Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api cemburu
Jungkook berdiri mematung di tengah apartemen Mira yang sedang direnovasi. Pria itu menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi debu, pecahan kayu, dan aroma cat yang menyengat. Setiap detail di tempat ini seolah tertawa mengejeknya, menegaskan bahwa kalimat manis Mira saat pamit hanyalah kebohongan yang dirancang rapi.
Rasa syok luar biasa menghantam dadanya, disusul oleh gelombang panik dan cemburu yang membakar ulu hatinya. Dengan langkah goyah dan napas memburu, Jungkook berbalik meninggalkan gedung itu.
Setibanya di dalam mobil sports sedan-nya, Jungkook menyandarkan kepala di atas lingkar kemudi. Pria yang biasanya selalu tenang, rasional, dan memegang kendali penuh atas segala situasi itu kini mendadak lumpuh oleh rasa galau dan kebingungan yang menyiksa.
Kenapa kau harus berbohong padaku, Mira-ya? batinnya teriris.
Dada Jungkook kian bergemuruh hebat saat ingatan-ingatan beberapa hari terakhir berputar cepat di kepalanya. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu dengan tangan sedikit gemetar meraih ponsel di atas dasbor. Ia membuka aplikasi Instagram, menatap layar kaca yang kembali menampilkan story terbaru dari akun Mira.
Sebuah foto pendek baru saja diunggah beberapa puluh menit yang lalu.
Di dalam foto itu, tampak sebuah sudut meja makan apartemen yang rapi. Ada dua cangkir kopi hangat yang masih berasap dan sepiring camilan. Meski sosoknya tidak terlihat penuh, ujung lengan jaket pria yang sangat familiar tampak duduk di seberang meja, jaket yang persis dikenakan oleh James saat menjemput Mira tempo hari. Ditambah lagi, beberapa kali belakangan ini Mira memang cukup sering mengunggah momen kebersamaan mereka di kampus maupun di kafe.
Bagi Jungkook yang saat ini diliputi prasangka buruk dan emosi yang tak stabil, unggahan itu menjadi sebuah bukti yang tak terbantahkan.
Deg.
Jantung Jungkook serasa berhenti berdetak. Pikiran buruk yang teramat menyakitkan langsung menguasai kepalanya. Gedung apartemen yang didatanginya tadi... gedung tempat Mira menghilang... pastilah tempat tinggal James.
Mira nekat berbohong padanya, menyusun cerita palsu tentang perbaikan apartemen, dan memilih angkat kaki dari rumahnya, semua itu demi bisa tinggal bersama James.
"Tak mungkin..." bisik Jungkook serak, matanya menatap kosong ke arah layar ponsel yang perlahan memadam.
Rasa panas cemburu dan kekecewaan yang mendalam menyatu, membuat dada Jungkook terasa begitu sesak hingga sulit bernapas. Pria itu meremas kuat-kuat kemudi mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya hancur membayangkan gadis yang selama ini selalu ia lindungi dan ia jaga dengan sepenuh hati, kini justru memilih berpaling dan membagikan harinya di dalam rumah pria lain.
Tanpa tahu kenyataan sebenarnya bahwa gedung itu adalah milik Chloe, Jungkook terus tenggelam dalam prasangka yang menyiksa dadanya, menyakini sepenuhnya bahwa ia telah kehilangan Mira untuk pria lain.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk bagi Jungkook. Setiap sudut apartemennya terasa makin asing dan menyiksa. Bayangan Mira yang tersenyum manis, aroma rambutnya, hingga prasangka liar bahwa gadis itu kini sedang menghabiskan waktu bersama James di apartemen pria itu terus menggerogoti pikirannya tanpa ampun.
Pria itu hampir tak bisa fokus bekerja. Gengsinya yang setinggi langit perlahan runtuh, tergerus oleh rasa rindu, cemburu, dan keputusasaan yang makin tak tertahankan.
Akhirnya, di suatu malam ketika rasa gelisah itu mencapai puncaknya, Jungkook meraih ponselnya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menekan nomor Mira.
Hanya butuh beberapa nada dering sebelum suara lembut yang sangat dirindukannya mengalun di seberang telepon.
"Halo, Oppa?"
Mendengar suara itu, dada Jungkook mendadak makin bergemuruh. Pria itu menetralkan napasnya, berusaha menahan getaran emosi di suaranya agar tetap terdengar tenang—meski dingin.
