Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kotak Bekal Bintang Lima dan Misi Gelap Sang Asisten
Matahari pagi menyinari pelataran parkir apartemen eksklusif saat Rolls-Royce hitam milik Exel bersiap meluncur. Di dalam kabin mobil yang harum aromanya, suasana terasa jauh lebih hangat dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi jarak satu meter di antara dua pengantin baru tersebut.
Alexa duduk tepat di samping Exel. Seragam SMA abu-abunya terpasang rapi, sementara rambut panjangnya diikat kuncir kuda yang manis. Di pangkuannya, terbaring sebuah tas bekal kain berwarna pastel yang cukup tebal dan tampak sangat elegan.
"Mas..." cicit Alexa pelan, melirik Exel yang sedang merapikan lengan kemeja putihnya. "Ini kotak bekal isinya apaan sih? Kok tasnya berat banget kaya bawa batu bata?"
Exel menoleh. Tatapan mata cokelat gelapnya yang dulunya dingin bagaikan es di Kutub Utara, kini memancarkan binar kelembutan yang sangat pekat. Sang CEO berdarah dingin itu mendadak terserang penyakit bucin tingkat akut—sebuah perubahan drastis yang membuat siapa pun yang mengenalnya akan mengelus dada tidak percaya.
Exel merengkuh pinggang mungil Alexa, menarik tubuh istrinya mendekat tanpa peduli bahwa ada sopir di depan. Ia menunduk dan mendaratkan ciuman hangat di pipi tembam Alexa.
Chup!
"Mas Exel! Ada Pak Sopir tahu!" jerit Alexa heboh dengan suara cemprengnya, wajahnya seketika merona merah padam bagaikan kepiting rebus.
"Biarkan saja. Kamu kan istriku," sahut Exel santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Jemari tegapnya mengusap lembut pipi Alexa yang panas. "Itu bekal makan siangmu. Tadi pagi Mas menyuruh Chef Andre—koki pribadi restoran bintang lima milik keluarga—untuk memasakkannya khusus untukmu. Mas tidak mau kamu sembarangan makan cireng atau jajanan minyak di sekolah."
Mata bulat Alexa melotot sempurna. "K-koki restoran bintang lima?! Mas Exel, aku ini cuma mau sekolah, bukannya mau menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden!"
"Nutrisimu harus terjaga, Sayang," bisik Exel rendah di telinga Alexa, membuat bulu kuduk gadis mungil itu meremang. "Kamu masih dalam masa pertumbuhan. Dan Mas mau istri Mas selalu sehat."
Alexa menelan ludahnya kaku. Panggilan 'Sayang' yang meluncur dengan begitu luwes dari bibir kaku suaminya itu sukses membuat seluruh pasokan kata-kata di otak anak SMA-nya menguap begitu saja. Alexa menyembunyikan wajah panasnya di dada tegap Exel, meremas kain kemeja suaminya kencang karena salah tingkah yang tak tertahankan.
Exel terkekeh renyah, memeluk erat tubuh mungil itu seraya mengecup puncak kepala Alexa yang harum aroma stroberi. Sang CEO benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi dari pesona sang istri.
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Group...
Achmad duduk di belakang meja kerjanya sendiri dengan tatapan yang sangat tidak biasa. Pria yang biasanya selalu dihiasi cengiran jenaka dan candaan absurd itu kini memandangi layar laptopnya dengan dahi berkerut dalam. Matanya menyipit fokus, jemarinya menari-nari di atas kibor dengan kecepatan luar biasa.
Di layar monitor Achmad, terpampang dokumen profil siswa SMA Garuda yang didapat secara rahasia dari jaringan relasinya. Di sudut atas dokumen tersebut, terdapat foto pasfoto berlatar merah milik seorang gadis manis berseragam SMA.
Nama Lengkap: Safira Nur Haliza (Safi)
Tempat, Tanggal Lahir: Kuala Lumpur, 14 Februari 2009
Status: Siswi Pindahan (Keturunan Melayu-Indonesia)
Hobi: Membaca, Kuliner, Ekstrakurikuler Seni
Achmad menopang dagunya dengan tangan kanan, matanya menatap foto Safi tanpa berkedip. Sebuah senyuman tipis—yang sangat asing dan hangat—perlahan terbit di bibir sang asisten pribadi.
