### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Mewah yang Rusak
Sekitar pukul sepuluh pagi, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan bengkel Pak Slamet, kontras mencolok dengan motor-motor bebek dan matic yang biasa terparkir di sana.
"Itu dia, kayaknya," bisik Pak Slamet, buru-buru merapikan bajunya.
Seorang pria berjas rapi turun dari mobil, wajahnya terlihat sedikit kesal. "Pak Slamet, kan? Saya Pak Bram, yang telepon kemarin."
"Iya, Pak, silakan. Ada masalah apa dengan mobilnya?"
"Ini, AC-nya nggak dingin sama sekali, terus kadang ada bunyi berdecit aneh pas belok. Udah dibawa ke bengkel resmi dua kali, tapi tetep aja belum kelar-kelar."
Reyhan berdiri agak di belakang, mengamati mobil itu dengan campuran rasa penasaran dan gugup. Yanto, yang berdiri di sampingnya, berbisik pelan.
"Mobil beginian aja bisa rusak-rusak dua kali di bengkel resmi. Berarti masalahnya emang susah dicari."
"Berarti kita juga bakal susah dong, Yan?"
"Ya iyalah, makanya jangan sotoy kalo nanti mentok."
Pak Bram membuka kap mesin, mempersilakan Pak Slamet dan timnya memeriksa. Reyhan mendekat dengan hati-hati, matanya menjelajahi ruang mesin yang jauh lebih rumit dibanding mesin motor yang baru dia pelajari kemarin.
"Pak, ini kompresor AC-nya kayaknya masih jalan, tapi anginnya nggak dingin. Kira-kira apanya ya?" tanya Reyhan pelan ke Pak Slamet.
"Coba cek freon-nya dulu, Mas. Mungkin bocor di suatu tempat."
Reyhan mengangguk, meski dalam hati masih bertanya-tanya bagaimana caranya mengecek kebocoran freon yang bahkan namanya baru dia dengar hari itu. Ia mengambil alat detektor kebocoran yang ditunjukkan Pak Slamet, mulai memeriksa sambungan-sambungan selang AC satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Ketemu, Pak! Ini di sambungan deket kompresor, ada rembesan oli dikit," seru Reyhan setelah beberapa menit memeriksa.
Pak Slamet mendekat, memeriksa titik yang ditunjuk Reyhan. "Wah, bener, Mas! Ini seal-nya yang udah aus, makanya freon-nya bocor pelan-pelan."
Pak Bram, yang mendengar itu, terlihat sedikit lega. "Jadi ini yang bikin AC nggak dingin? Kok bengkel resmi nggak nemuin ini ya?"
"Mungkin mereka buru-buru periksanya, Pak," jawab Pak Slamet diplomatis, meski dalam hati mungkin punya pendapat lain soal ketelitian bengkel resmi.
Sementara Pak Slamet dan Reyhan menangani masalah AC, Yanto mencoba mencari sumber bunyi berdecit yang dikeluhkan Pak Bram, memutar roda depan mobil sambil mendengarkan dengan seksama.
"Ini kayaknya dari bushing stabilizer, Pak," lapor Yanto setelah beberapa saat.
"Bushing apaan itu?" tanya Reyhan penasaran, mendekat sambil mengelap tangannya yang berminyak dengan kain lap.
"Karet penahan di bagian kaki-kaki mobil, Bapak. Kalo udah getas, biasanya bunyi berdecit gitu pas belok," jelas Yanto, kali ini dengan nada yang jauh lebih sabar dibanding hari-hari sebelumnya.
"Wah, kamu jago juga ya soal ginian, Yan, padahal saya sama sekali nggak kepikiran soal bushing-bushing gitu."
"Ya iyalah, saya kan udah tiga tahun di sini, bukan baru dua hari kayak lo," jawab Yanto, meski kali ini terdengar seperti bercanda dibanding menyindir seperti biasanya.
Reyhan tertawa kecil mendengar itu. "Iya, iya, saya masih junior banget dibanding kamu."
Setelah memeriksa keseluruhan masalah, Pak Slamet menjelaskan hasil temuan mereka ke Pak Bram dengan detail, termasuk perkiraan biaya dan waktu pengerjaan.
"Jadi kira-kira butuh berapa lama, Pak?" tanya Pak Bram.
