Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Meskipun Nadia berkata baik-baik saja lewat isyarat matanya, namun bagi Aksa apa yang ia lihat justru mengatakan sebaliknya. Ada sesuatu yang tidak beres dan instingnya langsung mengunci pada dua orang asing yang berdiri di hadapan mereka saat ini, seorang wanita bergaun merah mencolok dengan senyum palsu yang menyebalkan dan seorang pria berjas hitam berwajah pucat basi yang menatap istrinya dengan sorot penuh penyesalan.
Aksa tidak tahu menahu soal masalah perundungan yang dialami Nadia di kampus. Selama ini, ia tidak pernah menyelidiki masa-masa kuliah Nadia secara mendalam karena fokusnya tersita pada urusan perusahaan. Namun, melihat cara pria di hadapan mereka memandang istrinya, serta ketegangan yang tiba-tiba melanda Nadia, membuat rahang tegas Aksa mengeras seketika, aura dingin dan berbahaya perlahan menguar dari tubuh pria itu.
"Selamat atas pernikahan kalian, Tuan Aksa dan... Nadia," ucap Tamara dengan nada manis yang dibuat-buat semanis mungkin, berusaha menutupi rasa benci di balik senyuman lebarnya.
Tamara bahkan sengaja menatap Nadia dengan kilatan mata meremehkan sesaat sebelum beralih menatap Aksa penuh puja, "Aku Tamara, sepupu jauh dari keluarga Mahendra. Senang sekali bisa melihat kalian akhirnya bersanding," lanjutnya.
Roy yang berdiri di samping Tamara hanya bisa menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap langsung ke arah Aksa maupun Nadia. Suaranya tercekat di tenggorokan, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Aksa tidak langsung membalas ucapan Tamara. Pria itu menyipitkan mata tajamnya, menatap lurus ke arah perempuan bergaun merah di hadapannya dengan tatapan menyelidik yang sanggup membuat nyali siapa pun ciut.
"Sepupu jauh?" ulang Aksa dingin, suaranya sarat akan intimidasi kelas atas yang membuat senyum di wajah Tamara mendadak kaku.
"Saya tidak ingat pernah melihat wajahmu di silsilah keluarga besar Mahendra," sambung Aksa.
Tamara tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya yang tadinya dipoles penuh percaya diri mendadak memucat, senyum palsunya seketika runtuh tanpa sisa di hadapan tatapan tajam Aksa yang bagaikan bilah pisau bermata dua.
"Ah... i-itu... maksudku, Mamaku adalah kerabat jauh dari Om Mahendra," Tamara berucap terbata-bata, keringat dingin mulai merembes di pelipisnya akibat tekanan mental luar biasa yang dipancarkan oleh suami Nadia itu.
Para tamu undangan di sekitar mereka mulai melirik penasaran, suasana di atas pelaminan yang tadinya penuh kehangatan mendadak berubah menjadi dingin dan tegang.
Aksa melangkah maju setengah langkah, menempatkan tubuh jangkungnya tepat di depan Nadia untuk memagari istrinya dari pandangan Tamara, suara baritonnya yang rendah terdengar semakin mengintimidasi.
"Kalau hanya sekadar kerabat jauh yang tidak punya urusan penting, sebaiknya jaga jarak dan jangan mengotori udara di sekitar istri saya dengan kehadiran kalian," ucap Aksa tanpa ampun, sama sekali tidak memberikan ruang basa-basi bagi Tamara untuk mencari muka.
Wajah Tamara memerah padam antara malu dan geram, ia merasa dipermalukan di hadapan ratusan sosialita elit yang berdiri di sekeliling panggung. Namun, di hadapan Aksa Mahendra, ia tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk melawan.
Di samping Tamara, Roy mengangkat wajahnya perlahan dengan mata yang menyiratkan kepedihan mendalam. Ia menatap Nadia, lalu memberanikan diri bersuara dengan suara serak.
"Na-Nadia... selamat atas pernikahanmu. Aku... aku turut bahagia," ucap Roy terbata, rasa penyesalan meremukkan dadanya.
Nadia mengepalkan jemarinya. Alih-alih merasa sakit hati seperti dulu, kini di dalam dekapan perlindungan suaminya dan Nadia merasakan gelombang ketenangan yang luar biasa, ia menyadari bahwa pria di masa lalunya itu kini hanyalah bagian dari masa kelam yang telah tertutup rapat.