"Safira Nur Haliza..." gumam Achmad pelan, suaranya terdengar mendayu-dayu konyol. "Nama aslinya manis banget. pantesan logat Melayunya bikin candu. Lahir bulan Februari lagi, pantes manis kaya cokelat."
Achmad menyandarkan punggungnya di kursi eksekutifnya, melamun menatap langit-langit ruangan. Ingatannya berputar kembali ke momen saat Safi tertawa manis di rumah Exel, dengan gaya bicaranya yang polos dan matanya yang berbinar hangat.
"Aduh, Achmad... Lu bisa gila kalau begini terus," gumam Achmad seraya menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Si Exel udah bucin akut sama Si Botol Yakult, masa gua yang ganteng begini kalah? Gua harus mulai pergerakan gerilya nih."
Jemari Achmad kembali menari di atas kibor, mengetik pesan singkat ke tim intelijen pribadinya:
‘Cari tahu makanan favorit, warna kesukaan, dan jadwal kegiatan ekstrakurikuler Safira Nur Haliza di sekolah minggu ini. Lakukan secara rahasia. Jangan sampai diketahui pihak lain.’
Setelah menekan tombol send, Achmad menyeringai puas seraya menyandarkan tubuhnya kembali. "Tunggu tanggal mainnya, Safi sayang. Paman Achmad bakal bikin kamu klepek-klepek pakai pesona pria dewasa."
Di saat yang bersamaan, jam istirahat pertama di SMA Garuda baru saja berbunyi melengking.
Atmosfer kantin belakang sekolah dipenuhi riuk gemuruh anak-anak SMA yang kehausan dan kelaparan. Di meja pojok favorit mereka, Alexa, Rin, Safi, dan Melati sudah berkumpul.
"Aiyo, Alexa! Kau tak beli makanan ke?" tanya Safi heran sambil membawa mangkuk baksonya yang masih mengepul panas. Logat Melayu khasnya yang kental meluncur santai. "Kau dari tadi cuma pegang tas kain pastel tu je. Tak lapar ke?"
Rin dan Melati ikut duduk di seberang Alexa. Rin menyipitkan matanya tajam, menatap tas bekal berbahan kain suede mahal di atas meja.
"Ca, tas bekal kamu gaya banget deh hari ini," puji Melati polos seraya membuka tutup botol minumnya. "Beli di mana? Kelihatan kaya merek luar negeri."
Alexa tersenyum kaku, berkeringat dingin di balik seragam sekolahnya. "E-eh? Ini... Ini tas biasa kok! Murah banget beli di online shop dua puluh ribuan!"
"Masa sih?" selidik Rin curiga, memajukan wajahnya. "Tas kain dengan kancing berlapis emas imitasi begini dua puluh ribu? Coba buka, aku mau lihat isi bekal kamu."
"E-eh! Gak usah! Cuma nasi goreng biasa kok!" elak Alexa heboh, mencoba menutupi tas tersebut dengan kedua lengan mungilnya.
Namun, refleks Rin jauh lebih cepat. Dengan gerakan kilat khas anak karate, Rin menyambar tas tersebut dan membuka ritsleting utamanya!
Srett!
Kotak bekal tiga tingkat berbahan stainless steel premium bernuansa perak mengilap terhampar di tengah meja kantin. Begitu Rin membuka tutup tingkat pertama dan kedua, aroma gurih nan mewah yang sangat menggugah selera seketika menyeruak memenuhi area meja mereka!
Mata Rin, Safi, dan Melati melotot sempurna hingga hampir keluar dari rongganya!
Di tingkat pertama, terbaring dua potong daging Wagyu A5 Steak yang terpotong rapi dengan saus truffle berkilau, dilengkapi kentang tumbuk yang sangat lembut dan asparagus panggang segar. Di tingkat kedua, terdapat lobster panggang berbalut keju leleh serta caviar hitam di sudutnya. Sementara di tingkat ketiga, tersusun rapi potongan buah ceri Jepang dan stoberi impor raksasa.
Keheningan yang amat sangat mendadak melanda meja pojok kantin. Beberapa murid di meja sebelah bahkan sampai menoleh karena mencium aroma masakan kelas atas yang tak biasa tersebut.
"A-Aiyo... Mak cik..." cicit Safi gagap setengah mati, matanya melotot menatap daging wagyu berkilau itu. "Ini... Ini bekal sekolah apa hidangan untuk Raja Malaysia?!"
