Indonesia
NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Dia bereaksi padanya.

Cahaya matahari menyelinap lembut di sela tirai kamar. Arum bangun lebih awal, masih dengan perasaan asing terhadap rumah besar itu. Dia melirik jam di meja rias, lalu bergegas mengenakan pakaian sederhana dan merapikan rambutnya. Hari pertamanya sebagai istri keluarga Argantara dimulai dan entah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Saat hendak keluar dari kamar, langkahnya terhenti. Suara keras terdengar dari kamar sebelah, kamar Reghan.

“Brengsek! Sial!" Suara bentakan itu disertai bunyi benda jatuh. Arum sontak panik, menempelkan telinga ke pintu. Ada suara air mengucur dari kamar mandi, lalu dentuman berat lagi, disusul desahan tertahan seperti orang kesakitan.

Tanpa pikir panjang, Arum memutar gagang pintu.

“Tuan Reghan?”

Tak ada jawaban dari panggilan Arum, dia menelan ludah, lalu membuka pintu lebih lebar dan masuk. Suara air semakin jelas, bercampur dengan helaan napas berat. Dari arah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka, terdengar lagi suara Reghan, penuh frustrasi dan kemarahan.

“Aku akan melakukannya sendiri!"

Arum menahan napas, sesuatu dalam suaranya terdengar bukan sekadar marah, tapi juga terluka. Ia akhirnya melangkah cepat, membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk.

Pandangan pertamanya langsung membuatnya terdiam. Reghan tengkurap di lantai marmer yang basah, tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Air pancuran masih menyala, meneteskan sisa hujan buatan di sekujur punggungnya yang dipenuhi bekas luka lama. Salah satu tangannya bergetar berusaha menopang tubuh, tapi lemah.

“Keluar!” bentaknya parau dan tajam saat melihat Arum berdiri di ambang pintu kamar mandi, mencoba menegakkan diri tapi gagal.

Air jatuh membasahi rambutnya yang hitam, menutupi sebagian wajahnya yang tegang dan penuh amarah.

Arum menatapnya sejenak, jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena malu hanay saja karena iba. Ia melangkah masuk, mengambil handuk besar yang tergantung, lalu berjongkok di samping Reghan.

“Aku bilang keluar!” suaranya makin keras, nyaris bergetar oleh ego yang terluka. Namun Arum tetap diam, dengan hati-hati membungkus handuk di sekitar tubuh Reghan, lalu menarik napas dalam-dalam. “Tuan akan kedinginan kalau terus begini, aku hanya membantu.”

Reghan menatapnya dengan mata tajam, penuh bara, tapi tubuhnya tak kuasa menolak ketika Arum membantu memapahnya perlahan ke kursi roda yang terparkir di dekat pintu. Setiap sentuhan kecil dari tangan Arum seolah menjadi tamparan bagi harga dirinya.

“Jangan sentuh aku lagi,” desisnya pelan tapi menggigit. “Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku tahu kau di sini hanya karena uang.”

Arum menunduk, bibirnya bergetar kecil, tapi ia tetap membantu Reghan mengenakan baju mandi dengan tangan yang tenang.

“Kalau aku di sini karena uang,” ucapnya lirih, “biarlah uang itu yang bekerja hari ini untuk membantu Tuan berdiri.”

Reghan terdiam sesaat, lalu menepis tangan Arum kasar.

“Keluar!”

Arum menatapnya sejenak ada amarah, ada sedih, tapi lebih dari itu, ada kelelahan yang dalam. Dia berdiri perlahan, menunduk sopan. “Baik, Tuan.”

Langkahnya menjauh, meninggalkan aroma sabun dan air yang masih menetes di lantai.

Ketika pintu tertutup, Reghan menatap bayangan dirinya di cermin, tangan kanannya mengepal erat. Air mata yang tak seharusnya jatuh, menetes tanpa ia sadari.

“Lemah,” gumamnya getir. “Bahkan untuk membenci, aku masih butuh bantuan wanita itu.”

