Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.
.
Malam telah berganti pagi.
Di rumah Nabila, waktu sudah menunjukkan pukul delapan ketika Raka akhirnya terbangun dari tidurnya. Pria itu memijat pelipis yang terasa pening karena hampir semalaman ia tidak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, bayangan Aisyah selalu muncul. Wajahnya yang datar. Tatapannya yang kosong. Dan sikap wanita itu yang dingin seolah mengatakan bahwa hidupnya akan tetap berjalan meskipun tanpa Raka di sisinya.
Raka mengembuskan napas panjang sebelum membuka mata perlahan. Cahaya pagi yang masuk melalui celah tirai membuat pandangannya sedikit menyipit. Dan ketika kedua matanya berserobok dengan jam dinding yang bertengger tepat berhadapan dengan ranjang tidurnya matanya seketika terbelalak.
“Sudah jam delapan? Kenapa kamu tidak membangunkan aku?” teriaknya sambil turun dari ranjang.
Nabila yang masih bergelung di balik selimut hanya menggeliat sebentar. Wanita itu bahkan menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dadanya, sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk bangun.
Raka mendengus kesal. “Sudah jam delapan, Nab! Kamu masih mau tidur lagi?”
“Terus kenapa?” sahut Nabila dengan suara serak.
Raka tidak tahu kalau di dalam selimut kedua tangan Nabila terkepal erat dan wajah wanita itu menggeram menahan marah. Semalam pada akhirnya dia memang bisa membuat Raka memberikan jatah padanya, namun begitu sampai di puncak kenikmatan Raka malah menyebut nama Aisyah. Hal itulah yang membuat Nabila masih kesal hingga saat ini.
Raka segera berlari menuju kamar mandi dengan wajah gusar. Biasanya ia tidak pernah bangun sesiang ini. Biasanya Aisyah akan membangunkannya sebelum adzan subuh kemudian mereka bersholat berjamaah bersama anak-anak.
Pria itu mengusap wajahnya kasar baru menyadari setiap kali berada di rumah Nabila dirinya terlupa menjalankan kewajiban. Kemarin saat masih mereguk nikmatnya madu pengantin ia sama sekali tidak mengingat itu. Sekarang baru dia menyadarinya.
Raka mandi dengan cepat karena ia harus pergi ke toko untuk memeriksa keadaan usaha yang selama beberapa tahun terakhir semakin berkembang. Memang sudah ada empat karyawan yang membantunya, tetapi Raka tetap terbiasa datang hampir setiap hari.
Setelah selesai mandi, Raka mengenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Rambutnya bahkan belum benar-benar kering ketika ia keluar dari kamar. Pria itu turun menuju ruang makan dengan langkah cepat.
Namun begitu sampai di sana, langkahnya mendadak terhenti. Meja makan terlihat berantakan. Beberapa piring masih tergeletak begitu saja. Gelas bekas minum semalam belum dipindahkan. Bahkan ada sisa makanan yang sudah mengering di salah satu piring. Aroma makanan yang mulai basi masih tercium di udara.
Raka terdiam hingga beberapa saat. Pemandangan seperti itu tidak pernah ia temui di rumah Aisyah. Sesibuk apa pun Aisyah, perempuan itu selalu memastikan rumah dalam keadaan rapi. Setelah makan malam, meja akan segera dibereskan. Piring kotor dicuci. Sisa makanan disimpan dengan baik. Bahkan ketika Raka bangun kesiangan, sarapan selalu sudah tersedia. Tanpa sadar, Raka membandingkan kedua rumah itu.
“Nabila!” teriak Raka dari ruang makan.
Tetapi sama sekali idak ada jawaban.
“Nabila!” panggilnya sekali lagi dengan suara lebih keras.
Beberapa saat kemudian, barulah terdengar langkah kaki dari tangga. Nabila muncul dengan rambut yang masih berantakan dan wajah mengantuk. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.
“Apa sih, Mas? Pagi-pagi sudah teriak-teriak,” keluhnya sambil menguap.
Raka menunjuk meja makan. “Ini kenapa belum dibereskan?”
Nabila mengerutkan kening lalu melihat ke arah meja.
“makanya carikan aku pembantu dong. Masa rumah sebesar ini nggak ada pembantu capek tahu.” Ucap Nabila dengan sampainya
Raka tertegun mendengar ya. Pembantu? Capek? Tanpa sadar Raka kembali membandingkan antara Aisyah dengan Nabila. Selama hidup bertahun-tahun bersama dengan Aisyah mereka sama sekali tidak pernah menggunakan jasa pembantu. Namun rumah mereka tetap terlihat rapi. Dan Aisyah juga tidak pernah mengeluh capek. Lalu sekarang belum ada satu bulan mereka menikah dan Nabila sudah menuntut adanya seorang pembantu? Kenapa bisa seperti ini? Bukankah sebelum menikah Nabila adalah seorang wanita yang rajin dia selalu membereskan rumah seorang diri dengan tersenyum. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah?
