Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Ibu dan anak itu menekan handle pintu perlahan-lahan tanpa berniat mengetuk terlebih dahulu. Niatnya untuk menangkap basah Bulan dan Bintang yang menurutnya sudah berani berzina di rumah itu.
"Kok sepi Sher?" Bisik Ratih, pandangannya menyapu seluruh kamar, tapi tidak ada siapapun. Bahkan kasur dan perlengkapan tempat tidur seperti bantal dan guling pun masih tertata rapi, tidak ada tanda-tanda mereka berdua masuk.
"Mungkin mereka di kamar mandi, Mah," jawab Sherly yang memang merasa yakin jika dua orang itu berada di kamar ini, membayangkan Bintang dan Bulan sedang mesum di dalam sana membuat hatinya panas. Dengan perasaan tidak menentu, ia berjalan ke arah pintu kamar mandi. Menajamkan pendengaran sambil mengintai dari lubang kunci. Namun, lagi-lagi tidak ada tanda-tanda keberadaan Bulan dan Bintang.
"Minggir, biar Mama yang buka," ucap Ratih, tangannya menggeser pundak Sherly yang menghalangi pintu. Tidak berpikir panjang lagi, ia mendorong gagang pintu kamar mandi dan ternyata kosong, bahkan lantainya pun kering.
"Nggak ada siapapun kok, Huh! Kamu!" Dengus Ratih menatap Sherly kecewa.
"Tapi tadi itu aku melihat sendiri kok Mah, awalnya Bulan dulu yang masuk, terus nggak lama kemudian Kak Bintang menyusul," papar Sherly.
"Sudah, sekarang kita keluar, masih ada cara lain untuk menjebak mereka jika yang kamu katakan itu benar," ucap Ratih. Mereka berdua mengecek cctv.
"Kurang ajar mereka!" Umpat Ratih seketika percaya dengan ucapan Sherly karena cctv sengaja dimatikan. Mereka berdua merencanakan untuk menyelidiki Bulan dan Bintang.
"Jika memang benar, kita laporkan mereka pada Kak Mentari, Mah," Sherly tersenyum licik.
Sementara yang dicari sedang menyiapkan berkas yang akan ia bawa ke kantor di ruang kerja. Selanjutnya menyambar kunci mobil di atas meja, lalu mencari Bulan ke kamar Lita. Sebab, di dikamarnya tadi tidak menemukan istri keduanya.
Tok tok tok.
"Masuk..." suara Bulan dari dalam.
Bintang mendorong kenop pintu perlahan-lahan menatap Bulan yang sedang merapikan rambut putri kecilnya, bibirnya tersenyum lebar. Kehangatan menelusup di dada. Gadis kecilnya yang sudah beberapa bulan tidak mendapat perhatian seperti itu kini telah kembali. Walau didapat bukan dari ibu yang melahirkan. Bintang tidak menyangka bahwa Rembulan sayang sekali kepada Lita.
"Bull, hari ini kamu shift malam kan? Bagaimana kalau ikut aku ke kantor?"
"Kekantor?" Mendengar ajakan Bintang, Bulan menghentikan sisirannya. Raut ragu terpancar jelas di wajahnya. Dia sebenarnya ingin tahu seperti apa kantor Bintang, tapi hari ini rencananya ingin menyempatkan diri ke rumah mami terancam gagal. Besok pun sebenarnya libur. Namun, setiap shift malam siangnya ia gunakan untuk beristirahat.
"Iya, kenapa? Kamu keberatan?" Bintang duduk di pinggir ranjang.
"Bukan keberatan sih, tapi rencananya hari ini aku mau ke rumah Mami."
"Ke rumah Mami besok sore saja, aku juga mau silaturahmi."
"Ayo Mah, ikut ya!" Lita menoleh Bulan di belakangnya.
"Bulan pun akhirnya mengangguk.
"Yayy..." seru Talita yang belum mengerti rumitnya dunia orang dewasa justru melompat turun dari kursi dengan mata berbinar.
"Asyik! Lita mau lihat mobil-mobil besar punya Papa!"
Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor Bintang. Dalam perjalanan Talita tertawa gembira, padahal bukan mau pergi ke Bali, Jogja, atau tempat wisata yang indah lainnya. Hanya ke kantor saja kebahagiaan terpancar jelas. Mungkin karena sudah terbilang lama ia tidak mengajak putrinya itu jalan-jalan, setelah sakit Mentari semakin parah.
Bintang yang sedang menyetir itu tersenyum melihat putrinya yang duduk di bekalang.
"Pak Bintang tidak berniat memasukkan Talita ke sekolah?" Tanya Bulan, seharusnya Talita sudah bisa masuk tk nol kecil agar banyak teman.
"Aku juga mikir gitu Bull, tapi semenjak kondisi Mentari tidak baik-baik saja, terlalu memikirkan Mentari hingga lupa tentang sekolah Lita."
"Kalau Mentari sama Pak Bintang setuju, aku siap bantu," Bulan menawarkan diri mendaftar susulan apa bila sekolah masih menerima.
