Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rin bernyanyi
Rin terdiam. Dua hari lalu... Takumi tidak pulang ke rumah malam itu. Dan sekarang Kyo mengatakan bahwa ia melihat Takumi datang bersama seorang wanita ke kafe ini.
Pikiran Rin mulai menyusun semuanya sendiri.
Jangan-jangan... Makoto?
Rin menunduk, menatap makanannya yang tiba-tiba terasa tidak menarik lagi. Kalau memang wanita itu Makoto, berarti malam itu Takumi berada bersamanya—bahkan sampai tidak pulang.
Lalu tadi... Rin teringat kembali benda yang ditemukannya di saku celana Takumi. Wajahnya kembali memerah.
"Rin!"
Tubuhnya tiba-tiba terguncang. Rin tersentak dan menatap Kyo yang sudah berdiri di sampingnya.
"Eh... apa?"
"Kau melamun dari tadi." Kyo menunjuk ke arah panggung. "Aku naik dulu. Kalau mau tambah makanan, panggil waiter saja. Aku traktir."
Rin mengangguk pelan.
"Iya..."
Kyo kemudian berjalan menuju panggung. Tak lama, suara musik kembali terdengar lebih jelas ketika ia mulai bersiap untuk tampil. Namun Rin tidak lagi benar-benar memperhatikan panggung. Pikirannya justru kembali pada satu hal: malam itu... Takumi pergi ke mana?
Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Rin menoleh. Sebuah pesan masuk.
Takumi:
Rin, Kiba sudah pulang.
Rin menatap pesan itu beberapa saat. Jarinya sempat bergerak seolah ingin membalas, namun akhirnya ia tidak mengetik apa pun. Ia hanya membalik ponselnya, lalu kembali menatap panggung.
Entah kenapa, Rin merasa ada sesuatu tentang pria itu yang ingin ia ketahui. tapi justru ia jadi sedikit kesal pada dirinya sendiri.
Ponselnya yang terbalik di atas meja, masih disana ia belum menyentuhnya. Ia tahu seharusnya ia tidak perlu memikirkan hal itu terlalu jauh.
Apa pun yang dilakukan Takumi bukan urusannya.
Takumi hanya menyewa rumah milik neneknya selama enam bulan. Sedangkan dirinya adalah cucu pemilik rumah itu, dan ia sendiri yang memang berhak tinggal di sana.
Jadi, kalau Takumi pergi bersama siapa pun, bahkan jika pria itu memilih menginap di tempat lain, Rin tidak punya alasan untuk memikirkannya.
Tidak Ada Urusannya Dengan Ku
Rin mengangguk kecil, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. Ia kemudian membalikkan ponselnya lagi dan membuka pesan dari Takumi.
Jarinya mulai mengetik.
Rin:
Aku sedang di Kafe Aozora.
***
Takumi baru saja kembali duduk setelah menutup pintu depan ketika ponselnya bergetar. Ia mengambilnya dan membaca pesan balasan dari rin
Tatapan Takumi berhenti cukup lama pada pesan itu.
“Kafe Aozora...?”
Ia menatap layar sekali lagi, seakan memastikan dirinya tidak salah membaca. "Rin pergi ke sana?"
Padahal tadi gadis itu mengatakan ingin mencari angin segar. Takumi tidak menyangka tujuannya justru ke kafe milik Kyo.
Ia menghela napas pelan, lalu mengetik balasan.
Takumi:
Kenapa kau pergi ke sana?
Pesan itu terkirim. Takumi meletakkan ponselnya di meja, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali mengambilnya.
Entah kenapa, ia merasa perlu memastikan Rin baik-baik saja. Jarinya kembali bergerak.
Takumi:
Jangan pulang terlalu malam.
***
Rin membaca pesan dari Takumi sekali lagi.
Ada perasaan aneh yang muncul ketika melihat pesan itu. Entah kenapa, ia merasa sedikit lega. Namun Rin segera mengabaikannya. Ia tidak ingin memikirkan Takumi terlalu jauh;
Rin kembali menyimpan ponselnya dan melanjutkan makan.
Waktu terus berjalan. Malam semakin larut, tetapi jumlah pengunjung di Kafe Aozora tidak juga berkurang. Beberapa meja masih penuh, sementara suara musik live terus memenuhi ruangan.
Rin yang baru saja selesai makan memutuskan pergi ke kamar kecil. Ketika kembali, ia melewati area dekat panggung dan tanpa sengaja mendengar percakapan Kyo dengan salah seorang staf.
"Penyanyi wanita yang tadi sakit itu masih di ruang staf?"
"Iya. Sepertinya dia belum bisa tampil lagi."
Kyo menoleh ke arah panggung.
"Coba cari. Ada nggak staf kita yang bisa nyanyi? Dandan sedikit juga nggak masalah. Yang penting panggung live jangan kosong."
