Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah di Dinding
Aiden melepaskan tangannya dari palang pintu. Kayu itu tetap berada pada tempatnya, tetapi suara letusan dari luar membuatnya merasa pengunci tersebut dapat patah kapan saja.
Ia menyeka kedua pipi menggunakan lengan kemeja. Kainnya meninggalkan rasa kasar pada kulit, dan air mata yang belum sempat jatuh membasahi bagian dekat pergelangan tangannya.
Ketapel masih tergeletak di atas kain dekat meja. Permukaan kayunya mengilap oleh minyak, sedangkan kedua karetnya terkulai di sisi pegangan seperti belum pernah digunakan untuk sesuatu yang lebih berbahaya daripada kaleng dan tiang beton.
Aiden mengambilnya dan menggenggam bagian tengah. Minyak membuat kayu terasa sedikit licin, sehingga ia menggosok pegangannya pada sisi celana sampai telapak tangannya tidak lagi bergeser.
Ketapel itu tidak akan berguna tanpa peluru. Pikiran tersebut membuat Aiden segera berlutut dan mencari ke bawah meja.
Ia meraba lantai menggunakan satu tangan. Ujung jarinya menemukan remah makanan, serpihan kayu, dan sebuah mur kecil yang mungkin jatuh dari perkakas Marcus.
Mur itu dimasukkan ke saku kanan. Aiden kemudian merangkak menuju peti dekat dinding, membuka tutupnya, lalu mengaduk potongan tali, paku bengkok, dan logam bekas yang disimpan ayahnya.
Ia menemukan dua baut pendek dengan ulir yang telah berkarat. Benda-benda itu ikut masuk ke saku bersama sebuah ring logam tebal dan tiga kepala paku yang sudah dipatahkan dari batangnya.
Aiden tidak tahu benda mana yang dapat terbang lurus. Ia hanya tahu semuanya cukup keras untuk melukai sesuatu jika ditembakkan dari jarak dekat.
Setelah itu, ia mencari batu. Beberapa kerikil kecil tergeletak dekat pintu, terbawa masuk oleh sol sepatu mereka dan terselip di antara celah papan lantai.
Aiden mencongkelnya menggunakan kuku sampai dua kukunya terasa sakit. Batu-batu tersebut bulat dan cukup halus, lebih baik daripada baut, sehingga ia membersihkan debu menggunakan telapak tangan sebelum memasukkannya ke saku kiri.
Kedua saku celananya kini menggembung. Setiap kali ia bergerak, logam dan batu di dalamnya beradu dengan bunyi kecil yang segera ditelan keributan dari luar.
Aiden berdiri di tengah gubuk sambil memegang ketapel di depan dada. Kakinya masih gemetar, tetapi ia memaksa kedua lututnya lurus dan menarik napas sedalam yang dapat ditampung paru-parunya.
Ia tidak boleh menangis. Marcus berada di luar bersama orang-orang lain, dan Aiden tidak dapat bersembunyi di bawah selimut sambil menunggu ayahnya kembali untuk menyelesaikan semua masalah.
Ia seorang laki-laki meskipun Marcus masih menganggapnya terlalu kecil untuk memegang senapan. Suatu hari nanti ia harus mampu melindungi orang lain seperti ayahnya, dan malam itu setidaknya ia harus sanggup melindungi dirinya sendiri.
Aiden menyeka matanya sekali lagi. Setelah penglihatannya tidak lagi kabur, ia menarik karet ketapel tanpa peluru dan memastikan bagian kulit pada tengahnya tidak robek.
Bunyi tembakan di luar mulai berpindah. Letusannya tidak hanya datang dari arah gerbang, tetapi juga muncul di antara rumah-rumah, lebih dekat dan lebih keras daripada sebelumnya.
Terdengar seseorang berteriak meminta bantuan. Suara itu diikuti benturan logam, derap banyak kaki, dan jeritan panjang yang membuat bulu pada kedua lengan Aiden berdiri.
Ia mundur menuju sudut di samping kasurnya. Dari sana, punggungnya terlindung oleh dua dinding dan ia dapat melihat pintu tanpa perlu berdiri di tengah ruangan.
Aiden duduk dengan kedua lutut ditarik ke dada. Ketapel berada pada tangan kiri, sedangkan tangan kanannya terus berada di dalam saku untuk merasakan batu-batu yang telah dikumpulkan.
