Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Bab 18: Hari Duka Ibu Kota, Warisan Bintang Terperosok, dan Benih Takdir Baru
Pengumuman resmi dari Istana Kerajaan menyebar bagaikan api liar yang membakar padang rumput kering. Dalam hitungan jam, warta duka yang disampaikan oleh Penyihir Terkuat Alistair mengguncang seluruh pelosok Kerajaan. Panji-panji hitam berlambang belasungkawa dikibarkan setengah tiang di sepanjang dinding benteng ibu kota, menutupi keceriaan kota yang biasanya bising oleh lalu lalang pedagang.
Hari itu, langit di atas ibu kota diselimuti awan kelabu mendung, seolah alam turut berbelasungkawa atas gugurnya sosok pemuda yang pernah menggetarkan benua.
Di alun-alun utama Kerajaan, tepat di depan bekas reruntuhan Penjara Kehampaan, Raja memerintahkan pembangunan sebuah monumen monolit batu pualam hitam setinggi sepuluh meter. Sebuah Makam Penghormatan Tanpa Jasad didirikan secara megah di atas podium kehormatan.
Ribuan warga masyarakat, siswa akademi, hingga rakyat jelata berbaris rapi di bawah guyuran gerimis tipis. Mereka yang dahulu memuja sosok Hantu Bertopeng—sang penyelamat tersembunyi yang menumbangkan faksi kegelapan—berdiri tertunduk dengan derai air mata.
"Dia bukan iblis... Dia adalah pelindung kita!"
"Mengapa para Dewa begitu kejam mengambil nyawa pemuda sehebat itu?!"
"Hantu Bertopeng... Kami tidak akan pernah melupakan jasamu!"
Isakan tangis bergema di sepanjang alun-alun, menyatu dengan gemuruh angin dingin yang berembus pelan.
Di barisan paling depan podium monumen, berdiri para anggota Keluarga Pendragon.
Julius Pendragon, sang Kepala Keluarga, berdiri kaku dengan wajah pucat dan mata yang sembap merona merah. Pria paruh baya yang biasanya memancarkan wibawa ketegasan itu kini terlihat begitu rapuh. Di dalam dekapan kedua tangannya, ia memeluk sebuah kotak kayu cendana berukir emas.
Di dalam kotak tersebut berbaring Topeng Besi Hitam milik Wiliam yang telah direkatkan kembali dengan lelehan perak, serta Pedang Jiwa Kehampaan yang kini telah dibersihkan dari sisa-sisa noda darah.
"Wiliam... Putraku..." bisik Julius dengan suara yang patah-patah, air mata hangat mengalir deras melintasi pipinya yang keriput. "Maafkan ayah... Maafkan ayah yang terlalu buta oleh gengsi dan kebencian masa lalu... Maafkan ayah yang baru menyadari betapa besarnya beban yang kau pikul sendirian di dalam kegelapan..."
Penyesalan yang membakar sanubari Julius begitu menyiksa. Ia teringat bagaimana dahulu ia menyia-nyiakan Wiliam, menganggapnya sebagai anak tak berguna, hingga akhirnya pemuda itu harus mengorbankan segalanya demi melindungi nama keluarga dan keamanan Kerajaan.
Julius melangkah perlahan mendekati monumen batu pualam. Dengan tangan yang gemetaran, ia meluruskan Pedang Jiwa Kehampaan milik Wiliam, lalu dengan satu dorongan penuh emosi, ia menancapkan pedang tersebut dalam-dalam ke dalam fondasi batu monumen!
CLANG!
Gema pedang yang tertancap di atas pualam menyayat hati setiap orang yang mendengarnya. Julius kemudian mengambil Topeng Besi Hitam yang telah diperbaikinya dengan penuh kasih sayang, lalu meletakkannya dengan lembut di gagang pedang tersebut.
"Pedang ini dan topeng ini... akan menjadi saksi abadi keberadaanmu di dunia ini, Nak," ucap Julius seraya berlutut di depan makam, menempelkan dahinya ke dinginnya batu pualam seraya menangis terisak-isak tanpa peduli lagi pada martabat seorang bangsawan tinggi. "Ayah berjanji... nama Pendragon akan selalu menjaga warisan suci yang kau tinggalkan!"
Di samping Julius, dua sahabat terdekat Wiliam—Leo dan Reno—terduduk di atas lutut mereka.
Leo mencengkeram tanah basah kencang-kencang, membiarkan lumpur mengotori jemarinya. Air matanya menetes tak terhitung jumlahnya ke atas tanah. "Kau pembohong, Wiliam...! Kau bilang kau akan selalu menang! Kau bilang kau akan melampaui semua orang! Mengapa kau menyerah pada petir sialan itu?! Siapa lagi yang akan mengejek latihan konyolku kalau bukan kau, dasar bodoh?!"
Reno memeluk bahu Leo yang berguncang hebat, sementara matanya sendiri terus memuntahkan air mata tanpa henti. "Wiliam... Kau adalah saudara kami... Tanpamu, Akademi ini tidak ada artinya lagi bagi kami..."
Sementara itu, Julius Jr., kakak tertua Wiliam yang baru saja resmi menyelesaikan kelulusannya dari Akademi Sihir Kerajaan dengan predikat terbaik, berdiri tegap di samping makam. Mengenakan jubah penjelajah baru berwarna kelam, matanya memancarkan tekad yang membara di balik genangan air matanya.
Julius Jr. mengepalkan tangannya di dada, menatap topeng adik kandungnya.
"Wiliam..." bisik Julius Jr. dengan nada penuh penegasan. "Mulai hari ini, aku tidak akan mengambil posisi sebagai pejabat Kerajaan atau komandan militer. Aku telah memutuskan untuk menjadi seorang Penjelajah Bebas."
Ia menarik napas panjang, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya. "Aku akan menjelajahi seluruh sudut benua ini, menyeberangi lautan, melintasi gurun dan pegunungan purba... Aku akan menyuarakan namamu, menceritakan kisah keberanianmu, dan memastikan seluruh dunia tahu bahwa pahlawan teragung yang pernah lahir dari Kerajaan ini bernama Wiliam Pendragon!"
Tak jauh dari situ, Hector, adik laki-laki Wiliam yang kini telah berada di tingkat kelas akhir Akademi, berdiri dengan raut wajah keras. Tidak ada lagi sifat kekanak-kanakan atau kemanjaan di dalam matanya.
Hector menggertakkan giginya hingga berdarah, memandangi pusara tanpa jasad adiknya. "Wiliam... Kau selalu berjalan ribuan langkah di depanku. Kau menanggung rasa sakit yang tak pernah sanggup kubayangkan. Mulai detik ini... aku akan melatih diriku hingga melampaui batasan manusia! Aku akan menjadi penggantimu... Aku akan menjaga Ayah, keluarga, dan Kerajaan ini seperti yang selalu kau lakukan dari balik topengmu!"
Namun, di tengah gelombang duka yang menyelimuti rakyat dan para pahlawan sejati, atmosfer di dalam distrik bangsawan konservatif justru berbanding terbalik secara menjijikkan.
Di dalam aula megah Kediaman Duke Cassian, dentang gelas kristal dan gelak tawa menggema keras. Para bangsawan iri yang dahulu selalu terancam oleh keberadaan Wiliam dan faksi netral mengadakan pesta pesta ria tersembunyi.
"Hahaha! Bersulang untuk matinya si Iblis Cilik!" seru seorang bangsawan gembul seraya meneguk anggur merahnya. "Akhirnya ancaman terbesar bagi stabilitas pengaruh kita telah dimusnahkan langsung oleh tangan para Dewa!"
Duke Cassian menyunggingkan senyuman culas dari atas kursi keagungannya, mengusap janggutnya dengan puas. "Anak itu terlalu congkak. Dia pikir dengan sedikit bakat monster dia bisa meruntuhkan tatanan politik yang telah kita bangun berabad-abad. Dewa tidak buta. Petir Petaka itu adalah keadilan langit!"
"Benar sekali, Lord Cassian!" sahut bangsawan lainnya. "Tanpa Wiliam Pendragon, Keluarga Pendragon hanyalah macan ompong. Kita bisa perlahan merampas kembali wilayah pertambangan dan pengaruh mereka di dewan Kerajaan!"
Gelak tawa penuh kebusukan dan rasa iri menyelimuti pesta haram tersebut, memamerkan sisi tergelap dari sifat manusia yang berkuasa.
Sementara itu, suasana di Akademi Sihir Kerajaan terasa bagaikan makam raksasa yang hampa.
Gedung-gedung latihan yang biasanya dipenuhi oleh teriakan semangat para murid kini sunyi senyap. Ruang kelas tempat Wiliam biasa duduk di dekat jendela dibiarkan kosong, dihiasi oleh rangkaian bunga lilium putih yang diletakkan oleh para siswi yang diam-diam mengaguminya.
Para pengajar dan Kepala Akademi berdiri di balkon menara utama, menatap lapangan latihan yang sepi.
"Dunia ini sangat kejam," gumam Kepala Akademi dengan nada penuh penyesalan. "Kita kehilangan permata paling berkilau yang pernah dimiliki oleh sejarah sihir Kerajaan..."
Satu Bulan Kemudian...
Jauh dari hiruk-pikuk duka ibu kota dan intrik politik Kerajaan, di dalam Dimensi Pengasingan Bintang milik Alistair.
Suasana di dalam kediaman istana kaca terasa sangat tenang dan terisolasi dari tatanan dunia mortal. Anastasia (Anya) duduk di tepi pembaringan kamarnya yang berhiaskan sutra keemasan.
Namun, penampilan Nona Suci Elf itu tampak sangat berbeda dari biasanya. Paras cantiknya yang biasanya memancarkan pendar kesegaran abadi kini terlihat sedikit pucat. Lingkar hitam tipis membingkai bagian bawah sepasang mata perak-kebiruannya, dan aura sihir es murni di dalam tubuhnya terasa berfluktuasi tidak stabil.
Anya menyandarkan kepalanya pada bantal empuk, memegangi dadanya yang terasa bergelombang oleh rasa mual yang mendadak menyerang sejak pagi hari.
"Ugh..." Anya meringis pelan, menutupi mulutnya seraya menahan sensasi mual yang bergejolak di perutnya.
KNOCK, KNOCK.
Pintu kamar terketuk pelan, dan seorang pelayan Elf kepercayaan bernama Elina melangkah masuk seraya membawa nampan berisi ramuan teh herbal hangat dan buah-buahan segar.
"Nona Anastasia..." panggil Elina dengan raut wajah penuh kekhawatiran seraya meletakkan nampan di atas meja samping pembaringan. "Kondisi Anda tampak semakin memburuk sejak tiga hari terakhir. Wajah Anda sangat pucat, dan tingkat kebugaran sihir Anda menurun drastis."
Anya mendesah pelan, menyandarkan tubuhnya kembali seraya mengelus dahinya yang terasa agak hangat. "Aku juga tidak mengerti, Elina... Sejak satu bulan lalu—sejak Wiliam pergi—tubuhku terasa sangat aneh. Aku selalu merasa lelah, rasa kantuk datang tanpa henti, dan... emosiku terasa sangat sensitif."
Anya memiringkan kepalanya, menatap jendela kaca dengan mata bergetar tipis. "Kemarin, hanya karena melihat sepasang burung terbang berdua di lautan bintang, aku mendadak menangis terisak-isak karena teringat padanya. Rasa-rasanya aku bukan diriku yang biasanya lagi..."
