Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Rahasia yang Mengikat
Bima tidak pergi setelah mengatakan Laras berbohong.
Ia duduk di ujung lorong sampai sore, menunggu pintu kamar Nadia terbuka. Perawat sudah menjelaskan bahwa pasien menolak kunjungan, tetapi ia tetap bertahan dengan dua tangan terkatup di antara lutut.
Laras tidak sanggup menatapnya lama-lama.
"Pulang dulu," katanya. "Kalau Nadia mau ketemu, gue kabari."
"Lo bakal kabur bawa dia ke Surabaya."
Laras terdiam. Tebakannya terlalu tepat.
"Berarti benar," kata Bima.
"Dia yang minta pindah."
"Kenapa?"
"Karena mau jauh dari semua orang. Termasuk gue."
Bima mengusap wajah. "Gue cuma mau tahu dia aman."
"Dokter bilang kondisinya stabil. Itu yang bisa gue kasih tahu."
Setelah matahari terbenam, petugas keamanan akhirnya meminta Bima meninggalkan lantai rawat. Ia memberikan satu kantong berisi pakaian bersih kepada Laras.
"Kalau dia mau buang semua barang dari gue, buang nanti," katanya. "Sekarang pakai dulu."
Laras menerima kantong itu tanpa menjawab.
Bima tidak langsung melepaskannya. "Ada orang yang nyakitin dia?"
Pertanyaan itu nyaris membuat Laras menjatuhkan kantong.
"Dia ditemukan sendirian," jawabnya.
"Itu bukan jawaban."
"Itu yang bisa gue bilang."
"Kalau ada orang, gue nggak akan bikin Nadia bicara. Gue cuma cari dia sendiri."
Justru itulah yang ditakuti Nadia. Laras membayangkan Bima mengejar seseorang dalam kemarahan, lalu semua orang bertanya kenapa. Rahasia yang ingin dikendalikan Nadia akan berubah menjadi milik satu gang.
"Jangan cari siapa-siapa," katanya. "Kalau lo masih sayang Nadia, hormati dia waktu bilang nggak mau ketemu."
Bima akhirnya melepas kantong. Ia berjalan ke lift, tetapi menoleh sebelum pintu menutup. Tatapannya bukan lagi hanya curiga. Ada ketakutan orang yang sudah menebak bentuk kebenaran, tetapi belum berani menyebutnya.
Rayhan mengantarnya pulang untuk mandi dan mengambil dokumen Nadia. Di motor, mereka tidak banyak bicara. Begitu sampai rumah, Laras memeriksa ponsel dan menemukan tujuh pesan dari Bima, semuanya menanyakan hal yang sama.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Rayhan menelepon setelah Laras selesai mengganti pakaian.
"Bima masih hubungi?"
"Iya."
"Jangan jawab detail."
"Gue sudah bohong dari pagi. Mau sampai kapan?"
"Sampai Nadia sendiri memilih bicara."
Laras duduk di lantai kamar, bersandar pada ranjang. "Kalau kita terus bilang dia jatuh, kita membantu orang yang menyakitinya bebas."
"Kalau kita paksa laporan sekarang, kita juga mengambil pilihan Nadia."
"Gue tahu."
"Berarti kita pegang satu cerita dulu. Nadia minum, pergi sendiri, ditemukan demam dan terluka setelah jatuh. Jangan tambah detail yang nanti beda-beda."
Nada Rayhan tenang seperti sedang menyusun langkah lomba. Ketenangan itu membuat Laras marah.
"Ini bukan soal matematika."
"Makanya aku nggak bilang ini solusi. Ini cara supaya keadaan nggak tambah kacau malam ini."
Rayhan menyarankan agar Pak Darto hanya tahu Nadia sakit dan ingin privasi. Bima harus ditenangkan dengan kabar medis singkat, bukan dibebaskan masuk kamar. Pemindahan ke Surabaya dilakukan melalui rumah sakit, lengkap dengan surat rujukan, bukan diam-diam membawa Nadia pergi.
"Kita juga jangan sentuh barang-barang yang sudah dicatat rumah sakit," katanya. "Biar tetap disimpan sesuai permintaan Nadia."
"Lo bicara kayak semua ini bisa ditaruh dalam map."
"Nggak bisa. Tapi jadwal obat dan surat rujukan tetap harus benar meski hidup kita kacau."