"Mira-ya," panggil Jungkook pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, menatap lurus ke luar jendela apartemennya. "Kau sedang di mana?"
"A-aku... aku baru saja selesai makan malam di apartemen, Oppa," jawab Mira dari seberang sana. Suaranya terdengar sedikit ragu dan canggung.
Jungkook memejamkan matanya rapat-rapat. Apartemen, batinnya teriris. Pria itu lalu melancarkan rencananya untuk menguji kejujuran gadis itu.
"Begitu? Baguslah," sahut Jungkook santai, pura-pura tidak tahu. "Kebetulan aku sedang tidak ada kegiatan malam ini dan posisi mobilku sedang dekat dengan daerah apartemenmu. Bagaimana kalau aku mampir sebentar? Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan."
Seketika itu juga, keheningan membentang di seberang telepon. Dengar jelas dari sekat telepon bagaimana nada napas Mira mendadak panik.
"E-eh? Malam ini, Oppa?" ceplos Mira gugup. "A-duuh... sepertinya jangan malam ini, Oppa! Kondisi apartemenku sedang sangat berantakan. Dus-dus bekas pindahan belum sempat kurapikan semua, jadi tempatnya benar-benar tidak nyaman untuk menerima tamu."
Jungkook mengepalkan tangannya di atas meja kerja. Dada pria itu rasanya seperti dihantam batu besar. Berani-beraninya gadis ini kembali mengarang alasan palsu tentang kardus, padahal tempat yang ia tinggali saat ini bahkan bukan miliknya sendiri.
"Aku tidak masalah kalau berantakan, Mira. Aku cuma ingin berkunjung sebentar, dan aku bisa membantumu beres beres" potong Jungkook dengan suara yang mulai mengeras.
"Jangan, Oppa... sungguh!" Mira makin gencar mengeluarkan seribu alasan, suaranya makin panik. "Aku juga... aku juga merasa sangat lelah malam ini dan mau langsung tidur cepat. Besok pagi-pagi sekali ada kelas penting di kampus. Lain kali saja ya, Oppa?"
Mendengar bertubi-tubi penolakan dan kebohongan yang keluar dari bibir Mira, pertahanan diri Jungkook akhirnya jebol. Rasa panas cemburu yang terpendam selama berhari-hari meledak begitu saja, menguasai lidahnya.
Jungkook terkekeh sinis, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor yang membuat Mira di seberang sana langsung membeku.
"Kenapa, Mira?" bisik Jungkook dengan suara bariton yang teramat dalam, tajam, dan sarat akan sindiran yang menohok. "Kenapa kau begitu gigih melarangku datang ke apartemenmu?"
"O-Oppa..."
"Kau tidak sedang menyembunyikan seorang pria di dalam apartemenmu, kan?" potong Jungkook dingin, tak memberikan celah bagi Mira untuk mengelak. Pria itu membasahi bibirnya yang kering, lalu menambahkan dengan nada menuduh yang getir, "Atau... sebenarnya kau memang sedang tinggal bersama seorang pria di sana?"
Tuduhan telak yang keluar dari bibir Jungkook menghantam Mira bagaikan petir di siang bolong. Sambungan telepon itu mendadak hening total, menyisakan deru napas Mira yang tertahan di balik sekat seluler.
Pipi Mira memucat. Rasa kaget, terluka, dan marah bercampur aduk menjadi satu gelombang emosi yang membuat tenggorokannya terasa tersumbat. Bagaimana bisa pria yang selama ini sangat ia hormati dan kagumi melontarkan tuduhan seliar dan serendah itu padanya.
"O-Oppa..." suara Mira bergetar hebat, bukan lagi karena panik, melainkan karena rasa sakit hati yang teramat sangat. "Apa yang Oppa bicarakan? Pria apa maksud Oppa?"
Di seberang sana, Jungkook menahan napasnya. Keheningan dan getaran suara Mira justru terdengar seperti sebuah pertahanan dari seseorang yang terpojok di mata pria yang sedang dibakar cemburu itu.
"Kenapa? Tanya itu pada dirimu sendiri, Mira," potong Jungkook dengan nada dingin yang menusuk. "Kau membuat alasan buru-buru pindah, melarangku mengantarmu, melarangku datang mampir, dan kau pikir aku tidak tahu siapa yang sering bersamamu belakangan ini?"
