Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Laporan yang Terlalu Sempurna

Kapten Sandi keluar dari ruang dr. Wina seperti orang yang baru melihat api.

Ia hampir menabrak Kayla di koridor Pusat Aeromedis. Map di tangannya jatuh dan beberapa lembar formulir berhamburan.

"Maaf," katanya cepat.

Ketika membungkuk mengambil kertas, Kayla mencium bau tipis alkohol dari napasnya.

"Kapten bertugas hari ini?"

Sandi menegakkan tubuh. "Penerbangan siang."

"Sudah menjalani tes alkohol?"

"Sudah. Hasilnya nol."

dr. Wina muncul di pintu. "Saya yang memeriksa. Ada masalah?"

"Saya mencium alkohol."

Sandi tertawa terlalu keras. "Obat kumur."

"Kalau begitu tes ulang akan menjelaskannya."

Wina menyilangkan tangan. "Tidak ada dasar mengulang tes yang sah hanya karena penciuman."

"Dasarnya adalah tanda klinis dan kebijakan keselamatan. Kapten, ikut saya ke ruang tes utama."

Sandi memandang Wina. Pandangan singkat itu cukup membuat Kayla semakin curiga.

"Saya sudah diganti kru cadangan," katanya. "Tidak jadi terbang."

"Tetap tes. Kalau hasilnya negatif, catatan selesai."

Sandi mengaku harus mengambil identitas di ruang kru, lalu berjalan cepat ke pintu keluar. Tiana menyusul beberapa menit kemudian dan melapor bahwa lelaki itu tidak pernah sampai ke ruang kru.

"Akses kartunya dipakai keluar kompleks," katanya.

Kayla mencatat waktu kejadian. "Minta operasional menahan status fit sampai dia kembali. Jangan menuduh di grup."

Tiana menghubungi petugas pengendali kru dan hanya menyampaikan bahwa pemeriksaan belum lengkap. Nama Sandi diberi status sementara tidak dapat ditugaskan, disertai waktu dan alasan klinis. Kru cadangan dipanggil tanpa mengumumkan dugaan alkohol.

"Kalau dia benar hanya memakai obat kumur, berapa lama harus menunggu?" tanya Tiana.

"Kita ulang dengan alat yang benar dan dokumentasikan waktunya. Obat kumur bisa memengaruhi pembacaan sesaat, jadi hasil perlu dikonfirmasi sesuai prosedur. Tapi melarikan diri dari tes membuat masalah disiplin terpisah."

Kayla meminta keamanan menyimpan rekaman koridor serta data akses pintu. Ia tidak meminta Sandi dikejar di jalan. Selama status terbangnya diblokir, risiko langsung telah dihentikan.

dr. Wina mengirim pesan bahwa keputusan Kayla berlebihan. Kayla membalas dengan nomor kebijakan keselamatan dan menyalin dr. Rendra agar semua komunikasi tercatat.

Di pintu menuju apron, Adrian datang untuk pemeriksaan sesuai jadwal perusahaan. Ia menyerahkan kartu kru seperti semua orang lain.

"Saya dengar ada kapten kabur," katanya.

"Saya tidak membahas pasien atau kru yang diperiksa."

"Jawaban yang benar."

Adrian meniup alat yang telah dikalibrasi ulang. Hasilnya nol. Tekanan darah dan evaluasi singkat sesuai.

"Fit," kata Kayla. "Jangan merasa istimewa."

"Saya berharap mendapat stiker bintang."

"Keluar sebelum saya ubah keputusan."

Reyner berpapasan dengan mereka setelah kembali dari penerbangan luar kota. Ia memberi salam kepada Adrian, lalu matanya berhenti satu detik pada Kayla.

Di tas kerjanya, salinan penerimaan sampel laboratorium tersimpan di antara dokumen penerbangan.

Kayla hanya menganggapnya kakak Vanessa yang terlalu pendiam.

Setelah Adrian dan Reyner pergi, Kayla masuk ke ruang audit bersama Tiana. Mereka membandingkan laporan Sandi selama enam bulan.

Enam kali tes alkohol tercatat nol. Tekanan darahnya selalu 120/80. Denyut nadi selalu 72. Waktu reaksi pada tiga pemeriksaan berturut-turut sama sampai angka desimal.

Tiana memasukkan data ke lembar perbandingan. Bukan hanya Sandi. Tujuh laporan berbeda memiliki urutan angka yang sama, bahkan satu kesalahan ketik pada kolom riwayat obat.

"Ini disalin," katanya.

Kayla memeriksa metadata. Berkas dibuat pada waktu berbeda, tetapi semua menggunakan akun Wina dan versi templat yang sama. Pada dua tanggal, Wina tercatat cuti, sementara laporan tetap ditandatangani secara digital dari terminal ruangannya.

"Bisa jadi akun dipakai orang lain," kata Kayla. "Jangan simpulkan dia sendiri yang membuat semua."

"Kita minta log lokasi?"

"Ya. Dan daftar orang yang punya akses ke ruangannya."

