Pembalasan Gadis Mafia
Di Markas Black Bleiz, tepatnya di ruang bawah tanah. teriakan dan jeritan menggema.
"AARRGGG...." Teriak seorang pria yang kedua tangannya di ikat oleh rantai besi.
Pria itu berdiri dengan kedua tangan di ikat menggantung di atas kepala, seluruh tubuh penuh luka dan berlumuran darah.
PLAK.
Suara cambukan kembali terdengar, bersamaan dengen suara teriakan yang menjerit.
"Habisi dia!" Tegas Theodore.
Damian menggulung lengan kemejanya. Ia berjalan memegang sebuah cambuk di tangannya. Damian menatap tajam ke arah pria yang sudah tidak berdaya itu.
PLAK.
PLAK.
PLAK.
Cambukan itu mendarat di tubuh pria yang sudah tidak berdaya. Pria itu berteriak kesakitan. Bajunya sudah sobek akibat cambukan berkali-kali.
Gideon, Kakak kedua Alexa yang dikenal sangat kejam pun berlari dan melayangkan beberapa pukulan di wajah pria itu.
"AARRGGG....!" teriak pria itu lagi.
"Pukulan itu karena kamu berani menatap adikku." ucap Gideon dengan wajah puas.
"Kini giliran kamu, Leo." teriak Damian dengan senyum miring di wajahnya. Leonard, kerap di panggil Leo. Dia adalah kakak ketiga Alexa. Ia lebih kejam dari kedua kakaknya, Damian dan Gideon.
BRUKKK
Hanya dengan satu pukulan saja, Leo berhasil membuat pria itu tidak bernafas lagi.
"Ituu adalah hukuman untuk pria yang berani menatap adik ku dengan nakal" ucap Damian dan melempar cambuk yang ia pegang di tangannya.
Ruang bawah tanah itu merupakan Markas Black Bleiz. Ruangan dengan pantulan cahaya lampu membuat suasana terasa menegangkan. Alexa berjalan mendekat ke arah Theodore. Ia menatap dengan tatapan tajam dan penuh tanya melihat apa yang sedang dilakukan oleh ayah dan ketiga kakak angkatnya itu.
Seketika semua pengawal membungkuk memberi hormat. "Selamat datang Nona Muda!" ucap semua pengawal menyambut kedatangan Alexa.
Alexa mendekat dan bertanya kepada ayah angkatnya. "Ayah, ada apa ini? Kenapa sampai memukul orang sampai meninggal?"
Theodore menatap teduh putri angkatnya itu dan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Alexa berbalik ke arah ketiga kakaknya itu. "Kakak, kenapa kalian membunuh orang lagi?"
Gideon merangkul Damian dan Leo. "Adikku, dia pantas di hukum sampai mati. Dia berani-beraninya menatap mu selama 0.08 detik. Kami tidak mau kalau adik kami di tatap oleh orang yang tidak di kenal." jelas Gideon dan melihat ke arah Damian dan Leo sambil tersenyum. Damian dan Leo pun tersenyum miring.
Alexa menepuk jidatnya. "Ya ampun, Kakak. Dia bahkan tidak berbuat apa-apa kepadaku. Dia hanya menatapku saja, kenapa Kakak menghajarnya sampai mati?"
"Siapapun yang mengganggu adik kesayangan kita. Kita tidak akan tinggal diam." jelas Damian.
Alexa menghela nafas panjang. Ia kembali melihat ke arah ayah angkatnya itu. "Ayah, lihat kakak." ucapnya dengan wajah imutnya itu. Theodore tersenyum dan mengelus lembut rambut putri angkatnya itu.
"Bawah mayat pria itu!" perintah Theodore kepada pengawal yang sedang berdiri dan berbaris di dalam Markas Black Bleiz.
"Baik Tuan." Pengawal itu pun membuka ikatan tangan pria yang sudah tidak bernyawa itu. Mereka membawanya keluar dari ruang bawah tanah.
"Ya Tuhan, keluargaku ini kenapa suka sekali menghabisi nyawa orang." batin Alexa dengan tatapan yang sulit di artikan.
Theodore duduk di sofa panjang berwarna hitam begitu pun dengan Alexa dan ketiga saudara angkatnya itu.
Theodore menghisap rokok di tangannya. Ia menatap langit-langit ruangan itu dan kemudian tatapannya tertuju kepada Alexa.
"Alexa, kamu sudah berusia 19 tahun. Sudah saatnya ayah memberi tahu mu hal yang selama ini ayah rahasiakan." ucap Theodore dan terdiam sejenak. Ia merasa berat untuk mengatakan semua itu. Tapi ini sudah saatnya Alexa mengetahui semuanya.
"Ayah!" ucap Damian menatap tajam kearah Ayahnya.
"Rahasia apa ayah?" tanya Alexa penasaran.
