Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27 BAYANGAN HITAM

***

Hening menyelimuti malam pegunungan utara.

Kabut pekat turun begitu cepat, menyelimuti setiap celah lembah Eslen. Tiupan angin membawa butiran es setajam serpihan belati. Tenda-tenda pasukan Ravengard meringkuk dalam dingin yang lebih tajam dari biasanya.

Jenderal Arthel, yang ikut ke garis depan mendampingi Darian, menghela napas saat mengintip dari pos pengawas. “Kabutnya... bukan kabut biasa, Grand Duke,” katanya pelan.

Darian, berdiri di belakangnya dengan mantel perang tebal dan pedang di pinggang, menatap ke kejauhan. Sorot matanya gelap. Ia tahu, sesuatu bergerak dalam diam.

Dari belakang, suara langkah berat terdengar.

“Pasukan Orthyr suka menyerang saat cuaca mengamuk,” ujar Duke Maeltorn, memasuki menara pengawas kecil yang dibangun dari es dan batu. “Mereka anak-anak salju. Lahir dalam gua beku. Dibesarkan dalam badai.”

Darian menoleh. “Terlalu tenang untuk jadi malam biasa.”

Maeltorn mengangguk. “Karena ini bukan malam biasa.”

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar dentang logam. Suara siulan. Jeritan tercekik.

Arven langsung berseru, “MENARA TIMUR! ADA GERAKAN!”

Alarm berbunyi.

Darian tidak menunggu perintah. “Kepung sisi timur. Jangan bentuk formasi ketat—kabut akan mengaburkan pandangan. Gunakan taktik melingkar!”

Darian memimpin barisan depan. Pedangnya bersinar keperakan dalam remang. Mata pasukannya memerah oleh dingin, dan tubuh mereka mulai kaku meski mengenakan pelindung wol dalam.

Tiba-tiba dari kabut, bayangan menyerbu.

Tubuh-tubuh hitam mengenakan zirah dari tulang dan kulit beku menerobos, mata mereka bercahaya biru pucat—pasukan Orthyr, yang dikenal tak berbicara, hanya bertempur hingga mati. Mereka menggeram, berlari tanpa suara, dan menyerang dari sudut-sudut tak terduga.

“PERTAHANKAN GARIS—!” seru Darian, menebas satu musuh yang melompat ke arahnya.

Salah satu prajurit menjerit, pedangnya terjatuh karena tangannya membeku seketika saat tertabrak bilah es dari musuh.

“Mereka menggunakan sihir dingin!” Arthel berseru.

Darian menyipitkan mata. “Tidak... ini bukan sihir. Ini teknik. Mereka menargetkan titik nadi—membekukan tubuh lawan dalam satu tebasan.”

“Teknik sejenis tidak diajarkan di Valeria... ini lebih tua dari yang kita kira,” gumam Maeltorn yang kini bertarung di sisi kanan, kapak besarnya menghancurkan satu pasukan musuh dalam satu ayunan.

Serangan itu datang berulang dari kabut, dari balik batu, dari hutan beku. Musuh seakan menyatu dengan dingin. Tetapi pasukan Ravengard bertahan. Darah mengalir tidak hanya merah, tapi juga biru dari tubuh aneh para penyerang Orthyr.

Satu Jam Kemudian

Medan menjadi ladang es bercampur darah.

Ratusan tubuh tergeletak—baik musuh maupun prajurit Valeria. Darian berdiri di atas bukit batu, bahunya berdarah, tetapi matanya tetap tajam.

“Hitung jumlah yang gugur,” katanya pelan pada Arven.

Arthel menelan ludah. “...Tiga puluh enam dari pihak kita, sebagian besar karena beku total. Beberapa belum sempat mengayunkan pedang.”

“Dan mereka?”

“Delapan puluh empat musuh terbunuh. Sisanya kabur kembali ke kabut.”

Darian mengepalkan tangan. “Ini bukan serangan biasa. Ini uji kekuatan.”

Maeltorn mendekat, menepuk salju dari jubahnya. “Mereka mengukur kita... dan menyiapkan sesuatu yang lebih besar.”

Darian menarik napas dalam-dalam. “Dan kita belum siap untuk pertempuran besar dalam suhu seperti ini. Tidak semua pasukanku terbiasa dengan medan ini.”

Maeltorn memandang lembah yang mulai ditelan kabut kembali. “Itu sebabnya mereka menyerang sekarang. Saat Ravengard masih menyesuaikan diri. Mereka mengira kau akan lemah di sini.”

Darian mengnoduk pelan. “Tapi mereka lupa... aku punya keluarga di tempat ini.”

Maeltorn menoleh, tersenyum samar. “Dan tanah ini akan mengajarkanmu... bahwa dingin bisa menjadi senjata, jika kau tahu bagaimana menggenggamnya.”

Di kamp utama, Darian duduk di tendanya sendiri, membuka sarung tangan, memperhatikan luka-luka di tangan kirinya yang nyaris membeku. Di hadapannya, sebuah surat dari Iris—surat yang belum ia balas, tapi sudah ia baca sepuluh kali.