"Kalo sparepart-nya ada, mungkin bisa selesai sore ini juga, Pak."
"Oke, saya tunggu di sini aja kalo gitu. Kebetulan lagi nggak ada meeting penting siang ini."
Pak Bram duduk di ruang tunggu kecil bengkel yang seadanya, sedikit canggung dengan suasana yang jauh berbeda dari bengkel resmi yang biasa dia kunjungi. Fajar, yang kebetulan lewat sore itu untuk sekadar mengantar makan siang untuk Reyhan, malah nyaris tidak sengaja terlibat obrolan dengan Pak Bram.
"Eh, ini mobil siapa ya, Bang? Keren banget," celetuk Fajar begitu masuk bengkel, tidak menyadari pemiliknya sedang duduk tak jauh dari situ.
"Punya saya, Mas," jawab Pak Bram, sedikit tersenyum mendengar pujian polos itu.
"Wah, maaf, Pak, saya kira punya bengkel," kata Fajar kikuk, membuat Reyhan yang mendengar dari kejauhan menahan tawa.
"Nggak apa-apa, Mas. Kerja di sini juga?"
"Enggak, Pak, saya cuma bantu-bantu temen aja, si Reyhan itu," jawab Fajar, menunjuk ke arah Reyhan yang sedang sibuk dengan seal AC yang baru.
Sambil menunggu perbaikan selesai, Pak Bram mulai mengobrol santai dengan Fajar, yang meski awalnya kikuk, akhirnya jadi cukup akrab dengan gaya bicaranya yang santai dan konyol.
"Jadi, Mas kenal mas Reyhan dari mana?"
"Temen kos, Pak. Dia orangnya emang gitu, tiap minggu ganti-ganti kerjaan. Minggu lalu jualan nasi goreng, sekarang jadi montir."
Pak Bram mengangkat alis, terlihat tertarik. "Wah, unik juga ya. Kenapa bisa gitu?"
Fajar sempat terdiam sejenak, hampir kelepasan bicara soal hal-hal aneh yang kadang dia lihat dari kejauhan tanpa benar-benar paham detailnya. Namun ia buru-buru mengalihkan topik, mengingat Reyhan pernah berpesan untuk tidak banyak cerita soal urusan pekerjaannya yang aneh-aneh.
"Ya gitu deh, Pak, orangnya emang suka coba-coba hal baru aja. Petualang gitu istilahnya."
"Oh, petualang karier ya. Menarik juga," kata Pak Bram, tampaknya cukup puas dengan jawaban umum itu.
Reyhan, yang mendengar sepotong percakapan itu dari kejauhan, menghela napas lega dalam hati untung Fajar cukup sigap mengalihkan pembicaraan sebelum topiknya melebar ke arah yang berbahaya.
Menjelang sore, seluruh perbaikan selesai. AC mobil Pak Bram kembali dingin, dan bunyi berdecit di bagian kaki-kaki sudah hilang setelah bushing stabilizer diganti oleh Yanto.
"Wah, ini beda jauh, Pak! AC-nya dingin banget sekarang," kata Pak Bram, terlihat puas setelah mencoba menyalakan mesin dan AC-nya.
"Alhamdulillah, Pak," jawab Pak Slamet, tersenyum lega.
"Beneran deh, ini lebih niat kerjanya dibanding bengkel resmi yang biasa saya datengin. Nanti saya rekomendasiin ke temen-temen kantor juga."
"Wah, makasih banyak, Pak Bram," kata Pak Slamet, tidak menyangka akan mendapat pujian sebesar itu.
Reyhan, yang berdiri di samping, ikut tersenyum lega, meski tangannya masih terasa gemetar sisa ketegangan sepanjang hari menangani mobil semahal itu untuk pertama kalinya.
Pak Bram membayar tagihan tanpa banyak protes, bahkan memberi tip tambahan untuk Reyhan dan Yanto yang sudah bekerja keras hari itu.
"Ini buat kalian berdua, makasih ya udah kerja keras," katanya sambil menyerahkan amplop kecil.
"Wah, makasih banyak, Pak," jawab Reyhan dan Yanto hampir bersamaan.
Setelah Pak Bram pergi, Pak Slamet menepuk pundak Reyhan dengan bangga.
