Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
USAHA DAN RASA CANGGUNG
Sejak kepulanganku dari rumah Kaito kemarin sore, ada rasa hangat sekaligus mengganjal yang mengendap di dalam dadaku. Aku sadar, sikapku yang sempat goyah tidaklah adil bagi Haruto. Pria itu telah memperlakukanku dengan teramat baik dan tulus sejak awal. Maka hari ini, aku membulatkan tekad di dalam hati: aku harus belajar membuka hatiku sepenuhnya untuk Haruto dan berhenti mencari bayang-bayang masa lalu.
Siang itu, setelah kelas perkuliahan jam terakhir usai, Haruto menyapaku dengan senyuman paling cerah di depan pintu kelas. Ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda yang digulung rapi hingga ke siku, tampak segar dan hangat.
"Hana, cuaca sore ini sedang sangat enak," ujar Haruto penuh semangat, melangkah mendekat sambil mengambil alih tas kuliahku yang agak berat dari bahuku. "Mau jalan-jalan sebentar sebelum pulang? Ada toko buku tua yang baru buka di dekat taman kota. Katanya mereka punya koleksi novel-novel klasik yang bagus."
Aku mendongak, menatap matanya yang dipenuhi binar kepedulian. Aku tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalaku pelan.
Melihat responsku, raut wajah Haruto tampak berbinar bahagia. Ia mengulurkan tangannya perlahan, memberikan ruang bagiku untuk menyambutnya. Aku ragu sejenak, tetapi kemudian menautkan jemariku di telapak tangannya. Genggaman Haruto terasa hangat, kuat, dan penuh dengan dorongan perlindungan.
Kami menghabiskan waktu sore dengan berjalan-jalan di toko buku tua tersebut. Di antara aroma kertas lapuk dan kayu manis, Haruto dengan telaten membantuku mencari rak novel yang kucari. Ia bahkan memanjat tangga kecil hanya untuk mengambilkan sebuah buku tebal yang letaknya cukup tinggi di rak teratas.
"Ini bukunya, Hana. Jangan memaksakan diri mengambil yang tinggi-tinggi, ya," bisik Haruto manis sambil menyerahkan buku itu ke tanganku.
Aku menyunggingkan senyum tulus, mengetik cepat di layar ponselku: [Terima kasih banyak, Haruto. Kamu baik sekali.]
"Sama-sama, Hana. Selama bersamaku, kamu tidak usah khawatir tentang apa pun," jawabnya pelan sambil mengusap lembut puncak kepalaku.
Setelah dari toko buku, Haruto menemaniku naik kereta menuju stasiun dekat rumahku. Di dalam gerbong yang agak senggang, Haruto tak henti-hentinya bercerita tentang banyak hal, berusaha menghiburku agar aku tidak merasa bosan. Ia adalah sosok kekasih yang sempurna—perhatian, cekatan, dan selalu ada di sisiku. Aku berusaha menikmati momen manis ini, meresapi setiap perhatiannya sebagai awal dari perjalanan hubungan kami yang baru saja dimulai.
Setibanya di stasiun tujuan, kami melangkah bersama menuju peron keluar. Karena rumah Haruto berada di arah jalur kereta yang berbeda, perjalanan kami harus berpisah di stasiun ini.
"Hana, kamu benar-benar tidak apa-apa jalan kaki sendirian dari stasiun ke rumah?" tanya Haruto dengan raut wajah cemas saat kami berdiri di dekat pintu keluar stasiun. "Atau aku antar sampai depan gang rumahmu dulu, baru aku naik kereta balik?"
Aku tersenyum lembut, lalu menggerakkan jemariku memberi isyarat tangan sederhana yang sudah dipelajari Haruto: [Tidak perlu. Dari stasiun ke rumah dekat kok. Kamu juga harus pulang, sudah mau gelap.]
Aku lalu melanjutkan ketikan di ponselku untuk memperjelas: [Terima kasih untuk hari ini ya, Haruto. Aku senang sekali.]
Haruto menatap layar ponselku, lalu menghembuskan napas lega. Ia mengusap puncak kepalaku sekali lagi dengan lembut.
"Baiklah. Kalau sudah sampai di rumah, langsung kirim pesan padaku, ya. Jangan lupa cuci tangan dan minum air hangat," pesan Haruto hangat. "Hati-hati di jalan, Hana."
Aku mengangguk, melambaikan tangan saat Haruto berbalik melangkah menuju peron keretanya.
Aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri trotoar kompleks perumahan dari arah stasiun. Suasana sore menjelang malam itu terasa sangat damai. Dedaunan kering berguguran tertiup angin sore, menyebarkan aroma khas musim gugur yang menenangkan.
Namun, baru saja aku melangkah beberapa puluh meter menyusuri deretan pohon maple, mataku mendapati sebuah sosok tinggi yang sangat kukenal sedang berjalan lambat dari arah berlawanan.
Itu Kaito.
Kaito mengenakan sweter rajut abu-abu longgar dengan tas ransel hitam tersampir di salah satu bahunya. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah kantong kertas berisi beberapa roti tawar dari toko roti langganan kami sejak kecil.
Langkah Kaito terhenti seketika saat matanya menangkap keberadaanku. Binar matanya sedikit bergetar di balik kacamata tipisnya, terkejut menemukan aku berjalan sendirian dari arah stasiun.
Aku pun mematung di tempat. Jantungku mendadak berdesir pelan—sebuah desiran halus yang terasa begitu berbeda dengan rasa hangat yang kubagi bersama Haruto beberapa saat lalu.