"Aku dan anakmu baik-baik saja. Walau ia semakin aktif dan aku merasa ia tahu ayahnya sedang bertempur. Jangan jadi pahlawan yang gegabah, Darian. Jadilah suami yang kembali pulang."

Darian menunduk, mencium surat itu.

“Maaf, Iris... aku tak bisa kembali... sebelum aku pastikan kalian takkan pernah diserang dari bayangan.”

Ia menggenggam gagang pedangnya erat. Kabut masih berputar di luar.

Dan perang baru saja dimulai.

Udara malam membawa aroma yang aneh malam itu. Di luar, musim semi mulai beralih ke panas. Jendela-jendela istana Ravengard terbuka sebagian untuk menenangkan hawa di dalam. Tapi di kamar pribadi Grand Duke, Iris tetap menyalakan perapian kecil—bukan untuk menghangatkan tubuh, melainkan untuk menjaga kehadiran wangi kayu yang terbakar lembut… aroma yang mengingatkan pada Darian.

Ia duduk di kursi berlengan di sudut kamar—kursi tempat suaminya biasa membaca peta perang saat malam terlalu panjang. Kini ia yang duduk di sana, selendang wol disampirkan di pundaknya, gaun malam lembut membungkus tubuhnya, dan tangan kirinya sesekali mengusap perutnya yang telah menonjol di bulan kelima.

Bayi di dalamnya bergerak aktif malam itu. Seolah tahu bahwa ibunya sedang gelisah.

Di atas meja bundar dari kayu ek gelap, tergeletak tiga surat. Iris membaca ulang untuk kesekian kalinya, jari-jarinya bergetar pelan saat memegang lembaran itu.

Surat pertama, dari Darian—singkat, tetapi padat perhatian.

"Keadaan terkendali. Jangan cemas. Aku akan pulang saat musim dingin berakhir. Jangan abaikan Lisa. Dan jangan menegur tabib terlalu banyak. Aku tahu kau sering melakukannya."

Iris tersenyum kecil. "Bodoh," bisiknya lembut. "Kau yang justru tak boleh mengabaikan suhu di luar sana."

Surat kedua, dari sang ayah, Duke Maeltorn.

"Musuh kuat, tapi bukan tanpa celah. Darian memimpin dengan kepala dingin. Aku melihat mengapa kau memilihnya."

Iris memejamkan mata sejenak. "Karena ia membuatku merasa... tidak sendiri di dunia ini."

Surat ketiga yang membuatnya diam lebih lama adalah dari sepupunya, Earl Gerran—salah satu ksatria muda yang berangkat bersama pasukan Ravengard ke perbatasan utara.

"Kak Iris, aku tahu mereka bilang semua baik-baik saja. Tapi semalam kami diserang oleh apa yang disebut 'Bayangan Hitam'. Mereka datang seperti kabut hidup. Tidak bersuara. Mereka menebas dan membekukan tubuh dalam sekejap. Banyak dari kami tidak sempat melihat wajah mereka. Aku tak ingin menakutimu, tapi ini bukan perang biasa. Ini... seperti perang yang ditulis dalam kitab tua utara. Aku akan tetap di barisan Darian. Tapi hati-hati di rumah. Aku khawatir… mereka tidak hanya menyerang dari utara."

Iris menahan napas.

Bayangan Hitam?

Belum pernah ia dengar musuh seperti itu. Bahkan dalam catatan peperangan Valeria, tak ada yang menyebut pasukan tak bersuara yang datang dengan kabut beku dan sihir aneh. Sebuah kengerian merambat dari belakang lehernya, menyusup hingga ke dadanya.

"Apakah ini... perang biasa, Darian?" gumamnya, sambil menggenggam surat Gerran. "Atau... apakah kita sedang menghadapi sesuatu yang lebih tua dari kerajaan ini?"

Perutnya kembali menegang. Bayinya bergerak gelisah.

“Tenang,” bisik Iris sambil mengelus perutnya. “Ibu juga tak suka berita ini. Tapi... kita akan tetap kuat, kan?”

Ketukan keras di pintu memecah malam.

Bukan ketukan biasa. Ketukan yang tergesa, hampir seperti hentakan senjata.

Lisa yang duduk tak jauh dari perapian langsung berdiri. “Saya buka, Nyonya!”

Iris mengnoduk. Ia berdiri perlahan, memegangi sisi meja untuk menahan diri.

Pintu terbuka dan tampak Kapten Arven.

Tubuhnya diselimuti mantel kulit berdebu, rambutnya berantakan, dan ekspresinya tegang. Matanya menyapu ruangan sebelum segera membungkuk.

“Yang Mulia Grand Duchess!” katanya cepat. “Mohon maafkan cara masuk saya... Ini mendesak!”

Iris langsung menegakkan tubuh. “Masuk.”

“Ravengard... terbakar.”

Seluruh ruangan seperti berhenti.

“Apa?”

“Kami menerima laporan lima menit lalu. Api besar muncul di tiga titik dekat gudang, pemukiman tenggara, dan pasar utama. Angin musim panas membuatnya menyebar cepat.”

