Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Ceklek.
Reyhan masuk ke dalam ruang arsip.
Ruangan itu sangat luas, pengap, dan dipenuhi oleh ratusan rak besi berdebu yang berisi tumpukan dokumen kertas.
Tidak ada sinyal ponsel di sini.
"Sempurna."
Reyhan meletakkan tasnya di atas meja kerja yang ada di dekat pintu.
Ia tidak langsung mencari dokumen rahasia.
Selama empat jam penuh, ia benar-benar bekerja memilah dan menyusun dokumen-dokumen biasa sesuai urutan abjad.
Ini adalah bentuk kehati-hatian tingkat tinggi.
Ia tahu CCTV di ruangan ini pasti diawasi oleh seseorang.
Jika ia langsung membongkar laci rahasia, penyamarannya akan langsung terbongkar dalam hitungan menit.
Pukul dua belas siang, petugas kebersihan masuk untuk mengambil sampah.
"Lembur, Mas Dimas?" sapa bapak petugas kebersihan itu.
"Eh, iya, Pak."
"Banyak banget yang berantakan, mau saya beresin sekalian biar nanti nggak numpuk," jawab Reyhan ramah.
Setelah bapak itu pergi, Reyhan tahu bahwa jam makan siang adalah saat pengawasan CCTV paling longgar.
Ini saatnya bergerak.
Reyhan berjalan menuju deretan rak paling belakang yang kondisinya paling berdebu.
Instingnya mengatakan ada yang salah dengan penempatan rak-rak di barisan ini.
Ia meraba bagian belakang rak nomor 404.
Sret.
Jari Reyhan menyentuh sebuah celah kecil yang tersembunyi di balik lapisan besi rak tersebut.
Ia menekan celah itu cukup kuat.
Klak!
Sebuah laci rahasia kecil tiba-tiba terbuka dari dalam rak.
Reyhan menahan napasnya.
Di dalam laci itu terdapat sebuah flashdisk berwarna hitam pekat dan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit merah.
Ia segera mengambil flashdisk itu dan menyambungkannya ke laptop kecil yang ia bawa di dalam tas ranselnya.
"Ayo, buka," gumam Reyhan tidak sabar.
Layar laptop menampilkan deretan folder yang semuanya dikunci dengan sandi.
Reyhan tidak pandai meretas, tapi Alena sudah membekalinya dengan program peretas otomatis buatan temannya.
Ia menjalankan program itu.
Proses peretasan berjalan cukup lambat.
Reyhan terus melirik ke arah pintu dan jam tangannya.
Dua menit berlalu.
Ting!
Folder pertama berhasil terbuka.
Mata Reyhan membelalak lebar saat membaca isi dokumen di dalamnya.
Itu adalah data transfer dana dari Yayasan Pelita Hati ke berbagai rekening anonim.
Dan yang paling mengejutkan, ada nama Hendra Setiawan dan Hakim Sudarsono di dalam daftar penerima dana tersebut.
"Jadi selama ini yayasan amal ini menyuap hakim dan pengusaha kotor untuk melancarkan bisnis gelap mereka?"
Reyhan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dan pembunuh itu tahu soal ini."
"Pembunuh itu menghabisi orang-orang yang menerima uang kotor dari yayasan ini."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar sangat jelas mendekati pintu ruang arsip.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kakinya berat dan tegas, bukan langkah kaki karyawan biasa.
Reyhan langsung mencabut flashdisk itu dari laptopnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
Ia menutup laptopnya dan berlari pelan menuju mejanya.
Ceklek!
Pintu ruang arsip terbuka lebar.
Seorang pria tinggi besar dengan setelan jas mahal berdiri di ambang pintu.
Wajahnya keras dan memiliki codet kecil di pelipis kirinya.
Di belakang pria itu, berdiri dua orang penjaga bertubuh kekar.
"Kamu anak magang baru itu?" suara pria itu menggema di ruangan yang sepi.
Reyhan buru-buru berdiri dari kursinya dengan wajah sangat panik, kembali ke peran Dimas si culun.
"I... iya, Pak."
"Saya Dimas."
"Bapak siapa, ya?"
Pria bercodet itu tersenyum dingin.
"Saya Bram."
"Ketua keamanan yayasan ini."
Bram berjalan mendekati meja Reyhan sambil menatap tajam dari atas ke bawah.
"Ruang arsip ini seharusnya ditutup saat jam makan siang."
"Kenapa kamu masih di sini?"
"Saya... saya cuma mau menyelesaikan susunan dokumen dari tahun 2020, Pak."
"Biar besok kerjaan saya agak ringan," jawab Reyhan dengan suara gemetar yang sangat meyakinkan.
Bram menatap mata Reyhan cukup lama dari balik kacamata tebal itu.
Insting pembunuh di dalam diri Reyhan memberitahunya bahwa pria di depannya ini pernah membunuh orang.
Aura kekerasan yang menguar dari tubuh Bram sangat kental.
"Rajin sekali," puji Bram, tapi nadanya penuh dengan nada ancaman.
Bram tiba-tiba menggebrak meja kerja Reyhan dengan keras.
Brak!
Reyhan pura-pura terkejut setengah mati sampai kacamatanya miring.
"Aduh, maaf, Pak!"
"Kalau saya salah, saya akan keluar sekarang juga."
Bram mendengus pelan dan merapikan jasnya.
"Tidak perlu."
"Lanjutkan saja kerjamu."
"Tapi ingat, jangan pernah menyentuh rak di barisan paling belakang."
"Itu dokumen pribadi yayasan, bukan urusan relawan sepertimu."
"Mengerti?"
"Mengerti, Pak Bram! Sangat mengerti!"
Bram berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan itu diikuti kedua pengawalnya.
Namun sebelum pintu benar-benar ditutup, Bram menoleh sedikit ke arah Reyhan.
"Dimas."
"Kerja yang bagus."
"Tapi kalau aku melihatmu melakukan hal mencurigakan..."
"Kau tidak akan pernah keluar dari basement ini hidup-hidup."
Pintu ruang arsip akhirnya tertutup rapat.
Reyhan menghela napas sangat panjang sampai kakinya terasa lemas.
Keringat dingin membasahi punggung kemejanya.
[Ding! Misi Penyamaran Berhasil!]
[Evaluasi: Penyamaran sempurna di bawah tekanan tinggi.]
[Hadiah didistribusikan: Skill Manipulasi Pikiran (Tingkat Dasar) berhasil ditambahkan.]
[Peringatan: Keberadaan Host telah memicu kecurigaan tingkat rendah dari Ketua Keamanan.]
Reyhan menelan ludahnya pelan.
"Bram itu jelas komplotan dari orang-orang kotor di yayasan ini."
"Dan aku harus segera membawa flashdisk ini ke Alena sebelum mereka sadar ada yang mencurinya."
Reyhan mengemas barang-barangnya dengan cepat.
Ia tidak bisa lama-lama berada di gedung ini, bahayanya terlalu besar.
Apalagi sekarang ia punya petunjuk krusial tentang motif asli sang pembunuh bertopeng hitam.