Aksa melirik Roy dengan ekor mata yang dinginnya membekukan, "Cukup, pergi dari hadapan kami sekarang sebelum kesabaran saya habis," usir Aksa tajam.
Tanpa berani menoleh lagi, Tamara yang menahan amarah setengah mati langsung menarik lengan Roy untuk segera turun dari panggung di bawah tatapan penuh selidik dan bisik-bisik para tamu undangan.
Pesta pernikahan mewah itu akhirnya berlangsung hingga larut malam dengan sukses besar. Usai rangkaian acara selesai, mobil Rolls-Royce Phantom hitam membawa Aksa dan Nadia menuju kediaman pribadi Aksa, sebuah penthouse mewah berlantai tiga yang terletak di jantung ibu kota, menghadap langsung ke kerlip lampu kota dari ketinggian.
Setibanya di unit penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang utama yang luas dengan desain interior modern minimalis bernuansa monokrom.
Aksa melonggarkan dasi hitam di lehernya, lalu melepaskan jas mewahnya dan melemparkannya ke sofa, ia menoleh ke arah Nadia yang berdiri agak kaku di dekat pintu masuk dan mengenakan gaun pengantin putih yang kini terasa berat setelah seharian dipakai.
"Kamu lelah?" tanya Aksa dengan suara beratnya yang melembut sekian derajat saat hanya tinggal berdua di ruangan itu.
Nadia mengangguk pelan dan memberikan senyuman tipis yang melelahkan, ia meraih buku kecilnya dan menuliskan kalimat singkat.
[Sedikit lelah, tapi hari ini... semuanya sangat indah, terima kasih.]
Aksa membaca tulisan itu, pria itu melangkah mendekat dan menghentikan jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood kembali menguar. Dengan lembut, Aksa mengangkat tangannya dan menyelipkan helaian rambut Nadia yang sedikit berantakan ke belakang telinga gadis itu.
Jemari Aksa yang hangat menyentuh kulit leher Nadia yang terbalut sisa renda gaun dan membuat sekujur tubuh gadis itu menegang, sorot mata Aksa yang tadinya dingin kini menggelap.
"Sekarang kamu adalah milikku, Nadia," ucap Aksa dengan suara beratnya yang serak dan langsung menerpa wajah gadis itu.
Tanpa menunggu jawaban, Aksa membungkuk dan mengangkat tubuh Nadia dengan mudah dalam dekapannya. Nadia terkesiap kecil, kedua lengannya secara refleks melingkar erat di leher suaminya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Aksa yang bergemuruh kencang.
Langkah kaki panjang Aksa membawa mereka meninggalkan ruang utama yang megah dan menaiki beberapa anak tangga menuju kamar tidur utama di lantai atas, kamar bernuansa abu-abu gelap dengan kaca panorama besar yang memperlihatkan kerlip lampu malam ibu kota itu menyambut kedatangan mereka.
Aksa merebahkan tubuh Nadia secara perlahan di atas tempat tidur king-size yang terhampar luas, pria itu berdiri sejenak di tepi ranjang dan melepas kemejanya dalam gerakan tergesa-gesa hingga memperlihatkan otot dada dan lengan bidangnya yang terpahat sempurna di bawah pendar lampu kamar yang temaram.
Nadia menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdegup tak beraturan, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena debaran jantung yang luar biasa kuat.
Aksa mendekat dan menempatkan kedua tangannya di sisi tubuh Nadia dan mengurung sang istri di bawah kukungan tubuhnya, wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat hingga napas hangat keduanya saling beradu.
.
.
.
Bersambung.....
coba dicas dan kabari Aksa biar nggak mikir yang aneh-aneh 🥰🥰🥰
se brutal apa pun masalah kalau istri yang utama di hati pasti langsung mentok di istri...😤
udah tua bukannya cari hidup damai malah masih mikirin harta orang...
jadi ingat temanku yang di pisahkan dari anak kandung karena keluarga pacarnya nggak merestui.bahkan ketika temanku hamil mereka ngotot minta tes DNA dulu demi membuktikan itu cucu mereka atau bukan.setelah bayi lahir malah mereka merebut hak asuhnya.uang bisa mengatur segalanya..😤