Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SARANG SERIGALA DI PEGUNUNGAN UTARA
Gemercik air hujan yang menerpa dedaunan pinus perlahan menyamarkan derap langkah kuda yang melesat membelah kabut tebal Pegunungan Utara. Di bawah kegelapan malam yang pekat, sebuah gerbang batu yang menyatu dengan dinding tebing perlahan terbuka. Di balik gerbang tersembunyi itulah terletak Lembah Bayangan markas rahasia sekaligus pusat kekuatan militer terlarang milik Long Junwei.
Long Junwei melompat turun dari kuda hitamnya dengan gerakan yang tetap kokoh, meski jubah militernya kini basah kuyup oleh air hujan bercampur darah. Di dalam dekapan lengannya, tubuh Rulan tampak begitu rapuh. Wajah porselen sang putri tampak pucat pasi, napasnya pendek-pendek akibat kehabisan energi internal setelah bertarung habis-habisan di gerbang kota.
"Panggil Tabib Agung sekarang juga!" perintah Junwei dengan suara baritonnya yang menggelegar di lorong batu.
Beberapa pelayan berpakaian hitam segera membungkuk dan berlari menjemput tabib. Junwei membawa Rulan masuk ke dalam kediaman utamanya yang terbuat dari pahatan batu giok hitam, membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas ranjang yang dilapisi bulu rubah putih yang hangat.
Tidak lama kemudian, seorang tetua tabib berambut putih masuk dengan tergesa-gesa. Setelah memeriksa denyut nadi Rulan dan membersihkan luka panah di bahunya, sang tabib menghela napas panjang sembari mengelus janggutnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Junwei, matanya tidak lepas dari wajah Rulan yang masih terpejam.
"Melapor kepada Yang Mulia, Nona Gu menderita luka luar yang cukup banyak, namun yang paling mengkhawatirkan adalah gejolak energi internalnya," jelas Tabib Agung. "Racun lama dari Pil Pembakar Jiwa yang bereaksi dengan benturan keras selama pertempuran tadi malam telah mengacaukan aliran darahnya. Beruntung jiwanya sangat kuat. Hamba akan meracik obat penenang meridian, namun beliau membutuhkan istirahat total setidaknya selama tiga hari."
"Lakukan yang terbaik. Jika terjadi sesuatu padanya, kepalamu taruhannya," ucap Junwei dingin.
Setelah semua orang keluar dari ruangan, Junwei duduk di tepi ranjang. Jemarinya yang kasar perlahan menyentuh kening Rulan yang terasa hangat karena demam. Di dalam permainan catur yang ia mainkan selama bertahun-tahun, ini adalah pertama kalinya ia merasa cemas akan keselamatan sebuah 'bidak'. Rulan bukan lagi sekadar senjata baginya, melainkan satu-satunya orang yang mampu memahami dinginnya kegelapan dunia yang mereka tinggali.
Tiga hari kemudian.
Cahaya matahari pagi yang samar berhasil menembus celah jendela batu, menerangi kamar Rulan. Perlahan, sepasang mata jernih itu terbuka. Rasa sakit yang membakar tubuhnya kini telah mereda, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir tenang di sepanjang meridian darahnya.
Rulan mencoba duduk, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal bulu. Pandangannya langsung tertuju pada sesosok pria yang sedang berdiri membelakanginya di dekat meja kerja yang dipenuhi gulungan perkamen.
"Anda tidak tidur sepanjang malam?" tanya Rulan, suaranya masih agak lemah namun tidak kehilangan ketegasannya.
Long Junwei membalikkan badannya. Sepasang mata elangnya menatap Rulan, dan kilat kelegaan yang sangat tipis melintas di wajahnya yang tegas. Ia melangkah mendekat, membawa semangkuk bubur herbal yang masih mengepulkan uap hangat.
"Seorang jenderal tidak memiliki kemewahan untuk tidur nyenyak di tengah badai, teratai kecilku," ucap Junwei, meletakkan mangkuk itu di meja kecil di samping ranjang. "Bagaimana perasaanmu?"
"Jauh lebih baik," Rulan melirik bahu kanannya yang kini telah dibalut kain kasa bersih. "Bagaimana situasi di ibu kota? Apa yang dilakukan Perdana Menteri dan Kaisar setelah kematian Li Feng dan Meili?"
Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Junwei berubah kaku dan dingin. Ia menarik sebuah kursi kayu hitam dan duduk di hadapan Rulan. "Ibu kota berada dalam darurat militer total. Perdana Menteri Shen memanfaatkan kematian putrinya untuk memicu kemarahan publik. Kaisar telah mengeluarkan dekret emas: identitas 'Gu Rulan' dinyatakan sebagai pengkhianat negara tingkat tinggi, dan seluruh pasukan kavaleri berat kekaisaran telah dikerahkan untuk memburu kita."
Junwei menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah Rulan. "Namun, ada satu hal yang menarik. Sesuai perkiraanmu, kematian Li Feng membuat faksi militer keluarga Jenderal Besar kehilangan pemimpin utamanya. Pasukan mereka di barak kini terpecah menjadi dua kubu. Sebagian besar prajurit tua menolak mematuhi perintah Perdana Menteri untuk melakukan pengepungan ke utara."
Sebuah senyuman dingin yang sarat akan intrik perlahan terukir di bibir pucat Rulan. "Prajurit tua keluarga Li... kebanyakan dari mereka adalah mantan bawahan mendiang ibuku, Selir Lin, sebelum ibuku dipaksa masuk ke istana belakang. Mereka setia kepada darah, bukan kepada jabatan."
Rulan menurunkan kakinya dari ranjang, berdiri meski tubuhnya masih sedikit goyah. Ia berjalan mendekati jendela batu yang menyajikan pemandangan seluruh Lembah Bayangan. Di bawah sana, ribuan prajurit berbaju hitam sedang berlatih dengan disiplin yang mengerikan.
"Waktunya telah tiba, Yang Mulia," Rulan menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata Long Junwei. "Kita tidak bisa lagi bermain dari balik bayang-bayang. Jika kaisar ingin memburu kita sebagai pemberontak, maka kita akan memberi mereka sebuah pemberontakan yang sesungguhnya."
"Apa rencanamu?" Junwei menaikkan sebelah alisnya, tertarik dengan binar ambisi yang kembali menyala di mata wanita di hadapannya.
"Aku akan menulis surat rahasia menggunakan segel darah ibuku kepada para jenderal tua di barak barat," Rulan mengepalkan tangannya dengan erat. "Aku akan mengungkap kebenaran bahwa Kaisar Han dan Permaisuri-lah yang meracuni ibuku dulu, dan bahwa mereka pula yang mencoba melenyapkanku di Paviliun Anggrek. Begitu faksi militer barat membelot kepada kita, kita akan memiliki kekuatan yang cukup untuk merebut gerbang ibu kota."
Junwei berdiri, melangkah mendekati Rulan hingga jarak di antara mereka begitu dekat. Ia bisa mencium aroma harum tanaman herbal yang melekat pada tubuh wanita itu. "Rencana yang sangat berani. Namun, kau tahu risikonya, bukan? Begitu identitasmu sebagai 'Putri Kesembilan' yang hidup kembali menyebar, kau akan menjadi target utama dari setiap pembunuh bayaran di seluruh kekaisaran."
"Aku sudah mati sekali di dasar tebing itu, Yang Mulia," Rulan mengangkat wajahnya, menatap Junwei dengan tatapan menantang yang tidak kenal takut. "Kematian kedua kalinya tidak akan menakutiku, asalkan aku bisa menyeret Kaisar turun dari singgasananya yang berdarah itu."
Long Junwei menatap wanita di hadapannya dengan kekaguman yang mendalam. Tekad dan keberanian Rulan adalah hal yang paling memikat jiwanya. Perlahan, Junwei mengangkat tangannya, mencengkeram lembut dagu Rulan, memaksanya untuk terus menatap mata elangnya.
"Maka aku akan menjadi perisaimu, Xianle," bisik Junwei, menyebut nama aslinya untuk pertama kali dengan nada yang sangat intim. "Pasukan Bayanganku akan menjadi pedangmu. Kita akan berbaris menuju ibu kota bersama-sama. Dan setelah semua ini berakhir... singgasana emas itu akan menjadi milik kita."
Pertemuan dua jiwa yang dipenuhi dendam dan ambisi gila ini mengunci takdir Kekaisaran Han. Badai besar yang sesungguhnya baru saja bergeser dari intrik kamar istana menuju medan perang yang sesungguhnya.