“Lalu sarapanku? Aku harus segera pergi ke toko tapi belum ada sesuatu untuk dimakan.”
Nabila mengangkat bahu. “Aku belum sempat bikin.”
Raka mengembuskan napas kasar. “Lalu apa kamu sendiri juga tidak merasa lapar?”
“Ribet amat sih Mas?” gerutu Nabila. “Aku itu tidak bisa masak. Nanti beli makanan online kan bisa.”
Jawaban itu membuat Raka tertegun. Dulu, setiap pagi Aisyah selalu bertanya apa yang ingin ia makan. Bahkan ketika Raka hanya menjawab terserah, perempuan itu tetap tahu makanan seperti apa yang biasanya ia sukai. Lalu sekarang… beli makanan online? Jadi selama ini Nabila tidak memasak untuknya? Jadi yang selama ini ia makan di rumah nanti bila adalah makanan yang dibeli?
Raka baru menyadari bahwa hal-hal kecil yang selama bertahun-tahun ini dia anggap biasa ternyata merupakan bentuk perhatian yang tidak pernah benar-benar dia hargai.
Raka akhirnya melangkah meninggalkan ruang makan dengan kedua bahu yang luruh di samping badan.
“Mau pergi ke mana kamu, Mas?” tanya Nabila sambil duduk di kursi. Matanya memicu melihat penampilan suaminya yang sudah rapi.
“Ke mana lagi? Ya ke toko lah,” jawab Raka masih sambil berjalan.
“Kamu tidak sarapan dulu?”
Raka menghentikan langkahnya tapi sama sekali tidak menoleh. “Mau sarapan pakai apa?” tanyanya lalu melanjutkan langkah.
Nabila yang merasa kesal melihat sikap suaminya yang begitu cuek langsung berdiri dan mengikuti langkah pria itu hingga ke teras. “Kamu kenapa sih? Sejak pulang dari rumah Aisyah, sikapmu sama aku berubah sekali? Pasti istri tuamu itu kan yang meracuni otakmu?”
Raka menghentikan langkahnya lalu menoleh dan menatap tajam ke arah Nabila. Tanpa sadar rahang pria itu mengeras mendengar Nabila menyalahkan Aisyah.
“Jangan mulai pertengkaran, Nab. Jika sikapku berubah seharusnya kamu introspeksi diri karena bukan hanya aku yang berubah, kamu juga. Kamu seperti bukan Nabila yang aku kenal sebelum kita menikah.” Raka kembali membalikkan badannya setelah berkata demikian. Ia tidak ingin lagi meladeni ucapan Nabila yang akhirnya hanya akan memicu kemarahannya.
Masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan keras, membuka jendela, selalu perlahan melajukan mobilnya. Ketika mobil telah berada di luar gerbang, pria itu menatap melalui kaca spion. Rumah yang ia belikan untuk Nabila begitu mewah, berbanding terbalik dengan rumah yang sudah beberapa tahun Ia tempati bersama dengan Aisyah. Rumah itu memang juga besar, tetapi tidak semewah yang ia belikan untuk Nabila.
Raka memejamkan matanya sesaat ketika mengingat pertengkaran dengan Aisyah beberapa malam yang lalu saat dirinya mengatakan pasti bisa berbuat adil.
Saat itu Aisyah bertanya, “Adil? Benarkah kamu bisa? Lalu untuk saat ini, Baru beberapa hari kamu menikah dengannya, apa kamu sudah merasa adil Mas? Coba tanyakan itu dengan benar dalam hatimu.”
Raka membuang nafas yang terasa menyesakkan dada mengingat ucapan Aisyah kala itu. Benar, dirinya sudah berbuat tidak adil. Dan rumah ini adalah ketidakadilan pertama yang ia berikan pada Aisyah.
Dengan satu tangan memegang kemudi sebelah tangan Raka lain yang mengusap wajahnya dengan kasar. Namun beberapa saat kemudian wajah pria itu berbinar bagaikan orang yang baru menag lotre.
“Kalau aku membelikan Aisyah rumah yang sama besarnya dengan Nabila, pasti sikap Aisyah akan kembali seperti sebelumnya,” gumamnya sambil tertawa lebar.
Raka menganggukkan kepalanya berkali-kali seolah dirinya telah menemukan solusi untuk memecahkan masalah dengan Aisyah.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...