Kaito kembali menguasai raut wajahnya. Ia melangkah mendekat dengan tenang, menyunggingkan senyum tipis yang sangat familier dan menenangkan.
[Hana? Baru pulang dari stasiun?] jemari Kaito menari pelan di udara, membuka percakapan dengan bahasa isyarat yang begitu halus.
Aku mengangguk pelan, mengangkat kedua tanganku untuk membalas isyaratnya: [Iya, aku baru saja dari toko buku bersama Haruto. Dia mengantarku sampai stasiun.]
Kaito memperhatikan penampilanku sejenak. Matanya tertuju pada syal di leherku yang posisinya agak miring dan longgar karena tertiup angin jalanan dari stasiun. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kaito melangkah maju satu tapak. Ia mengulurkan tangannya, merapikan lipatan syal di leherku agar menutup rapat bagian dadaku dari terpaan angin sore yang dingin.
Gerakan tangannya teramat lembut dan cermat sebuah perhatian alami tanpa sandiwara yang sudah ia lakukan selama puluhan tahun hidupnya bersamaku.
[Syalmu melonggar. Angin sore dari stasiun ini tidak bagus untuk napasmu,] isyarat tangan Kaito menjelaskan alasannya setelah selesai merapikan syalku. Tangannya ditarik kembali dengan sangat sopan.
Dadaku berdesir makin hangat. Perhatian Kaito tidak pernah menuntut respons berlebih; itu adalah refleks murni dari seorang Kaito.
[Kamu dari mana, Kaito?] tanyaku lewat gerak jari, mengalihkan rasa gugupku.
[Aku baru saja membeli roti tawar di toko Pak Anton. Sekaligus membelikan selai stroberi kesukaanmu. Tadi ibumu bilang kamu kehabisan selai di rumah,] balas Kaito sambil mengangkat sedikit kantong kertas di tangannya.
Aku tertegun. Di tengah kesibukan kuliahnya dan jarak yang berusaha ia ciptakan di kampus, Kaito masih mengingat detail kecil tentang persediaan makanan di rumahku.
[Ayo jalan pulang bersama,] ajak Kaito pelan lewat isyarat tangannya. Ia lalu menggeser posisinya, berjalan di sisi luar trotoar posisi yang selalu ia ambil sejak kami kecil untuk melindungiku dari kendaraan yang mungkin melintas dari arah jalan raya.
Kami berjalan berdampingan menyusuri jalanan dari stasiun menuju rumah. Langkah kaki Kaito menyesuaikan irama langkahku yang santai. Tidak ada suara percakapan lisan di antara kami, hanya desir angin dan ketukan sol sepatu di atas trotoar. Namun, keheningan di antara kami tidak pernah terasa canggung. Keheningan bersama Kaito selalu terasa seperti ruang aman tempat hatimu bisa beristirahat.
Sambil berjalan, jemari kami bergantian mengudara di antara langkah kaki:
[Bagaimana kuliahmu hari ini, Kaito? Tugas hukum mu sudah selesai?] tanyaku menoleh ke arahnya.
Kaito terkekeh pelan tanpa suara, matanya menyipit manis di balik kacamata. [Hampir selesai. Dosen memberi sedikit revisi pada dokumen ku, tapi tidak masalah. Bagaimana dengan harimu? Menyenangkan?]
Aku mengangguk pelan. [Menyenangkan. Haruto menemaniku mencari novel seharian ini. Dia... sangat baik padaku.]
Gerakan langkah Kaito melambat sejenak mendengar nama Haruto, tetapi senyuman lembut di wajahnya tidak pudar. Jemarinya kembali menari di udara dengan sangat tenang:
[Baguslah kalau begitu. Haruto memang pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku ikut senang melihatmu tersenyum bahagia dengannya, Hana.]
Isyarat tangan Kaito disampaikan dengan keikhlasan yang begitu tulus, tanpa ada nada cemburu atau amarah di sana. Justru ketulusan Kaito itulah yang membuat mataku terasa agak memanas. Kaito benar-benar menyayangiku dengan cara yang begitu agung—ia meletakkan kebahagiaanku di atas segalanya.
Tak terasa, langkah kaki kami sudah sampai di depan gerbang rumahku. Kaito menyerahkan kantong kertas berisi selai stroberi dan roti tawar itu ke tanganku.
[Masuklah, langsung cuci tangan dan minum air hangat,] pesan Kaito lewat gerak jarinya yang menenangkan.
[Terima kasih banyak untuk selainya dan sudah menemaniku berjalan dari jalan stasiun, Kaito,] balasku lewat isyarat tangan dengan senyuman tulus.
Kaito mengangguk pelan, mengusap puncak kepalaku sangat sebentar—sebuah sentuhan singkat namun dipenuhi oleh kehangatan yang amat mendalam.
[Selamat malam, Hana.]
Aku berdiri di balik pagar rumahku, memperhatikan punggung Kaito yang berjalan perlahan menyeberangi jalan menuju rumahnya sendiri yang berada persis di seberang rumahku.
Malam itu, saat aku berdiri di kamar sambil menatap botol selai stroberi pemberian Kaito dan tumpukan novel dari Haruto di atas meja belajar, hatiku merasakan sebuah dinamika yang membingungkan. Bersama Haruto, aku merasakan usaha dan kebaikan yang melimpah dari seorang kekasih. Namun bersama Kaito, di dalam keheningannya yang tenang, aku merasakan sesuatu yang telah berakar begitu dalam di dasar jiwaku.
Aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus berusaha menjadi kekasih yang baik bagi Haruto, tetapi di sudut batinku yang paling sunyi, aku tahu... keberadaan Kaito tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun.