Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Setelah selesai sarapan yang penuh ketegangan, Adrian bersiap berangkat ke kantor.

Sebelum pergi, Adrian mengunci tatapan Sasi di hadapan Fitria. Ia memberikan peringatan keras dan mutlak: Sasi wajib berada di rumah, tidak boleh mencoba melangkah keluar, dan menunggunya pulang.

Adrian melajukan mobil mewahnya membelah jalanan kota menuju kantor, meyakini bahwa sistem keamanan dan gelang alarm di kaki Sasi sudah cukup untuk mengunci ruang geraknya.

Sepeninggal Adrian, suasana rumah langsung mencekam. Fitria menghampiri Sasi dan mulai melemparkan sindiran tajam beracun.

Fitria mencaci Sasi yang dianggap sengaja "menjual diri" demi menyingkirkannya dari kamar utama, mengatai Sasi sebagai wanita tak tahu diri yang serakah dan memanfaatkan rasa iba Adrian.

"Puas kamu, Sasi?" cibir Fitria dengan napas memburu, berdiri bersedekah dada tepat di hadapan Sasi.

"Kamu pikir dengan merebut kamar utama, kamu bisa jadi ratu di rumah ini? Jangan mimpi! Kamu cuma wanita gatal yang menjual drama kasihan demi mengeruk harta dan perhatian suamiku!"

Sasi tidak lagi menangis atau meratapi nasibnya. Dengan dingin, ia membalas sindiran Fitria dengan tatapan tajam dan kalimat menohok yang menelanjangi ketakutan Fitria akan kehilangan Adrian.

"Kalau kamu percaya diri dengan posisimu sebagai istri pertama, kamu tidak akan segelisah ini, Fitria," balas Sasi datar tanpa mengedipkan mata sedikit pun.

"Kamu takut, kan? Kamu takut Adrian tidak lagi memandangmu hanya karena satu malam aku berdiri di rumah ini. Jadi, simpan makianmu untuk mengasihi dirimu sendiri."

Fitria membelalak tegang, bibirnya bergetar menahan amarah yang meledak, namun Sasi sudah memutar tubuhnya tanpa memedulikan teriakan murka wanita itu.

Sasi melangkah masuk ke kamar utama, mengunci pintu, lalu melepaskan baju mewahnya.

Ia mengganti pakaian dengan seragam kerjanya yang sederhana—menolak dipenjara dan bertekad mempertahankan satu-satunya harga diri dan kebebasan yang ia miliki: pekerjaannya.

Dengan jemari yang mantap meski gelang hitam itu masih melingkar erat di pergelangan kakinya,

Sasi mengikat rambutnya rapat-rapat. Matanya menyala penuh keberanian, siap menerobos apa pun yang menghalangi jalannya hari ini.

Dengan langkah pasti, Sasi berjalan menuju pintu keluar utama.

Begitu kakinya melewati ambang pintu batas area rumah, gelang logam di kakinya memicu alarm keamanan!

TIIIITT! TIIIITT! TIIIITT!

Suara sirine nyaring dan memekakkan telinga seketika membahana, memecah keheningan rumah mewah dan memicu kepanikan seluruh penjaga.

Bunyi melengking itu menggema tajam, memantul di dinding-dinding marmer dan membuat suasana seketika mencekam.

Sasi mengabaikan bunyi sirine yang memekakkan telinga tersebut.

Ia terus melangkah tanpa rasa takut, mempercepat pijakannya menuruni anak tangga teras.

"Nyonya Sasi! Berhenti!!" teriak seorang pengawal dari arah halaman.

Dua pengawal berbadan tegap langsung melompat menghadang dan mencoba memegang tubuhnya. Terjadi aksi saling dorong yang brutal.

"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!!" jerit Sasi histeris.

Trauma atas sentuhan fisik pria asing seketika membakar nekatnya.

Ketika salah satu pengawal merengkuh lengannya dari samping, Sasi meraih sebuah vas bunga keramik tebal yang berada di atas meja teras luar.

Tanpa ragu, ia mengayunkan vas itu dan memukulkannya ke dada sang pengawal hingga pecah berantakan!

"Argh!" pengawal itu mengaduh seraya mundur memegang dadanya.

Pengawal kedua mencoba mencengkeram bahu Sasi dari belakang, namun Sasi menyikut perut pria itu dengan keras menggunakan sikunya, lalu memanfaatkan celah sempit untuk menerobos barikade pintu gerbang utama yang setengah terbuka.