Lampu minyak masih menyala di atas meja. Nyala kecilnya membuat bayangan kursi dan kaki meja bergerak setiap kali gubuk bergetar oleh langkah orang yang berlari di luar.
Seseorang lewat begitu dekat hingga Aiden mendengar napasnya. Langkah tersebut tidak berhenti, lalu menghilang menuju jalur di antara rumah-rumah.
Sesudahnya terdengar bunyi yang lebih berat. Langkah-langkah menghantam tanah dengan irama tidak teratur, disertai suara serak yang mungkin berasal dari orang terluka.
Aiden tidak dapat melihat apa pun melalui dinding yang telah ditutup. Ia juga tidak tahu apakah teriakan dan tembakan itu disebabkan penyerang dari luar, perkelahian di antara warga, atau sesuatu yang sama sekali berbeda.
Aiden menarik satu batu dari saku. Ia menempatkannya pada kulit ketapel dan mengarahkan kedua ujung kayu ke pintu.
Tangannya bergetar terlalu kuat untuk menjaga bidikan. Batu tersebut beberapa kali hampir terlepas, tetapi Aiden menggigit bagian dalam pipinya dan mempertahankan tarikan.
Suara serak itu menjauh. Sebuah senapan meletus dua kali, kemudian suara yang tersisa berubah menjadi jerit kesakitan dan bunyi sesuatu diseret pada tanah.
Aiden menurunkan ketapel sedikit. Otot pada lengannya terasa nyeri karena terus menahan karet, tetapi ia tidak mengembalikan batu ke saku.
Pintu tiba-tiba bergetar oleh sebuah pukulan. Seluruh tubuh Aiden tersentak.
Batu terlepas dari kulit ketapel, jatuh ke lantai, lalu menggelinding ke bawah meja. Pukulan kedua datang lebih keras.
Palang kayu bergeser pada kaitnya dan debu jatuh dari bagian atas bingkai. Suara napas terburu-buru terdengar di balik daun pintu.
“Buka pintunya. Biarkan aku masuk!”
Suara seorang perempuan terdengar dari luar. Napasnya terputus-putus dan setiap kata seperti dipaksa keluar sambil berlari.
Aiden berdiri, tetapi tidak bergerak dari sudut. Ketapel diangkat kembali meskipun tidak ada peluru di dalamnya.
“Aku tidak bisa. Dad melarangku membuka pintu.”
Perempuan itu memukul daun pintu menggunakan telapak tangan. Kayu bergetar, tetapi palangnya tetap menahan.
“Buka, kau bajingan kecil! Kalau tidak, aku akan mati di sini!”
Terdengar teriakan lain dari ujung jalur. Perempuan tersebut menoleh atau bergerak karena suaranya berubah arah ketika kembali memohon agar Aiden bergegas.
Aiden memandang palang. Marcus telah menyuruhnya tidak membuka pintu untuk siapa pun selain dirinya, tetapi suara perempuan itu semakin dipenuhi kepanikan.
Jika Aiden membiarkannya di luar, apa pun yang sedang dilarinya mungkin akan mencapai perempuan tersebut hanya beberapa langkah dari pintu. Ia tidak sanggup tetap berada di sudut dan mendengarnya mati sambil memegang ketapel yang bahkan belum berhasil ditembakkannya.
Aiden berlari menuju pintu. Ketapel diselipkan pada bagian belakang celana, lalu kedua tangannya mengangkat palang dari kait.
Kayu itu terasa lebih berat daripada ketika Marcus pergi. Aiden hampir menjatuhkannya sebelum berhasil meletakkannya pada lantai.
Ia baru membuka pintu selebar tubuh ketika perempuan di luar mendorongnya. Aiden terpaksa melompat mundur agar tidak tertabrak.
Nadia McNamara masuk ke dalam gubuk dengan rambut terlepas dari ikatan. Bagian bawah roknya basah dan dipenuhi lumpur, sedangkan kedua tangannya kosong meskipun bau air sumur masih melekat pada pakaiannya.
Wajahnya tampak lebih pucat daripada yang pernah dilihat Aiden. Keringat mengalir dari pelipis sampai rahang, dan napasnya keluar melalui mulut dalam tarikan-tarikan pendek.
“Minggir.”
Nadia mendorong bahu Aiden menggunakan satu tangan. Ia menarik pintu sampai tertutup, tetapi tidak mengambil palang dari lantai dan tidak memasang satu pun pengunci.
Aiden melihat pintu tersebut, lalu kembali memandang Nadia. Perempuan itu bersandar pada daun pintu sambil menekan satu tangan ke dada.