Staf itu menggeleng.
"Sayangnya nggak ada staf wanita yang bisa bernyanyi."
Kyo menghela napas. Namun saat ia menoleh ke samping, matanya langsung bertemu dengan Rin. Ia terdiam beberapa detik, kemudian wajahnya berubah cerah.
"Rin!"
Rin menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
Kyo segera menghampirinya. "Kau bisa nyanyi?"
Rin berpikir sebentar.
"Kalau sekadar nyanyi sendirian di kamar mandi sih bisa."
Kyo tertawa. "Bukan begitu maksudku. Kau mau naik ke panggung?"
Rin langsung menggeleng. "Tidak mau ah, malu ..tidak tidak."
Kyo menunjuk panggung.
"Penyanyi kita sakit. Aku butuh seseorang untuk menggantikannya sementara."
Rin kembali menggeleng.
"Aku tidak terbiasa menyanyi di depan banyak orang."
"Aku ikut."
Rin menatapnya. "Kau?"
"Aku main gitar. Kau tinggal duduk dan nyanyi."
Rin masih terlihat ragu. Kyo kemudian memasang wajah memohon. "Sekali saja, Rin. Tolong."
Rin menghela napas.
"Kalau aku mau, aku cuma akan menyanyikan lagu yang memang aku bisa."
"Deal!"
"Dan jangan berharap aku bisa menyanyi banyak lagu."
"Tidak masalah."
Rin akhirnya mengangguk. "Baiklah."
Beberapa menit kemudian, Rin berdiri di sisi lua panggung. Dari sana, ia bisa melihat hampir seluruh pengunjung yang memenuhi kafe. Jantungnya langsung berdebar.
"Kenapa aku setuju..." gumamnya.
Kyo berdiri di sampingnya dengan gitar di tangan.
"Jangan lihat penontonnya."
Rin menoleh. "Terus aku lihat apa?"
"Lihat aku saja."
Rin terdiam. Kyo tersenyum santai.
"Anggap saja kau sedang bernyanyi sendirian."
Rin menarik napas panjang. Ia masih gugup, tetapi sekarang sudah terlanjur setuju. Kyo kemudian menggenggam tangannya.
"Ayo."
Mereka naik ke panggung. Tepuk tangan langsung terdengar dari berbagai arah. Rin duduk di atas bangku bulat tanpa sandaran. Kyo membantu mengatur tinggi mikrofon hingga pas dengan posisinya.
Setelah itu, Kyo duduk di sampingnya sambil membawa gitar, lalu sedikit menunduk untuk memberi tahu tim musik lagu yang akan mereka bawakan.
Lagu yang dipilih Rin adalah Koiiro.
Kyo kemudian menoleh kepadanya, tatapannya seolah bertanya apakah Rin sudah siap. Rin menarik napas panjang, lalu mengangguk. Kyo ikut mengangguk dan memberi tanda kepada tim musik.
Tepuk tangan mulai terdengar lagi. Beberapa detik kemudian, alunan organ lembut mulai memenuhi ruangan, disusul suara drum yang perlahan masuk.
Rin menggenggam mikrofon, kemudian suara pertamanya terdengar.
Kyo sempat terdiam; ia tidak menyangka suara Rin akan terdengar seperti itu—lembut namun tetap jelas, dengan nada yang masuk dengan baik bersama iringan musik. Rin yang awalnya terlihat kaku perlahan mulai santai.
Beberapa pengunjung mulai ikut bernyanyi, ada yang menggerakkan kepala mengikuti irama, sementara sebagian lainnya ikut bergoyang kecil di tempat duduk mereka. Rin pun semakin terbawa suasana.
Sesekali ia melirik Kyo sambil tersenyum. Jemarinya kadang menyentuh mikrofon mengikuti irama, dan pada bagian tertentu, ia bahkan menutup mata seolah benar-benar menghayati setiap bait lagu.
Ia sudah tidak terlalu memikirkan orang-orang di depannya. Untuk sesaat, Rin hanya menikmati musik dan nyanyiannya sendiri.
Sampai akhirnya lagu memasuki bagian terakhir. Rin membuka matanya. Tatapannya bergerak melewati kerumunan, lalu berhenti.
Seseorang berdiri di sana. Rin mengenalnya.
Takumi.
Pria itu berdiri tidak jauh dari panggung, menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Rin terdiam sepersekian detik.
Dia menyusulku...?
Namun iringan musik masih berjalan. Rin segera kembali memusatkan perhatian pada lagu dan menyelesaikan bait terakhir. Begitu nada terakhir terdengar, tepuk tangan langsung memenuhi seluruh ruangan. Rin tersentak; ia spontan menutup mulutnya karena tidak menyangka sambutannya akan seramai itu.