"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"D-demi Allah..." suara Reyhan tercekik, air matanya jatuh tak terbendung membasahi ujung jubah kokonya. "H-hari ini... saya... saya jatuhkan..."
Kalimat ikrar itu menggantung pasrah di udara subuh.
Naya berdiri kaku dengan mata yang menatap lurus, bersiap menerima akhir dari ikatan satu tahun yang penuh kebohongan. Namun tepat sebelum kata pamungkas itu lolos dari kerongkongannya, Reyhan mendadak membisu. Pria itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menundukkan kepala dalam-dalam. Tubuhnya berguncang oleh isak tangis penyesalan yang tertahan, hingga beberapa detik kemudian ia kembali mengangkat wajahnya yang pucat dan memar.
Entah pikiran konyol dari mana yang tiba-tiba melintasi benaknya, Reyhan menatap Naya dengan binar keputusasaan yang mendesak.
"Abi... Umi... Naya..." bisik Reyhan parau, suaranya gemetar namun menuntut. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau saya tidak menceraikan Naya? Saya bisa berlaku adil. Saya mengajukan poligami."
Suasana ruangan seketika pecah oleh gelombang kemurkaan.
Kyai Ahmad menepuk lengan kursi jati untuk kedua kalinya hingga berdentum nyaring, wajahnya yang penuh wibawa memerah padam. Bu Nyai Khadijah bahkan menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tak menyangka putra tunggalnya yang berpendidikan Al-Azhar bisa melempar penawaran sedangkal itu di tengah kehancuran moral yang ia ciptakan sendiri.
"Reyhan! Jaga mulutmu!" bentak Kyai Ahmad, suaranya bergetar menahan malu dan amarah. "Kamu menganggap pernikahan ini main-main? Setelah kamu menyembunyikan wanita lain selama sebelas bulan, kamu mau membawa Naya masuk ke dalam lumpur yang kamu buat sendiri?!"
Naya menatap Reyhan tanpa kedipan. Rasa kasihan yang sempat tersisa di hatinya mendadak menguap, berganti dengan keprihatinan mendalam atas kedangkalan ego suaminya.
Latar belakang pendidikan psikologi yang diampunya membuat Naya paham betul apa yang sedang terjadi: Reyhan tidak sedang memperjuangkan cinta, melainkan sedang mengalami kepanikan akibat runtuhnya gambaran diri sebagai pria sempurna dan seorang Gus yang dipuja.
"Gus Reyhan," potong Naya dengan suara tenang, bening, namun berbobot sekeras batu karang. "Jangan merendahkan dirimu lebih jauh lagi. Aku menolak dipoligami. Hari ini, di hadapan Abi dan Umi, aku menuntut kamu menjatuhkan talak secara resmi."
Reyhan menggeleng keras, air matanya bercucuran melintasi pipinya yang lebam. "Tidak, Naya! Saya tidak akan menjatuhkan talak pagi ini! Kalaupun harus berpisah, saya hanya akan mengucapkannya di depan kedua orang tuamu secara langsung!"
Arsyaka yang sejak tadi menahan diri langsung berdiri dari sofa. Kakak kandung Naya itu melangkah maju dua tindak, berdiri menjulang di hadapan Reyhan dengan aura mengintimidasi yang amat pekat. Tawa sinis terpancar tipis dari sudut bibirnya.
"Meskipun pagi ini kamu tidak menjatuhkan talak," ujar Arsyaka dengan nada rendah yang menusuk, "saya tetap akan membawa Naya keluar dari ndalem detik ini juga. Kamu pikir kamu punya kuasa menahan adik saya setelah semua pengkhianatan nista ini?"
Reyhan menengadah menatap Arsyaka, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya di atas tanah basah. "Naya masih punya tanggung jawab di sini, Gus Syaka! Naya istri sah saya, dia mengajar santri-santri, dia pengurus madrasah! Dia tidak bisa keluar begitu saja dari Al-Anwar!"
Alasan itu terlontar begitu cepat dari bibir Reyhan, menjadi tameng terakhir yang ia ciptakan demi mencuri waktu. Pria itu tahu, jika Naya melangkahkan kaki keluar dari gerbang pesantren hari ini, kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan meraih kembali maaf wanita itu akan hilang selamanya.
Naya helai napas pelan. Ia menatap Reyhan dengan pandangan yang benar-benar asing.
