Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Perencanaan Perundungan
Keesokan harinya di sebuah perusahaan besar milik Grup Zayn. Bangunan besar yang menjulang tinggi di pusat kota London. Bangunan bertingkat itu adalah warisan dari kakek Alexa. Sekarang ini di ambil alih oleh Harry Zayn untuk sementara.
Perusahaan itu sangat diincar oleh Anya. Berbagai cara ia lakukan agar Alexa tidak bisa mengambil alih perusahaan itu.
Hari ini adalah hari pertama Alexa masuk ke kantor itu. Sesuai dengan kesepakatan kemarin, ia harus melakukan uji coba selama tiga bulan di perusahaan Grup Zayn.
Suasana di ruang kerja karyawan begitu sangat ramai. Semua karyawan disana sedang fokus dengan pekerjaannya masing-masing. Alexa masuk dengan membawa sesuatu di tangannya. Kali ini gadis itu berpakaian formal selayaknya orang kantoran.
Dengan wajah tersenyum, Alexa melangkah masuk ke ruang karyawan itu.
"Hallo semuanya! Aku rekan baru kalian. Aku Alexa Bleiz, siap berjuang bersama kalian." ucap Alexa tersenyum dan meletakkan paperbag di atas meja.
"Rekan-rekan sekalian, mohon bantuan dan bimbingan dari kalian semua, ya. Aku traktir kalian kopi hari ini!" jelas Alexa. Kali ini ia menggunakan nama Bleiz di belakang namanya.
Semua karyawan berdiri dengan wajah senang. Alexa mengeluarkan satu persatu kopi dari dalam paperbag yang di tentengnya tadi.
"Wah,,,, kopinya ini beneran enak loh." ucap salah seorang karyawan di perusahaan Grup Zayn.
Beberapa karyawan sudah menikmati kopi yang di bwa oleh Alexa.
"Terima kasih, Bu Alexa." ucap seorang karyawan pria dan membawa kopi itu kembali ke meja kerjanya.
Alexa tersenyum melihat semua karyawan menerima pemberiannya dengan sangat bahagia.
"Cih,,, hanya kopi doang, mau nyongok kita? Dasar anak baru." salah seorang karyawan wanita berdiri dengan wajah tidak suka melihat kehadiran Alexa di perusahaan itu.
Sementara dari balik pintu kaca, Anya sedang mengawasi setiap gerak gerik Alexa. Anya melihat semua karyawan terlihat bahagia di traktir kopi oleh Alexa. Anya mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya menunjukkan kekesalan. Ia berdecak.
Anya berbalik ke arah Zionathan yang sedang duduk di sofa kantor ruang kerjanya.
"Kakak,,," Anya memegang tangan Zionathan. Zionathan berdiri. "Si Alexa Bleiz, dia baru datang. Sudah cari muka sama semua karyawan di kantor ini. Aku tidak senang melihatnya." jelas Anya.
Zionathan memegang tangan Adik angkatnya itu. Ia mengangkat pandangannya dan melihat Alexa dari kejauhan. "Dia bertingkah seolah-olah dialah pemilik perusahaan ini. Dia pikir bisa mengambil hati semua karyawan disini."
Lagi-lagi Anya tidak pernah kehabisan ide. "Lihat, biar dia rasakan apa itu perundungan di kantor. Aku mau lihat, seberapa lama kamu bisa bertahan di kantor ini." Anya menatap Zionathan sambil tersenyum licik.
Anya mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon seseorang. Wajahnya begitu sangat serius.
"Assisten Lily, ke ruanganku sekarang!" Anya menutup telponnya.
Zionathan berdiri, kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya. Tatapannya sinis.
"Sepertinya gadis gila itu benar-benar menerima tantangan yang kita berikan. Gadis jalang seperti dia mana bisa kerja kantoran. Apalagi sampai mengurus bisnis. Mimpi saja." Zionathan tertawa.
"Kakak, aku jamin gadis gila itu tidak akan tahan lama di kantor ini. Aku akan menyuruh orang kantor merundungnya. Biar dia kapok dan tahu rasa." Anya berdecak kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya di samping badan.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu.
Tok Tok Tok.
Cklekk.