Theodore mengangkat pandangannya. Ia menatap putri angkatnya itu. "Alexa, sebenarnya..." ucapan Theodore terhenti akibat ponselnya berdering.
Panggilan dari Addison.
"Hallo, Tuah Theo!" ucapnya dengan nafas memburu.
"Ada apa? Apa terjadi masalah di perbatasan?" tanya Theodore dengan wajah serius.
"Tuan, kondisi di perbatasan saat ini sedang kacau. Sepertinya ada penyusup yang mencoba untuk menggagalkan misi kita. Sekarang kami butuh anda Tuan." jelas Addison dibalik telepon.
Alexa dan ketiga saudara angkatnya saling menatap.
Theodore melihat ke arah Alexa. "Baik, aku akan segera kesana". Theodore mengakhiri teleponnya.
"Alexa, Ayah ingin kamu menyelesaikan misi di perbatasan." ucap Theodore. Kali ini ia lagi-lagi menyerahkan misi kepada Alexa.
Tanpa berpikir panjang Alexa langsung mengiyakan perintah ayah angkatnya itu.
"Tapi Ayah, Alexa ini adik perempuan kami satu-satunya. Apa tidak terlalu bahaya kalau ayah kirim Alexa ke perbatasan untuk menyelesaikan misi?" ucap Damian.
"Iya ayah." ucap Leo dan Gideon.
Alexa menatap ketiga kakak angkatnya. "Kakak, kalian tidak perlu khawatir. Ini bukan pertama kalinya Alexa melakukan misi. Kalian tenang saja, Alexa pasti menyelesaikan misi itu dengan segera."
Theodore yang mendengar penjelasan putri angkatnya itu pun tersenyum "Tidak sia-sia didikanku selama ini. Alexa tumbuh menjadi wanita yang pemberani. Kelak dia akan menggantikanku sebagai pemimpin Klan Black Bleiz nantinya." batin Theodore sambil tersenyum ke arah putri angkatnya itu.
"Ayah percaya padamu, Nak." ucap Theodore.
Alexa tersenyum, ia berdiri hendak meninggalkan ruang bawah tanah itu dan bersiap-siap berangkat ke perbatasan untuk menyelesaikan misi dari ayah angkatnya itu.
Damian dan kedua saudaranya berdiri. "Adik, kamu harus hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, segera kabari kami." ucap Damian dengan wajah khawatir.
"Baik Kakak. Ayah, aku berangkat dulu." ucap Alexa dan melangkah pergi meninggalkan ayah dan ketiga kakak angkatnya.
Theodore dan ketiga putranya kembali duduk.
"Ayah, apa ayah yakin Alexa bisa menyelesaikan misi di perbatasan?" tanya Damian.
"Iya ayah, Misi kali ini berbeda dengan misi-misi sebelumnya yang di lakukan Alexa. Bagaimana kalau terjadi apa-apa kepada dia?" lanjut Gideon dengan wajah khawatir.
Leo menatap ayahnya. "Ayah, apa aku temani Alexa saja?" ucap Leo.
"Tidak perlu. Ayah yakin Alexa bisa menyelesaikan misi ini. Dia wanita yang tangguh. Ayah sangat percaya padanya." jelas Theodore yang berhasil membuat ketiga putranya itu terdiam. meskipun di dalam hati Theodore ada sedikit keraguan tapi keyakinannya masih lebih besar.
Alexa berangkat dengan sendirinya. Ia mengendarai mobil yang di berikan oleh ayah angkatnya. Semuanya telah ia persiapkan. Peralatan-peralatan termasuk senjata tajam sudah ia masukkan semua ke dalam tasnya.
Sebelum berangkat, Alexa sudah memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selama ia menjalankan misinya. Oleh karena itu, ia sudah mempersiapkan semuanya sebelum berangkat.
Mobilnya kini melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah perbatasan barat. Di sana, Alexa sudah di tunggu oleh Addison. Addison adalah tangan kanan dari Theodore Bleiz.
Jalanan begitu sepi. Alexa melewati beberapa rawah dan lereng gunung. Suara mesin mobilnya jelas terdengar. Ia berkendara dengan sangat cepat.
Tiba-tiba saja.
CIITTT
Suara rem mobil yang di kendarai Alexa terdengar. Kepalanya hampir saja membentur stir mobilnya. Alexa mengangkat pandangannya. Ia melihat dua orang pria dengan membawa sebuah pisau di tangannya.
"TURUN!"
***
Hallo teman-teman 🤗
Jumpa lagi dengan author. Kali ini ada cerita baru lagi untuk kalian semua.🥰
Mohon dukungannya yang Teman-teman 🤗 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
like komen plus subscribe 🥰👍
2026-08-19
1
Elisabeth Ratna Susanti
membayangkannya ngeri banget ini.......seperti nonton film padahal baca.....keren Thor 😍
2026-08-19
1