Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghuni yang Seharusnya telah datang

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung. Rin masih berdiri membeku di ujung koridor lantai dua, sementara Takumi tetap bergeming di bawah tangga. Keduanya saling kunci pandangan, sama-sama tidak berani membuat pergerakan drastis.

Rin akhirnya memberanikan diri menuruni satu anak tangga.

Refleks, Takumi langsung mundur satu langkah.

“Apa maksudmu rumah ini kamu sewa?” tanya Rin dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Iya. Aku menyewa rumah ini selama enam bulan,” sahut Takumi mendatar. Tangannya masih belum mau turun, tetap siaga mengacungkan centong kayu.

Rin mengerutkan dahi rapat-rapat. Enam bulan?

Tanpa membalas ucapan pria itu, Rin berbalik dan bergegas menuju kamar neneknya di lantai bawah. Pintu geser kayu itu ia dorong kasar.

Rin membeku seketika.

Kamar yang biasanya diisi oleh Obaachan tampak bersih dan rapi. Tidak ada pakaian tergantung, tidak ada koper, bahkan tidak ada barang-barang pribadi yang biasanya berserakan di meja.

Rin menelan ludah yang terasa pahit. Penasaran, ia berbalik dan melangkah cepat menuju kamar tamu di sebelahnya.

“Hei! Itu kamarku!” seru Takumi memprotes.

Rin mengabaikannya dan langsung menggeser pintu kamar tamu. Di dalam sana, sebuah koper besar yang terbuka tergeletak di atas kasur. Beberapa stel pakaian pria berserakan di dekatnya, bersanding dengan sebuah laptop dan peralatan kerja yang tertata di atas meja.

Rin mundur satu langkah dengan pandangan tak percaya. “Nggak mungkin…”

“Kalau tidak percaya, telepon saja pemilik rumahnya,” potong Takumi dari belakang.

Rin tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah kencang menaiki tangga menuju kamarnya sendiri di lantai atas. Takumi terpaksa mengekor dari belakang.

Namun begitu melangkah tiba di depan kamar Rin, pergerakan Takumi mendadak terhenti. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di dalam.

Ruangan itu… penuh dengan gunung sampah.

Bungkus makanan ringan berserakan memenutupi lantai, botol minuman kosong menumpuk di sudut ruangan, pakaian kotor tergeletak asal, hingga sisa mangkuk yang tak tahu sudah berapa hari mengendap di sana.

Takumi refleks mundur dua langkah dengan raut wajah berkerut jijik. Ia bahkan terburu-buru menutupi bagian bawah hidungnya menggunakan jari telunjuk.

Rin sama sekali tidak memedulikan gestur prihatin itu. Tangan gadis itu sibuk mengaduk-aduk tumpukan sampah bekas makanan di dekat kasurnya.

“Di mana, sih…” umpat Rin frustrasi.

Setelah mengacak-acak tumpukan bungkus plastik, jemarinya akhirnya menemukan ponsel yang dicari. “Ketemu!”

Rin menyambar benda itu, menggeser layar, lalu mencari kontak Obaachan. Ia berbalik keluar kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu bergegas turun ke lantai bawah dengan Takumi yang masih setia menguntitnya.

Begitu sampai di ruang tengah, Rin langsung menekan tombol panggilan dan menyalakan pengeras suara.

Tut… Tut…

Baru dering kedua, sambungan di seberang sana langsung diangkat.

“Halo?”

Rin langsung cerocos tanpa babi-bu. “Oba—”

“Kau baru keluar dari kamar ternyata?” potong suara wanita tua di seberang telepon dengan santai.

Rin terdiam sejenak. “Eh… apa?”

Suara rin kembali berembus tegas. “Obaachan! Apa-apaan ini?! Kenapa menyewakan rumah saat aku masih di sini dan tidak memberitahuku dulu?!” cerca Rin panik.

“Karena kau sendiri setiap kali kupanggil tidak pernah mau membuka pintu!” balas Obaachan tanpa rasa bersalah.

Rin bungkam.

“Kalau kau memang mau menjadi hikikomori, jangan mengurung diri di rumahku!”

Takumi yang menyimak percakapan itu dari jarak dua langkah hanya bisa menyilangkan tangan di dada.

Rin mulai panik setengah mati. “Obaachaaann!”

“Apa lagi?”

“Lalu aku bagaimana?!”

“Kau pulang saja ke rumah ayahmu.”

