Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Cklek.
Nadia membuka pintu ganda itu perlahan dengan tangan sedikit gemetar.
Ruangan rapat yang luas itu dipenuhi oleh sekitar dua puluh orang pria dan wanita berpakaian jas sangat rapi.
Raut wajah mereka semua terlihat sangat kelelahan, kusut, dan dipenuhi oleh amarah yang tertahan.
Di ujung meja bundar, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih memijat pelipisnya.
Itu adalah Pak Hendra, Direktur Utama perusahaan yang sedang dilanda sakit kepala hebat.
"Nadia, lama sekali kamu mengurus makan siang saja," tegur seorang pria berkacamata tajam dari sisi kiri meja.
Pria itu adalah Pak Surya, Direktur Operasional yang terkenal paling galak dan tidak kenal ampun.
"Maaf Pak Surya, kateringnya baru saja tiba dan sedang disiapkan di meja prasmanan," jawab Nadia sambil menundukkan kepala.
Galang dan dua petugas keamanan masuk membawa kardus-kardus hitam itu dan menyusunnya dengan cepat di atas meja panjang.
Pak Surya memicingkan matanya menatap Galang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Meski Galang memakai kemeja hitam dan celemek bersih, aura pedagang jalanannya masih sangat terasa kental.
"Nadia, siapa pemuda ini? Dia bukan staf katering langganan kita dari hotel bintang lima kan?" selidik Pak Surya dengan nada curiga.
Ruangan rapat seketika menjadi hening menunggu jawaban dari panitia konsumsi tersebut.
Nadia menelan ludahnya dengan susah payah sebelum memberanikan diri menjawab pertanyaan bosnya.
"Bukan Pak, Mas Galang ini bukan dari hotel bintang lima," jawab Nadia dengan suara pelan namun terdengar jelas di seluruh ruangan.
"Lalu dari restoran mewah mana kamu memesan makanan penting untuk direksi ini?" kejar Pak Surya mulai meninggikan suaranya.
"Dia... dia pedagang nasi goreng kaki lima di depan Halte Bus Trans Utama, Pak," jawab Nadia sambil memejamkan mata.
Brak.
Pak Surya menggebrak meja rapat dengan sangat keras hingga gelas air mineral di depannya berguncang.
"Kamu sudah gila ya Nadia!" bentak Pak Surya dengan wajah memerah padam karena marah.
Pak Hendra dan direktur lainnya ikut terkejut dan menatap Nadia dengan pandangan tidak percaya.
"Kami ini jajaran direksi sedang stres memikirkan masa depan perusahaan dari pagi."
"Dan kamu malah menyajikan kami makanan murahan dari pinggir jalan yang tidak jelas kebersihannya!"
Bu Ratna, Direktur Keuangan yang sedang memijat tengkuknya ikut menimpali dengan nada meremehkan.
"Saya tidak mau makan makanan gembel itu, perut saya terlalu sensitif untuk minyak curah pinggir jalan," protes Bu Ratna dengan wajah jijik.
Pak Hendra menghela napas panjang dan menatap Nadia dengan tatapan kecewa yang sangat dalam.
"Nadia, ini bukan saatnya bercanda, kembalikan makanan itu dan pesan makanan dari restoran terdekat sekarang juga," perintah Pak Hendra dengan suara berat.
Nadia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tahu ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya, dan ia tidak boleh mundur sekarang.
"Mohon beri saya waktu sepuluh menit saja Bapak dan Ibu sekalian," mohon Nadia dengan suara bergetar namun tegas.
"Nasi goreng buatan Mas Galang ini bukan nasi goreng biasa, ini bisa menghilangkan rasa lelah dan pusing seketika."
Pak Surya tertawa keras mendengar klaim konyol yang diucapkan oleh staf bawahannya itu.
"Menghilangkan lelah dan pusing? Kamu pikir ini obat klinik atau apa?" ejek Pak Surya tanpa ampun.