"Mas Reyhan," ucap Naya, bicaranya amat teratur. "Aku selalu ingat bahwa aku memiliki tanggung jawab profesional sebagai ustadzah yang tidak boleh kutinggalkan begitu saja. Aku bersedia menyelesaikan seluruh tugas administrasi dan mengalihkan pengajaran madrasah kepada orang yang lebih bertanggung jawab secara bertahap. Tapi aku tidak akan tinggal satu atap lagi bersamamu."
Naya menatap mata Reyhan yang memerah rapat. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di luar komplek pondok. Dan ketika orang tuaku sudah kembali dari Malaysia, aku berharap kamu menepati ucapanmu untuk menjatuhkan talak secara resmi di depan mereka."
Pernyataan Naya mengunci rapat segala celah negosiasi.
Naya berdiri dari sofanya dengan anggun. Ia menunduk mencium tangan Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah dengan penuh takzim. Bu Nyai merengkuh Naya erat-erat, membisikkan doa dan permintaan maaf yang tak putus-putus di balik tangisnya yang pecah.
Setelah melepaskan pelukan mertuanya yang begitu mencintainya, Naya melangkah menuju pintu keluar tanpa memalingkan wajah sedikit pun pada Reyhan yang terus menangis memanggil namanya dari lantai.
Arsyaka menyambar tas travel Naya, memberikan tatapan tajam terakhir pada Reyhan dan Rani sebelum menyusul adiknya keluar dari ndalem utama.
Langkah kaki Naya dan Arsyaka membelah embun pagi Pacet. Mobil SUV hitam itu membelah jalanan berkerikil menuju sebuah rumah sewa kecil di area luar komplek santri—tempat sementara yang disiapkan Arsyaka agar Naya tetap bisa menyelesaikan peralihan tugas mengajar tanpa harus menginjakkan kaki di ndalem utama.
**
Setelah langkah kaki Naya dan Arsyaka perlahan menghilang di kejauhan, keheningan yang tersisa di ndalem utama mendadak menjadi begitu berat dan beracun.
Kyai Ahmad menarik napas panjang, meresapi rasa sesak yang menghantam dadanya. Pandangan beliau dan Bu Nyai Khadijah kini terpusat penuh pada dua insan yang masih bersimpuh di atas karpet: Reyhan dan Rani.
"Nduk," suara Bu Nyai terdengar begitu lirih, pecah oleh kepedihan yang tak tertahan.
Rani yang sejak tadi menunduk dalam-dalam segera mengalihkan pandangannya, mengangguk pelan. "Iya, Bu Nyai..."
"Sejak kapan kamu menikah dengan Reyhan?"
Rani terdiam, bibirnya gemetar tak sanggup mengeluarkan kata.
Reyhan yang akhirnya menyahut parau, menjawab mewakili. "Sebelas bulan, Mi."
Bu Nyai memejamkan matanya rapat-rapat. Bulir air mata kembali mengalir menelusuri pipinya yang pucat. "Sebelas bulan..."
Kyai Ahmad menghela napas berat, mencoba menata emosi yang hampir meledak. "Kalian menikah... setelah akad Reyhan dengan Naya?"
Reyhan semakin merapatkan keningnya mendekati lantai. "Iya, Bi."
Ruangan itu seketika terasa jauh lebih membeku. Bukan sekadar karena hembusan angin dingin dari luar, melainkan karena kebenaran tersebut membuat pengkhianatan ini semakin tak terpahami.
Kyai Ahmad menatap putra tunggalnya itu dalam durasi yang lama. "Siapa yang menikahkan kalian?"
Reyhan membisu.
"Reyhan."
"Iya, Bi..."
"Siapa?"
Laki-laki itu mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. "Seorang ustaz."
"Namanya?"
Kembali, Reyhan memilih bungkam.
Kyai Ahmad mengetukkan ujung jarinya ke atas meja jati dengan ritme teratur—sebuah tanda bahwa kesabaran beliau berada di titik nadir.
"Jawab."
Di tengah himpitan tekanan itu, Rani tiba-tiba memberanikan diri bersuara. "Jangan salahkan Gus Reyhan, Yai..."
Semua mata seketika tertuju padanya. Rani menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, menatap lantai dengan tubuh gemetar.
"Saya yang meminta."
Kyai Ahmad menatap gadis itu tajam. "Kamu?"
Rani mengangguk pelan, air matanya mulai menetes satu per satu. "Saya yang meminta Gus Reyhan menikahi saya."
Bu Nyai terlihat amat terpukul, menggeleng tak percaya. "Kenapa, Rani?"
"Karena saya mencintai beliau..." tangis Rani akhirnya pecah.
