Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Jepit Rambut Mutiara

Empat minggu kemudian, foto papan nilai tiba di ponsel Laras.

Nama Rayhan kembali berada di urutan pertama.

Pesan berikutnya masuk.

Aku sudah nurut. Gantian kamu jujur sama aku.

Laras mengetik, Jujur soal apa? lalu menghapus. Ia hanya membalas stiker jempol.

Rayhan tidak mengeluh. Ia mengikuti konseling, mengejar pelajaran, meminta rekomendasi ulang, dan mendapat kembali tempat pada seleksi olimpiade provinsi. Guru mengirim kabar kepada Mbah Surti bahwa perubahan itu konsisten, bukan hanya dua hari.

Ia juga mengirim salinan surat permintaan maaf yang sudah diterima keluarga lawan kepada Laras. Di bawah foto, ia menulis: Aku nggak minta kamu langsung percaya. Aku akan buktiin pelan-pelan.

Laras menyimpan pesan itu. Ia masih marah pada cara Rayhan memaksanya membuat janji, tetapi mengakui perubahan nyata adalah bagian dari aturan mereka.

Ketika konselor memberi tugas menulis pemicu emosi, Rayhan menuliskan tiga hal: takut ditinggalkan, dianggap anak kecil, dan kehilangan kendali. Ia tidak menyukai kata kendali, tetapi tidak mencoretnya. Pengakuan itu membuat caranya mendekati Laras lebih hati-hati, meski keinginan memilikinya belum berkurang.

Pada akhir pekan, Rayhan pulang membawa buku dan seragam kotor. Pagi-pagi ia sudah muncul di bengkel dengan sekotak gorengan.

"Mbah yang suruh antar," katanya.

"Mbah biasanya antar sendiri."

"Sekarang kakinya pegal."

Dari seberang jalan, Mbah Surti sedang menyapu warung dengan gerakan sangat sehat. Laras tidak membongkar kebohongan.

Rayhan membantu mencatat nomor suku cadang dan menahan senter ketika Laras bekerja di bawah mobil. Sebuah baut berkarat sulit dilepas. Rayhan mengambil gagang lebih panjang dan membantu memberi tenaga.

Seorang pelanggan baru mengira Rayhan anak magang dan menyuruhnya mencuci mobil. Rayhan hendak menjawab, tetapi Laras keluar dari bawah kendaraan.

"Dia bukan pekerja sini. Kalau mau cuci mobil, ambil antrean dan bayar."

Pelanggan itu tertawa canggung. Setelah pergi, Rayhan bertanya, "Katanya mau jaga jarak."

"Jaga jarak bukan berarti gue biarin orang nyuruh-nyuruh lo."

"Berarti status perlindungan masih aktif."

"Berarti lo masih banyak omong."

Mereka tertawa pendek. Untuk pertama kali sejak pertengkaran, suasana di bengkel mendekati kebiasaan lama tanpa benar-benar kembali menjadi polos.

"Lo jangan maksa bahu. Baru sembuh."

"Udah lama sembuh."

"Tetap."

Rayhan tersenyum. "Kamu masih khawatir."

"Gue khawatir alat Bapak patah."

"Iya. Alatnya."

Di depan Pak Darto, Rayhan tetap sopan dan bekerja tanpa menuntut perhatian. Saat hanya berdua, matanya selalu mengingatkan bahwa janji mereka belum selesai.

Siang itu paket dari Surabaya tiba. Nadia mengirim sebuah jepit rambut mutiara murah dengan catatan: Pakai sekali saja dan kirim foto. Biar kelihatan kayak cewek.

Laras menelepon sambil mengomel.

"Rambut gue pendek."

"Makanya jepit kecil. Ayo, gue lagi kangen."

Laras memasangnya di atas telinga dan mengirim foto dengan ekspresi datar.

Nadia langsung menelepon melalui video. "Nah, cantik!"

"Gue kelihatan kayak etalase toko aksesori."

"Lebay. Bima bilang bagus juga."

Suara Bima terdengar dari belakang, memprotes karena pendapatnya dibocorkan. Mereka kini dekat, meski belum memasang nama resmi pada hubungan. Nadia tampak lebih mudah tertawa.

"Rayhan ada?" tanyanya.

Laras memutar kamera. Rayhan mengangkat tangan.

"Jangan kasih dia ide aneh," kata Nadia.

"Ide apa?" tanya Laras.

"Nggak tahu. Mukanya kalau lihat jepit kayak orang menghafal barang bukti."

Rayhan hanya tersenyum. Laras mengira Nadia bercanda.

