Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:374.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

SEMBILAN TAHUN LALU

Hari itu, hari kedua Budi menjadi mahasiswa. Kampus terasa begitu ramai pagi itu karena masih momen ospek. Mahasiswa berlalu-lalang, sementara suara tawa dan obrolan memenuhi hampir setiap sudut halaman.

Budi berjalan tergesa-gesa karena ia hampir telat.

“Permisi… permisi…”

Saat berbelok di persimpangan gedung fakultas, seseorang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Bruk!

Map yang dibawa perempuan itu terjatuh, isinya berserakan.

“Maaf!” Budi refleks berjongkok dan membantu memunguti lembaran-lembaran yang entah apa itu. “Maaf, saya nggak sengaja.”

Perempuan itu ikut berjongkok. “Tidak apa-apa. Aku juga tadi nggak lihat.”

Untuk pertama kalinya, Budi melihat wajahnya dari dekat. Dan seketika…Budi diam.

Perempuan itu memiliki rambut hitam panjang yang tergerai melewati bahu. Wajahnya cantik, tetapi bukan sekadar cantik. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Budi lupa bagaimana caranya berbicara.

“Sini." Perempuan itu mengulurkan tangan, meminta kertasnya yang ada di tangan Budi.

Budi masih menatapnya.

“Kamu dengar gak?”

“Hah?”

Perempuan itu berdecak. “Aku bilang, siniin."

“Oh…” Budi buru-buru menyerahkan lembaran kertas tersebut. “Ini."

Setelah menerimanya, perempuan itu merapikan rambutnya, lalu pergi begitu saja.

Budi masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti langkah perempuan tersebut sampai sosoknya menghilang di balik gedung.

“Gila…” Budi menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdetak tidak normal. "Cantik banget."

“Bud!”

Tepukan di bahunya membuat Budi tersentak. Adit, mahasiswa baru yang merupakan teman SMA nya dulu, menatap Budi. “Ngapain bengong?”

Budi menunjuk ke arah perempuan yang baru saja pergi. “Itu siapa?”

Temannya langsung tertawa. “Serius nggak tahu?”

Budi menggeleng. “Itu Kak Jena.”

“Jena?”

“Iya. Kak Jena. Dia senior terkenal di kampus ini. Cantik, pintar, aktif organisasi, dan panitia ospek juga."

"Hah!" Budi kembali menatap ke arah perempuan tadi, kok kemarin dia gak lihat.

“Kemarin kayaknya dia telat deh, jadi gak ikut pas pembukaan ospek. Ayo ah, kita harus segera kumpul." Adit menarik lengan Budi.

“Kenapa lo senyum-senyum?”

“Nggak apa-apa.” Padahal dalam hati, ia sudah mengakui sesuatu yang bahkan terlalu cepat untuk disebut cinta. Ia jatuh hati, pada pandangan pertama.

Hari-hari berikutnya, Budi mulai sering melihat Jena dari kejauhan. Di kantin, di perpustakaan, di halaman kampus, di depan ruang organisasi dan dimana pun.

Kadang Jena sedang tertawa bersama teman-temannya. Kadang sibuk membawa tumpukan berkas. Kadang berjalan terburu-buru sambil mengikat rambutnya.

Budi tidak pernah punya keberanian untuk menghampiri. Mereka bahkan tidak pernah benar-benar berkenalan. Hanya pernah bertabrakan di lorong kampus. Hanya pernah saling bertukar beberapa kalimat. Namun bagi Budi, pertemuan singkat itu terasa seperti sesuatu yang istimewa.

Setiap kali mendengar seseorang menyebut nama Jena, tanpa sadar kepalanya akan menoleh. Dan ketika melihat perempuan itu dari kejauhan, jantungnya selalu berdetak sedikit lebih cepat.

Entah itu sebuah keberuntungan untuk Budi, atau hari sial Jena, untuk kedua kalinya, takdir membuat mereka kembali saling berinteraksi.

Hari itu kampus benar-benar berbeda. Lapangan utama dipenuhi mahasiswa dari berbagai fakultas. Spanduk warna-warni terbentang di antara gedung, suara musik terdengar dari pengeras suara, sementara sorak-sorai penonton menggema setiap kali pertandingan berlangsung.

Pekan olahraga kampus selalu menjadi salah satu acara terbesar setiap tahun.

Budi yang baru selesai mengikuti pertandingan basket, duduk di pinggir lapangan sambil mengatur napas, menonton tim berikutnya yang bertanding.

Kausnya basah oleh keringat. Namun bukan pertandingan di lapangan yang membuat perhatiannya tertuju.

Jena.

Perempuan itu terlihat mengenakan kaus panitia, berdiri di dekat meja pertandingan sambil membawa clipboard.

Budi tersenyum sendiri. Entah kenapa, di antara ratusan orang, matanya selalu berhasil menemukan Jena.

Ia memperhatikan Jena yang sedang sibuk mengatur beberapa panitia.

“Budi!”

Teriakan temannya membuat ia menoleh.

“Ayo foto bareng!”

“Nanti.”

“Kamu lihat apa sih?”

“Enggak.”

Temannya mengikuti arah pandang Budi.

“Oh…” Ia langsung tertawa. “Jena lagi, Jena lagi. Dia udah punya pacar, Bud."

