Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman terhadap kontrakan
Merasa bahwa berbagai upaya sebelumnya belum cukup efektif untuk memisahkan Gilang dari kehidupan Nindi, Om Hensa memutuskan untuk mengambil langkah yang jauh lebih kejam, menyasar langsung kehidupan ekonomi keluarga Gilang yang selama ini menjadi tumpuan utama kelangsungan hidup mereka. Dia mencari tahu identitas pemilik kontrakan tempat Gilang dan ibunya tinggal, kemudian menghubungi orang tersebut secara langsung dengan tawaran yang menggiurkan.
"Pak Ahmad, saya tertarik membeli seluruh bangunan kontrakan Bapak dengan harga yang jauh di atas pasaran, dengan syarat seluruh penghuni harus segera dikosongkan dalam waktu dua minggu," ujar Om Hensa kepada pemilik kontrakan tersebut, menawarkan sejumlah uang yang sulit ditolak oleh kebanyakan orang.
Pak Ahmad, yang tergiur dengan tawaran tersebut namun juga merasa tidak enak terhadap para penyewa yang sudah bertahun-tahun tinggal di kontrakannya, mencoba bernegosiasi. "Tapi Pak, penyewa saya kebanyakan sudah lama tinggal di sini, apa nggak bisa dikasih waktu lebih lama buat cari tempat baru?"
"Maaf, Pak, tapi ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Kalau Bapak tidak setuju, saya akan cari properti lain," jawab Om Hensa dengan nada yang mulai menekan, memanfaatkan daya tarik finansial sebagai alat untuk memaksa keputusan yang menguntungkan rencananya tersebut.
Tergiur dengan tawaran yang begitu besar, Pak Ahmad akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut, memutuskan untuk memberitahu seluruh penyewa kontrakannya, termasuk Gilang dan Bu Suryani, mengenai keputusan untuk menjual bangunan tersebut dan meminta mereka mengosongkan tempat tinggal dalam waktu dua minggu.
"Gilang, maaf banget, Nak. Bapak terpaksa jual kontrakan ini, kalian harus cari tempat tinggal baru dalam dua minggu," ujar Pak Ahmad dengan nada penuh penyesalan ketika menyampaikan kabar tersebut kepada Gilang suatu sore.
Mendengar kabar mengejutkan tersebut, Gilang merasakan dunia seakan runtuh kembali menghantam kehidupannya yang baru saja mulai stabil setelah kesembuhan ibunya. "Pak, kenapa mendadak banget? Kami belum ada persiapan sama sekali buat pindah."
"Bapak juga nggak nyangka, Nak. Tiba-tiba ada orang yang nawarin harga tinggi banget, sampai Bapak nggak bisa nolak," jelas Pak Ahmad, tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi bagian dari rencana licik yang sengaja dirancang untuk menekan keluarga Gilang tersebut.
Gilang segera menceritakan kabar tersebut kepada ibunya, yang meski masih dalam masa pemulihan, langsung menunjukkan kekhawatiran yang mendalam mengenai bagaimana mereka bisa menemukan tempat tinggal baru dengan biaya yang terjangkau dalam waktu sesingkat itu.
"Bu, saya curiga banget ini ada hubungannya sama Om Hensa. Dia pasti yang bikin masalah ini," ujar Gilang dengan nada geram, mulai menghubungkan berbagai kejadian yang menimpanya belakangan ini dengan pola yang semakin jelas menunjukkan campur tangan pihak yang berkepentingan untuk menyingkirkannya dari kehidupan Nindi.
"Kalau memang benar begitu, Nak, kita harus hati-hati. Orang yang punya kekuasaan sebesar itu bisa sangat berbahaya kalau kita lawan secara langsung," nasihat Bu Suryani dengan bijaksana, meski dalam hatinya sendiri dia merasakan ketakutan yang mendalam mengenai masa depan yang begitu tidak pasti tersebut.
Gilang segera menghubungi Yoga untuk mencari bantuan mengenai kemungkinan tempat tinggal sementara, sementara pikirannya juga dipenuhi kekhawatiran mengenai bagaimana cara menyampaikan kabar buruk tersebut kepada Nindi, mengingat komunikasi mereka yang masih sangat terbatas akibat pengawasan ketat yang diterapkan pihak keluarga Prameswari.
"Yog, kontrakan saya bakal dijual, kami harus pindah dalam dua minggu. Lo tau nggak ada tempat kosong yang murah di sekitar sini?" tanya Gilang dengan nada putus asa, mempertimbangkan segala kemungkinan yang bisa membantu keluarganya dalam situasi mendesak tersebut.
"Waduh, berat banget ini, Lang. Coba nanti gue tanya-tanya ke tetangga gue, siapa tau ada kamar kosong yang bisa disewa cepat," jawab Yoga dengan penuh simpati, berjanji akan membantu semampu yang dia bisa demi meringankan beban sahabatnya tersebut.
Melalui surat yang dititipkan Karin beberapa hari kemudian, Gilang akhirnya berhasil menyampaikan kabar mengenai ancaman pengusiran tersebut kepada Nindi, yang segera merasakan kemarahan besar menyadari bahwa pamannya sendiri tega melakukan tindakan sekejam itu demi kepentingan pribadinya. "Ini keterlaluan banget! Om Hensa nggak boleh terus-terusan lakuin hal jahat kayak gini!" seru Nindi setelah membaca surat tersebut, air matanya mengalir deras memikirkan penderitaan yang harus dialami Gilang dan ibunya akibat keserakahan pamannya sendiri.
Kejadian tersebut menjadi titik balik penting bagi Nindi, menguatkan tekadnya untuk mulai mencari cara mengungkap kebenaran sesungguhnya mengenai motif tersembunyi Om Hensa, sebuah penyelidikan yang akan segera membawanya pada penemuan mengejutkan mengenai penggelapan dana yang selama bertahun-tahun disembunyikan dengan begitu rapi oleh pamannya tersebut, sebuah kebenaran yang akan mengubah segalanya bagi seluruh keluarga Prameswari.