"Jangan buang waktu kami dengan bualan bodohmu itu Nadia."
"Kalau kamu berani menyajikan makanan rongsokan itu di depan kami, bersiaplah membereskan mejamu hari ini juga."
Galang yang sejak tadi diam mendengarkan semua hinaan itu akhirnya melangkah maju menutupi tubuh Nadia.
Ia tidak bisa membiarkan wanita yang sudah membantunya ini dihancurkan harga dirinya di depan umum.
"Maaf memotong ucapan Bapak, tapi saya rasa Bapak terlalu cepat menilai sesuatu sebelum mencobanya," ucap Galang dengan nada sangat tenang dan berwibawa.
Semua direktur tertegun melihat keberanian seorang tukang nasi goreng menatap langsung ke mata mereka.
"Kalau makanan buatan saya ini terbukti kotor dan rasanya murahan, kalian bebas memecat Mbak Nadia dan menjebloskan saya ke penjara atas tuduhan penipuan."
"Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Apakah kalian berani meminta maaf secara terbuka pada Mbak Nadia?" tantang Galang membalikkan keadaan.
Pak Surya berdiri dari kursinya dan menunjuk tepat ke wajah Galang.
"Lancang sekali mulutmu anak muda! Berani-beraninya menantang direktur di ruangan ini!" teriak Pak Surya kehilangan kesabaran.
Pak Hendra mengangkat tangannya menghentikan amarah rekan kerjanya tersebut.
"Cukup Surya, jangan memperpanjang masalah remeh ini," ucap Pak Hendra melerai.
"Kita coba saja satu kotak, kalau memang rasanya sampah, Nadia akan langsung saya pecat hari ini juga."
Galang tersenyum tipis mendengar persetujuan dari pimpinan tertinggi di ruangan itu.
Ia berjalan mendekati meja prasmanan dan mengambil satu kotak hitam paling atas.
Klak.
Galang membuka tutup kotak makan itu secara perlahan di depan meja direksi.
Wusss.
Asap panas yang masih tersimpan rapat di dalam kotak tiba-tiba mengepul keluar ke udara ber-AC.
Detik berikutnya, aroma gurih dari karamelisasi kecap hitam premium dan bawang putih tunggal meledak memenuhi seluruh penjuru ruang rapat.
Wangi itu sangat kuat, begitu pekat, namun memberikan sensasi menenangkan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Pak Surya yang mulutnya baru saja terbuka untuk menghina tiba-tiba terdiam kaku.
Hidungnya tanpa sadar mengendus udara di depannya dengan gerakan yang sangat cepat dan rakus.
"Wangi apa ini? Kenapa bau bawang putihnya bisa seharum ini?" batin Pak Surya dengan kebingungan yang luar biasa.
Bu Ratna yang tadinya memegang tengkuknya perlahan menurunkan tangannya.
Air liur mulai menggenang di dalam mulut Bu Ratna tanpa bisa ia kendalikan.
Bahkan Pak Hendra yang sedang sakit kepala hebat tiba-tiba melebarkan matanya saat menghirup aroma tersebut.
"Aromanya sangat bersih dan menggugah selera, tidak ada bau minyak tengik sama sekali," gumam Pak Hendra tanpa sadar.
Suasana ruang rapat yang tadinya penuh ketegangan dan amarah kini berubah menjadi keheningan yang canggung.
Perut-perut kosong para direktur itu mulai berbunyi pelan satu per satu merespon pancingan aroma tersebut.
Galang meletakkan kotak makan itu tepat di depan Pak Hendra beserta sendok plastiknya.
"Silakan dicicipi Pak Direktur," ucap Galang sambil mundur selangkah dan menyilangkan tangannya di dada.
"Biarkan lidah Bapak yang menentukan apakah Mbak Nadia pantas dipecat atau tidak siang ini."
Pak Hendra menelan ludah dan meraih sendok plastik itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
Semua direktur lain menahan napas memperhatikan pimpinan mereka yang bersiap memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.