Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api di Tengah Pernikahan

“Kenapa malah peluk Mommy? Sana, masuk kelas.”

Diandra mengusap lembut kepala Azzam, lalu melepaskan pelukan putranya.

“Nanti Mommy jemput Azzam, ya?”

Azzam mengangguk cepat. “Janji?”

“Janji.”

Senyum kecil langsung menghiasi wajah bocah itu. Ia kemudian berbalik hendak masuk ke kelas.

“Azzura, ayo masuk sama abang. Azzam, tangan adik digandeng.”

Namun, Azzura hanya diam. Tangannya masih menggenggam tangan Serly erat-erat.

Azzura menatap adiknya, lalu mencoba mengulurkan tangan.

“Ayo, Azzura.”

Azzura justru mundur setengah langkah.

Diandra memperhatikan keduanya dengan tatapan prihatin. Dulu, Azzura dan Azzam hampir tidak pernah terpisahkan. Mereka selalu bermain bersama, saling mencari ketika salah satunya tidak terlihat, bahkan sering berebut duduk di samping Diandra.

Tetapi semuanya berubah sejak Serly datang ke dalam kehidupan mereka.

Entah karena rasa cemburu, perubahan perhatian, atau hal-hal kecil yang terus menumpuk, hubungan kedua anak itu perlahan menjadi renggang.

Mereka lebih sering bertengkar daripada bermain bersama.

“Azzam nggak mau sama Azzura,” ucap Azzam tiba-tiba.

Azzura langsung menunduk.

Diandra menghela napas pelan. Ia tahu, pertengkaran anak-anak mungkin terlihat sepele. Namun, jika dibiarkan, jarak kecil itu bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diperbaiki.

“Sudah, jangan bertengkar. Kalian kakak-adik. Masuk kelas sama-sama.”

Azzam masih terlihat kesal, sementara Azzura semakin erat menggenggam tangan Serly.

Diandra hanya bisa menatap mereka dengan perasaan berat.

Kadang, bukan perpisahan yang membuat sebuah hubungan menjauh.

Melainkan perubahan kecil yang dibiarkan terjadi setiap hari.

Azzam tampaknya masih belum bisa menerima kedekatan Azzura dengan Serly. Setiap kali melihat adiknya lebih memilih bermain bersama Serly daripada bersama Diandra, bocah itu selalu menunjukkan rasa kesalnya dengan caranya sendiri.

"Azzam," panggil Diandra lembut.

Bocah laki-laki itu menoleh. Wajahnya masih menyimpan sedikit kekesalan, tetapi akhirnya ia mengembuskan napas panjang sebelum menghampiri Azzura.

Tanpa banyak bicara, Azzam meraih tangan adiknya dan menggenggamnya erat.

"Ayo masuk kelas."

Azzura yang sejak tadi tampak ragu langsung tersenyum. Tangannya membalas genggaman Azzam.

"Ayo."

Keduanya kemudian berjalan menuju kelas. Senyum Azzura perlahan mengembang, seolah rasa takut yang sempat menyelimutinya menghilang begitu saja ketika berada di samping sang kakak.

Diandra memperhatikan mereka sampai kedua anak itu menghilang di balik pintu kelas.

Namun, entah mengapa, ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap ke dalam hatinya.

Bastian yang berdiri tak jauh darinya pun masih memandangi pintu kelas tersebut.

Sementara Serly hanya terdiam di samping mereka.

Tak ada yang menyadari bahwa setelah kedua anak itu masuk, suasana di antara ketiganya justru berubah menjadi jauh lebih menegangkan.

"Mas Bastian mau ke kantor, kan?" Serly mendekat dengan senyum manis. "Aku ikut, ya. Aku juga mau ke kantor Papa. Kebetulan gedung Papa sama kantor Mas Bastian kan dekat."

Nada suaranya terdengar manja, seolah permintaannya sulit untuk ditolak.

Bastian tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih kepada Diandra yang berdiri beberapa langkah darinya.

Ada keraguan singkat di mata pria itu.

Seolah jawaban Diandra jauh lebih penting daripada permintaan Serly.

Namun, Diandra tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya membuka pintu mobil, kemudian masuk ke dalam tanpa mengucapkan sepatah kata.

Bastian menghela napas pelan.

"Diandra."

Wanita itu tetap diam, sibuk memasang sabuk pengaman.

"Ayo, Mas," katanya akhirnya dengan suara datar. "Bukannya kamu mau ke kantor?"

