Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Panggung yang Melindungi

"Besok, Mama beri kamu satu jawaban."

Sebelum jawaban keluarga Halim datang, Arya mengumpulkan seluruh artis PE di ruang latihan utama.

Tak ada panggung tinggi. Ia berdiri di lantai yang sama dengan mereka, ditemani Anindya dan tim legal. Di belakang, layar menampilkan empat kata: KARYA, KEAMANAN, PILIHAN, BUKTI.

"Saya tidak akan menjanjikan semua orang menjadi bintang," kata Arya tanpa membaca teks. "Perusahaan yang menjual janji seperti itu sedang menjual kebohongan."

Para artis muda diam. Sebagian masih memegang kontrak lama yang denda pemutusannya lebih besar daripada seluruh penghasilan mereka.

"Yang bisa PE janjikan adalah proses yang jelas. Audisi dicatat. Pembagian pendapatan dapat diperiksa. Pertemuan dengan sponsor tidak dilakukan tanpa pendamping. Kalau ada orang memakai nama perusahaan untuk meminta sesuatu di luar pekerjaan, simpan bukti dan laporkan."

Seorang aktris di barisan kedua mengangkat tangan. "Kalau orang itu produser besar?"

"Nama besar tidak membuat pelanggaran menjadi kecil."

"Kalau kami menolak lalu perannya hilang?"

Arya menatapnya. "PE mungkin tidak bisa menyelamatkan setiap peran. Tapi perusahaan ini tidak akan menghukum kalian karena menjaga batas. Dan kami akan mencatat siapa yang menekan, agar tak ada artis berikutnya masuk tanpa peringatan."

Anindya berdiri di samping layar. Semula ia mengira Arya akan mengubah pertemuan menjadi pertunjukan citra. Namun lelaki itu tidak menyebut kekayaan, keluarga, atau dirinya sendiri. Ia berbicara tentang mekanisme: pendamping, kanal laporan, salinan kontrak, dan bukti.

"Mulai minggu ini," lanjut Arya, "setiap artis mendapat akses langsung ke ringkasan kontrak satu halaman dalam bahasa sederhana. Kalau tim legal tidak bisa menjelaskan klausul tanpa bersembunyi di balik istilah, klausul itu diperiksa ulang."

Tepuk tangan muncul dari belakang, lalu menyebar ke seluruh ruangan.

Anindya memperhatikan cara Arya menunggu suara reda. Tidak gugup, tidak mabuk perhatian. Ia tampak seperti seseorang yang sudah memimpin orang jauh sebelum duduk di PE.

"Bu Anindya akan menjelaskan jalur pelaporan," katanya, menyerahkan mikrofon.

Anindya mengambil alih dengan prosedur konkret: alamat surel terenkripsi, pilihan pendamping, perlindungan identitas awal, dan batas penyelidikan internal. Jika ada unsur pidana, tim legal akan mendampingi pelapor membuat laporan kepada pihak berwenang.

Seorang penyanyi pria mengangkat tangan. "Bu, bagaimana kalau pelakunya orang internal dan memegang evaluasi kontrak kami?"

"Laporan tidak masuk melalui atasan langsung," jawab Anindya. "Komite menerima secara terpisah. Orang yang dilaporkan kehilangan akses ke berkas pelapor sampai pemeriksaan awal selesai."

"Kalau tuduhannya palsu?" tanya manajer artis dari samping.

Arya mengambil mikrofon lagi. "Bukti tetap diperiksa. Perlindungan pelapor bukan izin menghancurkan orang dengan gosip. Tuduhan sengaja palsu punya konsekuensi kontraktual dan hukum. Kita melindungi orang yang berani bicara, sekaligus proses yang adil."

Anindya mengangguk. "Hasil pemeriksaan tidak boleh diumumkan oleh staf. Bila perkara menyangkut pidana, keputusan berada pada penyidik dan pengadilan, bukan grup percakapan kantor."

Jawaban itu meredakan kegelisahan dua sisi. Para artis melihat tempat untuk melapor; para manajer mendengar bahwa prosedur tidak akan menjadi pengadilan massa. Kebijakan Arya tidak lagi terdengar seperti slogan panggung.

Ia memiliki pintu, pencatat, dan konsekuensi.

Setelah acara, para artis mengerumuni mereka. Sebagian bertanya soal kontrak. Sebagian lain meminta berfoto. Tiga perempuan muda terang-terangan mengulurkan ponsel kepada Arya.

"Pak Arya, boleh tukar nomor? Untuk konsultasi langsung."

