebelum mengetik balasan dengan santai.

​Adrian:

Bagi gue itu hal yang sepele, Lun. Nanya ke pihak bagian kemahasiswaan kampus sebentar aja udah langsung dapet.

​Luna:

Niat banget Kak Adrian nyari nomor gue 🙈

​Adrian:

Gue cuma nggak mau kehilangan kontak sama cewek menarik kayak lo. Yaudah, lo istirahat ya. Selamat malam, Luna.

​Luna menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang hampir merobek wajahnya.

​"Gila... Kak Adrian sampai seniat itu cuma buat dapetin nomor gue?" gumam Luna dengan mata berbinar-binar.

​Ia tidak menyadari bahwa di balik keramahan dan perhatian manis sang pangeran kampus, ada niat terselubung Adrian yang mulai menjadikan dirinya sebagai pion untuk memancing dan mengusik Moreno

Sementara itu, di ruang makan megah kediaman Xander, suasana makan malam berlangsung begitu khidmat—atau lebih tepatnya, canggung dan mencekam. Tidak ada percakapan. Hanya dentingan halus sendok dan garpu yang beradu dengan porselen mahal.

​David Xander duduk di ujung meja sebagai kepala keluarga, diapit oleh Helena dan Adrian. Pria paruh baya bernapas dingin itu mendadak menghentikan gerak tangannya, menatap satu kursi kosong di meja tersebut.

​"Helena, mana Moreno? Kenapa dia tidak ikut makan malam?" tanya David dengan suara berat yang dipenuhi wibawa yang menekan.

​Helena menyapu bibirnya dengan serbet kain sebelum menjawab dengan nada sehalus mungkin, "Dia belum pulang, Mas. mungkin ada urusan di luar."

​Rahang David seketika mengeras. Tatapannya mendatar tajam.

"Anak itu akhir-akhir ini makin susah diatur dan seenaknya sendiri." Ia memalingkan wajahnya pada Adrian. "Adrian, kamu sebagai kakak harusnya bisa menasihati adikmu."

​Adrian yang sedang mengunyah makanan mendadak tertahan. Rasa keberatan meletup di dadanya.

​"Moreno sudah dewasa, Papi. Dia punya pemikiran dan jalannya sendiri," kilah Adrian berusaha tenang, walau ada ketegangan tersembunyi di matanya.

​David langsung menghujamkan tatapan tajamnya, mengunci netra Adrian.

"Moreno itu adikmu. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya atau dia membuat masalah di luar, itu juga jadi tanggung jawab kamu sebagai putra sulung."

​Dada Adrian memanas. Ia merasa tersinggung—kenapa ia harus dibebani tanggung jawab menjadi pengasuh bagi anak selingkuhan ayahnya?

Saat Adrian hendak membantah dan mengekspresikan penolakannya, Helena dengan sigap menyentuh lengan Adrian di bawah meja, memberi isyarat halus agar putranya menahan diri.

​Adrian yang paham betul maksud ibunya untuk tidak memancing amarah sang kepala keluarga akhirnya hanya bisa mengembuskan napas berat.

​"Baik, Papi," sahut Adrian pasrah.

​David menatap Adrian sekali lagi dengan mata penuh intimidasi, lalu kembali melanjutkan makan malamnya tanpa sedikit pun menghiraukan raut wajah Adrian yang berubah keruh menahan rasa kekesalan yang mendalam.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!