Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
— ARGA MULAI MELIHAT
Setelah kejadian malam itu, Nadira lebih banyak diam.
Ia tidak lagi membantah.
Tidak juga menjelaskan panjang lebar.
Arga yang justru merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Pagi berikutnya, sebelum berangkat kerja, Arga menghampiri Nadira.
“Aku pulang lebih cepat hari ini.”
Nadira menatapnya.
“Kenapa?”
“Ada sesuatu yang harus aku selesaikan di rumah.”
Nadira mengangguk.
“Baik.”
Arga mencium keningnya.
“Kamu jangan terlalu banyak berpikir.”
Setelah Arga pergi, Nadira kembali melakukan pekerjaannya.
Namun kali ini ia tidak sendirian.
Rani datang membawa keranjang pakaian.
“Kak, cucikan ini.”
Nadira menatapnya.
“Aku sedang memasak.”
“Nanti saja masaknya.”
“Aku tidak bisa mengerjakan semuanya sekaligus.”
Rani tersenyum sinis.
“Bukankah selama ini kamu bisa?”
Nadira menahan napas.
“Aku akan mengerjakannya setelah selesai memasak.”
Rani meletakkan keranjang itu dengan kasar.
“Jangan membuat Ibu marah.”
Nadira menatapnya.
“Aku tidak takut.”
Rani hendak menjawab, tetapi suara Bu Ratih terdengar dari belakang.
“Nadira!”
Nadira menoleh.
“Ya, Bu?”
“Setelah memasak, bersihkan kamar Rani.”
Nadira menutup matanya sebentar.
“Iya.”
Bu Ratih pergi.
Rani tersenyum puas.
Namun mereka tidak tahu…
Arga belum benar-benar pergi.
Mobilnya memang keluar dari halaman.
Tetapi beberapa menit kemudian, Arga kembali dari jalan samping.
Ia masuk melalui pintu belakang.
Dan tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.
“Kenapa kamu selalu menyuruh Nadira?” tanya Arga.
Rani langsung terkejut.
“Kak?”
Bu Ratih juga membeku.
Arga berjalan mendekat.
“Aku tanya, kenapa?”
Rani menunduk.
“Cuma membantu, Kak.”
“Bantu?”
Arga menunjuk keranjang pakaian.
“Ini juga membantu?”
Rani diam.
Arga kemudian menatap ibunya.
“Dan membersihkan kamar Rani?”
Bu Ratih mencoba tersenyum.
“Arga, jangan salah paham.”
“Aku tidak salah paham.”
Suara Arga terdengar datar.
“Aku mendengar semuanya.”
Nadira yang berada di dapur ikut keluar.
“Arga…”
Arga menoleh kepadanya.
“Kamu tahu aku kembali?”
Nadira menggeleng.
Arga mendekat.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
Nadira menunduk.
“Aku tidak mau membuatmu bertengkar dengan keluargamu.”
Arga terdiam.
Kalimat itu justru membuatnya semakin kecewa pada dirinya sendiri.
“Jadi selama ini kamu memilih diam supaya aku tidak marah?”
Nadira mengangguk.
Arga kemudian menatap ibunya dan Rani.
“Aku sudah bilang sekali.”
Tidak ada yang menjawab.
“Tidak ada lagi yang memperlakukan istriku seperti pembantu.”
Bu Ratih langsung membantah.
“Kami tidak pernah menganggapnya pembantu.”
Arga menunjuk keranjang pakaian.
“Lalu ini apa?”
“Dia hanya membantu.”
“Kalau hanya membantu, kenapa semua pekerjaan diberikan kepadanya?”
Bu Ratih terdiam.
Rani tiba-tiba berkata,
“Karena Kak Nadira harus tahu diri!”
Arga langsung menoleh.
“Apa?”
Rani menangis.
“Sejak dia datang, Kakak berubah!”
“Dan itu alasanmu memperlakukannya seperti ini?”
Rani tidak menjawab.
Arga menarik napas panjang.
“Aku tidak akan meminta kalian menyukai Nadira.”
Ia menatap ibu dan adiknya bergantian.
“Tapi kalian harus menghormatinya.”
Nadira menatap Arga.
Pria itu kemudian menghampirinya.
“Mulai sekarang, kalau ada yang menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, bilang kepadaku.”
Nadira mengangguk pelan.
Arga menggenggam tangannya.
“Aku terlambat menyadarinya.”
Nadira tersenyum kecil.
“Yang penting sekarang kamu tahu.”
Namun dari belakang mereka, Bu Ratih menatap Nadira dengan wajah penuh kebencian.
Rani juga mengepalkan tangannya.
Keduanya sadar satu hal.
Selama Arga terus membela Nadira, mereka akan semakin sulit mengendalikan keadaan.
Dan untuk pertama kalinya, Bu Ratih mulai berpikir mungkin Nadira memang harus pergi dari rumah itu.