Satu tetes air mata lolos menetes membasahi pipi Mira. Hatinya hancur. Ia berbohong dan memilih menginap di apartemen Chloe semata-mata karena ingin tahu diri, menjaga jarak, dan tidak ingin merusak hubungan Jungkook dengan wanita cantik yang mendatangi apartemennya tempo hari. Ia rela mengalah dan menahan rasa tidak nyamannya sendiri. Tapi alih-alih dimengerti, ia justru dituduh tinggal bersama pria lain.
Mira mengepalkan jemarinya erat-erat di atas paha, berusaha keras menyerap rasa sakit yang menggerogoti dadanya agar suaranya tidak makin pecah.
"Jadi... seperti itu penilaian Oppa terhadapku selama ini?" bisik Mira pelan, suaranya terdengar begitu getir dan dingin.
"Mira, aku cuma bertanya—"
"Aku mau berbohong atau melarang Oppa datang, itu urusanku!" potong Mira tegas, untuk pertama kalinya ia berani menyela kalimat Jungkook dengan nada keras. "Tapi kalau Oppa berpikiran aku serendah itu... Oppa benar-benar keterlaluan."
Seru Mira dengan napas memburu, tak sanggup lagi menahan tangisnya yang akhirnya pecah. "Aku cuma tidak ingin merepotkan Oppa lagi! Aku cuma sadar diri!"
Jungkook tertegun di seberang telepon. Ketegasan dan nada terluka yang begitu nyata dari ucapan Mira mendadak memberi hantaman keras pada kesadarannya.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Jungkook untuk membalas atau mencerna ucapannya, Mira langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
TUT... TUT... TUT...
Suara nada terputus bergema nyaring di telinga Jungkook. Pria itu mematung di tempatnya berdiri, perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Hawa dingin seketika merayapi tubuhnya saat menyadari keputusasaan dan rasa sakit yang mendalam dari tangisan Mira sebelum telepon itu terputus.
Suara nada terputus dari ponselnya bergema bagaikan dentuman keras yang menghantam kesadaran Jungkook. Pria itu berdiri kaku di ruang tengah apartemennya yang sepi, masih memegang ponsel dengan tangan yang perlahan gemetaran.
Isak tangis Mira sebelum sambungan terputus terus berputar di kepalanya, mengikis habis seluruh rasa cemburu dan emosi buta yang tadi menguasai dirinya.
"Brengsek..." bisik Jungkook pada dirinya sendiri.
Pria itu mengepalkan tangannya lalu meremas rambutnya dengan kasar. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika merayapi seluruh dadanya. Ia sadar betul telah melompati batas dan menuduh gadis semurni Mira dengan hal yang sangat merendahkan, hanya karena emosi, prasangka liar, dan gengsinya yang terluka.
Awalnya, langkah kaki Jungkook refleks bergerak cepat menuju pintu keluar. Pria itu berniat menyambar kunci mobilnya, melaju kencang ke tempat Mira, dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya untuk memohon maaf detik ini juga.
Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu, Jungkook menghentikan pergerakannya.
Ia menunduk, menatap lantai dingin di bawah kakinya. Tangisan Mira yang begitu pecah tadi adalah bukti bahwa gadis itu sedang sangat terpukul. Jika ia datang malam-malam begini dengan emosi yang belum sepenuhnya tenang, ia hanya akan makin menakuti dan menekan perasaan Mira. Gadis itu butuh ruang dan waktu untuk menenangkan diri.
Jungkook memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang terasa begitu berat dan sesak.
Dengan langkah pelan dan rasa penyesalan yang membakar ulu hati, Jungkook berbalik menuju kamar tidurnya. Malam itu, untuk pertama kalinya seorang Jeon Jungkook sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Pria itu menghabiskan malam dengan terduduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela kamar, menghitung detik demi detik hingga matahari terbit.
Ia telah mengambil keputusan. Ia akan membiarkan Mira menenangkan hatinya malam ini. Namun esok hari, tidak peduli seberapa keras Mira akan menolaknya atau seberapa benci gadis itu padanya, Jungkook berjanji pada dirinya sendiri untuk menemui Mira secara langsung dan menebus kesalahan fatal yang telah ia perbuat.