Pintu ruangan terbuka. Seorang wanita dengan pakaian kantor berwarna hitam dan memakai kacamata. Rambutnya di gerai begitu saja, masuk ke ruang kerja Anya.
"Manajer Anya, anda mencari saya?" Assisten Lily memberi hormat kepada Anya dan Zionathan.
"Lihat anak baru itu?" ucap Anya.
Assisten Lily menoleh dan melihat ke arah Alexa yang sedang membagikan kopi kepada semua karyawan kantor.
"Datang ke kantor bukannya kerja. Pergi sana! Aku mau kamu beri dia pelajaran yang setimpal." jelas Anya dengan suara tegas.
Assisten Lily membenarkan kacamatanya. Wanita itu tersenyum licik. "Siap, manajer Anya. Anda tenang saja, serahkan pada saya. Saya akan mengurusnya." Assisten Lily keluar dari dalam ruang kerja Anya, meninggalkan Zionathan dan Anya dengan senyum di wajahnya.
Assisten Lily berjalan dengan songong. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada. Terlihat jelas di wajahnya aura-aura ingin melabrak sangat kuat. Ia menatap tajam kepada Alexa.
Semua karyawan yang tadinya sedang menikmati kopi dengan gembira, namun ketika mereka melihat Assisten Lily berjalan ke arah mereka, semua karyawan langsung meletakkan kopi mereka di atas meja dengan wajah ketakutan. Seketika semua karyawan langsung kembali fokus pada pekerjaannya.
"Hey,,, kamu si anak baru! Baru masuk kerja, Bukannya kerja yang benar. Mala malas-malasan, ya?" tanya Assisten Lily dengan nada ketus. Tatapannya sangat menusuk.
Alexa menatap wanita yang berdiri di depannya itu. Alexa berdiri dengan wajah penuh tanya. Ternyata di kantor ayahnya ada wanita seperti ini. Pantas saja perusahaan Harry Zayn tidak ada perkembangan sejauh ini.
Assisten Lily melihat ke arah paperbag yang berjejeran di atas meja kerja karyawan. "Wah, malah ngajak teman-teman segala, ya. Minum kopi, ya?" tanyanya lagi dengan nada kasar dan ketus.
Seorang karyawan perempuan yang berdiri di samping Assisten Lily pun tersenyum miring melihat Alexa di tegur. Wanita dengan menggunakan kemeja dan rok pendek berwarna putih tidak begitu senang melihat Alexa sejak dari awal Alexa muncul di kantor perusahaan Grup Zayn.
Assisten Lily mengangkat paperbag itu dengan telunjuknya. Ia menatap Alexa dan tersenyum sinis kepada gadis itu. Lalu menjatuhkan paperbag itu begitu saja.
BRUUKK.
Beberapa botol kopi terjatuh dan tumpah membasahi lantai putih bening berkilau itu. Noda kopi itu terpercik kemana-mana sampai mengenai sepatu dan ujung rok yang dipakai Alexa.
"Rasain." Ketus Assisten Lily. Ia tersenyum singkat. Raut wajahnya berubah datar dan tatapannya semakin tajam ke arah Alexa.
Alexa yang tadinya diam, kini merasa begitu sangat geram melihat wanita itu tiba-tiba saja muncul dan menegurnya begitu saja. Padahal Alexa hanya berniat baik membagikan kopi kepada para karyawan di kantor itu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Tidak suka?" tanya Assisten Lily lagi.
Assisten Lily maju selangkah ke arah Alexa. Kali ini jarak mereka begitu sangat dekat. Assisten Lily mendorong Alexa dengan telunjuknya. Tubuh Alexa terdorong pelan ke belakang.
"Anak baru, tapi kelakuannya sudah ngelunjak. Mala cari muka di depan semua karyawan disini." jelasnya lagi.
Alexa masih terdiam mendengar semua ocehan wanita itu di depannya.
Assisten Lily menendang botol kopi yang terjatuh tadi sampai penutup botol itu terbuka dan isinya membasahi sepatu yang dipakai Alexa.
Plakk.
Alexa tanpa berpikir panjang langsung menampar Assisten Lily. Semua karyawan yang tadinya sok sibuk dengan layar komputernya masing-masing langsung mengangkat pandangannya kaget melihat apa yang di lakukan. Alexa kepada Assisten Lily.
"Cukup!"
***
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...