Kayla juga memilih lima laporan normal dari dokter lain sebagai pembanding. Hasil mereka bervariasi secara masuk akal, memiliki cap waktu perangkat, dan menyertakan catatan ketika pemeriksaan diulang.

Perbedaannya terlalu jelas untuk disebut kebetulan.

"Manusia bukan mesin," kata Tiana.

"Bahkan mesin punya variasi."

Semua laporan ditandatangani dr. Wina. Empat di antaranya memakai nomor seri alat yang pada tanggal tersebut sedang diservis.

Kayla membuka data kru lain. Pola yang sama muncul pada sebelas nama, terutama kapten senior yang jadwalnya padat.

"Ada kemungkinan data templat tidak diperbarui," kata Tiana.

"Itu masih pelanggaran dokumentasi. Tapi kalau orang yang tidak diperiksa dinyatakan fit, masalahnya lebih besar."

Mereka meminta log alat kepada vendor. Balasan menunjukkan beberapa tes tidak pernah tercatat pada perangkat. Nomor hasil di laporan dibuat manual.

Tiana menurunkan suara. "Aku mendengar dr. Wina dekat dengan Sandi. Dia juga suka Adrian sebelum kalian menikah."

"Perasaan tidak membuktikan pemalsuan."

"Dia selalu kesal kalau Priscilla, purser senior, masuk ke ruang medis. Katanya semua perempuan di sekitar kapten hanya mencari perhatian."

"Gosip tetap bukan bukti. Catat hubungan kerja Sandi dan Wina hanya kalau memengaruhi akses atau keputusan."

Kayla tidak ingin penyelidikan keselamatan berubah menjadi daftar perempuan yang menyukai laki-laki. Yang penting adalah siapa mengubah data dan siapa diuntungkan.

dr. Hana masuk membawa daftar arsip fisik. "Ada masalah lain."

Ia menunjukkan nomor kotak data mentah kuartal sebelumnya. Tiga kotak seharusnya ada di gudang, tetapi raknya kosong. Formulir serah terima terakhir ditandatangani kepala pusat yang kini bekerja di Fortuna.

"Apakah ada salinan digital?" tanya Kayla.

"Indeksnya ada. Lampirannya hilang."

dr. Leo menemukan bahwa akun lama kepala pusat masih aktif dua hari setelah pengunduran diri. Seseorang mengunduh ratusan laporan dalam satu malam.

Kayla meminta bagian TI membekukan semua akun mantan pegawai, membuat citra forensik log, dan tidak memberi tahu pihak yang sedang diperiksa sebelum bukti diamankan.

dr. Rendra menyetujui melalui pesan tertulis dan meminta Kayla menyimpan salinan di server kepatuhan. Ia juga menugaskan dr. Hana menjadi saksi setiap pengambilan arsip agar tidak ada yang dapat menuduh tim baru mengubah dokumen.

"Wina akan tahu cepat atau lambat," kata Tiana.

"Biarkan dia tahu kebijakan berubah. Jangan biarkan dia tahu persis bukti mana yang kita punya."

Kayla memindahkan lima berkas bertanda ke lemari dengan akses ganda. Ia dan dr. Hana masing-masing memegang satu kode, sementara kamera ruangan mulai merekam setelah TI memperbaiki sudutnya.

Sore menjelang ketika jadwal Sandi akhirnya terbuka di layar.

Besok ia dijadwalkan terbang ke Surabaya. Waktu keberangkatannya berdekatan dengan penerbangan Adrian menuju tujuan lain dari terminal yang sama.

Kayla mengangkat telepon internal untuk menghubungi dr. Rendra.

Pintu kantornya terbuka.

dr. Wina berdiri di sana sambil memegang map. Begitu melihat jadwal Sandi di layar, map itu menutup dengan bunyi keras.

Tatapan mereka bertemu.

1
tri septi
rosa 🤦🤦🤦🤦
tri septi
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷semoga selamat
tri septi
kalau Kayla anak angkat keluarga Chandra, apakah dia ada kemungkinan "Yaya" yang hilang dr keluarga Wijaya... 🤔🤔🤔🤔 lanjut thor 💪💪💪
tri septi
3 tahun bisa mengubah banyak hal🤭🌷🌷
tri septi
ehem ehemmm.... takdir yang aneh 🤭🌺🌺🌺
tri septi
mengapa Kayla bisa jadi anak angkat? 🤔
tri septi
hemmm.... mampir thor🌷🌷🌷
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
ternyata Vanessa benar anak Rosa karna mereka sama2 gila harta
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
perubahan untuk kebaikan sering tidak disukai oleh orang2 yang biasa abai sama peraturan
yuqana
keren bgt novelnya kakak, ditunggu update nya🥰🥰🥰
tri septi
siapa sebenarnya Kayla 🤭❤️
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
demi keselamatan penumpang ayo bersihkan para penipu
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
kehidupan anak keluarga kaya dikendalikan keluarganya, perasaan tidak ada hartanya didepan harta
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
ho ho ho bayi yang tertukar,, tapi kenapa Kayla ketahuan anak angkat kalo Halim juga melahirkan bayi perempuan di RS yang sama,, apa mereka sengaja??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!