Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Banyak Tekanan
"Kita mulai dulu, ya, USG-nya. Walaupun sebenarnya minggu depan baru jadwal USG Ibu," ucap dokter sambil mempersiapkan alat pemeriksaan.
Naresta menganggukkan kepalanya.
"Iya, Dok."
"Karena Ibu mengeluh perut terasa kencang dan sakit, kita pastikan dulu kondisi bayinya."
Elvan yang berdiri di samping ranjang langsung menggenggam tangan istrinya lebih erat.
Naresta menoleh.
"Mas, tenang."
Elvan mengangguk kecil.
"I-iya."
Dokter mulai melakukan pemeriksaan USG. Pandangannya terfokus pada monitor di samping ranjang.
Beberapa saat ruangan menjadi hening.
Elvan terus menatap layar meskipun dirinya tidak memahami apa yang sedang dilihat dokter.
"D-dok..."
Dokter menoleh.
"Iya, Pak?"
"B-bayi b-baik?"
"Sebentar, ya, Pak. Saya periksa semuanya dulu."
Elvan langsung terdiam.
Naresta mengusap punggung tangan suaminya.
"Mas jangan panik dulu."
Setelah beberapa saat, dokter akhirnya tersenyum tipis.
"Untuk kondisi bayi, sejauh yang saya lihat sekarang masih baik."
Naresta langsung mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah."
Elvan ikut terlihat lega.
"B-baik?"
"Iya, Pak."
Dokter kembali memperhatikan monitor.
"Detak jantungnya juga ada dan gerakannya bagus."
Mata Elvan langsung berkaca-kaca.
Naresta tersenyum sambil menatap layar.
"Syukurlah."
Namun, dokter belum menyelesaikan pemeriksaannya.
"Bu Naresta."
"Iya, Dok?"
"Sebelum perutnya terasa kencang tadi, Ibu sedang melakukan aktivitas berat?"
"Nggak, Dok."
"Jalan jauh atau mengangkat sesuatu?"
"Nggak juga."
Dokter mengangguk.
"Belakangan ini kurang istirahat?"
Naresta terdiam sebentar.
"Kalau istirahat sebenarnya cukup."
"Lalu ada sesuatu yang membuat Ibu stres atau tertekan hari ini?"
Pertanyaan itu membuat Naresta langsung diam.
Elvan menoleh kepadanya.
"S-sayang..."
Dokter memperhatikan keduanya.
"Ada, Bu?"
Naresta akhirnya mengangguk pelan.
"Tadi saya bertengkar sama ibu saya, Dok."
"Bertengkarnya cukup membuat Ibu emosi?"
"Iya."
Naresta menundukkan wajah.
"Saya sempat marah, nangis juga. Sebelum itu sebenarnya perut sudah mulai terasa sedikit kencang, tapi saya tetap berdiri dan bicara."
Dokter mengangguk pelan.
"Baik."
Ia menyelesaikan pemeriksaan sebelum membersihkan gel di perut Naresta.
"Untuk saat ini, yang paling penting Ibu tenang dulu."
Naresta menatap dokter.
"Jadi sakitnya karena saya terlalu banyak pikiran, Dok?"
"Bisa ada kaitannya dengan kondisi tubuh Ibu yang sedang tegang dan kelelahan. Tapi keluhan seperti perut kencang saat usia kehamilan tujuh bulan tetap perlu diperhatikan."
Naresta langsung mengangguk.
"Iya, Dok."
"Apalagi kalau nanti rasa kencangnya muncul teratur, semakin kuat, ada perdarahan, keluar cairan, atau gerakan bayi berkurang. Jangan menunggu lama untuk kembali diperiksa."
Elvan langsung terlihat tegang lagi.
"D-dengar, S-sayang?"
Naresta tersenyum kecil.
"Iya, Mas. Aku dengar."
Dokter ikut tersenyum melihat Elvan.
"Suaminya kelihatannya lebih khawatir daripada istrinya."
Naresta terkekeh pelan.
"Memang begitu, Dok. Sejak saya hamil dia jadi lebih cerewet."
Elvan langsung menoleh.
"T-tidak."
Naresta menahan tawa.
"Iya, Mas."
Dokter kemudian menatap Naresta kembali.
"Tapi kali ini saya setuju dengan suaminya."
Naresta langsung terdiam.
"Ibu harus mengurangi hal-hal yang membuat Ibu kelelahan dan tertekan."
Naresta mengembuskan napas pelan.
"Saya sudah berusaha, Dok."
"Saya tahu. Tapi kalau ada orang atau keadaan yang membuat Ibu terus-menerus tertekan, sementara waktu sebaiknya dijauhkan dulu."
Naresta mengusap perutnya perlahan.
"Iya, Dok."
Elvan langsung menggenggam tangannya.
"A-aku j-jaga."
Naresta menoleh kepada suaminya.
"Iya, Mas."
Dokter kembali melihat hasil pemeriksaan di monitor.
"Yang terpenting sekarang, bayi Ibu dalam kondisi baik. Jadi jangan terlalu takut."
Naresta akhirnya tersenyum lega.
"Terima kasih, Dok."
Elvan ikut mengangguk.
"T-terima k-kasih."
Namun, setelah mendengar penjelasan dokter, Naresta mulai menyadari satu hal.
Selama ini ia selalu berusaha kuat menghadapi perkataan orang lain.
Tetapi sekarang, bukan hanya perasaannya sendiri yang harus ia jaga. Ada anak yang sedang tumbuh di dalam rahimnya yang juga membutuhkan ketenangan.
"Jadi sudah, Dok?" tanya Naresta sambil perlahan membenarkan pakaiannya.
"Iya, sudah. Berat bayinya juga sudah lumayan bertambah dari bulan lalu," jawab dokter sambil melihat kembali hasil pemeriksaan. "Yang perlu diperhatikan, Ibu jangan sampai stres dan terlalu tertekan lagi karena itu bisa menjadi salah satu pemicunya."
"Baik, Dok."
Elvan langsung menoleh kepada istrinya.
"D-dengar, S-sayang?"
"Iya, Mas. Dengar."
Dokter tersenyum tipis melihat keduanya, lalu mengambil pulpen.
"Buku pinknya di mana, Bu?"
Naresta dan Elvan langsung saling berpandangan.
"Buku pink..."
Naresta baru teringat.
"Tadi kami buru-buru ke sini, Dok. Jadi nggak sempat bawa."
"Oh, tertinggal di rumah?"
"Iya, Dok. Tapi tadi Mbak Aya sudah minta karyawan saya untuk membawakannya kemari."
Dokter mengangguk.
"Baik. Nanti kalau sudah sampai, diberikan ke perawat, ya. Saya mau catat hasil pemeriksaan hari ini."
"Iya, Dok."
Dokter kembali melihat Naresta.
"Untuk sementara Ibu istirahat dulu di ruang observasi. Kita lihat apakah rasa kencangnya berkurang setelah Ibu tenang dan beristirahat."
Naresta langsung mengangguk.
"Berarti belum boleh pulang, Dok?"
"Belum sekarang."
Elvan justru langsung menyahut.
"J-jangan p-pulang d-dulu."
Naresta menoleh kepadanya.
"Mas, aku cuma tanya."
Elvan menggeleng cepat.
"I-istirahat d-di s-sini."
Dokter tersenyum kecil.
"Suaminya benar. Nggak perlu buru-buru pulang."
"Iya, Dok."
Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu.
Tok! Tok!
Seorang perawat membuka pintu.
"Dok, keluarga Ibu Naresta bilang buku pinknya sudah sampai."
Naresta langsung terlihat lega.
"Oh, sudah datang ternyata."
Dokter mengangguk.
"Bagus. Minta dibawa masuk saja."
Tak lama kemudian, Aya muncul di depan pintu sambil membawa buku pink dan tas kecil milik Naresta.
"Mbak!"
Naresta menoleh.
"Sudah dibawakan Mas Dicky?"
"Iya. Mas Dicky tadi langsung antar."
Aya mengangkat buku pink tersebut.
"Ini bukunya. Tas sama ponsel Mbak juga dibawakan sekalian."
Naresta tersenyum.
"Untung Mas Dicky cepat."
Aya mendekat lalu menyerahkan buku tersebut kepada dokter.
"Ini, Dok."
"Terima kasih."
Dokter mulai membuka beberapa halaman untuk melihat catatan pemeriksaan sebelumnya.
Aya kemudian mendekati Naresta.
