Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MONSTER KUNO
Suasana canggung di pekarangan rumah kayu dua lantai itu masih terasa pekat. Putri Eldrin beserta empat pengawal elit Suku Elf masih berlutut khidmat di atas rumput, menundukkan kepala mereka di hadapan Kayy yang masih memegang teko air panas dengan raut wajah bingung.
"T-Tolong bangun... Saya benar-benar cuma warga biasa yang suka bertani," ulang Kayy pelan, berusaha mencairkan suasana.
Namun sebelum Eldrin sempat menjawab, PAK!
Dahan pohon pinus di atas mereka berkretek kencang. Seekor burung nuri sihir berbulu zamrud meluncur jatuh dan mendarat darurat di bahu Eldrin. Burung penyampai pesan khas Suku Elf itu tampak kelelahan, sayap kirinya terluka dan mengeluarkan asap hitam beracun.
Eldrin seketika berdiri, raut wajahnya berubah drastis menjadi pucat pasi. "Nuri Pemantau?! Ada apa dengan desa?!"
Dengan jari gemetaran, Eldrin menyentuh batu kristal sihir yang terikat di kaki burung tersebut. Seketika, proyeksi bayangan sihir terpancar di udara, menampilkan kekacauan hebat di perbatasan Desa Rahasia Suku Elf.
Pohon-pohon raksasa pelindung desa tampak tumbang dan hancur berkeping-keping. Dari dalam retakan tanah tebing jurang bawah tanah, sesosok makhluk mengerikan berukuran raksasa merayap keluar. Makhluk itu menyerupai gabungan antara bebatuan hitam pekat dan tentakel energi jahat—Monster Kuno Pemakan Mana (Mana-Eater Beast), entitas purba yang tertidur ribuan tahun di kedalaman Hutan Kelam!
ROAAARRR!
Bahkan melalui proyeksi sihir bayangan, raungan monster itu menggetarkan udara pekarangan. Makhluk purba itu tertarik oleh pusaran mana murni yang memancar di Hutan Kelam dan kini sedang menghancurkan barikade sihir pertahanan bangsa Elf untuk mengincar jantung kehidupan desa mereka.
"T-Tebing jurang kuno telah runtuh..." gumam seorang pengawal Elf dengan tubuh gemetaran hebat. "Monster Pemakan Mana telah bangkit!"
Eldrin menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Kepanikan murni membanjiri matanya. Suku Elf Hutan yang terisolasi tidak memiliki cukup prajurit tingkat tinggi untuk menahan serangan monster purba sekelas bencana alam tersebut. Jika perisai utama desa jebol, seluruh kaumnya akan dibantai dalam hitungan jam.
Eldrin menatap Alya dengan mata memohon, lalu beralih menatap Kayy. Tanpa ragu sedikit pun, sang Putri Elf kembali berlutut, menempelkan dahinya ke rumput pekarangan.
"Yang Mulia Penjaga Agung... Hamba memohon bantuanmu!" jerit Eldrin pasrah. "Desa kami di ujung tanduk! Hanya kekuatan abadi milikmu yang sanggup memusnahkan monster purba itu!"
Alya menatap gambar proyeksi yang memperlihatkan desa sahabat lamanya sedang dihancurkan. Rasa iba melingkupi dadanya. Ia menoleh menatap Kayy, memegang lembut jemari suaminya. "Kayy... Bisakah kita membantu mereka?"
Kayy menghela napas panjang. Sejujurnya, pria berstatus MAX itu hanya ingin menikmati kopi sore dan bersantai di rumah. Namun, melihat air mata Alya dan mengingat bahwa monster raksasa itu bisa saja mengganggu ketenangan pekarangan rumahnya jika dibiarkan berkeliaran, Kayy akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah. Kita selesaikan ini dengan cepat," kata Kayy santai.
"Horeee! Jalan-jalan ke hutan!" seru Elena gembira dari atas punggung Shiro. Bocah kecil itu sama sekali tidak sadar akan bahaya, malah mengayun-ayunkan pedang kayu mainannya dengan antusias. "Shiro, ayo jalan!"
GUK! Shiro menggoyangkan ekornya yang setinggi tiga meter, menyetujui ajakan majikan kecilnya.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi rombongan itu untuk mencapai perbatasan Desa Elf, dipandu oleh lompatan cepat Shiro dan Kayy yang berjalan santai namun mampu mengimbangi kecepatan angin.