Bastian terdiam.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru terdengar seperti sebuah penegasan bahwa Diandra tidak ingin ikut campur.

Serly tersenyum tipis.

Sementara Bastian masih berdiri di tempatnya, menatap Diandra yang sengaja mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Untuk pertama kalinya, pria itu merasa ada sesuatu yang sedang berubah di antara mereka.

Dan ia tidak yakin perubahan itu akan berakhir baik.

Serly tidak memberi Bastian kesempatan untuk berlama-lama. Tangannya segera menarik lengan pria itu, memaksanya masuk ke dalam mobil.

Sementara itu, Diandra sudah lebih dulu meninggalkan halaman sekolah.

Ia tidak menoleh lagi.

Mobilnya melaju perlahan hingga jarak antara dirinya dan sekolah semakin jauh. Namun, ketika tanpa sengaja matanya menangkap pantulan melalui kaca spion, dada Diandra mendadak terasa sesak.

Mobil Bastian baru saja keluar dari halaman sekolah.

Dan di dalamnya, ada Serly.

Diandra segera mengalihkan pandangan.

"Gapapa, Diandra..." bisiknya lirih.

Tangannya terangkat, mengusap dada yang terasa berat.

"Gapapa."

Ia menarik napas panjang, berusaha menelan perasaan yang sejak tadi mengganjal.

"Harus ikhlas."

Senyumnya muncul, tetapi begitu tipis hingga nyaris tak terlihat.

"Mungkin memang Mas Bastian bukan jodoh kamu."

Diandra kembali mengusap dadanya, kali ini lebih pelan.

"Kalau memang bukan kamu yang dipilih, jangan memaksa."

Ia tertawa kecil, meski matanya mulai terasa panas.

"Semangat, Diandra. Kamu pasti bisa."

Tidak ada siapa pun di sampingnya untuk menenangkan hati yang sedang berantakan.

Jadi, seperti biasa, Diandra harus menjadi orang yang menguatkan dirinya sendiri.

Karena jika bukan dirinya yang bertahan, lalu siapa lagi?

Sejak kecil, Diandra tumbuh tanpa mengenal sosok orang tua yang seharusnya menjadi tempatnya pulang. Ia dibesarkan di panti asuhan, tanpa pernah tahu siapa ayahnya dan tanpa merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.

Sejak usia yang masih terlalu muda, Diandra sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri.

Ia belajar bahwa tidak semua orang akan tinggal ketika dirinya membutuhkan. Ia juga memahami bahwa kebahagiaan tidak seharusnya dititipkan sepenuhnya kepada orang lain.

Karena itu, Diandra berusaha membangun kebahagiaannya sendiri.

Menikah dengan Bastian dulu bukan semata-mata karena ia ingin menjadi seorang istri. Ada alasan yang jauh lebih dalam di balik keputusannya.

Anak-anak Bastian.

Diandra tahu persis bagaimana rasanya tumbuh tanpa seorang ibu. Ia ingin memberikan kepada anak-anak itu kasih sayang yang dulu tidak pernah ia dapatkan.

Ia ingin menjadi tempat mereka bermanja, tempat mereka pulang, dan seseorang yang akan selalu ada ketika mereka membutuhkan seorang ibu.

Namun, Diandra tidak pernah menyangka bahwa kehadiran Serly perlahan akan mengubah segalanya.

Hubungan yang sebelumnya terasa sederhana mulai dipenuhi jarak dan keraguan.

Dan untuk pertama kalinya, Diandra mulai mempertanyakan satu hal yang selama ini berusaha ia hindari.

Apakah dirinya masih memiliki tempat di dalam keluarga itu?

Kalau memang Serly ingin kembali bersama Bastian, Diandra tidak punya alasan untuk menghalanginya.

Bagaimanapun, Serly adalah ibu kandung Azzam dan Azzura. Anak-anak itu akan tetap mendapatkan kasih sayang dari ibu mereka sendiri.

Mungkin justru itu yang terbaik.

Diandra hanya perlu menerima kenyataan bahwa dirinya tidak lagi memiliki tempat dalam keluarga itu.

Sesampainya di rumah, Diandra langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tengah.

Hari itu sebenarnya tidak ada aktivitas berat yang ia lakukan. Namun, tubuhnya terasa begitu lelah seolah baru saja melewati hari yang panjang dan melelahkan.

Bukan tubuhnya yang benar-benar kehabisan tenaga.

