Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Kenapa tidak?!" bentak Andi, matanya memerah liar. "Itu adalah uangku, kenapa aku tidak bisa menagihnya?!"
Srek.
Pintu kamar sedikit terbuka. Alisya melongokkan kepala kecilnya dari dalam, matanya yang bulat tampak ketakutan melihat sosok ayahnya yang berteriak-teriak seperti orang kesurupan.
"Mama... Papa kenapa marah-marah...?" kata Alisya pelan, suaranya gemetar.
Dengar suara putri kecilnya, pandangan Alya mendadak dingin. Ia melangkah untuk melindungi Alisya.
"Alisya, masuk dan kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar sampai Mama panggil," perintah Alya tanpa menoleh dengan Suara lembut.
"I-iya, Ma..." bunyi klik kunci pintu kamar terdengar seketika.
Setelah memastikan putrinya aman, Alya berbalik sepenuhnya menghadapi Andi.
Raut wajah wanita lemah lembut menjadi tajam.
"Dengar, Andi," kata Alya pelan, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. "Saat aku bersamamu, aku melepas seluruh mahkotaku demi menjadi istri yang penurut. Aku menahan diri saat kau memaki, aku diam saat kau mengabaikan Alisya, dan aku biarkan kau merasa jadi pria paling berkuasa."
Andi merinding, melangkah mundur satu pijakan karena aura mematikan yang mendadak menekan dadanya. "K-kau... mau apa?!"
"Tapi hari ini..." Alya meraih kerah kemeja kusut Andi dengan satu tangan, mencengkeramnya begitu kuat hingga kain itu dengan kuat hampir robek "kau datang ke rumahku, menagih biaya untuk darah dagingmu sendiri, dan membuat anakku ketakutan lagi."
"L-lepaskan, Alya! Aku bisa laporkan kamu ke polisi atas penganiayaan!" jerit Andi, memegangi tangan Alya yang terasa keras.
"Laporkan saja," balas Alya dingin. "Tapi sebelum polisi sampai ke sini, kau harus tahu hitung-hitungan yang sebenarnya."
Alya mendekatkan wajahnya.
"Selama lima tahun menikah, kau pikir nafkah yang kau berikan itu besar?" bisik Alya. "Kau tahu berapa harga kepala seorang penguasa dunia hitam jika ia membuka jasa pembunuh bayaran? Puluhan miliar, Andi. Dan aku... melepaskan semua itu hanya untuk memasakkan telur gulung untukmu setiap pagi. Jika ada yang berutang di sini... kaulah yang berutang nyawa padaku karena aku belum membunuhmu atas perlakuanmu pada Alisya."
"A-Alya... k-kamu..." Andi gemetar hebat. Mata Alya yang sangat hampa dan dingin menegaskan bahwa wanita ini tidak sedang menggertak.
Alya melepaskan cengkeramannya secara mendadak hingga Andi tersungkur menghantam tanah gang yang kotor.
"Bawa seluruh kemiskinan dan rasa malumu pergi dari sini, Andi," kata Alya sambil membersihkan telapak tangannya dengan kain lap. "Jika kau berani menginjakkan kaki di tempat ini lagi, atau menyebut kata 'utang' di depan Alisya... aku pastikan nama dan jasadmu tidak akan pernah ditemukan di peta mana pun."
Andi merangkak mundur ketakutan, napasnya memburu.
Pria itu menyadari bahwa wanita yang dulu ia sepelekan dan ia buang kini adalah sosok iblis yang sanggup meremukkannya hanya dengan satu kibasan tangan.
"Kau... kau... berani mengancam ku!" kata Andi gugup.
"Kenapa tidak! Aku bahkan aku sanggup memenggal kepala mu," kata Alya di samping telinga Alya dengan suara mematikan.
"Kau... aku dasar gila!" teriak Andi entah kenapa ia bisa ketakutan saat mendengar ancaman wanita lemah itu.
Alya berdiri memperhatikan bayangan mantan suaminya yang menghilang di belokan jalan.
Alya yang melihat Andi tak juga pergi, ia pun menendang Andi dengan kuat membuat Andi terguling.
"Ughhh!" keluh Andi.
"Peri sekarang atau kau ku tendang kau sampai pulang ke rumah!" bentak Alya.
Andi berbalik, lalu pergi dengan terbirit-birit. "Tunggu saja kau! Hari ini aku melepaskan mu! Tunggu saja pembalasan ku!" teriak Andi.
Alya hanya bisa menghela nafas, laku ia pun mengetuk pintu kamar dengan pelan dan hangat.
"Alisya... ini Mama, Sayang. Pintunya sudah boleh dibuka."
Pintu terbuka, dan Alisya langsung menghambur memeluk pinggang ibunya.
Alya membungkuk, mengangkat Alisya ke dalam dekapan hangatnya, mengecup pipi sang putri dengan senyuman tulus.
Dunia luar boleh membencinya dan mengancamnya, tetapi di dalam ruangan kecil ini, Alya akan selalu menjadi pahlawan dan pelindung terkuat bagi Alisya.