Begitu mereka sampai di tepi tebing desa, pemandangan di depan mata sangat mengerikan. Puluhan prajurit Elf tergeletak lemas di tanah karena mana mereka disedot habis oleh sang monster. Makhluk batu hitam setinggi tiga puluh meter itu sedang mengangkat tangan raksasanya, bersiap meremukkan aula utama Desa Elf!
"TIDAK! Perisai utama sudah runtuh!" jerit Eldrin histeris dari atas dahan.
Para pengawal Elf menarik busur panah mereka dengan putus asa, melepas ratusan panah sihir. Namun, panah-panah itu hancur menjadi abu begitu menyentuh kulit batu penyerap mana milik monster tersebut.
"Monster itu menyerap semua bentuk serangan sihir murni! Panah kita tidak berguna!" teriak komandan pengawal Elf dengan frustrasi.
Di tengah kepanikan dan jeritan para Elf, Kayy berjalan santai menuju tepi tebing pekarangan atas. Pria bercelemek itu melipat lengan bajunya hingga ke siku.
"Ayah! Pukul patung batu jelek itu!" seru Elena polos dari balik punggung Shiro, sambil menyodorkan pedang kayu mainannya. "Pakai pedang kayu Elena!"
Kayy terkekeh pelan. Ia menerima pedang kayu mungil buatan tangannya sendiri dari jemari Elena.
"Terima kasih, Sayang. Ayah pinjam sebentar ya," ucap Kayy lembut.
Kayy melangkah satu tapak ke depan. Di matanya, angka-angka kalkulasi sistem INT MAX dan PHYSICAL MAX berkedip secara instan. Mengukur kerapatan molekul batu purba, tekanan udara, dan jarak tebas mutlak.
Pahlawan, dewa, atau monster kuno sekalipun... di hadapan status MAX, semuanya hanyalah angka variabel sederhana.
Kayy mengangkat pedang kayu mainan sepanjang empat puluh sentimeter itu ke udara. Tanpa sihir, tanpa mantra, hanya gerakan ayunan tangan yang sangat santai dan alami.
KLTAP.
Kayy mengayunkan pedang kayu itu ke bawah.
WUUUUUUUUUUUUUUUUUSH!
Seketika, atmosfer di atas Hutan Kelam serasa terbelah dua! Sebuah gelombang tekanan kinetik murni yang tak terlihat melesat dengan kecepatan membelah suara. Angin kencang bertekanan ribuan ton menyapu area tebing, membumbung tinggi hingga membelah awan hitam di langit!
BOOOOOOOOOOM!
Bahkan tanpa menyentuh tubuh sang monster secara langsung, gelombang kinetik dari tebasan pedang kayu itu menghantam dada Monster Kuno Pemakan Mana. Batu pekat penahan sihir yang sangat keras itu retak seketika, lalu menjerit kencang saat tubuh raksasanya terurai menjadi abu halus dalam hitungan satu detik!
Tekanan angin tebasan itu terus melesat jauh menembus tebing batu di belakang monster, mengukir sebuah lembah buatan yang sangat lurus dan indah sepanjang tiga kilometer!
Hening.
Seluruh pekarangan Desa Elf mendadak sunyi senyap. Burung-burung berhenti berkicau. Ratusan prajurit Elf yang tergeletak di tanah membeku dengan mata membelalak lebar, rahang mereka jatuh ke tanah.
Monster purba yang telah membantai leluhur mereka dan menyerap jutaan sihir murni... lenyap tak berbekas hanya karena sebuah ayunan mainan kayu dari seorang pria bercelemek?!
"P-Patung batunya hancur! Ayah hebat!" jerit Elena gembira seraya bertepuk tangan riang dari atas Shiro.
Kayy mengusap pedang kayu itu dengan santai, memastikan tidak ada debu yang menempel, lalu mengembalikannya kepada Elena. "Ini pedangmu, Elena. Masih utuh."
Putri Eldrin dan seluruh tetua Elf yang menyaksikan kejadian itu dari dekat langsung lemas di tempat. Lutut mereka gemetaran hebat hingga tak sanggup lagi berdiri.
"Menghancurkan Bencana Kuno... hanya dengan tebasan angin dari pedang mainan kayu..." gumam Eldrin lemas dengan mata kosong, benar-benar tak sanggup lagi memproses tingkat kekuatan di hadapannya.
Bagi seluruh bangsa Elf hari itu, tidak ada keraguan sedikit pun yang tersisa di dalam sanubari mereka: Pria di hadapan mereka bukan sekadar petani biasa, melainkan Dewa Tertinggi Penjaga Alam yang sedang menyamar untuk hidup tenang bersama mantan Saintess dan anak ajaib mereka.