Budi tersenyum simpul. Meski tahu Jena sudah punya pacar, rasa itu tak pernah hilang, ia masih tetap mengagumi gadis itu, meski Jena sekali pun tak pernah melihatnya.

Tama menyodorkan sebotol air mineral pada Budi. "Coba kalau lo berani, kasih air minum ini pada Jena."

"Jangan ah, gak enak sama pacarnya," tolak Budi.

"Cuma ngasih minum. Lagian pacarnyakan gak kuliah disini. Ayo, Bud! Buruan!"

"Gak ah, entar ada yang ngadu."

"Cemen lo!"

"Bukan cemen, tapi gak mau ntar dikira merebut cewek orang."

"Lah elo, udah tahu cewek orang, masih aja elo taksir." Tama geleng-geleng. "Eh, noh si Ghea datang, pasti mau bawain lo minum, dia kan naksir lo." Menatap gadis cantik yang berjalan ke arah mereka.

"Males ah." Budi buru-buru bangkit untuk menghindari Ghea. "Sini air minumnya." Menyambar botol di tangan Tama, lalu menghampiri Jena.

"Beneran nekat nih anak." Budi yang maju, Tama ikut deg-degan.

Sebagai salah satu panitia, Jena berada di sisi lapangan untuk memastikan jalannya pertandingan tetap tertib.

Saat seorang pemain melakukan lemparan keras, bola melesat keluar lapangan. Bola itu mengarah tepat ke tempat Jena berdiri.

“Jena!” Seseorang berteriak.

Jena menoleh. Terlambat.

Budi yang kebetulan sudah berada dekat dengan Jena, langsung menarik Jena ke arahnya.

Duk!

Bola menghantam tiang besi tepat di belakang mereka.

Jena syok, nafasnya naik turun.

Budi masih memegang bahunya, menatap dari dekat. “Kamu nggak apa-apa?”

Jena terdiam, kemudian menggeleng.

Budi menghela napas lega. “Syukurlah.”

Jena melihat ke arah tiang yang baru saja dihantam bola. Kalau cowok di depannya terlambat beberapa detik saja. “Aku tadi hampir kena?”

“Iya.”

Jena menatap Budi, mata mereka bertemu, cukup lama.

“Lo gak papa kan, Jen?"

Suara Ana menyadarkan Jena. Ia buru-buru menyingkirkan tangan Budi di bahunya.

"Enggak, aku gak papa."

"Untunglah. Ke dalam aja, mending kamu istirahat."

"Makasih ya." Jena menatap Budi.

“Lain kali jangan berdiri terlalu dekat lapangan.”

Jena mengangguk, lalu pergi bersama Ana.

Meski sudah bertahun-tahun, Budi tak pernah bisa melupakan kejadian tersebut, tapi Jena, sepertinya beberapa kali momen tak terduga bersama Budi, sama sekali tak berarti, menguap begitu saja.

1
lyani
lancar pokoknya... lelah terbayar
Sri Hayati
duhh thorrr kok berhemti sihhh lagi tegang eh habis ceritanya.....

ayo kak authorrr lanjut😌
Ila Lee
bagus jena sama2 menikah biar pada tutup mulut padamu 🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍
mimief
huaaaaa....othor
nanggung bet yaaa
tega amet dah
Eonnie Nurul
aku deg deg semoga lancar acara nikah nya dan tidak ada gangguan emak dan bibit pelakor datang 🤲
Azda Syafril
jadi ikut dag...Dig..duh..serrrrr
tarik nafas... hembuskan... moga lancar ijab qobul ny eaa Budi...
ditunggu moment janji suci Budi&Jena ..💪🙏
Oma Gavin
nunggu besok sah nya 😂
Kar Genjreng
semoga lancar ya Bud dan tidak salah ucap hehe Jena jangan bilang enam bulan ya insyaallah selamanya selalu bersama.
membesarkan anak anak nya bersama sama,,,tapi ko deg deg degan ya jamah lah
nama pernikahan pertama sepasang ,,,
pria dan wanita yang akan memulai hidup
bersama,,,juminten dan ke-dua anaknya nga datang mengganggu dong ya. bisa di
giring nanti 😂,,,
Ila Lee
budi orang biasa ajer jena yg penting setia tidak semua kemewahan akan bahagia kN pasangan yg peting dalam rumah tangga kejujuran dan kesetiaan😍😍😍
Neng Saripah
jangan sampe si Naura menggatal di sini ya thor
Aprisya
semoga lancar acara ijab kobulnya
Kustri
jgn ada drama aja pas mo akad😤
Fitra Sari
lanjut kk
Ila Lee
yg nyaman tak semestinya yg mewah2 sederhana itu lebih baik yg penting ikhlas😍
Aprisya
dasar julaidah
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Jadi ikutan deg deg an .Lancar y Jenna & Budi.sampai kata " Sah " terucap
sikepang
otw ke nikahan Budi dan Jena 🤭🤣
Bunda Idza
tak kasih vote Bud....biar ikrar qobul mu lancar jaya 🥰
Ila Lee
katanya orang bisnes-bisnes TPI jodoh anak masih di urus orng tua kolot amat ya Pak Doni dan Pak arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!