Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Memastikan Kecurigaan

Zeno melanjutkan dengan nada santai. “Kalau kau melihat orang yang sama dua atau tiga kali dalam perjalanan, jangan langsung menyapa.”
Dhana menyesap tehnya. “Kenapa?”
“Bisa saja dia pelanggan yang kebetulan searah.”
“Kalau bukan?”
Zeno tersenyum. “Berarti kau harus lebih pintar memilih jalan pulang.”
Dhana menatapnya sesaat… hanya sesaat. Hingga mata keduanya bertemu. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada tanda bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih serius. Zeno meminta Dhana untuk lebih hati-hati ke depannya saat mengirimkan informasi yang berhasil ia dapatkan.
Zeno kemudian berjalan pergi untuk mengambil pesanan pelanggan lain. Beberapa menit kemudian ia kembali membawa makanan Dhana. Ia meletakkan mangkuk di meja.
“Apakah ponselmu belakangan suka panas?”
Dhana berhenti menggerakkan sumpit. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Teknologi sekarang gampang rusak.” Zeno menuangkan air. “Kadang ada sesuatu yang bekerja terlalu keras di belakang layar.”
Dhana menatap ponselnya yang tergeletak di samping mangkuk. “Apa kau bisa memperbaikinya?”
Zeno terkekeh. “Aku bukan teknisi.” Kemudian ia menambahkan sambil lalu, “Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menyimpan sesuatu yang terlalu penting di satu tempat.”
Zeno mengambil mangkuk kosong dari meja sebelah. “Apalagi kalau tempat itu gampang dilihat orang.”
Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa. Namun Dhana memahami maksudnya. Sesuatu telah masuk ke dalam perangkat komunikasinya. Kali ini Zeno sedang mengingatkan bahwa ponsel Dhana juga sedang diretas seseorang.
Menyuruhnya untuk tidak menyimpan informasi penting apapun di dalamnya. Ia juga menyarankan Dhana untuk mengganti jalur pengantaran informasi sebelum Dhana memintanya. Dan kemungkinan besar bukan hanya ponselnya. Dhana menundukkan wajah, berpura-pura menikmati makanannya.
“Warungmu makin ramai,” kata Dhana mengganti topik pembicaraan.
“Syukurlah, seperti yang kau lihat sendiri”
“CCTV-nya masih sering mati?”
Zeno tersenyum. “Kadang.”
“Bagian mana?”
“Yang menghadap parkiran.”
Dhana mengangguk pelan. Sedangkan Zeno kembali mengusap meja. “Pemilik warung bilang kabelnya sudah tua.”
Ia berhenti sebentar. “Padahal kemarin masih bagus.”
Dhana akhirnya memahami semuanya, bahwa tidak hanya perangkat komunikasinya saja yang di retas. Akan tetapi, setiap kamera CCTV di Apartemennya juga telah di retas. Seseorang telah masuk terlalu jauh. Dan Zeno tidak bisa mengatakannya secara langsung karena ada kemungkinan percakapan mereka juga sedang diawasi. Maka mereka berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh dua orang yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Dhana menyandarkan tubuhnya. “Kalau begitu, sepertinya aku harus lebih hati-hati.”
Zeno tersenyum. “Memang sebaiknya begitu.” Ia mengambil piring kosong. “Jangan terlalu mencolok.”
Dhana mengangkat pandangan ketika Zeno sudah berbalik. “Dan jangan terlalu sering melihat ke belakang,” lanjutnya santai. “Orang yang mengikuti biasanya senang kalau buruannya tahu dia sedang diikuti.”
Dhana menahan senyum. “Nasihat yang bagus.”
“Gratis lagi.” Zeno berjalan menjauh.
Dhana kembali makan seolah tidak terjadi apa-apa. Namun pikirannya kini bergerak jauh lebih cepat. Jadi Reval bukan hanya mengirim seseorang untuk mengikutinya. Ia sudah memasang mata di sekeliling Dhana.
Mungkin ponselnya sudah disusupi. Mungkin CCTV apartemennya sudah tidak lagi menjadi miliknya. Dan yang paling mengkhawatirkan… Reval mungkin sudah mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini Dhana bayangkan.
Dhana meletakkan sumpit. Ia tidak panik suatu saat nanti penyamarannya selama empat tahun ini akan terbongkar. Tidak juga terburu-buru menghubungi siapa pun ataupun atasannya.