"Wah, dengan senang hati, Bull..." Bintang melirik Bulan sekilas dengan tatapan berbinar-binar.
"Papa kenapa panggil Bull, sih... hihihi..." Talita tertawa kencang, sejak dari kamar tadi mendengar panggilan itu terdengar lucu.
"Papa kamu nggak jelas," jawab Bulan.
Bintang hanya terkekeh.
Sesampainya di halaman kantor dan bengkel otomotif milik Bintang, deretan mobil yang sedang dalam perawatan dan juga koleksi mobil bekas berjajar rapi
"Ini usaha Pak Bintang?" Tanya Bulan tampak kaget memperhatikan sekeliling, lalu melirik Bintang yang menggandeng Talita di sebelahnya.
"Benar, tapi begitu melihat Mentari jatuh sakit semua seolah tidak ada gunanya," Bintang seketika diam.
Setiap melihat semua ini seolah menoleh kebelakang. Beberapa tahun ia menganggap dirinya orang yang paling beruntung. Diberi kemudahan menjalankan usaha, mempunyai istri baik yang selalu mendukung setiap langkahnya dan memberikan putri yang sehat. Namun, akhirnya diberi ujian berat penyakit Mentari yang membuat hidupnya kembali tidak bersemangat.
"Waktu Papi aku masih hidup, beliu juga punya usaha walau tidak besar," Bulan pun ingat papinya yang selalu kerja keras, tapi tiba-tiba penyakit datang dan akhirnya sang papi meninggal. Untuk itulah, Bulan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan para pasiennya.
"Berarti kita sama-sama diberi pelajaran hidup yang berat, tapi setelah kamu hadir dikehidupan kami, seolah jiwaku yang telah mati hidup kembali Bull, makanya jangan pergi dari kami."
Bulan tidak menjawab, mereka lantas mengejar langkah Talita melawati para pekerja yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing.
Namun, begitu langkah kaki mereka melewati pintu kaca area kantor, suasana yang tadinya bising oleh suara las, perlahan berubah menjadi kasak-kusuk.
Bisik-bisik halus langsung menjalar di antara para karyawan di meja resepsionis hingga area kubikel para staf. Tatapan mata mereka tertuju pada wanita cantik di sebelah atasannya.
"Loh-loh, istri Pak Bintang kan sedang sakit, kok malah bawa wanita lain sih..."
"Mungkin itu istri keduanya Pak Bintang, karena aku pernah dengar. Ibu Mentari sudah tidak bisa apa-apa lagi," bisik seorang staf perempuan kepada rekannya.
"Bisa jadi, duh! Pak Bintang ternyata begitu kelakuannya. Ibu Mentari tahu enggak ya?” imbuh yang lain dengan lirikan penuh selidik.
"Aku Yakin, Ibu Mentari sakit separah itu karena ditinggal selingkuh oleh Pak Bintang," imbuh karyawan.
Hingga bisik-bisik mereka didengar oleh Bulan, lalu melirik para karyawan itu, sembari menggenggam erat pergelangan tangan Talita. Tatapan-tatapan itu terasa dingin dan menghakimi, membuat dadanya sesak.
Menyadari perubahan sikap para karyawannya dan gestur tidak nyaman sang istri, Bintang sengaja menghentikan langkahnya.
"Kalian mau kerja! Atau bergosip?" Tanya Bintang tegas dan menunjukkan wibawanya di depan karyawan, menyiratkan peringatan halus agar tidak ada yang berani bersikap lancang.
Para karyawan seketika mengangguk dan minta maaf sebelum kembali sibuk dengan berkas di meja masing-masing. Bintang kemudian menuntun Talita masuk ke ruang kerja pribadinya yang berkonsep modern industrial.
"Maafkan mereka Bull..." ucap Bintang ketika sudah di dalam ruangan yang tertutup rapat dari jangkauan mata para staf, Bintang menggenggam kedua tangan Bulan yang terasa dingin.
Bulan menatap Bintang dan tersenyum tipis, walau terkesan dipaksakan. Kini mulai sadar dengan jalan yang ia tempuh sebagai pasangan istri kedua tidak akan pernah mudah, bahkan harus siap jika kelak mendapat sanksi sosial.
Sementara di sudut ruangan, Lita sudah sibuk menempelkan wajahnya di kaca besar, memperhatikan para mekanik di bawah tanpa menyadari badai canggung yang baru saja dilewati kedua orang tuanya.
"Mereka menilai apa tentang aku, Pak?" Tanya Bulan menatap Bintang berkaca-kaca campur risau.
"Sikap mereka ada ditanganmu sendiri Bull, jika kamu mau menerima aku, dengan mudahnya mulut mereka diam."
"Jadi! Pak Bintang mengajak saya ke sini hanya untuk menjebak saya?" Tanya Bulan memotong.
Belum sempat Bintang menjawab, derap langkah kaki beralas sepatu berjalan nyaring ke arah mereka.
...~Bersambung ~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