Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Serang
Niat hati ingin mengusir rasa penat, Elena justru merasa semakin tertekan.
Bagaimana tidak?
Begitu memasuki pusat perbelanjaan, mereka langsung dikelilingi oleh sejumlah bodyguard.
Para pria itu berjalan di sekeliling Elena dan Maria, menjaga jarak agar tidak ada pengunjung yang bisa mendekat dengan mudah.
Penjagaan yang terlalu ketat justru membuat Elena merasa tidak nyaman. Ia tidak bisa bergerak bebas. Belum lagi tatapan penasaran dari orang-orang yang berlalu-lalang.
Bagi mereka yang mengenal keluarga Bianchi, tentu akan langsung menyingkir. Namun, bagi pengunjung yang tidak tahu siapa mereka, pemandangan itu justru menjadi tontonan. Beberapa orang bahkan mulai berbisik dan mencibir di belakang mereka.
Elena berusaha tidak memedulikannya. Tapi, bukan itu saja yang membuatnya merasa kesal.
Penjagaan yang terlalu mencolok juga bisa menjadi masalah karena membuat orang-orang yang berniat buruk pada mereka bisa membaca situasi dan keberadaan mereka.
Dan, firasat Elena benar adanya.
Setelah beberapa saat berkeliling, ia mulai menyadari sesuatu.
Ada seseorang yang terus muncul di tempat yang berbeda.
Awalnya, Elena mengira itu hanya kebetulan. Tapi, setelah melihat sosok yang sama beberapa kali, instingnya mulai bekerja.
Orang itu mengikuti mereka.
Meski Maria terus mengajaknya berbicara tentang berbagai hal, ekor mata Elena tidak pernah berhenti mengawasi keadaan sekitar.
Tatapannya bergerak dari satu orang ke orang lain. Ia memperhatikan gerak-gerik para pengunjung, posisi bodyguard, hingga orang-orang yang tampak terlalu sering berada di sekitar mereka.
Jika benar ada seseorang yang mengincar Maria, Elena harus tahu siapa mereka sebelum semuanya terlambat.
Saat mereka berhenti di sebuah butik, Elena berpura-pura sibuk melihat-lihat. Tapi, sesungguhnya ia sedang mengamati sekitarnya.
Berapa orang? Dari mana mereka datang? Dan, apa tujuan mereka?
Elena mencoba mengingat wajah-wajah yang sejak tadi ia lihat. Sampai, tiba-tiba suara Maria memecah konsentrasinya.
"Elena!" panggilnya.
Elena menoleh. "Ya?" Ia berjalan menghampiri Maria. "Ada apa, Nyonya?"
Maria tersenyum sambil mengangkat sebuah gaun. "Gaun ini sepertinya cocok untukmu." Ia menempelkan gaun tersebut di depan tubuh Elena. "Benar, kan? Pilihan Mommy memang tidak pernah salah."
Elena hanya bisa tersenyum kikuk. "Tapi, Nyonya... baju saya sudah banyak. Bahkan, masih banyak yang belum sempat saya pakai."
"Tidak apa-apa." Maria menyerahkan gaun itu kepada pelayan. Kemudian, ia mengambil beberapa aksesori dan mencoba nya pada Elena.
"Yang ini juga bagus."
Setelah merasa puas dengan pilihannya, Maria kembali menyerahkan aksesori tersebut kepada pelayan.
Dan, begitu seterusnya. Setiap kali mereka memasuki sebuah toko, Maria selalu menemukan sesuatu yang menurutnya cocok untuk Elena.
Sementara itu, Elena terus mengawasi keadaan sekitar. Hingga tanpa terasa, waktu sudah mendekati jam makan siang.
Maria akhirnya mengajak Elena menuju sebuah restoran di dalam pusat perbelanjaan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Maria.
Elena menutup buku menu di tangannya. "Samakan saja dengan anda."
"Baiklah."
Maria memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan serta minuman.
Sambil menunggu pesanan datang, keduanya berbincang ringan. Tapi, beberapa saat kemudian, ekspresi Maria berubah sedikit serius.
