Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Yeshika Menjadi Pelakor
Abbas berpamitan pergi terlebih dahulu, katanya mau mampir ke salah satu toko buku yang baru buka di sekitar sini, dan Anjani mengangguk saja; mungkin Abbas mencari kegiatan sembari menunggu jam makan malam, karena dia akan ikut acara makan malam bersama para investor dan tim pengembang proyek.
Sementara Anjani sudah dalam perjalanan menuju restoran yang dipesan oleh temannya tadi. Ketika sudah sampai, ia langsung menuju Mall besar di depannya.
Restoran yang Eve pesan berada di dalam Mall, dan tampilannya cukup mewah dari beberapa toko modern di sampingnya, yang lebih menonjol adalah keberadaan dua pria dengan otot bisep yang ditempatkan di depan pintu masuk restoran.
Mereka berdua sering makan malam ke restoran itu, jadi tidak terlalu kaget bila sebuah tempat makan dijaga oleh bodyguard. Terlebih, di tempat itu kamu harus melakukan reservasi dulu dan mempunyai tiket masuk online sesuai kelas yang dipesan, bahkan makanan yang akan mereka makan pun sudah harus dipesan bersamaan dengan pembelian tiket masuk.
Anjani dan Eve suka datang ke sini karena jauh dari jangkauan publik, tidak ramai seperti tempat-tempat biasanya, dan sangat menjaga privasi.
Anjani melangkah cepat menuju dua pria yang berdiri tegap di depan pintu utama, lalu menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan tiket berwarna emas dengan mencantumkan namanya.
Salah satu pria itu menurunkan sedikit kacamata hitamnya, kepalanya yang botak sedikit merunduk, lalu memberikan anggukan sekilas dan mempersilahkan Anjani masuk.
"Terimakasih," kata Anjani pelan, ia tersenyum tipis sebelum berpamitan pergi.
Anjani mengenakan gaun hitam sederhana setinggi bawah lutut. Potongannya tidak berlebihan, tetapi cukup mengikuti garis tubuh dan lekuk badannya. Bagian leher dibuat v-neck dengan potongan rendah hingga belahan dadanya agak kelihatan. Rambut panjangnya disanggul rendah dengan beberapa helai rambut sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajah. Di telinganya terpasang sepasang anting berlian kecil.
Anjani hanya menggunakan riasan tipis. Foundation dengan hasil akhir natural, alis yang dibentuk rapi, eyeliner tipis, sedikit blush, dan lipstik berwarna peach.
Anjani menyempatkan diri untuk berdandan di mobil. Untung di mobilnya dilengkapi tirai hitam sebagai pembatas sopir dan kursi belakang, jadi ketika ia dikejar waktu dan mengharuskan berganti pakaian di dalam mobil, ia tinggal menarik tirai untuk menutup kemungkinan sopir atau orang lain mengintip, dan kaca mobil sudah anti dilihat dari luar.
"Nyonya pesan di kursi nomor berapa?" Seorang pelayan datang, dia memakai setelan hitam dan putih, di rambutnya diberi hiasan bando hitam yang elegan, dan kedua tangannya memakai sarung tangan putih.
Anjani kembali menarik senyumnya, "Meja nomor sepuluh."
"Mari saya antar," ucap pelayan itu sambil mempersilakan Anjani berjalan dahulu, sedangkan ia berjalan agak belakang sambil terus mengarahkan letak mejanya.
Anjani di bawa menuju meja yang paling sudut, di sana sudah ada Eve. Pelayan itu berpamitan pergi tatkala ia sudah sampai di samping temannya.
Eve langsung memeluk Anjani kuat-kuat, lalu menyuruhnya duduk di depannya.
Berbeda dengan Anjani, perempuan itu terlihat jauh lebih santai. Eve mengenakan blouse satin warna putih gading yang dimasukkan ke dalam celana panjang hitam berpotongan lurus. Mantel tipis berwarna caramel diletakkan di sandaran kursinya. Rambut cokelat gelapnya dibiarkan tergerai melewati bahu.
Mata Eve memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari kebanyakan perempuan lokal, dengan warna mata cokelat terang yang terlihat semakin jelas di bawah cahaya restoran. Dia memang orang pendatang, tetapi berhasil bertahan di negara ini puluhan tahun.
"Aku bosan banget di rumah," celetuk Eve sambil memajukan sedikit bibirnya. "Mama terus-terusan tanya kapan aku mulai serius memikirkan masa depan? Seolah mereka sudah tak mampu menghidupiku. Kadang tanya kapan nikah? Kayak penting banget, kan?" lanjut Eve, dia meletakkan ponselnya ke atas meja.
Anjani terkekeh pelan. Menatap temannya geli. "Di usiamu yang sekarang memang sudah seharusnya memikirkan masa depan, kan?"
"Berapa, sih, usiaku?" Eve menarik helai rambutnya ke belakang telinga dengan jengkel.