Pikirannya.

Perasaannya.

Semua yang terjadi belakangan ini menguras Diandra jauh lebih dalam daripada yang ingin ia akui.

Ia menyandarkan kepala ke sofa dan memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, Diandra merasa benar-benar ingin menyerah.

Ia ingin segera menyelesaikan perceraian dengan Bastian.

Ingin membebaskan pria itu.

Dan yang paling penting, ingin membebaskan dirinya sendiri dari perasaan yang selama ini membuatnya terus bertahan.

"Seandainya semuanya bisa selesai secepatnya..." bisiknya lirih.

Diandra menarik napas panjang.

Mungkin setelah perceraian itu terjadi, ia bisa kembali menjalani hidupnya tanpa harus merasa menjadi orang asing di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang.

Pernikahan yang seharusnya menjadi tempat Diandra menemukan ketenangan justru terasa seperti sebuah penjara.

Semakin lama, ruang di dalam rumah itu terasa semakin sempit baginya. Setiap tarikan napas seolah membawa beban baru, sementara pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Hampir setengah jam Diandra hanya duduk termenung di sofa.

Sampai suara sebuah mobil terdengar dari halaman.

Diandra mengernyitkan kening.

Siapa yang kembali?

Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka.

Bastian muncul di ambang pintu.

Diandra spontan membenarkan posisi duduknya. Ada sedikit kebingungan di wajahnya karena ia yakin pria itu sudah berangkat ke kantor.

"Kenapa kembali?" tanyanya. "Ada sesuatu yang tertinggal?"

Bastian tidak menjawab.

Pria itu hanya berjalan mendekat, kemudian duduk di samping Diandra.

Keheningan langsung memenuhi ruang tengah.

Diandra meliriknya sekilas.

"Bastian?"

Tetap tidak ada jawaban.

Tatapan pria itu justru tertuju lurus ke depan, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya dengan serius.

Entah apa yang terjadi, tetapi melihat sikap Bastian yang tiba-tiba berubah membuat dada Diandra kembali terasa tidak nyaman.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ia berharap pria itu tidak datang hanya untuk membicarakan perceraian mereka.

"Serly mana? Bukannya kamu tadi pergi bersamanya?"

"Haus," jawab Bastian singkat.

Diandra mengernyitkan kening. "Aku tanya Serly mana, kamu malah jawab haus."

"Aku bilang aku haus."

"Terus?"

"Ambilkan minum."

Diandra langsung melengos. "Nggak mau."

Bastian menatapnya. "Kamu masih sah menjadi istriku. Masa suami minta tolong ambilkan minum saja ditolak?"

"Cih, jangan bawa-bawa status suami." Diandra mendengus. "Kamu sendiri yang selama ini mengabaikanku dan lebih peduli pada perempuan lain."

Bastian menghela napas.

"Bisa ambilkan air dulu?"

Diandra ingin membalas, tetapi akhirnya memilih diam. Ia malas memperpanjang perdebatan.

Dengan langkah berat, ia menuju dapur. Ruang makan dan dapur sudah dalam keadaan bersih karena pekerjaan rumah memang sudah dibereskan oleh ART.

Diandra mengambil segelas air dingin, lalu kembali ke ruang tengah.

"Ini."

Ia menyodorkan gelas tersebut.

Namun, bukannya mengambil gelas, Bastian justru meraih pergelangan tangannya.

Dalam sekejap, tubuh Diandra kehilangan keseimbangan dan terduduk di pangkuan pria itu. Gelas di tangannya ikut berguncang hingga sebagian air tumpah membasahi wajah dan lehernya.

"Mas!" Diandra langsung mengusap wajahnya. "Jadi basah, nih!"

Bastian justru menatapnya santai.

"Aku haus. Kamu malah menumpahkan airnya."

"Kan kamu yang menarik aku!" Diandra menatap kesal. "Lihat, wajah dan leherku basah."

Bastian memperhatikan sisa air yang masih membasahi kulit Diandra.

"Masih ada sisa airnya."

Diandra belum sempat menjawab ketika Bastian mendekat dan memberikan kecupan singkat di lehernya.

Diandra sontak membeku.

"Mas, ih!"

Ia segera mendorong bahu Bastian dan bangkit dari pangkuannya.

Wajahnya memerah antara kesal dan terkejut.

"Apa-apaan kamu, hah?" omelnya.

Bastian hanya menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa. Sudut bibirnya terangkat, seolah sama sekali tidak merasa bersalah.

