Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Siang ini  matahari bersinar begitu cerah di luar, sinarnya masuk melalui celah jendela dan ventilasi dapur----nampak menerangi dapur minimalis yang di dominasi warna hijau sage yang estetik.

Suasana rumah yang biasanya hangat dengan aktivitas kreatif yang di lakukan Asri, kini menjadi hening.

Setelah kepergian Putri untuk mengajar di yayasan peninggalan kedua orangtuanya, sementara Asri hanya sendirian termenung di dapur.

Di kursi makan, Asri terduduk membisu di kursi kayu meja makan berbentuk bundar.

Meja makan itu nampak menghadap langsung ke arah dapur yang bersih.

Wanita ini mengenakan kaos lengan pendek berbahan rayon berwarna sky blue, di padukan dengan celana pendek dengan motif garis-garis vertikal perpaduan warna biru dan abu-abu.

Rambutnya yang hitam legam di biarkan tergerai, menutupi punggung dan pundaknya.

Di atas permukaan meja makan yang terbuat dari kayu jati itu, tengah tergeletak sebuah ponsel milik Asri.

Di telinga kanan dan kirinya tengah terpasang sebuah headset bluetooth nirkabel kecil warna hitam, Asri tengah mendengarkan lagu yang galau---seolah mewakili isi hatinya saat ini.

Asri hanya terdiam pikirannya masih ingat wajah pria itu, entah mengapa wajahnya selalu terbayang-bayang di pikirannya.

Kini Asri memutar lagu-lagu ini hanya sebagai alat tameng batin, sebuah cara agar melupakan malam-malam kelam itu.

Malam dengan suara-suara menjijikan dari pria yang mengenakan kaos hijau Army itu, saat menyentuh tubuhnya.

Sekarang Asri hanya diam termenung berusaha melupakan malam-malam kelam yang menjijikan itu, dengan lagu-lagu yang di dengarkannya-----namun tak bisa.

Pandangan matanya sangat sayu, nampak kosong menatap permukaan meja-----jemarinya saling bertaut erat seolah bergetar meluapkan kecemasan yang tak kunjung reda.

"Kenapa aku tak bisa melupakan bayangan pria itu...," bisiknya dengan lirih.

Asri terdiam sembari menghirup udara dapur yang segar, karena di belakangnya tengah tertanam tumbuhan kemangi hijau di dalam pot tanah liat.

Di bawah meja konter dapur sangat pas untuk kondisi jiwa Asri saat ini, yang layu dan sedang ada tekanan.

Di tengah rasa sunyi itu, Asri menjadi teringat akan kenangan bersama mendiang kedua orangtuanya----tiba-tiba saja muncul di benak Asri.

"Mama...papa...maafin aku. Kalian kalo masih hidup akan kecewa banget, Asri udah nggak suci lagi....," ujarnya dalam batin yang tertekan ini.

Sejak kecelakaan pesawat yang tragis bertahun-tahun lalu, yang merenggut nyawa kedua orangtuanya----Asri bertekad akan menjadi berprestasi dan membuat bangga nama keluarga Devantara.

Saat itu usianya belum genap 18 tahun, jadi baik Asri dan Putri harus di bawah pengacara wali yang di tunjuk keluarga.

Impian Asri berhasil sebagai peneliti sejarah muda yang cemerlang, di bidang arkeologi.

Namun, kebanggaan itu harus sirna, dengan rasa kotor---kesuciannya yang di renggut dengan hina di malam yang kejam itu.

Air mata kembali membasahi pipi Asri mengingat bagaimana tekadnya, agar membuat orangtuanya bangga di alam sana.

Namun apa daya, dirinya malah membuat nama keluarga Devantara tercoreng---karena malam menjijikan itu.

"Mama... papa maafin aku... aku memang sudah sukses, tapi aku nggak bisa jaga kesucian...," ujar Asri dengan nada suara yang teramat lirih, hampir menyerupai bisikan parau yang hilang di udara dapur yang sunyi.

Isak tangis Asri kembali pecah dengan bahu kecilnya berguncang, suara pria itu terdengar jelas.

"Bidadari mau kemana kamu...," ucap Angga dengan lirih.

Asri langsung menutup kedua telinganya seolah tak sanggup mengingat pria yang berani merenggut kesuciannya, sentuhannya masih terasa melekat di tubuh Asri.

Wanita itu langsung berteriak histeris, menyeka paha, lengan dan area gunung kembarnya---karena dalam sadarnya sebelum Angga memukul wajahnya.

Area-area itu yang di sentuh oleh Angga.

"Ihhh, jijik gua! pergi-pergi!" teriak Asri, menepis-nepis semua sentuhan Angga yang terasa melekat.

Asri mengingat samar-samar sensasi dinginnya angin malam yang menusuk kulitnya, saat ia dibawa melintasi koridor hotel menuju kamar yang sepi.

Kepalanya yang terkulai lemah berayun-ayun seiring langkah kaki pria yang mabuk berat itu.

Ada aroma tajam alkohol yang memuakkan tercium dari pakaian pria tersebut, berpadu dengan aroma tanah basah setelah diguyur gerimis tipis.

"Tolong pergi, gua nggak mau!" teriak Asri berusaha berontak, namun itu semua hanya memori yang ada di kepalanya.

Namun, Asri berusaha mengendalikan dirinya.

Saat tersadar dari ingatan memori yang kelam itu, dirinya sesekali menghela napas lelah.

"Ya allah kenapa engkau berikan cobaan ini pada hamba...apa salah hamba...kenapa?" ucapnya dalam hati, seolah berserah pada yang kuasa.

Asri memejamkan matanya dengan erat, meremas kedua tangannya---agar tak melakukan lagi---area lehernya teringat bagaimana Angga mencumbunya---hal yang sangat menjijikan bagi Asri.

Angga juga tak sadar malam itu telah melakukan apa, semua derita seolah di limpahkan kepada Asri.

Sungguh tak adil, sangat tak adil.

Dalam kondisi ini, Asri menjadi kembali teringat kilasan samar wajah pria itu---dengan tubuh tegap.

Pria Asing yang tak di ketahui namanya itu---Angga, juga kasusnya sudah di limpahkan kepada pihak berwajib---namun belum ada kelanjutannya.

Sungguh Asri merasa di posisi yang tak berdaya, dan dirinya juga bingung harus apa---setiap keluar rumah, dirinya takut bertemu pria mabuk.

Seolah trauma harus bertumpu padanya, dan Asri memejamkan matanya menghela napas panjang---berusaha agar melupakan memori kelam bersama pria itu.

Namun, hasilnya nihil---malah setiap sentuhannya terasa dan terus membayangi kepalanya.

"Ihh! pergi! pergi! lepasin gua!" teriak Asri lagi, tangannya berusaha membersihkan sentuhan Angga di area tubuh yang sama.

Asri berusaha beristigfar, lalu memejamkan matanya kembali---menghela napas panjang demi menenangkan dirinya.

Sungguh hal ini tak pernah di bayangkan dalam hidupnya Asri, cobaan yang Asri terima sudah bertubi-tubi.

Padahal Asri adalah orang baik, tapi kenapa harus merasakan cobaan ini---yah memang setiap cobaan yang di berikan sang pencipta pasti akan manis di akhirnya.

"Ya allah...kenapa hamba terus teringat akan malam itu...malam di mana hamba kehilangan mahkota hamba," isak tangis Asri dengan air mata yang kembali mengalir.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!