"Konsultasi lewat legal," jawab Arya.

"Kalau bukan soal kontrak?"

"Tetap lewat legal. Mereka lebih berani daripada saya."

Tawa pecah. Anindya berdiri beberapa langkah jauhnya, berpura-pura memeriksa pesan, tetapi alisnya terangkat ketika seorang model menyentuh lengan Arya untuk mengajaknya berfoto.

Arya mundur sopan dan memanggil fotografer perusahaan agar semua orang berfoto bersama, bukan berdua.

Kerumunan mulai bubar ketika Bella muncul dari pintu samping. Ia masih terdaftar sebagai artis PE, meski proyeknya ditangguhkan. Matanya merah karena kurang tidur.

"Arya, kita perlu bicara."

Suasana di sekitar mereka langsung berubah. Beberapa orang tahu hubungan lama itu. Ponsel yang tadi digunakan berfoto turun, tetapi telinga tetap terbuka.

"Kalau soal kontrak, temui legal," kata Arya.

"Bukan soal kontrak. Soal kita."

"Tidak ada kita."

Bella menelan ludah. "Kamu menikah beberapa hari setelah meninggalkanku. Kamu ternyata memegang perusahaan ini. Setidaknya jelaskan apakah semua itu sudah kamu rencanakan."

"Kamu memilih tidak datang ketika Nenek meninggal. Kamu datang membawa Reno ketika saya mengambil barang. Bagian mana yang masih perlu penjelasan?"

"Aku salah. Tapi kamu juga menyembunyikan semuanya."

"Kenyataan bahwa saya punya hidup sendiri tidak menghapus pilihanmu."

Air mata menggenang di mata Bella. "Apakah kamu pernah mencintaiku?"

Arya melihat orang-orang di sekitar. Ia tidak ingin mengubah luka pribadi menjadi tontonan, tetapi Bella sengaja menghentikannya di ruang yang belum kosong.

Pintu terbuka. Anindya berjalan kembali karena tertinggal map.

Arya menoleh kepadanya. "Sayang, kita jadi makan siang di luar?"

Langkah Anindya berhenti.

Ruangan menjadi sunyi.

Arya belum pernah memanggilnya begitu. Bukan di rumah, bukan di depan Wisnu. Ia mengucapkannya dengan alami, lalu berjalan ke sisi Anindya tanpa menyentuh.

Anindya membaca situasi dalam satu kedipan. "Kalau Anda selesai, kita berangkat."

"Sudah."

Mereka meninggalkan ruang latihan berdampingan.

Bella tetap berdiri. Air mata pertama jatuh ketika pintu tertutup. Seorang staf mendekat menawarkan tisu, tetapi Bella menolak dan berjalan cepat ke arah lift.

Di koridor, Anindya mempercepat langkah menuju kantor.

"Sayang?" katanya tanpa menoleh.

"Kebutuhan situasi."

"Anda memakai saya untuk menutup percakapan dengan mantan istri."

"Saya memakai status yang sah."

"Itu bukan alasan untuk melewati batas panggilan."

Arya mengikutinya masuk ke kantor direktur. "Baik. Saya minta maaf."

Anindya berbalik, seolah tidak menyangka ia menyerah secepat itu.

"Tapi efektif," tambah Arya.

"Anda benar-benar tidak tahu malu."

"Kamu tidak menyangkal ketika saya memanggil."

"Karena puluhan orang melihat!"

"Jadi kita tampil meyakinkan sebagai pasangan. Itu baik untuk perusahaan."

Anindya meletakkan map ke meja lebih keras dari perlu. "Keluar dari kantor saya."

Arya berjalan menuju pintu, lalu berhenti. "Untuk pidato tadi, apakah saya juga tidak tahu malu?"

Anindya diam beberapa detik.

"Pidatonya bagus," katanya akhirnya. "Mekanismenya harus benar-benar dijalankan."

"Pasti."

"Dan jangan panggil saya begitu lagi tanpa izin."

Arya membuka pintu. "Baik, sayang."

Sebuah pulpen melayang ke arahnya. Arya menutup pintu tepat waktu. Pulpen itu membentur kayu, sementara dari dalam terdengar suara Anindya yang marah.

"Anda memang tidak tahu malu!"

Namun ketika Anindya duduk kembali, ia menyentuh telinganya yang terasa panas dan mendapati dirinya tidak benar-benar marah pada panggilan itu.

Justru kenyataan itu yang membuatnya semakin kesal. Arya mulai masuk melewati batas yang selama ini tak pernah terbuka bagi siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!