Laras memandangi tumpukan pakaian Bima di dekat pintu. Ia tahu Rayhan sedang membangun pagar di sekeliling mereka: satu versi untuk Bima, satu batas untuk tetangga, satu alur resmi untuk rumah sakit. Pagar itu melindungi Nadia, tetapi juga membuat Laras dan Rayhan berdiri di sisi yang sama, memegang kunci bersama.
"Dan jangan bicara ke tetangga," lanjutnya. "Sekali keluar, Nadia nggak bisa tarik kembali."
"Lo sudah pikirin semuanya sejak kapan?"
"Sejak kita menemukan dia."
Laras memejamkan mata. "Lo bahkan nggak tahu apa yang dia mau waktu itu."
"Sekarang kita tahu. Dia minta rahasia."
"Rahasia ini bisa menghancurkan dia juga."
"Bisa. Tapi malam ini dia butuh merasa masih punya kendali. Besok kita tawarkan lagi dokter, pendamping, semua pilihan. Bukan ancaman."
Kalimat itu masuk akal. Justru karena masuk akal, Laras merasa makin terikat.
"Kenapa lo bisa setenang ini?" tanyanya.
Di ujung telepon, Rayhan diam cukup lama.
"Karena kalau aku ikut panik, kamu bakal menanggung semuanya sendiri."
"Gue bukan tanggung jawab lo."
"Aku tahu."
"Tapi lo terus bikin seolah cuma lo yang bisa bantu."
"Aku nggak bilang cuma aku."
"Lo nggak perlu bilang. Cara lo menyusun semua ini sudah cukup."
Rayhan mengembuskan napas. "Kalau kamu punya cara yang lebih baik tanpa melanggar pilihan Nadia, aku ikut."
Laras tidak punya.
Itulah yang paling ia benci.
Malam itu mereka kembali ke rumah sakit. Pak Darto membawa dokumen identitas Nadia yang pernah disimpan saat kunjungan sebelumnya. Dokter menyetujui rencana pemindahan untuk keesokan hari bila demam terus turun.
Bagian administrasi menghubungi rumah sakit tujuan untuk memastikan tempat tidur tersedia. Ringkasan medis hanya diserahkan kepada petugas dan Nadia, sedangkan Laras membantu mengisi data pendamping. Tidak ada perpindahan diam-diam seperti orang melarikan diri; semuanya tetap melalui jalur medis.
Pak Darto menanyakan apakah keluarga Nadia perlu dihubungi. Nadia melalui perawat menjawab belum. Pak Darto tidak memaksa, meski wajahnya jelas menyimpan banyak pertanyaan.
"Bapak cuma perlu tahu dia aman," katanya kepada Laras. "Sisanya milik Nadia."
Kalimat sederhana itu membuat Laras hampir menangis. Setidaknya masih ada satu orang dewasa yang bisa menahan rasa ingin tahu tanpa perlu disusun oleh Rayhan.
Nadia meminta Laras duduk dekat ranjang.
"Bima masih di luar?"
"Sudah pulang. Dia titip baju."
Mata Nadia berkaca-kaca, tetapi ia tidak meminta tas itu dibuka. "Jangan kasih tahu dia."
"Gue nggak kasih tahu."
"Polisi?"
"Belum ada yang hubungi. Dokter bilang lo bisa bicara lagi kalau siap."
Nadia mengangguk. "Gue cuma mau pulang ke Surabaya."
Laras menggenggam pagar ranjang. Ia ingin berkata bahwa diam bukan satu-satunya jalan, bahwa pelaku bisa menyakiti orang lain. Namun tubuh yang berbaring di depannya bukan medan untuk membuktikan keberanian moral Laras.
"Besok kita urus pindah," katanya.
Di lorong, Rayhan sudah menyusun salinan dokumen dan daftar obat bersama perawat. Ketika melihat Laras keluar, ia menyerahkan map tanpa bertanya isi percakapan.
"Gue benci ini," kata Laras.
"Aku juga."
"Ini bukan benar."
"Bukan. Ini cuma cara bertahan malam ini."
Laras membawa map itu kembali ke kamar. Ia sadar sejak saat tersebut, dirinya dan Rayhan memegang satu rahasia yang tidak bisa dibagi tanpa melukai Nadia, tetapi juga tidak bisa disimpan tanpa mengubah mereka.
Keesokan dini hari, saat Laras tertidur di kursi pendamping, ponselnya bergetar.
Pesan dari Rayhan muncul di layar.
Besok aku ikut ke rumah sakit. Kamu jangan hadapin ini sendirian.