Dari atas bangunan, Fitria berlari menuju balkon lantai dua dengan raut wajah panik bercampur murka.

"Tahan dia! Tangkap cewek itu! Jangan biarkan dia keluar!!" jerit Fitria berteriak-teriak histeris dari balkon lantai atas memanggil para penjaga untuk menahan Sasi.

"Kalian semua bodoh! Tahan dia!!"

Namun, amukan nekat Sasi tak terbendung. Rasa mendesak untuk mempertahankan sisa-sisa kebebasannya memberi kekuatan ekstra pada tubuhnya yang kecil.

Sasi berhasil melompat keluar melewati celah gerbang besi yang tinggi.

Ia berlari melintasi trotoar dengan napas memburu dan dada bergemuruh kencang.

Tepat saat itu, sebuah taksi beratap kuning melintas di jalan raya.

Sasi secara nekat melompat ke tengah tepi jalan dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

SRET!

Mobil taksi itu mengerem mendadak. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Sasi menarik pintu belakang, masuk ke dalam kabin, lalu membanting pintunya rapat-rapat.

"Pak, jalan! Cepat jalan sekarang juga, Pak!!" perintah Sasi dengan suara bergetar dan napas tersengal-sengal.

Sopir taksi yang kaget melihat kepanikan penumpang dan mendengar sirine rumah mewah yang masih melengking langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mobil meluncur kencang membelah jalan raya, meninggalkan dua pengawal yang berlari terlambat dan raungan histeris Fitria yang perlahan menghilang di kejauhan.

Di tengah perjalanannya menuju kantor, ponsel Adrian mendadak bergetar hebat dan menyalakan notifikasi darurat berwarna merah: Sensor Gelang Alarm Sasi Terputus / Melewati Batas Safe-Zone.

Mata Adrian membelalak tajam. Amarah dan rasa panik yang dahsyat meledak sekaligus di dadanya.

Layar ponselnya berkedip-kedip merah, menampilkan titik lokasi Sasi yang bergerak cepat menjauhi area rumah mewah mereka.

Pria itu mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya mencuat tegang.

"Sial! Aku akan menghukummu, Sasi!!" geram Adrian, suaranya berat dan sarat akan amarah yang meluap.

Tanpa memedulikan keselamatan di jalan raya, Adrian menginjak rem secara mendadak hingga ban mobilnya berdecit keras menghantam aspal.

CIIIIIIIIIITH!

Klakson dari kendaraan lain bersahutan nyaring, memenuhi udara pagi yang padat.

Namun, Adrian tak menghiraukannya sedikit pun. Ia melakukan putar balik (U-turn) secara ekstrem di tengah keramaian lalu lintas, memutar kemudinya tajam hingga bodi mobil mewahnya berdecit.

Dengan pandangan lurus menghunus ke depan dan dada yang bergemuruh kencang, Adrian menginjak pedal gas dalam-dalam.

Engine menderu keras membelah jalanan, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar Sasi sebelum wanita itu menghilang atau kembali jatuh ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan.

Sasi tiba di kafe tempatnya bekerja dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar kencang.

Ia merasa lega sejenak setelah berhasil meloloskan diri dari rumah megah Adrian.

Sasi langsung bergegas masuk ke area dalam kafe untuk mulai bekerja, mencoba mengabaikan rasa cemas dan tatapan heran dari rekan kafenya atas seragamnya yang sedikit kusut akibat aksi nekat tadi.

"Sasi, dari mana kamu?" tanya rekan kerjanya kaget memandangi penampilannya.

"Ayo cepat bantu aku, pelanggan sudah mulai ramai!"

"I-iya, maaf," sahut Sasi gugup, mencoba menetralkan napasnya yang masih memburu.

Namun, baru saja Sasi menginjakkan kaki di belakang konter, deru mesin mobil mewah yang berhenti mendadak di depan kafe memecah suasana.

CIIIIIIIITH!

Suara decitan ban yang beradu keras dengan aspal membuat seluruh pengunjung kafe menoleh terkejut.

Dari balik pintu pengemudi, Adrian melangkah keluar dari mobil dengan aura dominan yang membakar penuh amarah dan kecemasan.

Jas mewahnya tersingkap kaku, sementara tatapannya tajam menembus kaca depan kafe—langsung mengunci presensi Sasi.

Sasi mendongak, matanya membelalak sempurna saat melihat suaminya berdiri di ambang pintu kafe.

"Sasi!" panggil Adrian dengan suara berat mendengung yang mengintimidasi seisi ruangan.

