Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pertemuan di Lorong Putih
Perjalanan menuju rumah sakit terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Kirana duduk di kursi penumpang mobil tua keluarga yang dikemudikan Ibu, menatap jalanan basah lewat kaca yang diguyur hujan. Tak ada percakapan di antara mereka, hanya suara wiper yang bergerak teratur, menyeka air yang terus-menerus jatuh.
Ia mencoba menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan pada Bapak, tapi setiap kalimat yang muncul di kepalanya terasa tidak cukup. Bagaimana caranya meminta maaf atas delapan tahun yang hilang? Bagaimana caranya menjelaskan ketakutan yang membuatnya terus menunda pulang?
Mobil berhenti di depan gedung rumah sakit yang berdiri kokoh dengan lampu-lampu neon menyala terang di tengah gelapnya malam berhujan. Kirana turun, mengikuti langkah Ibu yang sudah lebih dulu bergegas masuk.
Bau khas rumah sakit—antiseptik bercampur sesuatu yang steril dan dingin—langsung menyergap begitu mereka melewati pintu kaca otomatis. Kirana merasa perutnya bergejolak. Ia benci tempat ini, benci bagaimana tempat ini selalu jadi saksi momen-momen paling rapuh dalam hidup seseorang.
Mereka menyusuri lorong putih panjang menuju ruang ICU di lantai tiga. Setiap langkah terasa semakin berat bagi Kirana, seolah lantai keramik itu enggan membiarkannya maju.
"Bu Wulan," sebuah suara memanggil dari arah nurse station.
Seorang pria berjas putih menghampiri mereka. Tingginya sedang, dengan wajah yang familiar meski sudah delapan tahun tak terlihat—mata yang sama teduhnya, senyum yang sama hangatnya, meski kini terlihat lebih dewasa dan lelah.
"Raka," gumam Kirana tanpa sadar.
Pria itu menoleh, dan selama sepersekian detik, ekspresinya berubah—terkejut, lalu sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keterkejutan biasa. "Kirana?"
"Kalian saling kenal?" tanya Ibu, mengalihkan pandangan antara keduanya.
"Kami teman sekolah dulu, Bu," jawab Raka cepat, meski matanya masih tak lepas dari Kirana. "Saya dokter yang menangani Pak Hartono."
Kirana mengangguk kaku, mencoba menyembunyikan gejolak di dadanya. Raka Pradana—teman masa kecil yang dulu selalu menemaninya bermain hujan-hujanan di halaman rumah, yang dulu sempat menjadi tempatnya bersandar sebelum semuanya runtuh. Kini berdiri di hadapannya sebagai dokter, mengenakan jas putih yang membuatnya terlihat begitu berbeda dari anak laki-laki yang ia kenal dulu.
"Bagaimana kondisi Bapak?" tanya Ibu, suaranya bergetar menahan kekhawatiran.
Raut wajah Raka berubah serius. "Kondisinya masih kritis. Ada penyumbatan di jantung yang cukup parah, ditambah komplikasi lain yang sedang kami tangani. Beliau saat ini dalam keadaan koma, tapi tanda vitalnya masih stabil untuk sekarang."
"Bisakah kami menemuinya?" Kirana akhirnya bersuara, meski suaranya nyaris berbisik.
Raka menatapnya sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. "Boleh, tapi hanya sebentar. Beliau butuh istirahat total."
Mereka mengikuti Raka menyusuri lorong menuju ruang ICU. Melalui jendela kaca, Kirana bisa melihat sosok yang terbaring di ranjang rumah sakit, dikelilingi berbagai alat medis yang berbunyi teratur. Kirana menahan napas.
Bapak terlihat begitu kecil, begitu rapuh—jauh berbeda dari sosok tegap yang selalu ia ingat. Rambutnya yang dulu hitam kini nyaris seluruhnya memutih. Kulitnya pucat, wajahnya menua jauh lebih cepat dari yang seharusnya.
"Bapak..." Kirana melangkah mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh tangan ayahnya yang terbaring diam. Dingin. Rapuh. Begitu berbeda dari tangan yang dulu selalu menggendongnya saat kecil, yang dulu selalu menepuk kepalanya setiap kali ia berhasil melakukan sesuatu.
"Maafkan aku, Pak," bisiknya, air mata mulai menetes. "Aku di sini sekarang. Aku pulang."
Tak ada respons. Hanya bunyi mesin yang terus berdetak, mengukur setiap detak jantung yang tersisa.
Di belakangnya, Ibu berdiri diam, menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta, ketakutan, dan sesuatu yang lain yang Kirana tak bisa pahami sepenuhnya.
"Kita beri waktu untuk mereka," ujar Raka pelan pada Ibu, lalu menoleh pada Kirana. "Aku di luar kalau kamu butuh sesuatu."
Kirana mengangguk tanpa benar-benar mendengar. Seluruh perhatiannya tertuju pada sosok Bapak yang terbaring diam.
Beberapa menit berlalu dalam kesunyian, hanya diselingi bunyi mesin dan isak tangis Kirana yang tertahan. Lalu, matanya tak sengaja menangkap sesuatu di meja kecil di samping ranjang—sebuah amplop coklat lama, tampak sudah usang dimakan waktu, terselip di antara barang-barang pribadi Bapak yang dibawa dari rumah.
Rasa penasaran mengalahkan kesedihannya sesaat. Kirana meraih amplop itu, membuka lipatannya dengan hati-hati.
Isinya sebuah surat lama, tulisan tangan Bapak yang sudah memudar dimakan waktu. Dan di baris pertama surat itu, tertulis sebuah nama yang membuat jantung Kirana serasa berhenti berdetak.
*Untuk Denis, anakku...*
Kirana membeku. Tangannya gemetar memegang kertas itu. Kata-kata yang mengikuti semakin membuat kepalanya berputar—kalimat-kalimat penuh penyesalan, permintaan maaf, dan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Bu," panggilnya, suaranya tercekat. "Siapa itu Denis?"
Ibu yang berdiri di dekat pintu langsung menegang. Wajahnya memucat seketika, seperti melihat hantu dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.
"Dari mana kamu dapat itu?" suara Ibu bergetar, bukan lagi karena kesedihan, tapi karena sesuatu yang terdengar seperti ketakutan.
Kirana menatap ibunya lekat-lekat, genggamannya pada surat itu semakin erat. "Bu, jawab aku. Siapa Denis?"
Hening menyelimuti ruangan, hanya dipecah oleh bunyi monitor jantung yang terus berdetak—seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari rahasia yang akhirnya mulai terkuak.