"Aku haus."

Diandra menatapnya tajam.

"Haus air atau haus cari masalah?"

Bastian terkekeh pelan.

Sementara Diandra semakin kesal melihat ketenangan suaminya.

Bastian menatap Diandra dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah beberapa detik, barulah ia menjawab santai.

"Ya, minum."

"Aku tadi sudah minum."

"Y-ya, bukan air yang ada di leherku," balas Diandra gugup. "Di kulkas masih banyak air."

Pipi Diandra terasa panas. Ia masih bisa merasakan sisa sentuhan Bastian di lehernya. Pria itu benar-benar semakin berani. Diandra tidak menyangka Bastian akan mencium lehernya begitu saja.

Ia buru-buru mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Udahlah, Mas. Aku nggak tahan lagi."

Tanpa menunggu jawaban, Diandra berbalik dan berjalan cepat menuju tangga.

Namun baru beberapa langkah, suara Bastian terdengar dari belakang.

"Nggak tahan apa?"

Diandra berhenti.

Bastian menyandarkan tubuhnya santai, matanya mengikuti gerak-gerik istrinya.

"Kenapa buru-buru ke kamar?"

Diandra menggigit bibir, lalu menoleh sekilas.

"Nggak ada apa-apa."

"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa wajahmu merah?"

Diandra langsung memalingkan wajah.

"Mas Bastian, jangan ganggu aku!"

Bastian justru tersenyum tipis.

"Aku cuma bertanya, Diandra."

"Tapi cara Mas bertanya bikin aku tambah salah tingkah."

Bastian melangkah mendekat. Diandra spontan mundur satu langkah, membuat jarak di antara mereka semakin tipis.

"Kalau begitu," bisik Bastian, "jangan lari."

Diandra menatapnya dengan jantung yang berdetak semakin cepat.

Bastian terkekeh melihat Diandra yang buru-buru menuju kamar. Ia pun menyusul dengan langkah santai. Sesampainya di lorong, pria itu melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.

"Aku sebenarnya lebih suka kalau malam," ucap Bastian dengan nada menggoda. "Tapi kalau kamu maunya sekarang, aku nggak keberatan."

Diandra yang sudah sampai di depan pintu kamar mendadak menghentikan langkah.

Ia berbalik.

Matanya langsung membulat ketika mendapati Bastian berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya, menatapnya dengan seringai penuh godaan.

"Mas..." Diandra menelan ludah.

Bastian mengangkat alis. "Kenapa?"

Diandra menyilangkan tangan di depan dada, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Sejak kapan kamu jadi mesum begini, hah?"

Bastian justru terkekeh.

"Sejak istriku mulai gampang salah tingkah kalau aku dekat."

"Siapa yang salah tingkah?"

"Kamu."

"Nggak!"

Bastian semakin mendekat, membuat Diandra refleks mundur hingga punggungnya menyentuh pintu.

"Kalau begitu, kenapa mukamu merah?"

Diandra terdiam, sementara Bastian hanya tersenyum puas melihat reaksinya.

"Sudahlah, Mas. Jangan ganggu aku."

"Kalau aku nggak ganggu, nanti kamu malah kabur lagi."

Diandra mendengus pelan.

"Kamu benar-benar menyebalkan."

"Tapi tetap suamimu."

Diandra memutar bola mata, meski sudut bibirnya tanpa sadar terangkat tipis.

Dari kejauhan, salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan lewat hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah kedua majikannya.

" Tuan dan nyonya aneh banget," gumamnya sebelum kembali pergi.

Diandra menatap Bastian dengan sorot mata yang sulit dibaca.

“Mulai sekarang,” ucap Bastian tenang.

Diandra terkekeh hambar. “Lucu. Selama dua tahun kamu menjauh dariku, sekarang tiba-tiba kamu bilang begitu?”

Bastian menghela napas. “Aku hanya belum menginginkanmu saat itu.”

“Kalau begitu, sekarang giliranku.” Diandra menggeleng. “Aku juga sudah tidak menginginkanmu. Kalau kamu masih punya perasaan pada perempuan itu, silakan kembali kepadanya.”

Tatapan Bastian berubah tajam. “Jangan bicara seolah-olah aku akan meninggalkanmu demi dia.”

“Bukankah itu yang selama ini kamu lakukan?”

Diandra tidak menunggu jawaban. Ia berbalik menuju kamar, membuka laci, lalu mengeluarkan sebuah map berisi dokumen-dokumen yang sudah tersusun rapi.