"Nah, gimana, Mas? Hari ketiga langsung nemenin nangani mobil mewah, nggak nyangka kan?"
"Bener, Pak. Deg-degan banget tadi, tapi seneng juga akhirnya berhasil."
Yanto, yang menghitung tip dari Pak Bram, ikut menimpali dengan nada yang jauh lebih bersahabat dari sebelumnya. "Lumayan lah, Bapak nggak separah yang saya kira awalnya."
"Makasih, Yan. Itu pujian kan?"
"Bukan pujian, cuma pengakuan fakta doang," jawab Yanto lagi, meski kali ini disertai senyum tipis yang jelas terlihat oleh Reyhan.
Reyhan membuka layar holografik sistem sebentar sebelum pulang, memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
> [Progres Misi: 2/10 perbaikan dengan kepuasan tinggi.]
> [Sisa waktu: 4 hari, 20 jam.]
Ia menutup layar itu dengan senyum puas, merasa hari ini menjadi titik balik penting dalam membangun kepercayaan dari orang-orang di bengkel, sekaligus semakin yakin bahwa dirinya bisa melewati tantangan minggu ini, sama seperti minggu-minggu sebelumnya yang selalu terasa mustahil di awal tapi berhasil dilewati pada akhirnya berkat kerja keras dan bantuan orang-orang di sekitarnya.
Sepulang dari bengkel, Reyhan dan Fajar berjalan bersama menuju kos, melewati jalan yang mulai temaram karena senja.
"Bang, tadi deg-degan juga saya waktu ngobrol sama Pak Bram, takut kelepasan ngomong yang aneh-aneh," kata Fajar, mengingat kejadian sore itu. "Untung saya inget pesen Abang buat nggak banyak cerita."
"Makasih ya, Jar, udah nutupin. Untung kamu sigap ngalihin topiknya."
"Tenang, Bang, saya kan udah kayak juru bicara resmi sekarang. Ahli menghindar dari pertanyaan berbahaya, profesional banget pokoknya."
"Ahli menghindar apaan, tadi kan kamu awalnya malah nyaris keceplosan, untung saya lihat mukamu langsung panik."
"Ya kan cuma nyaris, Bang, nggak beneran keceplosan. Beda jauh itu, Bang, jangan disamain."
Reyhan tertawa mendengar pembelaan diri Fajar yang khas itu. "Ya udah, yang penting rahasia masih aman. Makasih banyak, Jar, serius."
"Sama-sama, Bang. Tapi jujur, penasaran juga sih sebenernya kenapa Abang bisa ganti-ganti kerjaan gitu tiap minggu, dari kurir, guru, jualan nasi goreng, sekarang jadi montir. Ada rahasia apa emangnya?"
Reyhan terdiam sejenak, merasakan sedikit godaan untuk bercerita jujur ke sahabat yang sudah begitu setia membantunya sejak minggu pertama. Namun ia menahan diri, mengingat aturan tak tertulis yang selalu ditekankan sistem sejak awal bahwa keberadaan sistem ini harus tetap jadi rahasianya sendiri, tanpa terkecuali, bahkan untuk orang sedekat Fajar sekalipun, meski hatinya sendiri kadang merasa berat harus terus menyimpan rahasia sebesar ini dari sahabat yang selalu ada di setiap kariernya.
"Rahasia perusahaan, Jar," jawab Reyhan akhirnya, mengulang jawaban andalannya yang biasa dia pakai untuk menghindar dari pertanyaan serupa.
"Yah, lagi-lagi jawaban itu. Ya udah deh, saya nggak maksa," kata Fajar, meski masih terlihat sedikit penasaran, akhirnya membiarkan topik itu berlalu begitu saja seperti biasa, meski dalam hati kecilnya rasa penasaran itu tidak pernah benar-benar hilang setiap kali Reyhan memberi jawaban yang sama berulang kali sepanjang beberapa minggu terakhir ini.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang dalam diam sejenak, sebelum Fajar kembali membuka topik baru yang jauh lebih ringan, membuat suasana kembali cair seperti biasanya sebuah rutinitas kecil yang, tanpa mereka sadari, sudah jadi bagian penting dari perjalanan panjang Reyhan menjalani sistem karier yang terus berubah setiap minggunya ini, meski sahabatnya sendiri tidak pernah benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi di balik semua perubahan mendadak itu.