Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Pagi datang terlalu cepat bagi Dimas. Ia terbangun dengan badan terasa lelah, kepala berat, dan punggung sedikit pegal karena semalaman bergadang melakukan perbuatan terlarang lagu bersama Amanda, tidur di kamar kos Amanda.

Untuk beberapa detik ia lupa berada di mana. Langit-langit putih yang asing membuatnya mengernyit, sampai suara pintu lemari dibuka membuat ingatannya kembali. Amanda sedang berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya sebelum berangkat ke kantor. Perempuan itu sudah mengenakan pakaian kerja. Sebuah jam tangan terpasang di pergelangan tangan kirinya, sementara cincin pertunangan dari Arga masih melingkar di jari manisnya.

Dimas memandang cincin itu cukup lama. Entah mengapa pagi itu benda kecil tersebut terasa lebih mengganggunya daripada biasanya.

“Kamu sudah bangun?” tanya Amanda tanpa menoleh.

Dimas mengusap wajah. “Jam berapa?”

“Hampir tujuh.”

“Aku masih bisa tidur sebentar.”

Amanda berhenti menyisir rambut. “Jangan.”

Dimas menoleh. “Kenapa?”

Amanda membalikkan badan. Wajahnya tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan lembut yang selama ini membuat Dimas merasa nyaman datang ke tempat itu. “Aku sudah berpikir, Dim.”

Dimas duduk di tepi kasur. “Tentang apa?”

Amanda menarik napas panjang. “Kayaknya setelah ini kamu nggak perlu datang lagi ke sini.”

Dimas mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena aku nggak mau ada masalah.”

“Masalah apa?”

Amanda menatapnya tidak percaya. “Sewaktu-waktu Arga bisa datang ke kosanku. Aku nggak mau dia tahu hubungan terlarang kita.”

Dimas terdiam. Selama ini ia memang tahu Arga bisa saja datang kapan pun. Tetapi karena selama ini mereka berhasil menyembunyikan hubungan tersebut, Dimas memilih tidak memikirkannya. Ia merasa kamar kos Amanda adalah tempat yang aman. Tempat untuk melupakan masalah. Tempat untuk bersembunyi dari pertengkaran dengan Tira. Tempat di mana ia tidak perlu menjelaskan apa pun. “Aku akan hati-hati,” kata Dimas.

“Bukan cuma soal hati-hati.” Amanda menggeleng. “Aku sudah tidak mau begini lagi.”

Dimas menatapnya. “Maksudmu?”

“Kita harus berhenti.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Dimas langsung merasa tidak nyaman. “Berhenti?”

“Iya.”

“Kenapa sekarang?”

Amanda tertawa kecil. “Sekarang? Karena aku sadar kita sudah terlalu jauh.”

Dimas tidak menjawab.

Amanda mengambil tasnya. “Kamu tenang saja. Aku akan bantu bicara dengan Tira nanti siang. Waktu makan siang aku akan main ke kantornya.”

Dimas langsung mengangkat wajah. “Kamu mau bicara sama Tira?”

“Iya.”

“Buat apa?”

“Aku akan memintanya untuk kembali padamu.”

Dimas menatap Amanda beberapa detik. “Lalu kita?”

Amanda terdiam. Amanda mendekat. “Dim, aku sudah muak dengan ini semua, toh kalaupun Tira menikah dengan orang lain tak ada opsi di kepala kamu untuk memilih aku, kan? Kamu cuma ingin Makai aku tanpa konsekuensi apapun. Mau sampai kapan, Dim? Hampir delapan tahun lho, apa belum cukup?"

Dimas menatapnya. Kalimat itu terdengar begitu mirip dengan apa yang selalu dikatakan Tira.

“Aku nggak mau hidup seperti ini terus,” lanjut Amanda. “Aku punya tunangan. Kamu punya pacar. Kita sama-sama punya orang yang mempercayai kita. Tapi kita malah melakukan ini di belakang mereka.”

Dimas menunduk. “Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tahu, tapi kamu tidak peduli. Egois” Amanda menggeleng. “Kamu cuma peduli kalau kamu mulai kehilangan sesuatu.”

Dimas mendongak. “Aku peduli sama kamu.”

“Kalau begitu, kenapa aku selalu menjadi tempat kamu datang ketika kamu punya masalah dengan Tira?”

Dimas terdiam.