Reyhan menoleh lambat, menatap Rani. Ada sesuatu dalam tatapannya yang kini terasa sangat asing dan sulit dibaca. Bukan lagi binar cinta, bukan pula rasa ingin melindungi yang dulu selalu membakar dadanya.
Di mata Reyhan saat ini, Rani tampak seperti cermin yang memantulkan kebodohannya sendiri—sebuah keputusan impulsif yang baru saja menghancurkan seluruh hidupnya.
"Saya tidak pernah ingin merebut Ning Naya," lanjut Rani menyela di antara isaknya.
Kyai Ahmad langsung memotong tegas, "Tapi kamu menikah dengan suami orang."
Rani bungkam.
"Saya hanya ingin hubungan kami halal, Yai..." cicit Rani pelan.
"Halal tidak berarti boleh dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan mengkhianati akad yang baru saja dilakukan!" Suara Kyai Ahmad tetap rendah dan tertahan, namun ketegasannya menghantam dada siapapun yang mendengar.
"Apakah Naya tahu?"
Rani menggeleng pelan.
"Reyhan?"
Reyhan menunduk makin dalam. "Tidak."
"Jadi selama hampir satu tahun, kalian membiarkan Naya hidup dalam kebohongan?"
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menjawab.
Kyai Ahmad berdiri dari kursinya. "Siapa yang menikahkan kalian?"
Reyhan menelan ludah dengan susah payah. "Namanya... Ustaz Farid."
Kyai Ahmad memejamkan mata sesaat, meraba kekecewaan yang tak terkira. "Jujur, Abi kecewa sama kamu, Reyhan."
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Kyai Ahmad membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.
"Mbak Zaenab..." Dengan sisa tenaga yang ada, Bu Nyai Khadijah memanggil pengurus ndalem yang berdiri cemas di dekat lorong.
"Iya, Bu Nyai," Mbak Zaenab mendekat dengan sikap takzim.
"Siapkan kamar di lantai satu, ya. Pindahkan semua barang-barang Gus Reyhan ke lantai satu... karena sekarang kamar Gus Reyhan di bawah."
"Nggeh, Bu Nyai."
Bu Nyai Khadijah kemudian mengalihkan pandangannya pada Rani yang masih menundukkan kepala dalam-dalam. "Kemasi barang-barangmu, Nduk. Bagaimanapun sekarang kamu adalah istri Reyhan, jadi kalian bisa tinggal di kamar yang sama."
"Nggeh, Bu Nyai," Rani mengangguk patuh meski ada keraguan yang menyelinap di benaknya.
"Mbak Zaenab, bantu aku ke kamar, ya." Bu Nyai Khadijah akhirnya dipapah masuk ke kamar karena kondisi fisiknya yang mendadak drop akibat guncangan emosi.
Tinggallah Reyhan yang bersimpuh sendirian di tengah ruangan bersama Rani yang masih berlutut tak jauh darinya.
Reyhan memegang dadanya yang mendadak terasa ngilu teramat sangat. Kepergian Naya meninggalkan kekosongan yang begitu masif—sebuah rasa kehilangan yang baru sekarang menghantamnya tanpa ampun. Bayangan senyum tenang Naya, kelembutan bicaranya, dan ketegaran matanya saat berpamitan tadi terus berputar di kepalanya bagaikan mimpi buruk.
"Gus..." suara Rani memecah hening, terdengar bergetar ketakutan. "Bagaimana dengan kita? Nanti kalau santri-santri tahu soal pernikahan siri ini... saya harus bagaimana?"
Reyhan menoleh lambat. Untuk pertama kalinya, pria itu menatap Rani tanpa ada lagi kehangatan. Di matanya kini, sosok Rani hanyalah pengingat atas kebodohan dan kehancuran hidupnya sendiri.
"Kamu kembali ke asrama, Rani," ujar Reyhan dingin, suaranya parau tanpa jiwa. "Kemasi barang-barangmu seperti apa yang Umi katakan. Dan mungkin untuk sementara aku akan tinggal di ndalem timur sampai Abi memanggil kita lagi."
Rani tercekat, wajah polosnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Jadi... Gus Reyhan akan membiarkan saya tinggal di ndalem utama sendirian?"
"Kita butuh waktu untuk menenangkan pikiran. Mari kita berpikir dulu sejenak," balas Reyhan singkat tanpa menatap mata Rani.
Rani terpaksa bangkit dan melangkah kembali ke asrama putri dengan dada bergemuruh, sementara Reyhan memilih berjalan gulai menuju ndalem timur.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah