Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Ketika Kesetiaan Dipertanyakan
Mellisa kembali ke kantornya dengan wajah yang begitu sumringah. Bahkan sepanjang perjalanan, tangannya beberapa kali terangkat untuk menyentuh pipinya sendiri, seolah masih bisa merasakan kecupan kecil Handoko yang baru saja diberikan kepadanya.
Senyumnya tak kunjung hilang. "Ya Allah, Mas..." gumamnya pelan sambil tersenyum malu. "Kecupanmu membuatku panas dingin."
Ia terkikik kecil seorang diri. Pertemuan mereka yang hanya berlangsung kurang lebih satu jam itu ternyata mampu mengubah suasana hatinya secara drastis.
"Bersamamu kembali setelah sekian lama berpisah..." Mellisa menarik napas panjang, lalu tersenyum. "Membuat hidupku berwarna lagi."
Tatapannya menerawang ke depan. "Semoga saja kita dipersatukan kembali seperti dahulu, Mas."
Ada harapan yang diam-diam kembali tumbuh di dalam hatinya.
Padahal beberapa jam sebelumnya, suasana hatinya sedang buruk. Beberapa karyawan bahkan sempat terkena tegurannya hanya karena melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang sebenarnya tidak terlalu fatal.
Namun kini semuanya terasa berbeda. Seolah pertemuan dengan Handoko telah menghapus seluruh kekesalan itu.
Begitu mobilnya memasuki pelataran parkir kantor, Mellisa mematikan mesin. Ia mengambil tasnya, turun dari mobil, lalu berjalan menuju gedung kantor dengan langkah ringan.
Senyum mengembang di wajahnya. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya sampai saling melirik.
"Eh, lihat deh," bisik salah seorang karyawan.
"Kenapa?"
"Bu Melli mood-nya langsung bagus setelah keluar kantor."
Temannya ikut melirik ke arah Mellisa yang kini berjalan sambil tersenyum. "Iya, ya. Tadi pagi mukanya tegang banget."
Seorang karyawan lain ikut nimbrung dengan nada menggoda. "Sepertinya Bu Melli sedang jatuh cinta."
"Kayaknya iya."
Mereka menahan tawa. "Perubahannya drastis banget."
Yang lain memperhatikan penampilan Mellisa dari kejauhan. "Dan lihat bajunya."
"Kenapa memang?"
"Kayaknya makin keren dan elegan."
Mereka kembali tertawa kecil. "Fix," celetuk salah satunya. "Ini pasti habis ketemu seseorang."
Sementara itu, Mellisa sama sekali tidak menyadari bisik-bisik para karyawannya. Ia terus berjalan menuju ruangannya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Hatinya kembali terasa berbunga-bunga. Dan satu nama terus berputar-putar di kepalanya. **Handoko.**
***
Sore itu, Pratiwi bersiap meninggalkan klinik setelah menyelesaikan praktiknya sebagai psikolog. Di sampingnya, Fatma, sahabatnya yang berprofesi sebagai psikiater, juga sedang bersiap pulang. Kebetulan mobil Fatma harus masuk bengkel, sehingga sore itu ia ikut menumpang bersama Pratiwi.
Begitu mereka keluar dari gedung klinik, Pratiwi langsung menuju mobilnya. Setelah duduk, dia melirik sahabatnya. "Sepertinya hari ini pasienmu banyak, Dok."
Fatma menghela napas sambil memasukkan ponselnya ke dam tasnya. "Iya, banyak banget, Wi. Dan pasienku hari ini kebanyakan korban laki-laki."
Pratiwi yang sudah duduk di balik kemudi, dan bersiap menyalakan mesin, langsung menoleh. "Maksudnya?"
"Maksudku, banyak pasien yang datang karena mengalami guncangan jiwa akibat masalah rumah tangga. Suami mereka selingkuh, bahkan beberapa mengalami KDRT."
Pratiwi terdiam sejenak. "Wah, kok sama, ya, Dok?"
Ia menyalakan mesin mobil, lalu melanjutkan dengan nada prihatin. "Hari ini aku menangani delapan wanita. Tujuh di antaranya datang karena masalah perselingkuhan."
Fatma menoleh. "Serius?"
Pratiwi mengangguk. "Iya. Aku sampai bertanya-tanya, sudah separah itu, ya, arti kesetiaan buat sebagian orang?"
Ia menarik napas panjang sebelum mulai menceritakan beberapa kasus yang ditemuinya hari itu.
"Klienku yang pertama, suaminya selingkuh dengan cinta pertamanya. Mereka katanya bertemu lagi setelah bertahun-tahun."
Fatma hanya mengangguk.
"Yang kedua, suaminya selingkuh dengan teman sekantor. Awalnya cuma sering curhat, ngobrol soal pekerjaan, lama-lama kebablasan."
Pratiwi menggeleng pelan.
"Klienku yang ketiga, suaminya selingkuh dengan teman SMA-nya. Mereka bertemu kembali di acara reuni setelah sekian lama nggak bertemu."
Fatma mulai memperhatikan.
"Yang keempat lebih parah. Suaminya malah selingkuh dengan adik iparnya sendiri."
"Astaghfirullah..." Fatma spontan berkomentar.
"Dan sisanya?" tanyanya.
"Alasannya macam-macam. Ada yang bilang sudah bosan dengan istrinya. Ada yang merasa rumah tangganya sudah tidak seperti dulu. Dan ada pula ingin merasakan daun muda."
Pratiwi tertawa hambar.
"Padahal kalau memang ada masalah dalam rumah tangga, kan bisa dibicarakan. Bukan malah mencari orang lain."
Fatma mengangguk setuju. "Iya. Fenomena seperti itu memang semakin sering kita temui. Yang bikin miris, sebagian pelakunya bahkan seolah merasa tidak melakukan kesalahan besar. Paling cuma minta maaf sekadarnya, lalu berharap semuanya selesai."
Pratiwi terdiam. Tatapannya lurus ke depan, sementara tangannya masih berada di kemudi.
"Kasihan pasangan mereka."
"Iya."
Pratiwi kemudian menghela napas. "Semoga kita dijauhkan dari suami-suami toxic macam itu, ya, Dok."
Fatma tersenyum kecil. "Aamiin."
Keduanya kemudian terdiam. Mobil mulai meninggalkan area klinik, melaju perlahan menuju jalan utama.
"Pekan lalu, ada pasienku yang sampai menangis histeris, bahkan menjerit-jerit di ruang praktik,” ujar Fatma sambil menghela napas. "Dia merasa sudah menemani suaminya dari nol. Waktu suaminya belum punya apa-apa, dia ada di sampingnya. Dia ikut membantu, mendukung, bahkan berjuang sampai suaminya berhasil menjadi anggota dewan. Tapi begitu terpilih, suaminya malah selingkuh dengan rekan sesama anggota dewan.”
Fatma menggeleng pelan.“Siapa yang nggak histeris kalau diperlakukan seperti itu?”
Pratiwi yang duduk di balik kemudi mengangguk. "Miris sekali.”
"Bukan cuma itu,” lanjut Fatma. “Aku juga punya klien yang sudah berkali-kali dikhianati suaminya. Berkali-kali, Wi. Tapi dia tetap bertahan dengan alasan anak.”
Pratiwi menoleh sekilas, lalu kembali memusatkan pandangan ke jalan.
"Aku sudah bilang kepadanya, kalau memang suaminya sudah tidak bisa diperjuangkan, ya sudah… mundur. Jangan terus memaksakan sesuatu yang justru semakin menghancurkan dirinya sendiri.”
Fatma terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Anak-anak juga butuh lingkungan yang sehat. Jangan sampai mereka tumbuh dengan melihat kedua orang tuanya bertengkar setiap hari. Lebih parah lagi kalau mereka sampai menyaksikan kekerasan di dalam rumah sendiri. Kadang orang tua berpikir, bertahan demi anak ituTentu. Saya rapikan dialognya supaya lebih natural, emosional, dan tetap terasa seperti percakapan dua sahabat yang sama-sama memahami dunia psikologi dan psikiatri. Saya juga memperbaiki beberapa salah ketik dan membuat pertanyaan Fatma kepada Pratiwi terasa lebih mengena. selalu menjadi pilihan terbaik. Padahal belum tentu.”
"Iya,” sahut Pratiwi pelan. “Biasanya perempuan yang memilih bertahan meskipun terus-menerus disakiti juga punya alasan lain. Salah satunya masalah ekonomi. Mereka mungkin sudah tidak bahagia, hatinya sudah berkali-kali terluka, tapi selama kebutuhan hidup masih dipenuhi, mereka merasa tidak punya pilihan lain.”
Pratiwi menghela napas. "Ironis memang. Kadang seseorang bertahan bukan karena masih mencintai, tapi karena merasa tidak sanggup hidup sendirian.”
Fatma mengangguk. Mobil terus melaju membelah jalan sore yang mulai ramai. Percakapan mereka sempat terhenti beberapa saat, sampai tiba-tiba Fatma menoleh kepada Pratiwi.
"Kalau hal seperti itu sampai menimpamu, Wi…” Fatma sengaja menggantung kalimatnya. “Kamu akan tetap bertahan atau memilih mundur?”
Pertanyaan itu membuat Pratiwi spontan menoleh.
"Naudzubillah!” serunya cepat. “Jangan berandai-andai begitu, Dok. Nggak enak ah.”
Fatma langsung tertawa melihat reaksi sahabatnya.“Lho, aku cuma bertanya.”
"Pertanyaanmu itu doa buruk namanya.”
"Ya ampun, Wi. Kamu serius banget.”
"Ya iyalah. Aku nggak mau membayangkan yang begitu-begitu.”
Fatma kembali tertawa kecil. Pratiwi hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Mereka pun kembali berbincang tentang berbagai hal, membiarkan perjalanan sore itu terasa lebih singkat.
Hingga beberapa menit kemudian, mobil Pratiwi akhirnya berhenti tepat di depan rumah Fatma.
Fatma membuka pintu dan turun dari mobil.
"Terima kasih ya, Wi. Sudah mengantarkan.”
"Iya sama-sama.”
Fatma menutup pintu mobil, lalu berdiri di depan pagar sambil melambaikan tangan.
Pratiwi membalas lambaian itu dengan senyum. Setelah memastikan sahabatnya masuk ke dalam rumah, ia pun kembali menjalankan mobilnya, tanpa menyadari bahwa pertanyaan Fatma tadi diam-diam masih terngiang di kepalanya.