Justru sekarang ia mengerti permainan Reval. Pria itu tidak sedang mencari bukti, melainkan pria itu sedang ragu dengan keputusannya sendiri menjadikan Dhana sebagai salah satu orang kepercayaannya dan ayah dari anak yang sedang di kandung Jenara.
Reval sedang menunggu Dhana melakukan kesalahan. Kesalahan yang membuat Dhana tanpa sadar mengekspos identitas asli sendiri. Akan tetapi, Dhana jelas tidak berniat memberinya kesempatan sedikitpun.
Ketika ia meninggalkan warung, Zeno hanya melambaikan tangan dari balik meja kasir. “Besok datang lagi?”
Dhana tersenyum tipis. “Kalau masih hidup.”
Zeno tertawa. “Jangan bercanda soal begituan. Katanya orang tampan umurnya panjang.”
Dhana keluar dari warung makan tersebut. Di seberang jalan, sebuah sedan hitam yang tadi mengikutinya rupanya sudah terparkir. Namun, Ia tidak menoleh ke sana. Tidak mempercepat langkah. Tidak pula menunjukkan bahwa ia menyadarinya. Ia hanya memasukkan kedua tangannya ke saku dan berjalan menuju mobilnya.
Senyum tipis muncul di wajahnya. “Jadi begini permainanmu, Reval.”
Ia membuka pintu mobil. “Baiklah.” Dhana masuk dan menyalakan mesin. “Kalau begitu, kita bermain. Kita akan bertaruh! Kau yang berhasil mengungkap identitasku lebih dulu atau aku yang lebih dulu menghancurkan kekuasaan klan mafiamu ini.”
..............................
Sejak malam itu juga, Dhana bersikap seperti biasanya. Menyelesaikan setiap tugas dengan baik tanpa menunjukan gerak-gerik yang mencurigakan sedikitpun. Selama berhari-hari, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada komunikasi rahasia. Tidak ada pertemuan dengan pihak luar. Tidak ada tanda-tanda pengkhianatan. Hanya rutinitas sederhana seorang anak buah yang menjalankan tugas.
“Tuan, tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan dari Dhana selama beberapa hari dalam pengawasan ini.”
Laporan itu bukan berasal dari Reon, tetapi dari anak buah Reval lainnya. Reon sendiri belum melaporkan apapun terkait dengan tugas yang telah Reval berikan. Seperti biasa Reon menghilang tanpa jejak begitu mendapat tugas.
“Benarkah? Sepertinya aku sendiri yang harus memastikannya secara langsung.” Gumam Reval.
Pada akhirnya Reval menyadari satu hal… pengawasan tidak cukup. Kesetiaan tidak bisa dibuktikan hanya dengan melihat seseorang ketika ia tahu dirinya sedang diawasi. Reval membutuhkan sesuatu yang lebih ekstrem. Sebuah keputusan yang tidak sempat dipikirkan. Sebuah pilihan yang muncul secara naluriah.
“Kenapa kau masih meragukannya?” Loreana tiba-tiba muncul dan mempertanyakan alasan Reval masih meragukan kesetiaan Dhana.
“Aku hanya ingin sesuatu yang pasti yang berdiri disisiku,” jawab Reval. “Entah itu kesetiaan atau pengkhianatan, aku harus memegang salah satunya dengan pasti, bukan?”
“Baiklah, terserah kau saja! Tapi apa yang akan kau lakukan untuk memastikanya?” Loreana jelas penasaran dengan rencana Reval selanjutnya.
“Tentu saja mempertaruhkan sesuatu paling penting yang hanya dimiliki manusia ataupun mahluk hidup lainnya.”
“Maksudmu….”
“Kau memang selalu bisa menebak apa yang aku pikirkan dengan sangat tepat, Loreana!” sela Reval dengan senyuman misterius yang ia tunjukan.
“Beritahu Fero kalau besok malam,” katanya, “aku akan pergi ke gudang utara.”
Loreana menatapnya tajam. “Dengan Dhana?”
“Ya.”
“Tuan, jangan-jangan kau—”
“Aku tahu apa yang akan kulakukan.” Reval bangkit dari kursinya. “Siapkan skenarionya. Buat seolah-olah salah satu musuh kita mendapat kesempatan untuk menyerangku.”
Loreana terdiam sesaat, sampai akhirnya bergumam sendiri, “Sudah aku duga kau pasti akan berbuat nekad lagi.”
“Pastikan Dhana terus berada disisiku dan melihat semuanya.” Sambung Reval.
“Kau benar-benar gila.” Loreana hanya bisa gumam sendiri dengan kegilaan Reval.
Bersambung….