Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaisar Langit Abadi

Kaisar Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Chen Xuan

Saat Dewa Turun ke Dunia

"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."

Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.

Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.

Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Reruntuhan Kuno

Wu Feng mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang baru saja berbicara.

Begitu melihat sosok tersebut, ekspresinya langsung berubah.

"Ck..."

Wu Feng mendecakkan lidah.

"Jian Wushuang, sepertinya kau belum benar-benar puas setelah diberi pelajaran terakhir kali."

Pemuda itu hanya tersenyum tipis.

Jian Wushuang.

Jenius nomor satu Sekte Pedang Langit. Sosok yang namanya telah terkenal di seluruh sekte bahkan Daratan Timur.

Ia mengenakan jubah putih sederhana dengan pedang panjang tergantung di pinggang. Wajahnya tenang, tanpa sedikit pun kesombongan yang biasanya dimiliki seorang jenius.

"Ayolah, Wu Feng."

Jian Wushuang tersenyum santai.

"Aku hanya ingin menyapa Junior baru kita."

"Menyapa?"

Wu Feng mendengus.

"Yang benar saja. Bukankah kau hanya ingin menguji kekuatannya?"

Jian Wushuang tidak membantah. Dia hanya mengalihkan pandangannya kepada Li Tianxuan.

Tatapan keduanya bertemu. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Jian Wushuang dapat merasakan bahwa pemuda di hadapannya tidak sederhana.

Begitu pula Li Tianxuan.

Namun, Li Tianxuan tidak menunjukkan ketertarikan untuk bertarung. Ia hanya mengalihkan pandangannya. Bukan kepada Jian Wushuang. Melainkan kepada gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Liu'er.

Gadis cantik dengan pakaian merah muda itu masih berdiri dengan tenang di tengah kerumunan.

Rambut hitam panjangnya bergerak perlahan tertiup angin gurun.

Entah mengapa...

Li Tianxuan terus memperhatikannya.

Hingga seolah merasakan sesuatu, Liu'er perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapan mereka bertemu.

Saat itu...

Jantung Li Tianxuan berdetak lebih cepat.

Deg!

Sebuah perasaan aneh muncul di dalam hatinya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dadanya terasa hangat.

Jantungnya berdebar tanpa alasan. Bahkan untuk sesaat, pikirannya menjadi kosong.

"Apa ini?"

Li Tianxuan mengerutkan kening. Ia tidak memahami perasaan tersebut.

Sepuluh tahun hidup sendirian di dalam Kota Tai membuatnya hampir tidak pernah berhubungan dekat dengan seseorang seusianya.

Apalagi dengan seorang gadis.

Namun perasaan yang muncul ketika melihat Liu'er terasa sangat berbeda. Seolah-olah ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Namun Li Tianxuan segera sadar. Ia mengalihkan pandangan. Tatapannya kembali tertuju kepada Gerbang Reruntuhan Kuno.

"Aku datang ke sini bukan untuk hal seperti itu. Aku memiliki tujuan sendiri."*

Di sisi lain...

Liu'er masih memperhatikan Li Tianxuan.

Sudut bibirnya perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya. Senyuman yang sangat singkat. Namun cukup untuk membuat beberapa orang di sekitarnya membeku.

"Apa kalian melihatnya?!"

Suara seorang murid terdengar bergetar.

"Apa?"

"Liu'er... barusan tersenyum!"

"Apa?!"

Beberapa murid segera menoleh. Mereka benar-benar melihat senyuman Liu'er.

Untuk sesaat, suasana menjadi gaduh.

"Mustahil!"

"Aku sudah berada di sekte selama bertahun-tahun, tapi ini pertama kalinya aku melihat Liu'er tersenyum seperti itu!"

"Dia bahkan tidak pernah tersenyum kepada siapa pun!"

"Siapa sebenarnya pemuda itu?"

Liu'er sendiri seolah tidak memperdulikan suara-suara tersebut. Tatapannya tetap tenang. Namun entah mengapa...

Pandangannya kembali tertuju kepada Li Tianxuan.

KRAKKK!

Tiba-tiba...

Suara retakan yang sangat keras menggema di seluruh Tanah Tandus.

Semua orang terdiam.

Tatapan mereka serempak beralih ke arah Gerbang Reruntuhan Kuno.