Elina memiringkan kepalanya, memandangi majikannya dengan tatapan penuh keheranan dan rasa curiga yang mendalam. Sebagai seorang pelayan senior ras Elf yang telah hidup ratusan tahun, Elina sangat memahami anatomi dan perubahan biologis ras suci.
"Nona..." ucap Elina dengan nada pelan dan sangat berhati-hati. "Apakah... apakah Anda izinkan hamba untuk memeriksa aliran denyut mana dan pembuluh darah di bagian rahim Anda?"
Anya menatap Elina sejenak dengan raut bingung, namun akhirnya ia mengangguk pelan. "Lakukanlah."
Elina berlutut di samping pembaringan, memposisikan jemari tangannya tepat di atas perut bagian bawah Anastasia. Elina memejamkan mata, mengalirkan seberkas sihir pemindai hayati (Life-Pulse Detection Magic) yang merayap lembut menembus kulit halus Anya.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Mata Elina mendadak terbuka lebar! Pupil matanya bergetar hebat dalam guncangan ketidakpercayaan yang amat sangat!
"I-Ini... Ini tidak mungkin...!" bisik Elina dengan suara gemetaran, napasnya tertahan di tenggorokan.
Anya terkejut melihat reaksi pelayannya. Ia langsung duduk tegak, mengkerutkan alisnya dengan cemas. "Ada apa, Elina?! Apakah ada sihir racun atau kutukan petir Dewa yang tertinggal di dalam tubuhku?!"
Elina mendongak, menatap Anastasia dengan air mata kebahagiaan dan takjub yang mendadak menetes melintasi pipinya.
"T-Tidak, Nona Suci... Bukan kutukan... Bukan racun..." Elina memegang kedua tangan Anastasia kencang-kencang, suaranya bergetar hebat. "Di dalam rahim Anda... terdapat dua denyut kehidupan baru yang sangat kuat! Sebuah benih energi gabungan dari Sihir Suci Elf dan Energi Primordial Demigod-Iblis!"
DEGGGGGGGG!
Dunia di sekitar Anastasia seolah berhenti berputar seketika. Gema kata-kata Elina memantul berulang kali di dalam gendang telinganya.
"D-Dua... kehidupan...?" bisik Anya dengan bibir yang gemetaran, matanya membelalak kaget.
"Ya, Nona!" seru Elina dengan kebahagiaan yang meluap-luap. "Anda sedang mengandung! Anak dari Tuan Wiliam... Bayi kembar sedang tumbuh di dalam rahim Anda!"
Anastasia tertegun kaku di atas pembaringan. Tangan lentiknya perlahan-lahan merayap turun, menempelkan telapak tangannya yang hangat di atas perut ratanya sendiri.
Saat sihir persepsi mendalam milik Anya terfokus ke dalam rahimnya, ia secara jelas merasakan dua pusaran kehidupan kecil yang berdenyut lembut—satu memancarkan pendar keemasan suci yang hangat, dan yang lainnya memancarkan pendar keperakan-hitam yang misterius namun penuh vitalitas!
Benih cinta dari penyatuan abadi mereka di malam perpisahan itu kini telah membuahkan hasil di dalam dirinya.
Air mata kebahagiaan yang tak terbendung meletus mengalir deras melintasi pipi mulus Anastasia. Ia menggigit bibirnya, tersenyum dengan sangat amat indah seraya memeluk perutnya sendiri dengan kelembutan seorang ibu.
"Wiliam..." bisik Anya dengan suara yang penuh haru dan kasih sayang yang tak terukur besarnya, menatap jauh ke balik jendela menuju batas samudra tempat kekasihnya berkelana.
"Kau mendengar ini, Sayang...? Kau tidak meninggalkanku sendirian... Kau meninggalkan jejak cintamu di dalam diriku. Aku akan menjaga buah hati kita... hingga hari di mana kau kembali untuk memeluk kami bertiga..."