Indonesia
NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - TEROR MALAM PERTAMA

BRAKK!

Pintu balai desa tertutup keras. Kami berenam loncat kaget.

Riko langsung lari ke pintu, mengguncang gagang pintu kayu yang sudah berkarat. "Terkunci! Terkunci dari luar!"

Bima ikut membantu, menendang dan mendorong dengan bahu, tapi pintu itu tidak bergerak sama sekali, seperti ada yang menahannya dari luar dengan kekuatan besar.

Suara langkah kaki di luar semakin banyak. Bukan satu dua orang, tapi puluhan. Tap... tap... tap... mengelilingi balai desa. Mengitari kami.

Sinta sudah nangis kejer di pojok, memeluk Maya. "Gue mau pulang, Sel. Gue mau pulang sekarang!"

Gue coba tetap tenang sebagai ketua. Gue ambil HP dari saku, tidak ada sinyal sama sekali. Nol. Jam di HP menunjukkan pukul 12.30 siang, tapi di dalam balai desa ini gelap seperti sudah jam 7 malam. Kabut dari luar masuk melalui celah-celah dinding kayu.

Maya berbisik dengan suara gemetar, matanya melotot melihat ke arah sesajen di pojok, "Sel, itu... itu bukan sesajen buat kita. Itu sesajen buat mereka. Lihat."

Kami semua melihat ke pojok. Enam gelas teh yang tadi mengepul panas, sekarang airnya berubah menjadi merah kental seperti darah. Nasi kuning di piring berubah menjadi tanah basah yang ada belatungnya bergerak-gerak. Ayam panggangnya berubah menjadi bangkai tikus yang membusuk.

Bau busuk menyengat langsung memenuhi ruangan.

"Jangan ada yang sentuh!" teriak gue.

Tiba-tiba, foto hitam putih besar di dinding bergerak. Foto enam orang yang wajahnya mirip kami itu, mata mereka di foto mulai mengeluarkan air mata darah. Darah itu mengalir dari bingkai foto menetes ke lantai.

Dan foto itu tersenyum. Senyum mereka semakin lebar, melampaui batas wajah.

KREKKK... KREKKK...

Lantai kayu balai desa berderit. Dari bawah kolong papan kayu, muncul tangan-tangan pucat, kurus, kotor penuh tanah. Banyak sekali tangan yang mencoba meraih kaki kami.

"AAAKH!" Sinta menjerit, kakinya ditarik oleh tangan dari bawah lantai.

Riko dengan cepat menarik Sinta. Bima menginjak tangan-tangan itu, tapi tangan itu tidak hancur, malah semakin banyak muncul.

Farhan yang penakut tiba-tiba berani, dia ambil senter dari tasnya dan menyorot ke bawah lantai. Saat cahaya senter mengenai tangan-tangan itu, tangan itu menghilang dengan suara jeritan melengking.

"CAHAYA! MEREKA TAKUT CAHAYA!" teriak Farhan.

Kami semua langsung nyalakan senter HP.

Tangan-tangan itu mundur ke bawah lantai, hilang.

Tapi teror belum selesai. Dari luar jendela, wajah Nek Jum menempel di kaca. Wajahnya sekarang tidak seperti nenek-nenek. Kulitnya mengelupas, matanya hitam semua, senyumnya robek sampai ke telinga.

Dia mengetuk kaca pelan dengan kukunya yang panjang, "Tok... tok... tok... Anak-anak, waktunya makan malam. Keluarlah. Kami sudah menunggu 20 tahun."

Jam di dinding balai desa yang tadi mati, tiba-tiba berdetak. Jarumnya berputar cepat, berputar balik, dan berhenti tepat di jam 9 malam.

Padahal tadi masih jam 12 siang.

Listrik genset padam. Balai desa gelap total. Hanya cahaya senter kami.

Dan di kegelapan itu, kami baru sadar, di dalam balai desa ini bukan cuma kami berenam.

Ada bayangan-bayangan hitam lain berdiri di sudut-sudut ruangan. Diam mengamati kami. Jumlahnya puluhan. Dan satu per satu, mata mereka menyala merah di dalam gelap.

Malam pertama kami di Desa Kalijati baru saja dimulai.

1
Tio Buki
Semangat ya thor👍👍👍👍👍🙏
Author Melda: okeyy kak👍
total 3 replies
Tio Buki
Hadiah untukmu ya thor
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Masuk aja, jangan di berat berat kan
Tio Buki
Siapa takut😄
Tio Buki
Aku ngak ikut ya 😄😄😄
Tio Buki
Sprei gue nggak bisa datang 🤣
Tio Buki
Mampir thor🙏🙏🙏
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
Author Melda: heheh terimakasih kak sdh mampir👍
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kok saya malah ngerasa semakin seru ya kalo ada di tim mereka??? 🤭🤭🤭
Author Melda: Wkwk sama kak aku nulisnya aja keringetan 😭
Yaudah sini gabung tim KKN Desa Kalijatiny
Posisinya: divisi nganter makanan ke sumur jam 12 malam 🤝
Gaji: 1 nyawa wkwk
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sudah diduga... Pasti warganya keluar malam-malam...
Author Melda: Wkwk pinter banget nebaknya kak 😈
Tapi... yang keluar malam-malam itu bukan warganya doang...
Ada yang "nemenin" mereka juga 👀
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Eh, bentar-bentar... Si nenek itu bisa menjawab salam???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ini pihak kampusnya gak cari tahu dulu kah soal Desa Kalijatinya???
Author Melda: Bener kak 😭 itu juga yang jadi pertanyaan mahasiswa nya di cerita
Katanya sih "Desa tertinggal, butuh mahasiswa"
Padahal... ada udang di balik batu wkwk
Tunggu plot twist nya di bab selanjutnya yaa
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sumpah, baru BAB pertama aja, udah ngeri banget begini suasana Desa Kalijatinya. Terbayang jelas di imaninasi. Tapi seru juga sih bisa KKN di desa macam gitu... hehehe... 😍😍😍
Author Melda: Hehe makasih udah ngerasain seremnya kak 😈
Tapi... kalau kakak yang KKN di Desa Kalijatiny,
berani gak jaga sumur jam 12 malam sendirian? 👀
Bab 7 udah tayang yaa... siap-siap merinding lagi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!