Rayhan yang sedang minum melihat jepit itu.

"Sama kayak waktu bakar-bakar?"

"Yang itu hilang entah di mana. Nadia kirim lagi."

"Berarti dari Nadia."

"Iya. Kenapa sih?"

"Bagus. Cocok."

Bu Yayuk lewat dan berhenti. "Jepitan nggak cukup bikin kamu feminin, Laras. Galih nanti cari perempuan kampus saja."

Laras belum menjawab ketika Rayhan berdiri.

"Laras nggak pakai itu buat Galih, Bu. Dan feminin bukan syarat supaya dihargai."

Nada suaranya tetap sopan, membuat Bu Yayuk tidak punya alasan memarahi. Ia pergi sambil mendengus.

"Nggak usah dibela," kata Laras.

"Aku jawab fakta."

Pak Darto keluar membawa kopi. "Ngomong-ngomong Galih, dia pulang bulan depan. Kemarin tanya Laras suka barang kecil apa."

Tangan Rayhan yang memegang kertas berhenti.

"Barang kecil apa?" tanyanya.

"Entah. Mungkin oleh-oleh. Bapak bilang jangan belikan rokok."

"Bapak jawab apa waktu dia tanya?" desak Laras.

"Bapak bilang kamu nggak suka barang kecil yang gampang hilang. Terus dia tanya aksesori rambut."

Rayhan melirik jepit mutiara di kepala Laras. Kemungkinan Galih memilih benda serupa bukan lagi tebakan. Laras melihat arah matanya.

"Jangan mikir macam-macam. Galih cuma teman."

"Aku nggak bilang apa-apa."

"Muka lo bilang."

"Berarti kamu sekarang hafal muka aku."

Laras menyesal membuka celah. Rayhan tampak puas sepanjang sore.

Laras tertawa. Rayhan ikut tersenyum, tetapi kertas di jarinya terlipat makin sempit.

Malam sebelum kembali ke asrama, Rayhan duduk di teras Pak Darto. Laras membawakan teh.

"Seleksi kapan?"

"Minggu depan. Kalau lolos, lanjut tingkat provinsi."

"Jangan bikin masalah lagi."

"Nggak akan. Aku sudah punya alasan buat menang."

"Alasan harus dari diri sendiri, bukan gue."

Rayhan menerima gelas. "Bisa dua-duanya."

Ia menunjuk jepit rambut. "Bagus. Dari siapa?"

"Tadi udah gue bilang, dari Nad."

"Aku cuma memastikan."

"Memastikan apa?"

"Nggak ada."

Rayhan tersenyum terlalu manis. Laras langsung curiga, tetapi bus sekolah sudah datang menjemput.

Dalam perjalanan, Rayhan mengirim pesan kepada Koh Kelvin menanyakan toko aksesori dekat kampus Galih. Kelvin membalas dengan deretan tanda tanya.

Kelvin menelepon. "Lo mau beliin jepit buat siapa?"

"Nggak buat siapa-siapa."

"Kalau buat Mbak Laras, pilih yang nggak gampang patah."

"Galih mau beli."

"Terus kenapa lo yang riset?"

Rayhan melihat pantulan dirinya di jendela bus. "Aku cuma pengin tahu."

Kelvin diam sejenak. "Ray, gue dukung lo suka siapa pun. Tapi jangan bikin permainan yang nanti nyakitin Mbak Laras."

"Aku nggak akan nyakitin dia."

"Orang posesif selalu bilang begitu sebelum bertindak bodoh."

Panggilan berakhir tanpa jawaban. Peringatan itu tersimpan di kepala Rayhan, berdampingan dengan rencana yang belum berbentuk penuh.

Rayhan tidak menjelaskan. Ia hanya perlu mengetahui bentuk jepit yang umum dijual dan seberapa mudah dua benda serupa tertukar.

Ia belum melakukan apa-apa. Belum.

Di bengkel, Laras melepas jepit Nadia dan menyimpannya di laci meja kasir agar tidak terkena oli. Pak Darto kembali menyebut Galih mungkin membawa hadiah saat pulang.

Laras tidak memikirkan keduanya sebagai sesuatu yang berhubungan.

Namun di asrama, Rayhan sudah menempatkan dua jepit mutiara dalam bayangannya: satu dari Nadia yang Laras percaya, satu lagi dari Galih yang belum datang.

Papan permainan yang ia lihat di bawah arang padam kini memiliki dua bidak pertama.

Dan Rayhan belum memutuskan kapan akan menggerakkan salah satunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!