Melati menutupi mulutnya dengan kedua tangan, benar-benar syok. "Ca... Ini bukannya daging wagyu impor yang harganya jutaan rupiah seporsi itu ya? Terus itu... itu lobster sama keju mahal kan?!"
Rin menarik napas panjang, menatap Alexa dengan pandangan paling intens dan tajam. "Alexa Pramudya. Mengaku sekarang. Kamu habis menang undian katering nyasar, atau 'Om Suami'-mu yang gila itu yang nyuruh koki istana buat bikin ini?!"
Wajah Alexa seketika membara merah padam bagaikan kepiting rebus! Gadis mungil itu menyembunyikan wajah panasnya di atas meja seraya mengacak-acak rambutnya histeris.
"Aaaaa! Mas Exel ngeselin banget!" jerit Alexa tanpa sadar menyebut nama panggilan suaminya dengan nada cempreng yang sangat melengking.
"Tuh kan! Bener kata aku!" seru Rin sambil menunjuk Alexa dengan garpu. "Si CEO es batu itu ternyata bucinnya kelewat batas! Masa anak sekolah dibekalin wagyu sama lobster?!"
Safi memegangi dadanya, menggeleng-gelengkan kepala. "Betul-betul gila... Orang kaya kalau bucin memang lain macam ya. Aku nak makan pun takut, nanti kena ganti rugi sejuta rupiah kalau tertelan daging tu."
"Iya ih, mewahnya gak masuk akal buat ukuran kantin sekolah!" tambah Melati terkekeh gemas.
"Aaaaa! Kalian jangan ngejekin terus!" cicit Alexa dari balik tangannya, memayunkan bibirnya hingga beberapa sentimeter. "Aku juga gak tahu kalau isinya bakal begini! Tadi pagi Mas Exel cuma bilang buat menjaga nutrisi aku!"
"Cieeee... 'Menjaga nutrisi aku'..." goda Rin seraya menyenggol pinggang Alexa. "Yang habis 'malam pertamanya sukses' mah beda ya perlakuan suaminya! Sekarang dipanggilnya 'Sayang' terus dibekalin lobster!"
"RIN MASHITA! PELANIN SUARANYA!" jerit Alexa histeris, matanya melotot heboh menatap sekeliling kantin yang mulai memperhatikan mereka.
Safi tertawa terkekeh, lalu menatap daging wagyu di depan meja dengan liur yang hampir menetes. "Tapi, Ca... Kalau kau tak habiskan daging ni, kasihan kan? Boleh tak aku rasa sedikit?"
Alexa mendongak, matanya kembali berbinar manis. "Boleh! Makan aja semuanya! Kita makan bareng-bareng! Aku juga gak bakal habis makan sendirian!"
Ketiga sahabatnya bersorak gembira. Momen makan siang di kantin sekolah itu mendadak berubah menjadi pesta kuliner bintang lima yang sangat absurd. Di tengah gelak tawa dan suapan steak wagyu yang lezat, Alexa merogoh saku seragamnya, mengambil ponselnya.
Satu pesan singkat terkirim ke kontak bernama 'Mas Es Batu Bucin':
‘Mas Exel ngeselin banget! Masa aku dibekalin wagyu sama lobster ke sekolah?! Rin sama Safi sampai syok tahu gak! Tapi... makasih ya Mas Suami ganteng, wagyunya enak banget! Muah! ❤️’
Di gedung Dirgantara Group, Exel yang sedang memimpin rapat direksi yang kaku mendadak merasakan ponselnya di atas meja bergetar. Sang CEO melirik layar ponselnya.
Begitu membaca pesan dan melihat stiker 'Muah' dari istri mungilnya, sudut bibir Exel yang biasanya kaku seketika terangkat tinggi. Sebuah senyuman manis dan binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah sang CEO di hadapan puluhan direktur yang langsung membeku kebingungan melihat bos mereka senyam-senyum sendiri di tengah rapat.
Di sudut ruangan, Achmad yang menyaksikan hal itu hanya bisa memutar bolanya malas sambil menahan tawa. Bucin... Bucin... Dunia serasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak, batin Achmad menggeleng pasrah, seraya kembali memikirkan taktik untuk mendekati Safi.