Amanda tertawa getir. “Kamu datang ke sini kalau kamu bertengkar dengannya. Kamu pergi kalau hubungan kalian membaik. Lalu sekarang ketika Tira mau menikah, kamu datang lagi dan berharap aku memelukmu sampai semuanya terasa baik-baik saja.”

Dimas mengusap wajah. “Aku lagi kacau, Amanda.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak tahu harus bagaimana.”

“Itu bukan alasan untuk terus menggunakan aku. Aku sudah sangat jijik dengan diriku sendiri, bahkan aku nggak tau apa berani menjadi istri Arga saking aku ngerasa nggak pantas!"

Dimas langsung menatapnya.

Amanda menarik napas. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi kali ini ia tidak membiarkan air matanya jatuh. “Aku juga salah, Dim. Aku tahu. Aku sama sekali tidak membenarkan apa yang kita lakukan. Aku punya Arga. Dia percaya sama aku. Dia bahkan sedang mempersiapkan pernikahan kami. Tapi aku tetap membiarkan kamu masuk ke hidupku.” Suaranya bergetar. “Tapi kamu juga harus mengakui bahwa kamu egois.”

Dimas diam.

“Kamu nggak mau berkomitmen dengan salah satu dari kami,” lanjut Amanda. “Tapi kamu menahan Tira agar selalu berada di sisi kamu. Kamu juga mempertahankan aku sebagai tempat kamu pulang setiap kali kamu sedang kacau. Kamu tidak memilih siapa-siapa, tapi kamu tidak mau kehilangan siapa-siapa.”

“Amanda...”

“Tidak. Kali ini dengarkan aku.” Amanda menunjuk pintu. “Kamu tahu apa yang paling jahat? Kamu melakukan ini kepadaku padahal aku sahabat Tira.”

Dimas membeku.

“Aku setiap hari bertemu dia. Aku mendengarkan ceritanya. Aku tahu dia menangis karena kamu. Aku tahu dia menunggumu. Aku tahu dia sudah berkali-kali meminta kepastian.” Amanda mengusap pipinya dengan kasar. “Dan di saat yang sama, aku diam karena aku juga tidur dengan pacarnya sahabatku.”

Kamar itu mendadak sunyi. Dimas tidak bisa membantah. Tidak ada satu pun alasan yang cukup untuk membuat perbuatannya terdengar benar.

“Aku benar-benar membenci diriku sendiri,” kata Amanda pelan. “Tapi aku lebih membenci kamu karena kamu membuatku terus berada dalam keadaan ini.”

Dimas mengambil pakaiannya yang berserak di lantai, lalu jaketnya. “Aku akan pergi.”

“Bagus.”

“Tapi kamu jangan bicara sama Tira tentang ini semua."

Amanda menatapnya. “Aku akan bicara dengannya kalau aku merasa perlu.”

“Jangan, Man.”

“Kenapa?”

“Karena aku yang akan menyelesaikannya.”

Amanda tertawa tanpa humor. “Kamu masih saja ingin mengatur semuanya.”

Dimas berdiri di depan pintu. “Aku serius.”

Amanda membuka pintu. “Pergi sana.”

Dimas menatapnya beberapa detik. “Kamu benar-benar mau meninggalkan aku juga?”

Amanda terdiam. Kalimat itu membuat amarahnya semakin besar. “Kamu dengar sendiri apa yang baru saja kamu katakan?”

“Aku cuma...”

“Kamu egois banget, Dim!” Suara Amanda meninggi. “Kamu nggak mau berkomitmen dengan salah satu di antara kami, tapi kamu menahan Tira agar selalu di sisi kamu dan kamu juga pakai aku untuk tempat pelarianmu. Sekarang ketika aku bilang cukup, kamu bertanya apakah aku mau meninggalkanmu juga seperti Tira?”

Dimas menunduk. “Aku nggak bermaksud begitu.”

“Tapi itulah yang kamu lakukan!” Amanda menunjuk pintu. “Pergi!”

Dimas tidak bergerak.

“Minggat, Dim. Aku serius. Jangan kembali ke sini lagi.”

“Amanda...”

“Pergi!”

Dimas akhirnya melangkah keluar.

Amanda menutup pintu dengan keras. Begitu pintu tertutup, ia bersandar di belakangnya. Napasnya berat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

Di sisi lain pintu, Dimas berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!