Sementara di luar, Arum berdiri memegang gagang pintu, menahan napas panjang. Hatinya berdenyut aneh, bukan karena takut, tapi karena iba pada seseorang yang begitu keras menolak kelembutan, padahal yang paling ia butuhkan hanyalah dipahami.

Reghan menatap kosong ke arah cermin besar di kamarnya. Bajunya masih setengah terbuka, air dari rambutnya menetes ke bahu, menuruni leher yang menegang. Napasnya belum stabil antara menahan marah dan malu. Semua harga dirinya seolah hancur saat tubuhnya terjatuh di lantai marmer tadi, tak mampu berdiri tanpa bantuan seorang wanita.

“Menjijikkan…” desisnya lirih, tangannya mengepal di atas pangkuan, menatap refleksi wajahnya sendiri yang tampak asing.

“Bahkan untuk berdiri saja aku butuh dikasihani.”

Dia memutar kursi rodanya pelan, menghadap ke jendela besar yang terbuka sedikit. Hujan semalam masih meninggalkan sisa embun di dedaunan taman belakang. Udara terasa lembap, sunyi. Ia menatap keluar, mencoba menenangkan diri. Namun, rasa frustrasi di dadanya tak kunjung reda.

Tiba-tiba, terdengar ketukan lembut di pintu.

Reghan tak menjawab. Pintu itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Arum yang masuk dengan langkah hati-hati sambil membawa secangkir teh beruap. Wangi jahe segar menyebar di udara. Arum mendekat tanpa banyak bicara, meletakkan cangkir itu di atas nakas di samping kursi Reghan.

“Teh jahe,” ucapnya pelan, suaranya lembut tapi terdengar mantap.

“Setelah terlalu lama di air dingin, Tuan bisa masuk angin. Minumlah selagi hangat.”

Reghan menoleh perlahan, menatap perempuan itu dengan pandangan tajam.

“Aku tidak butuh perhatianmu.”

Arum tersenyum tipis, tidak tersinggung. “Saya tidak peduli Tuan butuh atau tidak. Saya hanya tidak ingin Oma marah kalau Tuan jatuh sakit.”

Kalimat itu membuat Reghan mendengus pelan, lalu memalingkan wajah.

“Pergilah,” katanya datar. “Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Namun sejenak kemudian, sesuatu membuat Reghan terdiam. Arum baru saja menunduk untuk mengambil pakaian bersih dari lemari kecil dan tanpa sadar berdiri begitu dekat dengannya. Aroma tubuh Arum campuran sabun bunga dan hangat kain yang bersih tercium samar di udara, membuat napas Reghan tersendat.

Tubuhnya menegang, ada sensasi aneh di dalam dirinya, sesuatu yang selama setahun ini diyakininya telah mati sejak kecelakaan, sejak dokter mengatakan kata yang paling ia benci, yaitu impoten.

Matanya menatap kosong ke arah lantai, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tidak, bahkan dia tidak menolak merasakannya. Ia hanya menolak percaya bahwa tubuhnya masih bisa bereaksi terhadap siapa pun terlebih terhadap wanita yang menikahinya karena uang.

“Aku bilang pergi,” katanya lagi, kali ini lebih pelan tapi bergetar. Arum menatapnya sebentar, kemudian dengan sabar mengambil kemeja yang terlipat rapi dan membantu Reghan mengenakannya. Gerakannya tenang, penuh kehati-hatian. Setiap kali jarinya menyentuh kulit Reghan, lelaki itu menahan napas antara amarah dan sesuatu yang sulit diakui. Begitu kancing terakhir terpasang, terdengar ketukan di pintu.

“Permisi, Tuan Reghan,” suara pelayan terdengar dari luar.

“Dokter pribadi Tuan sudah datang untuk pemeriksaan rutin.”

Arum menoleh ke arah pintu, lalu menjawab tenang, “Tolong tunggu sebentar, kami hampir selesai.”

“Baik, Nyonya,” jawab pelayan itu sopan.

Setelah suara langkah menjauh, Arum menatap Reghan.

“Tuan sebaiknya segera diperiksa. Dokter pasti sudah menunggu sejak pagi.”

Reghan menghela napas panjang. “Kau terlalu banyak ikut campur.”