“Apa yang terjadi?”
Nadia membutuhkan beberapa tarikan napas sebelum dapat menjawab. Matanya terus bergerak menuju dinding dan jendela yang telah ditutup papan, seakan sedang mencari jalan lain untuk keluar.
“Aku sedang mengambil air ketika mereka masuk ke tengah permukiman. Orang-orang berlari dari sumur, dan aku kehilangan jalan menuju rumah.”
Aiden merasakan sesuatu turun ke dalam perutnya. Jari-jarinya yang masih basah oleh minyak meraih gagang ketapel pada belakang celana.
“Siapa yang masuk?”
Nadia memandangnya. Bibirnya bergerak satu kali sebelum suara keluar.
“Remnant.”
Kulit Aiden mengencang dari tengkuk sampai kedua betis. Rambut-rambut halus pada lengannya berdiri, dan rasa busuk yang diciumnya di depan pondok Joseph seakan kembali memenuhi mulut.
Marcus berada di luar sana. Pikiran itu datang begitu cepat hingga Aiden sudah berjalan menuju pintu sebelum menyadari kakinya bergerak.
“Aku harus mencari Dad.”
Nadia melepaskan punggung dari pintu. Ia berdiri tepat di hadapan Aiden dan menutup jalan menggunakan tubuhnya.
“Jangan bodoh.”
Aiden mencoba bergerak ke kanan. Nadia ikut bergeser dan kembali menghalanginya.
“Ayahmu keluar menuju semua suara itu. Dia mungkin sudah mati.”
“Tidak.”
Kata tersebut keluar terlalu keras. Panas kembali memenuhi mata Aiden, tetapi ia menahannya sambil mencoba melewati lengan Nadia.
“Biarkan aku mencarinya.”
Nadia menangkap bahunya. Jari-jarinya menekan sampai Aiden berhenti meronta.
“Diam. Mereka bisa mendengarmu.”
Benturan keras menghantam pintu di belakang Nadia. Daun pintu terlempar ke dalam karena tidak dikunci.
Tepinya menghantam punggung Nadia dan mendorong perempuan itu dua langkah ke depan. Aiden melihat sosok kurus memenuhi ambang.
Kulitnya pucat keabu-abuan dan robek pada bagian dada, sementara satu sisi rahangnya tidak lagi mempunyai bibir. Remnant itu bergerak lebih cepat daripada tubuh busuknya seharusnya mampu bergerak.
Ia menerjang masuk, menginjak palang yang masih tergeletak di lantai, lalu mencapai Nadia sebelum perempuan tersebut sempat berbalik sepenuhnya. Kedua lengannya datang dari belakang kepala Nadia.
Satu tangan mencengkeram rambut dan pelipis, sedangkan tangan lainnya menutup bagian atas wajahnya. Nadia menjerit dan mengangkat kedua tangan.
Ibu jari Remnant menekan ke dalam kedua rongga matanya sebelum jemarinya sempat menemukan lengan makhluk tersebut. Bola mata Nadia pecah di bawah tekanan.
Cairan bening bercampur darah menyembur melalui sela jari-jari hitam, mengalir pada pipi dan masuk ke mulutnya yang terbuka. Jeritan Nadia berubah menjadi suara melengking yang membuat telinga Aiden sakit.
Tubuhnya membungkuk dan kedua kakinya menendang lantai, tetapi Remnant terus menarik kepalanya ke belakang sambil memasukkan ibu jari semakin dalam. Dua bentuk lain muncul di ambang yang terbuka.
Yang pertama menabrak sisi tubuh Nadia dan menutup gigi pada lengan kirinya. Rahangnya mengatup sampai daging lengan terjepit di antara gigi-gigi patah.
Ketika makhluk itu menyentakkan kepala, kulit Nadia robek dari siku menuju pergelangan dan memperlihatkan otot merah yang langsung dipenuhi darah. Remnant ketiga jatuh pada kedua lutut di depan Nadia.
Jari-jarinya mencengkeram bagian bawah kemeja perempuan itu, merobek kain, lalu menancapkan kuku ke dalam perutnya. Nadia mencoba menendangnya.
Tumitnya menghantam bahu makhluk tersebut satu kali, tetapi Remnant tidak melepaskan cengkeramannya. Kedua tangannya bergerak menjauh dengan tarikan kasar.
Kulit dan otot perut Nadia terbelah dari bawah tulang rusuk sampai mendekati pinggang. Darah mengalir deras melewati rok.