Dua batu raksasa yang sejak tadi berdiri diam mulai bergetar.

Kabut hitam yang menghalangi jalan perlahan terpecah.

Krakkk!

Krakkk!

Retakan mulai menjalar pada permukaan kedua batu tersebut.

Kemudian...

BOOM!

Sebuah gelombang Energi Spiritual kuno meledak dari dalam gerbang.

Angin besar menyapu seluruh gurun.

Jubah dan rambut semua orang berkibar hebat.

Aura kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun akhirnya kembali muncul ke dunia.

"Reruntuhan Kuno..."

Seorang Tetua dari salah satu sekte bergumam.

"Terbuka!"

Sesaat kemudian...

Seluruh gurun dipenuhi teriakan.

"Reruntuhan Kuno telah terbuka!"

"Harta Dewa!"

"Aku datang!"

"Jangan biarkan mereka mengambil harta terlebih dahulu!"

"Semuanya, masuk!"

Tanpa memperdulikan aturan ataupun rekan mereka, para murid dari berbagai faksi langsung bergerak.

Satu demi satu mereka melesat menuju gerbang.

Bahkan beberapa murid langsung menggunakan teknik gerakan terbaik mereka.

Li Tianxuan berdiri diam.

Tatapannya menembus gerbang kuno tersebut.

Di dalam sana terdapat sesuatu yang sangat ia butuhkan.

Giok Serpihan Jiwa Dewa.

Hanya benda itu yang ada dalam pikirannya.

Jika benar Giok tersebut mampu membantu seseorang memperoleh warisan Dewa...

Mungkin ia dapat menemukan jawaban mengenai sosok yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Li Tianxuan mengepalkan tangannya.

"Aku harus mendapatkannya."

Setelah sebagian besar murid dari berbagai faksi memasuki Reruntuhan Kuno, rombongan Sekte Pedang Langit mulai bergerak.

Jian Wushuang melirik Li Tianxuan.

"Junior."

Ia tersenyum tipis.

"Aku akan menunggumu di dalam."

Setelah mengatakan itu, Jian Wushuang langsung melangkah menuju gerbang.

Diikuti oleh Bai Li, Xiao Han, Liu Ya, Wang Mo, dan Ling Xi.

Wu Feng menatap Li Tianxuan.

"Tianxuan."

Suaranya kali ini jauh lebih serius.

"Berhati-hatilah."

"Begitu memasuki Reruntuhan Kuno, kita tidak akan selalu bisa saling membantu."

"Di dalam sana, kau harus mengandalkan dirimu sendiri."

Li Tianxuan mengangguk.

"Aku mengerti."

Wu Feng tersenyum.

"Kalau begitu..."

Wush!

Tubuhnya melesat masuk ke dalam gerbang.

Li Tianxuan menatap punggung Wu Feng yang menghilang.

Kemudian ia menarik napas panjang.

Tanpa ragu...

Ia melangkah memasuki Gerbang Reruntuhan Kuno.

Di luar gerbang...

Chi Luo melirik Qin Haoran.

"Qin Haoran."

Nada suaranya terdengar menyindir.

"Sepertinya murid baru yang kau rekrut tidak seperti yang kau ceritakan sebelumnya."

Qin Haoran hanya tersenyum tipis.

"Kau akan mengetahuinya sendiri."

Setelah mengatakan itu, Qin Haoran dan Yuan Gu ikut memasuki Reruntuhan Kuno.

DI DALAM RERUNTUHAN KUNO

Wush!

Cahaya putih menyelimuti tubuh Li Tianxuan.

Sesaat kemudian...

Kedua kakinya menginjak tanah.

Li Tianxuan membuka matanya.

Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam.

Pemandangan di hadapannya sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan.

Sebuah hutan raksasa terbentang sejauh mata memandang.

Pepohonan menjulang tinggi hingga menembus awan.

Bunga-bunga aneh tumbuh di antara rerumputan.

Kabut tipis memenuhi permukaan tanah.

Namun yang paling mengejutkan...

Energi Spiritual di tempat ini sangat murni.

Bahkan hanya dengan menarik napas, Li Tianxuan dapat merasakan Energi Spiritual memasuki tubuhnya.

"Energi Spiritual yang begitu padat... Tidak heran semua sekte memperebutkan tempat ini."

Li Tianxuan mulai berjalan.