Ketika kembali ke hadapan Bastian, ia mengangkat map itu.

“Aku sudah menyiapkan semuanya.”

Bastian mengernyit. “Apa itu?”

“Berkas perceraian.”

Seketika wajah Bastian membeku.

“Kapan?”

“Beberapa bulan lalu.”

Bastian spontan hendak meraih map tersebut, tetapi Diandra menariknya menjauh.

“Jangan.”

“Diandra, kamu serius?”

“Sangat serius.”

Suara Diandra bergetar, tetapi kali ini ia tidak membiarkan air matanya jatuh.

“Selama ini aku terus meyakinkan diriku bahwa pernikahan kita masih bisa diselamatkan. Aku menunggu kamu kembali menjadi suamiku. Aku menunggu kamu melihatku seperti dulu.”

Ia tersenyum getir.

“Tapi ternyata aku hanya menunggu seseorang yang sudah tidak ingin pulang.”

Bastian terdiam.

“Pernikahan itu seperti perahu yang hanya dibuat untuk dua orang,” lanjut Diandra. “Ketika ada orang ketiga yang ikut naik, cepat atau lambat seseorang harus turun.”

Diandra menatap mata suaminya.

“Dan kali ini, aku yang memilih turun.”

“Diandra…”

“Kamu bebas melanjutkan perjalananmu dengan siapa pun yang kamu pilih.”

Ia menyodorkan map itu ke dadanya, lalu berbalik meninggalkan kamar.

“Diandra, tunggu!”

Langkahnya justru semakin cepat.

Bastian mengejar, tetapi Diandra tidak menoleh sedikit pun.

Untuk pertama kalinya, Bastian merasakan ketakutan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan.

Bukan takut kehilangan sebuah pernikahan.

Melainkan takut benar-benar kehilangan perempuan yang selama ini selalu menunggunya pulang.

Bastian mengejar Diandra dan berhasil menangkap pergelangan tangannya sebelum perempuan itu menjauh terlalu jauh.

“Diandra, berhenti.”

“Lepaskan aku.”

Diandra berusaha menarik tangannya, tetapi Bastian justru menahannya lebih erat.

“Aku nggak akan melepaskanmu begitu saja.”

“Kenapa?” Diandra menatapnya tajam. “Karena kamu baru sadar kalau aku benar-benar bisa pergi?”

Rahang Bastian mengeras.

“Siapa pun yang pernah menjadi bagian dari hidupku, aku nggak akan membiarkannya pergi semudah itu.”

Diandra tertawa kecil, tetapi terdengar getir.

“Masalahnya, aku bukan barang milikmu, Bastian.”

Genggaman Bastian sedikit mengendur ketika melihat kemarahan sekaligus luka di mata istrinya.

“Kenapa kamu selalu bilang aku menyakitimu?”

“Karena memang begitu.”

“Apa aku pernah memukulmu?”

Diandra terdiam sesaat.

“Luka nggak selalu meninggalkan bekas di kulit.”

Tatapan Bastian berubah.

“Lalu apa yang sudah kulakukan?”

“Kamu mengabaikanku selama bertahun-tahun. Kamu membuatku merasa seperti seorang istri yang hanya ada ketika kamu membutuhkanku.”

“Diandra…”

“Dan sekarang kamu bertanya apa yang menyakitiku?”

Suara Diandra bergetar.

“Melihat suamiku memberikan perhatian yang seharusnya diberikan kepadaku kepada perempuan lain. Melihatmu membela dia, mencemaskan dia, bahkan rela marah kepadaku demi dia.”

“Serly bukan perempuan lain.”

“Bagiku, dia tetap perempuan lain.”

Bastian menghela napas panjang.

“Aku nggak mencintai Serly. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri.”

“Kalau begitu kenapa perhatianmu kepadanya jauh lebih besar daripada kepadaku?”

Bastian terdiam.

Diandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu bilang tidak mencintainya, tapi kamu selalu ada ketika dia membutuhkanmu. Sementara saat aku terluka, aku bahkan harus belajar menenangkan diriku sendiri.”

“Diandra, aku…”

“Dan yang paling tidak bisa aku lupakan adalah ketika kamu membentak Serly di depan Serly hanya karena ingin membelanya.”

Diandra menarik napas dalam-dalam.

“Waktu itu kamu bahkan tidak peduli kalau hatiku ikut hancur.”