"Elena."
"Ya?"
"Mommy ingin mewakili Viona meminta maaf kepadamu." Maria tersenyum tipis. "Dia memang seperti itu. Terkadang ucapannya terlalu tajam."
Elena menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya mengerti."
"Kamu jangan berkecil hati." Maria menatapnya lembut. "Bagaimanapun juga, sekarang kamu adalah istri sah Leon. Kamu berhak mendapatkan tempat di keluarga ini."
Elena tersenyum. Tapi, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah ragu. Ada satu pertanyaan yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.
Ia ingin mengetahui jawabannya. Jadi, dengan hati-hati, Elena membuka suara.
"Maaf, Nyonya. Apa saya boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Tapi, mungkin pertanyaan saya akan menyinggung Anda."
Maria mengangguk. "Katakan saja."
Elena menarik napas pelan. "Saya tidak mengerti." Ia menatap Maria. "Kenapa Tuan Besar dan Tuan Daniel bersikap begitu dingin kepada Tuan Leon? Sedangkan Anda... Sangat menyayanginya."
Raut wajah Maria seketika berubah. Senyumnya menghilang.
Wanita itu menundukkan kepala, seolah pertanyaan tersebut sudah membuka luka lama yang selama ini ia simpan.
Elena langsung merasa tidak enak. "Ma-maaf, Nyonya. Saya sudah lancang menanyakan hal itu."
Maria mengangkat wajahnya. Meski terlihat sedih, ia tetap memberikan senyum kecil.
"Tidak apa-apa," ucap Maria. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Kamu sekarang adalah istri Leon. Jadi, kamu berhak tahu."
Jantung Elena berdegup sedikit lebih cepat. Inilah jawaban yang selama ini ia cari.
Maria menarik napas panjang. "Sebenarnya..."
"Silahkan, pesanan anda, Nyonya."
Seorang pelayan tiba-tiba datang membawa makanan dan minuman mereka.
Maria langsung menghentikan ucapannya. Elena juga tidak mengatakan apa-apa.
"Ya, terima kasih."
Setelah semua hidangan tersaji, Maria tersenyum pada Elena.
"Kita makan dulu. Nanti Mommy ceritakan."
Elena mengangguk. Ia tidak memaksa. Tapi, dalam hati, ia sudah semakin penasaran.
Apa sebenarnya yang terjadi antara Leon dan keluarga Bianchi?
Tapi, setelah selesai makan siang, Maria seolah melupakan janjinya. Ia justru mengajak Elena untuk pulang.
Elana juga tidak menuntut jawaban mengenai pertanyaannya tadi. Ia mengikuti langkah Maria, meninggalkan restoran.
Beberapa bodyguard segera bergerak mengelilingi keduanya. Mereka berjalan menuju pintu keluar pusat perbelanjaan.
Elena kembali memasang kewaspadaan. Matanya bergerak cepat mengamati sekitar.
Sosok-sosok mencurigakan yang sejak tadi mengikutinya sudah tidak terlihat. Tapi, justru itu yang membuatnya semakin waspada.
"Ke mana mereka pergi?" batinnya.
Begitu sampai di area parkir, para bodyguard segera membuka jalan menuju mobil.
Maria berjalan di samping Elena. Namun, baru beberapa langkah mereka bergerak, suara letupan senjata memecah udara.
DOR!
Semua orang tersentak.
"Lindungi Nyonya!"
"Merunduk!"
Para bodyguard langsung bergerak. Salah satu dari mereka menarik Maria ke belakang, sementara yang lain membentuk barikade di depan kedua wanita itu.
Pengunjung lain yang ada di sekitar berteriak panik.
Suasana yang beberapa detik lalu tenang berubah menjadi kacau.
Elena segera merunduk di balik salah satu kendaraan. Matanya menyapu area parkir dengan napas yang tetap terkendali. Tapi, sorot matanya berubah tajam.
"Akhirnya, mereka bergerak juga," batin Elena.
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