Ia tidak mengikuti siapa pun.

Tidak pula mencari kelompoknya.

Baginya, berada bersama orang lain justru dapat membatasi gerakannya.

Ia berjalan melewati hutan.

Beberapa saat kemudian...

Langkahnya berhenti.

Tatapannya tertuju kepada sesuatu di kejauhan.

Sebuah Altar Kuno.

Altar itu berdiri di tengah hutan.

Empat patung raksasa berdiri di keempat sisinya.

Dari tubuh masing-masing patung, Energi Spiritual mengalir ke tengah.

Wushhh!

Energi tersebut berkumpul dan membentuk sebuah pilar cahaya.

Di tengah pilar itu...

Sebuah jalan samar terlihat.

Li Tianxuan menyipitkan matanya.

"Tempat apa ini?"

Rasa penasaran muncul dalam hatinya.

Ia segera berjalan mendekat.

Semakin dekat...

Semakin kuat aura kuno yang ia rasakan.

Namun tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya.

Li Tianxuan akhirnya berdiri tepat di depan Altar.

Setelah mengamati beberapa saat, ia melangkah masuk ke dalam pilar cahaya.

Wushhh!

Tubuhnya langsung menghilang.

BAGIAN DALAM ALTAR

"Dasar bajingan!"

"Gulungan Teknik itu milikku!"

Suara pertengkaran terdengar dari kejauhan.

"Yang kuatlah yang mendapatkannya!"

"Kau!"

BOOM!

Energi Spiritual meledak.

Gelombang energi menyapu seluruh ruangan.

Beberapa murid dari berbagai faksi sedang bertarung memperebutkan sebuah gulungan kuno.

"Tinju Meteor!"

DUARRR!

Salah seorang murid menghantamkan tinjunya.

Batu-batu di sekitar langsung hancur.

Li Tianxuan yang baru saja tiba berhenti beberapa saat.

Tatapannya mengamati pertarungan tersebut.

Namun ia tidak tertarik.

Ia tidak datang untuk memperebutkan gulungan biasa.

Tujuannya jauh lebih penting.

Li Tianxuan segera berbalik dan memilih jalan lain.

BAGIAN TERDALAM ALTAR

Semakin dalam ia berjalan...

Suasana semakin sunyi.

Tidak ada lagi suara pertarungan.

Tidak ada suara manusia.

Hanya langkah kaki Li Tianxuan yang terdengar.

Tap...

Tap...

Tap...

Hingga akhirnya...

Ia tiba di sebuah ruangan yang sangat luas.

Li Tianxuan perlahan mengangkat kepalanya.

Di hadapannya berdiri puluhan patung raksasa.

Beberapa memiliki banyak tangan.

Di tangan mereka terdapat pedang.

Tombak.

Kapak.

Rantai.

Dan berbagai senjata kuno yang bentuknya belum pernah dilihat Li Tianxuan sebelumnya.

Aura mengerikan terpancar dari setiap patung.

Li Tianxuan menyipitkan matanya.

"Patung-patung ini..."

Ia baru hendak mendekat ketika—

"Tianxuan..."

Sebuah suara tiba-tiba menggema di dalam ruangan.

Langkah Li Tianxuan langsung berhenti.

Suara itu terdengar sedikit familiar.

1
Ilham Yono
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Slight/
Ilham Yono
cerdas..mengakui keunggulan lawan..
Ilham Yono
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Determined//Curse/
Ilham Yono
terbaik
Ilham Yono
hem/Proud//Proud//Proud//Chuckle/
Ilham Yono
hem/Facepalm/
Ilham Yono
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Ilham Yono
good jobs
Ilham Yono
beuh orang sombong mah gosong
Ilham Yono
beuh☠️⚔️☠️⚔️☠️⚔️👻
Ilham Yono
hahaha..malah jadi pemicu terobosan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilham Yono
hahaha..malah jadi pemicu terobosan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilham Yono
banyak cakap..kemampuan senyap
Kadai Kecil
Lanjut lu woi thor/Curse/
Kadai Kecil
Kok habis /Curse/
Kadai Kecil
lanjut terus
Kadai Kecil
Tidak ada jeda nih
Kadai Kecil
semangat thor
Kadai Kecil
apa-apaan ini thor 🤣/Facepalm/
Kadai Kecil
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!