Bastian menatap perempuan di hadapannya tanpa mampu menyela.

“Jadi jangan bilang kamu nggak pernah menyakitiku,” lanjut Diandra lirih. “Karena selama ini, kamu memang tidak pernah menyentuh tubuhku dengan kasar.”

Ia menatap tepat ke mata Bastian.

“Tapi kamu berkali-kali menghancurkan hatiku.”

Genggaman Bastian akhirnya terlepas.

Dan untuk pertama kalinya, Diandra bisa melihat penyesalan yang nyata di mata suaminya.

“Aku membentak Azzam karena ingin mendidiknya,” ujar Bastian, berusaha mempertahankan pendiriannya.

Diandra menatapnya dengan kecewa.

“Mendidik bukan berarti harus membuat anak merasa takut, Mas. Kamu bisa menegurnya tanpa membentak.”

“Aku tahu bagaimana cara mendidik anakku.”

“Kalau begitu, lakukan saja.”

Nada suara Diandra mendadak datar.

“Didik Azzam dan Azzura bersama Serly.”

Bastian mengernyit.

“Maksud kamu apa?”

“Bukankah menurutmu Serly lebih pantas berada di sisi kalian?”

Diandra tersenyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca.

“Dia ibu kandung mereka. Mungkin anak-anak akan jauh lebih bahagia kalau mereka tumbuh bersama ayah dan ibu kandungnya.”

“Diandra, jangan bicara sembarangan.”

“Aku serius.”

Diandra menarik tangannya dengan kuat hingga terlepas dari genggaman Bastian.

“Aku sudah lelah merasa seperti orang asing di rumahku sendiri.”

Ia berbalik dan baru sempat melangkah satu langkah ketika Bastian kembali meraih tangannya.

“Diandra, tunggu.”

Perempuan itu berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Lepaskan aku, Bastian.”

“Tidak sebelum kamu mendengarkan penjelasanku.”

“Sudah dua tahun aku menunggu penjelasanmu.”

Diandra akhirnya menoleh.

“Sekarang aku tidak membutuhkannya lagi.”

Tatapan Bastian mengeras. Namun di balik ketegasan itu, ada kepanikan yang semakin jelas.

Karena untuk pertama kalinya, Diandra tidak sedang mengancam untuk pergi.

Dia benar-benar berniat meninggalkan Bastian.

“Lepaskan, Mas.”

“Tidak.”

Bastian merampas map dari tangan Diandra sebelum perempuan itu sempat menghindar.

“Bastian, kembalikan!”

Namun Bastian tidak menjawab. Ia berjalan cepat meninggalkan kamar sambil membawa map tersebut.

“Mas!”

Diandra mengejarnya sampai ke halaman belakang.

Bastian berhenti di dekat tong besi yang biasa digunakan untuk membakar sampah. Dengan wajah yang sulit dibaca, ia memasukkan map itu ke dalamnya.

“Mas, jangan!”

Bastian mengeluarkan korek api.

Diandra langsung panik.

“Bastian, apa yang kamu lakukan?”

Api kecil menyala di ujung korek.

“Kalau ini yang membuatmu pergi dariku, aku akan menghilangkannya.”

“Jangan!”

Bastian menjatuhkan korek itu.

Dalam sekejap, api mulai menjilat sudut-sudut map dan membakar lembaran di dalamnya.

“Bastian!”

Diandra berusaha mengambil map tersebut dengan tangan kosong.

“Jangan sentuh!”

Bastian langsung menarik tubuh istrinya menjauh.

Namun semuanya terlambat.

“Aduh!”

Diandra meringis ketika telapak tangannya terkena bagian map yang masih panas.

Bastian seketika panik.

“Diandra!”

Ia meraih tangan istrinya dan melihat kulit yang memerah akibat terkena panas.

“Kenapa kamu nekat sekali?”

Diandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Karena itu hidupku, Mas.”

Bastian terdiam.

“Bukan hak kamu untuk menghancurkan sesuatu hanya karena kamu takut aku pergi.”

Kalimat itu membuat Bastian kehilangan kata-kata.

Sementara di belakang mereka, api terus melahap lembar demi lembar bukti yang selama ini disiapkan Diandra untuk mengakhiri pernikahan mereka.

Dan Bastian baru menyadari satu hal.

Membakar kertas tidak akan membatalkan keputusan istrinya.

Itu hanya membuat Diandra semakin yakin bahwa dirinya memang harus pergi.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!