Usus yang berkilat terdorong keluar dari luka, jatuh sebagai gulungan berat pada paha sebelum sebagian menyentuh lantai. Nadia mengeluarkan bunyi serak yang tidak lagi menyerupai jeritan.
Kedua tangannya bergerak tanpa arah, satu meraba wajahnya yang hancur dan satu lagi mencoba menahan bagian tubuh yang terus tumpah dari perut. Aiden mundur sampai betisnya menyentuh sisi kasur.
Ketapel berada di tangannya, tetapi kedua lengannya tergantung kaku dan tidak mampu mengangkatnya. Remnant di depan Nadia membenamkan wajah ke luka.
Giginya menutup pada usus yang masih terhubung, lalu kepalanya menarik ke belakang sampai gulungan licin itu memanjang dan terlepas dengan bunyi basah. Makhluk yang menggigit lengan Nadia ikut menarik.
Tubuh perempuan itu jatuh miring, bahunya menghantam lantai, sedangkan kepala tetap terangkat oleh tangan Remnant pertama. Bunyi retakan pendek terdengar dari lehernya.
Setelah itu, kaki Nadia hanya bergerak dalam sentakan kecil sementara ketiga makhluk tersebut mulai merobek bagian tubuh yang dapat mereka capai. Aiden menutup mulut menggunakan satu tangan.
Napasnya menghantam telapak tangan dalam embusan panas, dan tangis yang berusaha keluar berubah menjadi cegukan tanpa suara. Mereka belum melihatnya.
Bau darah yang memenuhi gubuk dan tubuh Nadia yang masih bergerak menahan seluruh perhatian ketiga Remnant. Aiden melangkah mundur dengan tumit lebih dahulu.
Ia berusaha meletakkan setiap kaki tanpa membuat papan lantai berderit, tetapi kedua lututnya gemetar begitu kuat hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Di sisi kasur, dekat sudut dinding belakang, terdapat sepotong papan yang lebih sempit daripada papan lain.
Bagian bawahnya tidak pernah terpasang dengan baik dan menyisakan celah dekat lantai. Ketika masih lebih kecil, Aiden beberapa kali menyelinap melalui celah itu agar dapat keluar tanpa melewati pintu.
Tubuhnya dahulu dapat masuk setelah papan didorong ke samping, tetapi selama beberapa tahun terakhir kayu tersebut membengkak oleh air dan hampir menyatu dengan bingkai. Celah itu juga tampak jauh lebih kecil sekarang.
Aiden tidak tahu apakah bahunya masih dapat melewatinya, tetapi pintu telah dipenuhi Remnant dan kedua jendela tertutup papan. Ia merunduk di samping kasur.
Tangannya meraba bagian bawah papan sampai menemukan sisi yang dahulu biasa ditariknya. Kayu itu tidak bergerak.
Aiden menarik sekali lagi dengan kedua tangan, tetapi yang terlepas hanya serpihan kecil yang menusuk telapak tangannya. Di belakangnya terdengar rahang mengunyah.
Salah satu Remnant menggeram ketika makhluk lain mencoba merebut potongan daging yang sama, lalu tubuh Nadia bergeser beberapa jari di atas lantai. Aiden duduk dan menempatkan satu kaki pada papan.
Ia menendang menggunakan tumit, menahan suara di tenggorokan ketika benturannya membuat seluruh dinding bergetar. Papan tetap tertahan.
Bekas telapak kakinya hanya meninggalkan noda debu pada kayu. Aiden menoleh.
Ketiga Remnant masih berjongkok mengelilingi Nadia, tangan serta wajah mereka merah sampai ke leher. Salah satu makhluk menggigit bahunya.
Makhluk lain menahan pinggang Nadia sambil menarik sesuatu dari dalam perut menggunakan kedua tangan. Aiden menendang papan lagi.
Kali ini terdengar bunyi serat kayu mulai pecah pada bagian bawah. Ia menarik kedua lutut ke dada dan menghantamkan kedua telapak kaki bersamaan.
Paku tua yang menahan papan terangkat sedikit dari bingkai, menghasilkan decit panjang yang terasa lebih keras daripada seluruh tembakan di luar. Remnant yang berada dekat kaki Nadia berhenti mengunyah.
Kepalanya terangkat perlahan. Salah satu matanya telah mengempis, tetapi mata lainnya yang keruh langsung bergerak menuju Aiden.