Arum menunduk sedikit, suaranya nyaris seperti bisikan.

“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang istri.”

Reghan terdiam, tidak ada yang ia balas. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar, berdetak lembut di antara mereka.

Beberapa detik kemudian, Arum melangkah menuju pintu, hendak keluar memanggil pelayan untuk mempersilakan dokter masuk. Tapi sebelum ia sempat membuka pintu, suara Reghan memecah keheningan di belakangnya datar, namun kali ini lebih tenang,

“Tinggalkan tehnya.”

Arum menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. “Baik, Tuan.”

Ketika pintu tertutup, Reghan menatap cangkir beruap itu. Tangannya terulur pelan, menggenggam gagangnya dengan kaku. Ia menatap cairan hangat di dalamnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, tubuhnya berhenti bergetar. Entah karena teh itu, atau karena kehadiran seorang perempuan yang tidak ia inginkan tapi diam-diam mulai mengusik hatinya.

'Jika ini bereaksi pada Arum, mungkin akan bereaksi juga pada orang lain,' batin Reghan menatap pintu yang kini perlahan terbuka, dokter masuk dengan senyum kaku, menyapa Reghan pelan.

1
Ragil Saputri
Arum, kamu hrs kuat hrs sabar menghadapi orang" di sekelilingmu, yg akan memisahkan kamu dri Regan, dan itu adalah orang" licik yg hanya memanfaatkan ketidakberdayaan Regan, demi mendampingi Regan bangkit demi mempertahankan rumah tangga kalian
Ragil Saputri
elion adik tiri tegan, dan elena mantan tunangan Regan yg akan menikah dgn elion karna Regan kecelakaan, bener kata Oma Hartati, kamu hrs bangkit Regan jiwamu hrs bangkit walau ragamu tak tak bisa berdiri
Ragil Saputri
bangkit Regan, ada Arum yg akan setia disisimu, meski belum ada easa cinta diantara kalian
echa purin
👍
e²n
satu keluarga sakit jiwa semua
reza indrayana
sudah baca Thor.. 🥰🥰
Ragil Saputri
Arum, jgn samakan Arum dgn wanita" masa lalu mu Reghan.... Arum tulus mau menjadi istrimu, istri yg sesungguhnya.... bukalah sedikit pintu hatimu Reghan
Ragil Saputri
Reghan keras kepala karna merasa dia tak bisa berbuat apa-apa UNTUK dirinya sendiri, sedangkan Arum keras kepala karna merasa punya tanggung jawab sebagai seorang istri.... apakah Reghan akan luluh hatinya setelah hadirnya Arum...
Ragil Saputri
hadir Thor Aisyah alfatih, salam kenal dri penggemar novel dri Belitung 🤗
karya yg sangat bagus Thor 👍 sukses selalu
Aisyah Alfatih: Hallo, kakak.

salam kenal 🙏
total 1 replies
Ade Chubi
cerita nya sudah lama tp aku baru baca 2026 sekarang ,ternyata seru juga cerita nya bikin penasaran dan gaya bahasa nya mudah di simak
evana gusani
baru mampir
Anonim
Baguslah mending pergi untuk apa laki laki spt itu cintanya cuma d mulut , ngk mau membela ketika isyri d sakiti
Anonim
Menyakiti istri wajar klo pergi
Anonim
keluarga gila
Anonim
kshan arum
akan menyesal dia
Just RMD
gak kebayang posisi mereka gimana, suwer deh
Yulia
Ceritanya bagus di awal penuh dg air mata...cuma ya itu terlalu fokus ke tokoh utama sedangkan tokoh antagonis cuma di ulik sedikit itu pun d akhir,, seperti Alena dan keluarga angkatnya Arum,sama sekali GX d senggol GX d bahas bagaimana karma akhir nya.
mksh othooor semangat terus berkarya 💪💪
Yulia
yang ini malah udah baca...bagus ceritanya
ronarona rahma
sakit bangetttt😭😭😭😭😭
Aila Varisa
kyak ny mreka kluarga miskin pura2 kaya🤣🤣🤣 gak punya cctv .. apa msih jaman kuno(purba)🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!