“Aku nggak bisa pulang, Obaachan!”

“Kalau begitu, bicaralah baik-baik dengan penyewa rumahnya.”

Rin mendelik menoleh ke arah Takumi.

“Karena dia yang sekarang resmi tinggal di rumahku,” tambah Obaachan.

“Tapi—Obaachan—”

“Dan satu hal lagi,” sela suara neneknya makin tajam. “Dia menyewa seluruh rumah ini. Termasuk kamar yang selama ini kau tempati.”

Mata Rin membelalak sempurna.

“Jadi kalau dia menyuruhmu keluar…” Obaachan jeda sejenak. “…itu sudah jadi haknya.”

Mata Rin yang mengintip dari balik rambut panjangnya perlahan bergulir menatap Takumi. Pria itu menatap balik, dengan sudut bibir yang sedikit terangkat membentuk senyum tipis—senyuman penuh kemenangan dari seseorang yang baru saja mendapatkan pembenaran resmi.

Rin makin menekuk wajahnya kesal. “Tapi, Obaachan… kapan Obaachan kembali?”

“Setidaknya setelah masa sewanya habis.”

“Apa?!” Rin terperanjat kaget

“Aku sedang menikmati liburan di Hokkaido.”

Rin terhenyak mematung. “Jadi ...jadi Obaachan tega meninggalkanku sendirian di sini?”

“Rin.” Nada suara neneknya mendadak berubah datar dan dingin. “Kau itu sudah dua puluh satu tahun.”

Rin membuka mulutnya ingin membalas, tapi Obaachan lebih dulu menyela. “Sudah ya, jangan ganggu liburan Obaachan. Nikmati saja hidupmu sebagai hikikomori di rumah orang lain.”

Tut…

Panggilan diputus sepihak.

Rin masih berdiri mematung, menempelkan ponsel yang sudah mati itu di telinganya.

Setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, Takumi yang sejak tadi berdiam diri akhirnya angkat bicara.

“Bagaimana?”

Rin perlahan menurunkan ponselnya.

Takumi masih melipat kedua tangannya di dada dengan gaya menyebalkan. “Aku bukan maling, kan?”

Rin mengernyitkan dahi. Ia mengamati pria di hadapannya sekali lagi: Tangan bertato, rambut setengah basah, dada bertelanjang bertutupkan apron masak, celana santai, dan centong kayu di tangan.

Lalu, tanpa sengaja mata Rin menangkap pantulan dirinya di kaca jendela. Rambut mencetus acak-acakan, piyama kusut berdebu, wajah pucat bagai mayat, dan penampilan yang tak ada bedanya dengan gembel baru bangun tidur.

Rin seketika tertunduk dalam. “Ah…”

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, ia berbalik, berlari kencang menaiki tangga.

BRAK!

Pintu kamar di lantai dua dibanting keras-keras.

Takumi yang berdiri sendirian di lantai bawah hanya mampu mengangkut sebelah alisnya. “Gadis aneh.”

***

Di balik pintu kamar, Rin melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan liar.

“Arghhh!”

Ia memukul-mukul udara kosong dengan kedua tangannya secara histeris. Kesal, marah, dan malu bercampur aduk menjadi satu menembus dadanya. Ia akhirnya menjatuhkan diri telungkup di kasur.

“Obaachan jahat…” gumamnya seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.

Ia benar-benar tak menyangka neneknya setega ini. Padahal alasannya kabur ke rumah ini adalah untuk bersembunyi dari perlakuan ayah dan ibunya yang terus memaksanya memilih jalan hidup yang ia benci. Dan sekarang… benteng pelariannya justru disewakan ke orang asing.

Rin meremas bantalnya meluapkan amarah. “Ini semua gara-gara Ayah! Kalau saja laptopku nggak diambil…”

Beberapa detik berlalu, Rin menegakkan kepalanya. Matanya menatap kosong ke arah plafon kamar. Sebuah pertanyaan mendasar yang menakutkan mendadak terlintas di benaknya.

Kalau rumah ini sudah disewakan… kalau Obaachan sedang pergi ke Hokkaido… dan pria aneh di bawah itu adalah penyewa sah rumah ini…

“Terus aku harus tinggal di mana?!”

Rin terdiam kaku.

“Agghhh!” Ia kembali menenggelamkan wajahnya rapat-rapat ke bantal.

Untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan untuk menjadi seorang hikikomori… Rin baru menyadari bahwa bersembunyi dari kenyataan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!