Aiden kembali menendang. Papan terlepas pada bagian bawah dan membuka lubang selebar kepalanya, tetapi bagian atasnya masih menempel pada satu paku.
Remnant itu melepaskan potongan daging dari mulut. Ia berdiri dengan gerakan tersentak, menginjak usus Nadia, lalu mengeluarkan raungan yang memenuhi gubuk.
Dua makhluk lain ikut mengangkat kepala. Tangan mereka masih mencengkeram tubuh Nadia ketika perhatian mereka berpindah kepada Aiden.
Aiden memasukkan tangan ke saku tanpa mengalihkan mata. Jari-jarinya menyentuh batu, baut, dan mur sebelum memilih benda logam yang paling bulat.
Mur itu ditempatkan pada kulit ketapel. Aiden mengangkat kedua lengan, menarik karet sampai tangannya mendekati pipi, lalu membidik kepala Remnant yang mulai bergerak kepadanya.
Tangannya masih gemetar. Namun, jarak di antara mereka hanya beberapa langkah dan tubuh makhluk tersebut memenuhi hampir seluruh bidikannya.
Aiden melepaskan karet. Mur melesat dan menghantam dahi Remnant tepat di atas mata keruhnya.
Benturannya memecahkan kulit yang telah membusuk dan meninggalkan lubang kecil dengan cairan gelap mengalir dari tepinya. Kepala makhluk itu tersentak.
Ia berhenti selama setengah langkah, kemudian membuka rahang lebih lebar dan meraung dengan kemarahan yang membuat ludah hitam memercik dari mulut. Tembakan tersebut tidak menjatuhkannya.
Remnant justru berlari lebih cepat, kedua tangannya terulur menuju leher Aiden. Aiden berbalik dan menendang papan untuk terakhir kali.
Paku pada bagian atas tercabut bersama serpihan bingkai, lalu kayu jatuh keluar dan membuka celah rendah pada dinding. Aiden menjatuhkan diri ke perut.
Kedua lengannya masuk lebih dahulu, disusul kepala yang harus dimiringkan agar telinga tidak tersangkut pada sisi lubang. Bahu Aiden berhenti pada bingkai.
Kayu menekan tulang pada kedua sisinya dan membuat dadanya tidak dapat mengembang. Ia mendorong menggunakan ujung kaki, tetapi celah itu tidak cukup lebar untuk tubuhnya yang sekarang.
Remnant meraung tepat di belakangnya. Jari-jari makhluk tersebut menyentuh telapak kakinya, dan satu kuku menggores kulit tumit sebelum Aiden berhasil menendang menjauh.
Aiden mengembuskan seluruh udara dari paru-parunya. Ia memutar satu bahu ke depan, menempelkan pipi pada tanah di luar, lalu menarik tubuh menggunakan kedua siku.
Bingkai kayu mengikis punggung dan merobek kemejanya. Sebuah serpihan panjang menembus kulit dekat tulang rusuk, tetapi Aiden terus menarik sampai bahu keduanya lolos.
Tangan Remnant menutup ujung celananya. Kuku-kukunya merobek kain pada betis ketika Aiden menendang sekuat tenaga.
Kain terlepas dari cengkeraman. Kedua kaki Aiden keluar bersamaan dan tubuhnya jatuh pada tanah keras di belakang gubuk.
Dagunya membentur tanah. Rasa sakit menjalar sampai ke telinga, tetapi ia segera berguling dan menjauh dari celah menggunakan kedua tangan serta tumit.
Wajah Remnant muncul di lubang. Makhluk itu mencoba memasukkan kepala dan satu bahu, tetapi tubuhnya terlalu besar untuk melewati bingkai.
Ia terus mendorong sampai kulit pada pipinya terkelupas oleh sisi kayu. Kedua tangannya meraih keluar, jari-jarinya menyapu tanah hanya beberapa jari dari kaki Aiden.
Dua Remnant lain bergabung dari dalam. Tiga pasang tangan saling bertumpuk pada celah, mencakar kayu dan meraba udara, sementara geraman mereka menyatu dengan suara papan yang mulai retak.
Aiden bangkit dengan lutut gemetar. Ketapel masih berada dalam genggamannya, sedangkan sebagian batu dan baut di saku berhamburan ketika ia melewati lubang.
Ia tidak berhenti untuk mengambil satu pun. Aiden berbalik dan berlari meninggalkan gubuk, membawa bunyi raungan ketiga Remnant di belakangnya menuju kegelapan di antara rumah-rumah Haven.