Refleks trauma dan kepanikan meledak—Sasi seketika berbalik dan berlari kencang menerobos pintu belakang kafe untuk menyelamatkan diri!

"Sasi, berhenti!!" jerit Adrian murka.

Adrian tak tinggal diam. Dengan langkah lebar dan napas memburu, ia langsung mengejar Sasi menyusuri gang sempit di samping kafe, mengabaikan teriakan kebingungan dari para pegawai kafe yang keheranan.

"Lepaskan aku! Jangan ikuti aku!" teriak Sasi histeris tanpa berani menoleh ke belakang.

Panik yang luar biasa membuat langkah Sasi tidak fokus.

Pijakannya tergelincir di atas permukaan tanah gang yang licin hingga Sasi tersungkur jatuh ke tanah!

BRUGH!

"Agh!" Sasi meringis kesakitan saat lutut dan telapak tangannya menghantam tanah kasar.

Sebelum Sasi sempat bangkit merangkak, Adrian sudah memangkas jarak.

Pria itu berdiri menjulang di atas tubuh Sasi dengan napas yang memburu hebat dan rahang yang mengeras rapat.

"Aku sudah peringatkan kamu, Sasi!" gertak Adrian penuh penekanan.

Mengabaikan rontaan dan jeritan histeris Sasi, Adrian membungkuk lalu mengangkat dan memanggul tubuh Sasi di atas bahunya secara paksa!

"Lepaskan aku, Adrian!! Turunkan aku! Lepas!!" jerit Sasi seraya memukul-mukul punggung tegap Adrian dengan tinju kecilnya, membiarkan kakinya menendang udara liar.

"Diam, Sasi! Kita pulang sekarang!" balas Adrian dingin tanpa sedikit pun goyah oleh pukulan Sasi.

Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar gang yang terperanjat, Adrian melangkah kaku membawa Sasi kembali menuju mobilnya, bersiap mengeksekusi hukuman atas pelanggaran nekat istri mudanya tersebut.

Darren—pemilik kafe sekaligus teman Sasi—yang mendengar keributan langsung berlari menuju gang belakang dan menghentikan langkah Adrian.

Melihat rekannya dipanggul secara paksa di atas bahu seorang pria bertubuh tegap, Darren menghadang jalan dan menuntut Adrian melepaskan Sasi, mengira Sasi sedang dalam bahaya tindak kejahatan atau penculikan.

"Hei! Lepaskan dia!" bentak Darren dengan napas memburu, memasang badan di celah sempit gang.

"Siapa kamu?! Jangan bertindak sembarangan atau aku panggil polisi sekarang juga!"

Adrian menghentikan langkahnya sejenak, menatap Darren dengan kilatan mata tajam yang mengintimidasi dan penuh nada kepemilikan mendalam.

"Aku suaminya! Dan, mulai sekarang, istriku aku larang bekerja di sini!"

Darren membeku, tak menyangka Sasi sudah menikah dengan pria asing nan berkuasa di hadapannya.

Ucapan yang terlempar dengan aura dingin itu berhasil mengunci mulut Darren, membuatnya tak sanggup lagi melangkah maju.

Sasi yang berada di atas bahu Adrian terus memukul punggung pria itu dan berteriak histeris

"Lepaskan aku, Adrian! Lepaskan!!"

Suara parau Sasi memenuhi ruang sempit gang, namun Adrian mengabaikan amukan Sasi sepenuhnya.

Ia membawa wanita itu kembali ke pelataran depan kafe, melangkah kaku di tengah tatapan heran para pejalan kaki.

Dengan gerakan tegas, Adrian membuka pintu mobil, memasukkan istrinya ke dalam kabin secara paksa, lalu membanting dan mengunci pintu mobil dari dalam sebelum melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.

Sasi mencengkeram gagang pintu mobil dari dalam, menarik-nariknya dengan histeris seraya menangis sesenggukan di kursi penumpang.

"Kamu jahat, Adrian! Kamu merenggut seluruh hidupku!" jerit Sasi, matanya menyalang penuh benci pada pria yang fokus mencengkeram kemudi di sebelahnya.

Adrian tak sedikit pun menoleh. Matanya menatap lurus ke jalan raya, sementara kakinya makin dalam menekan pedal gas.

Raungan mesin mobil membelah keramaian kota, membawa Sasi kembali menuju sangkar emasnya—tempat di mana hukuman dan keheningan yang mencekam sudah siap menyambutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!