Iris menahan napas. “Apa penyebabnya?”

“Kami belum tahu. Tapi mengingat musim... bisa saja kecelakaan. Atau... bisa jadi sabotase.”

Iris melangkah maju. Perutnya menegang keras, tapi ia tak menunjukkan rasa sakit itu. Lisa, yang ketakutan, segera membantu menopang tubuhnya.

Kapten Arven melanjutkan, “Saya datang untuk menerima perintah. Para penjaga sudah turun ke kota, tapi kami butuh komando. Tak cukup orang untuk memadamkan semuanya sekaligus.”

Iris mengnoduk, perlahan namun pasti.

“Panggil semua penjaga cadangan. Gunakan sumur utama. Buka aliran air dari istana ke kanal barat—gunakan alur itu untuk menghambat api ke sisi kastil.”

“Siap, Yang Mulia.”

“Dan... jaga kuda-kuda dan pantri utama. Jika ini bukan kecelakaan, maka yang diserang bukan hanya rumah, tapi jantung dari seluruh sistem Ravengard.”

“Dimengerti.”

Iris sempat menunduk, menarik napas dalam-dalam untuk menahan gejolak di perutnya. Tangannya melingkar di bawah perutnya, terasa jelas sang bayi bergerak panas, gelisah, seperti mengerti bahwa di luar, kampung halaman mereka sedang diuji api.

Ia menatap Arven dengan sorot mata yang tajam dan tegas.

“Sebarkan perintah ini juga, Kapten—lindungi anak-anak, para wanita, dan lansia. Amankan mereka di tempat yang jauh dari titik-titik api. Jika tempat perlindungan tidak mencukupi—”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan tanpa ragu.

“—maka buka gerbang istana. Ravengard bukan menara gading. Jika rakyat tak punya tempat bernaung, biarkan rumah ini menjadi tempat mereka pulang.”

Lisa yang berdiri di sampingnya menahan napas.

Arven tampak terdiam sejenak. Sorot matanya berubah dari hormat menjadi kagum. “Kami akan segera mengatur pergeseran warga, Yang Mulia.”

Iris belum selesai. Ia berdiri lagi meski tubuhnya sedikit bergetar. Lisa hendak menahannya, tapi ia mengangkat tangan sebagai isyarat.

“Kirim para tabib dan dokter ke titik-titik penampungan. Siapkan tenda obat dan pastikan korban luka bakar dan sesak napas mendapat pertolongan pertama. Juga... kirimkan air bersih dan makanan hangat. Sup kubis atau bubur gandum. Yang menenangkan, yang memberi rasa aman.”

“Segera, Yang Mulia!” Arven menjawab lantang, kini tak hanya sebagai seorang bawahan, tapi sebagai prajurit yang telah kembali percaya bahwa Ravengard berdiri karena bukan hanya kekuatan pedang tapi juga kelembutan hati penguasanya.

Saat Kapten Arven berbalik dan membuka pintu untuk menjalankan perintah, suara Iris terdengar lagi. Lembut, namun menggetarkan.

“Arven.”

Kapten itu menoleh cepat.

“Jangan biarkan seorang pun terbakar... di tanah ini. Aku tidak akan membiarkan rumah suamiku menjadi abu saat ia berperang untuk menjaga perbatasan.”

Tatapan Arven mengeras. “Demi hidup saya, tidak akan ada yang terbakar tanpa kami lawan balik.”

Pintu tertutup.

Lisa bergegas membantu Iris duduk kembali. Ia mengatur napas, meski dadanya masih naik turun, dan perutnya menegang.

“Nyonya, perut Anda... Anda terlalu lama berdiri...”

Iris menunduk, tangan di perutnya. Sang bayi masih bergerak berdenyut seperti api kecil yang belum padam.

“Ia tahu... anak ini tahu Ravengard sedang diserang.”

Lisa menggenggam tangannya. “Apa kita akan baik-baik saja?”

Iris mengnoduk pelan. “Selama kita masih berdiri... Ravengard tidak akan jatuh. Dan selama jantungku masih berdetak... aku akan jadi perisai pertama untuk anakku dan untuk rumah ini.”

Di luar, malam memerah oleh api. Tapi di dalam kamar Grand Duke yang sunyi dan wangi oleh kayu terbakar, seorang wanita muda duduk dengan rahim yang bergelora dan mata yang menyala.

Ia bukan hanya Duchess.

Ia adalah benteng.

Dan malam itu, Ravengard bertahan karena ada seorang ibu yang memilih berdiri, bahkan ketika dunia sekelilingnya mulai terbakar.

Bersambung

1
Delta
lanjuuut thor👍👍👍
Delta
👍👍👍👍up yg byk thoor😄😍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚🫶
total 1 replies
Delta
👍👍👍👍
Delta
maantaap thor👍
kiu kiu
suka bangdt ma cerita fantSi
Heresnanaa_: maaciw kak, happy reading yaa 🫶😍
total 1 replies
Dewi Anggraeni
Up lagi thor 👍 semangat
Dewi Anggraeni
lanjutttt dong thor 👍jangan lama" 🙏
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!