"Gimana, Mbak? Bayinya?"
"Alhamdulillah baik."
Aya langsung mengembuskan napas lega.
"Ya Allah, syukurlah."
"Tapi aku disuruh istirahat dulu di sini."
"Bagus."
Naresta langsung mengernyit.
"Lho, kok bagus?"
Aya berkacak pinggang.
"Supaya Mbak benar-benar diam."
Naresta menatap Elvan.
Elvan langsung mengangguk setuju.
"I-iya."
Naresta menghela napas.
"Ya Allah, sekarang kalian kompak banget."
Aya tersenyum puas.
"Kalau urusan menyuruh Mbak istirahat, saya sama Mas Elvan memang satu tim."
"Baik, semuanya sudah saya cek dan saya catat hasil pemeriksaan hari ini. Jadi, istirahat sebentar dulu. Biarkan Ibu tenang," ucap dokter sambil menutup buku pink milik Naresta.
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama."
Dokter kemudian menoleh kepada Elvan.
"Pak, temani istrinya, ya. Usahakan jangan membicarakan sesuatu yang membuat Ibu Naresta kepikiran lagi."
Elvan langsung mengangguk berkali-kali.
"I-iya, D-dok."
Dokter tersenyum tipis.
"Bagus."
Aya yang masih berdiri di dekat pintu langsung menyahut.
"Tenang saja, Dok. Pokoknya sekarang nggak ada yang boleh bikin Mbak Naresta stres."
Naresta langsung melirik Aya.
"Mbak Aya."
"Apa? Benar, kan?"
Dokter terkekeh kecil.
"Iya, benar. Sekarang yang dibutuhkan Ibu Naresta memang ketenangan."
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk membawa kursi roda.
"Bu Naresta, kita pindah ke ruang observasi dulu, ya."
"Iya, Mbak."
Elvan langsung membantu Naresta turun dari ranjang dan duduk perlahan di kursi roda.
"P-pelan, S-sayang."
"Iya, Mas."
Setelah Naresta duduk dengan nyaman, perawat mulai mendorong kursi rodanya keluar dari ruang pemeriksaan.
Begitu pintu terbuka, Bu Ratih yang sejak tadi menunggu langsung berdiri.
"Gimana, Naresta?"
Naresta tersenyum kecil.
"Alhamdulillah, bayinya baik, Bu."
Bu Ratih langsung mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah."
"Tapi Mbak Naresta harus istirahat dulu di ruang observasi, Bu," sambung Aya.
"Bagus. Biar dia istirahat."
Naresta langsung menatap Bu Ratih.
"Kok semuanya bilang bagus, sih?"
Bu Ratih menggelengkan kepala.
"Karena kalau sudah pulang, kamu pasti mikirin toko lagi."
"Nggak juga."
Aya langsung menyela.
"Bohong."
Naresta melotot.
"Mbak!"
Bu Ratih tertawa kecil.
"Nah, sudah. Jangan diajak berdebat lagi."
Elvan yang berjalan di samping kursi roda tiba-tiba menggenggam tangan istrinya.
"S-sayang t-tenang."
Naresta menoleh kepadanya.
"Iya, Mas."
Tak lama kemudian, mereka tiba di ruang observasi.
Perawat membantu Naresta berbaring dengan nyaman.
"Kalau perutnya kembali terasa sangat kencang atau sakit, langsung panggil kami, ya, Bu."
"Iya, Mbak."
Setelah perawat pergi, Bu Ratih duduk di kursi dekat ranjang.
"Sekarang nggak boleh mikirin apa-apa."
Naresta mengembuskan napas.
"Iya, Bu."
Aya ikut duduk.
"Toko jangan dipikirkan."
"Iya."
"Ibu Mbak juga jangan dipikirkan."
Naresta terdiam sebentar.
Elvan langsung mengusap tangannya.
"S-sayang."
Naresta menoleh kepada suaminya, lalu tersenyum kecil.
"Iya, Mas. Aku nggak akan memikirkannya."
Bu Ratih mengangguk puas.
"Nah, begitu."
Naresta perlahan mengusap perutnya.
Setelah ketegangan yang terjadi sejak tadi, kini ia hanya ingin menenangkan dirinya dan memastikan bayi yang telah mereka tunggu selama empat tahun itu tetap baik-baik saja.