"Tiga puluh empat tahun, usia matang untuk memikirkan pekerjaan apa yang ingin kamu ambil," peringat Anjani sambil tangan kanannya menunjukkan tiga jari, dan tangan kiri menunjukkan empat jari, memperlihatkan betapa tua mereka sekarang.
Eve terdiam. Tidak bisa berkomentar apapun. Usia tiga puluh empat tahun memang lebih tua dari usia dua puluh tahun. Namun, ketika ia memperhatikan sahabatnya, seperti ada yang berbeda.
Anjani mulai terlihat kusam meski tertutup oleh riasan, lalu kantung matanya menggantung seperti orang kelelahan, dan senyum Anjani seperti penuh paksaan.
"Anjani, are you okay?" Eve menarik pergelangan tangan Anjani, mengusapnya pelan-pelan, ia merasa khawatir. "Apa ada masalah? Urusan kantor?"
Anjani terdiam beberapa saat. Apakah ia bisa mengabaikan pertanyaan itu?
"Jangan coba berbohong. Kita sudah bersama sejak kecil, jadi jangan coba-coba!" peringat Eve sambil menatap Anjani tajam, ia tidak ingin dibohongi, sebab sahabatnya sering kali tidak ingin bercerita hanya karena menganggap dirinya masih anak-anak sebab belum menikah.
"Syahrul berselingkuh." Anjani akhirnya memutuskan untuk berbicara jujur. Suaranya ia rendahkan supaya orang di meja sebelah tidak mendengar percakapan mereka.
Eve membeku, otaknya beberapa saat tidak bisa memikirkan apapun. Satu kalimat pendek berhasil menarik kepandaian Eve dalam berkomunikasi.
"A-apa?" kata Eve dengan suara yang terputus-putus.
Anjani sudah menduga dengan perubahan wajah Eve. Ia juga sama tidak menyangkanya bahwa orang sebaik Syahrul bisa berselingkuh.
"Kamu tidak salah dengar, Eve. Dia memang berselingkuh dengan sekretarisnya," terang Anjani. Ia menarik ponselnya dari dalam tas kecil, lalu membukanya dan mencari foto Yeshika.
"Gi-gila banget!" pekik Eve dengan mata melotot dan jantungnya berdebar-debar seolah ia yang diselingkuhi.
Anjani menaruh ponsel di atas meja, menyeretnya hingga berada di depan Eve, "Dia kekasih Syahrul."
Mata Eve tertuju pada sebuah foto di handphone Anjani. Seorang gadis berpakaian tipis, rambut digerai, dan mimik wajahnya dibuat seimut mungkin. Ia merasa familiar dengan wajah gadis itu, "Siapa namanya? Wajahnya kelihatan banget lagi butuh dibelai!"
Anjani hampir tersedak air liurnya karena komentar Eve pada foto selfie Yeshika. Pelan-pelan ia bersuara, "Dia Yeshika."
"Yeshika? Yeshika Larasati?" tebak Eve.
Anjani mendelik menatap Eve, lalu bertanya, "Kamu kok kenal?"
"Dia adik kelasku dulu, dia sangat terkenal karena sering gonta-ganti cowok," beritahu Eve. Ia menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi, menyamankan diri lalu kembali bercerita.
"Dia suka masuk ke lingkaran orang-orang yang punya pengaruh. Kalau ada anak orang kaya mengadakan pesta, dia ada. Kalau ada senior yang punya koneksi bagus, dia dekat. Kalau ada keluarga yang terkenal, dia tiba-tiba punya alasan untuk mengenal mereka,” jelas Eve dalam sekali tarikan napas.
Anjani memperhatikan.
"Dia penjilat dan seorang yang mampu membuat orang lain nyaman dengan dirinya. Sebagai socials climber, dia kayaknya yang paling jago, apalagi selalu menjadi gadis teh hijau." Eve bergidik ngeri membayangkan bagaimana Yeshika merayu Syahrul dan laki-laki yang lain dengan wajah sok polosnya itu.
Pelayan datang dengan membawa menu pesanan Eve. Salad segar dengan irisan buah pir, kacang walnut panggang, keju lembut dan saus balsamic diletakkan di tengah meja.
"Berarti dia orang yang berbahaya," komentar Anjani. Pikirannya semakin jauh, bila Yeshika adalah orang yang bisa mempengaruhi pria, mungkin suaminya terpengaruh ucapan gadis itu atau memang suaminya yang tergoda oleh gadis itu.
"Yang berbahaya adalah ketika Yeshika menemukan orang yang mampu membawanya ke kehidupan yang dia inginkan." Tatapan Eve tertuju pada Anjanj, sedangkan tangannya memegang garbu yang sudah menancap pada potongan buah pir.
"Dan kalau orang itu adalah suamimu?" Eve tak melanjutkan ucapannya, membiarkannya menggantung, sementara garbunya ia arahkan ke Anjani.
Anjani tahu kemana arah Eve berpikir. "Itu berarti dia cepat atau lambat menginginkan posisiku sebagai istri sah dan menyandang gelar Nyonya Bhaskara," bisiknya kemudian sambil menusuk buah pir menggunakan garbu.